
Zayn telah meninggalkan salon Gisel dengan perasaan semakin terbelenggu kerisauan, niatnya untuk mengembalikan wadah Alana, dia malah mendapatkan kenyataan yang membuatnya sedih.
"Pergilah dari hadapanku!"
"Baiklah. Kita tidak akan berjumpa lagi, jaga diri kakak. Selamat tinggal kak Zayn."
Sejak tadi kilas di pikiran Zayn berputar tentang hari pertemuan terakhirnya dengan Alana. Zayn tidak mengira jika saat itu Alana mencoba untuk pamit padanya. Dan dia menyakiti Alana dengan ucapannya.
Dia tidak akan kembali lagi. gumamnya.
Oh, mengapa dia merasa tak rela dan semakin kehilangan. Bukankah mereka sudah tidak memiliki hubungan lagi.
Pemuda itu telah berada di mobil, menatap ke arah luar pemandangan yang ia lalui dari balik kaca. Terus termenung akan kepergiaan Alana.
“Ken.”
“Ya Tuan,” sahut Ken sembari memegang stir kemudi.
“Aku ingin ke taman itu,” ucap Zayn.
“Baiklah tuan,” jawab Ken patuh.
Suasana kembali hening, hingga Ken kembali membuka suara.
“Tentang taman itu, saya memerintahkan untuk menutupnya, sampai Anda memberi perintah membukanya untuk umum,” balas Ken memberi informasi.
__ADS_1
“Eeemm.” Zayn hanya membalasnya dengan deheman.
Suasana hati Zayn semakin buruk saja. Dia ingin menghabiskan waktu di taman yang menjadi bukti cintanya pada Alana. Sekaligus tempat yang menghancurkan hubungan dengan Alana. Memorak-porandakan mimpinya.
Setelah beberapa saat Zayn telah berada di taman, duduk termenung di depan air mancur yang masih mengucur indah.
“Ternyata kau pulang ke Indonesia, tidak memberitahuku,” lirih Zayn.
“Kau pulang ke Indonesia tidak ingin bersamaku.” Zayn tersenyum sarat luka. Dia terpukul kecewa. Alana menolaknya karena di Indonesia dia hanya menjadi juru foto pernikahan.
Akan tetapi ternyata cintanya juga ingin tinggal di Indonesia tapi tanpa bersamanya.
“Mengapa tidak bersamaku!” erang Zayn penuh sesal.
Zayn terus berada di taman itu hingga cahaya keemasan telah menghiasi langit senja. Untuk meluapkan kekecewaannya akan cinta. Setelah puas.
Pemuda itu bangun dari duduknya. Berjalan untuk pulang. Melangkah gontai.
Zayn menghentikan langkahnya saat merasakan ada mengganjal di telapak kaki yang terbalut sepatu, ia merasa menginjak sesuatu, pemuda ini pun menurunkan pandangannya. Menatap apa yang berada di bawah.
Alis Zayn berkerut dalam melihat sebuah benda berbentuk bulat berwarna hitam. Ia pun membungkuk untuk meraihnya.
Zayn mengamati benda yang ada di tangannya.
Perasaan Zayn seketika berdesir hebat, melihat benda yang sering ia lihat.
__ADS_1
“Ini ...” Zayn menggantung ucapannya semakin mengamati sembari tenggelam dalam ingatan. Ini adalah benda yang ia beli untuk Alana saat mereka sedang berkencan.
“Ini bedak milik Alana,” papar Zayn mengingat dengan jelas.
Bedak Alana ada di taman ini? Pikiran Zayn terpangkas cepat. Setelah semalaman ia menunggu Alana, kata Ken tempat ini di tutup, tak akan ada orang yang kemari.
Itu berarti?
Deg ...
Irama jantung Zayn bertalu, harapan besar menerjang. Alana datang saat ia menunggunya.
“Dia datang?” gumam Zayn menarik kesimpulan.
“Dia datang ke tempat ini,” ulang Zayn, seketika manik matanya berkaca-kaca mendekap erat benda milik Alana dalam dadanya. seperti barang berharga.
Sesuai ucapan Zayn jika Alana datang ke taman ini, itu berarti Alana akan melanjutkan pernikahan ini.
Cintanya terbalas.
Bak ada jutaan kembang api meledak di hati Zayn. Harapannya kembali, kali ini dia tidak akan melepaskan Alana. Apa-pun yang terjadi.
Mengetahui Alana datang itu saja sudah cukup bagi Zayn, walau ia merasa aneh mengapa Alana tidak menemuinya. Sekarang Zayn harus menemui Alana.
****
__ADS_1