
“Lama sekali,” keluh Alana menatap ke arah pintu masuk dengan tak sabaran.
“Sabar Lan,” ujar Gisel.
Alana dan Gisel berada di sebuah restoran sedang menantikan kedatangan Arion.
Sesuai saran dari Gisel beberapa saat yang lalu, jika Alana harus menghubungi pemuda itu terlebih dahulu agar Alana berbicara bebas di restoran yang telah di urus privat oleh Gisel.
Gisel tidak mau masalah akan semakin bertambah jika Alana menemui Arion langsung. Dan Alana pun menuruti saran Gisel.
Dan di sinilah Alana menanti kedatangan Arion untuk membuat pemuda itu menghentikan rencananya untuk menjatuhkan Zayn.
Senyum mengembang terus terukir di wajah Arion, setelah mendapatkan telepon dari Alana yang mengatakan ingin bertemu dengannya.
Bertemu dengan Alana! Ah bak angin segar baginya.
Sungguh dia sangat senang walau pun ia tidak tahu apa yang akan di bahas nanti bersama Alana yang penting melihat kembali wajah perempuan itu yang telah beberapa hari tak bertemu, telah membuat hatinya berdesir.
Arion telah masuk ke dalam restoran. Dan benar saja Irama jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat menatap Alana yang duduk menunggunya.
Alana menarik napas panjang mengumpulkan kekuatan saat melihat Arion telah melangkah mendekat dengan senyumannya yang menawan yang membuat orang terpesona namun tidak untuk Alana.
“Sel tolong tinggalkan kami,” ucap Alana pada Gisel.
“Baiklah,” ujar Gisel lalu bangkit meninggalkan Alana.
Tak lama Arion telah berada di hadapan Alana.
“Alana,” sapa Arion menatap lekat wajah Alana.
__ADS_1
“Duduklah.” Alana memasang wajah datar, tak ada senyuman seperti biasanya saat dia berhadapan dengan Arion.
Arion pun duduk, tatapannya tak lepas dari Alana.
“Aku ingin bertemu, karena aku akhirnya tahu jika kau telah masuk ke perusahaan dan mencoba menyingkirkan posisi Zayn,” ujar Alana langsung tanpa basa-basi.
Senyuman seketika surut dari wajah Arion, ternyata Alana akan membahas tentang posisi Zayn.
“Tolong hentikan semuanya Arion, jangan mengusik Zayn kalian adalah sepupu,” tambah Alana.
“Alana ini semua aku lakukan untukmu, agar kau melihatku. Jika aku juga bisa sama seperti Zayn. Aku bahkan memiliki cinta yang besar untukmu,” papar Arion.
Alana mendengkus menatap jenuh, ya ampun pembuktian apa itu memangnya Alana akan terkesan jika dia menjadi presdir seperti Zayn.
“Maaf Arion aku tidak akan pernah bisa bersamamu!”
“Katakan apa kurangnya aku, aku lebih baik dari dia.” Arion terlihat tak terima.
Tidak memiliki perasaan padanya sedikit pun!
Jantung Arion bak di hujam ribuan belati, mendengar ucapan Alana. Ah cintanya tak berbalas. Dadanya terasa sesak bak terimpit.
“Jadi tolong Arion hentikan semuanya, apa-pun yang kau lakukan semua hanya akan sia-sia, aku tidak akan pernah bisa membalas perasaanmu. Apalagi bersama denganmu!” tambah Alana menegaskan perasaannya agar Arion berhenti dengan rencana nya.
Pemuda ini terbungkam, Setiap kata-kata Alana bak tusukan kecewa untuknya.
Alana menatap Arion yang hanya diam memasang wajah datar.
Alana pun bangkit dari duduknya hendak pergi, dia sudah menegaskan perasaannya dan mengatakan semuanya, tidak ada lagi yang perlu ia katakan.
__ADS_1
Tanpa kata Alana berbalik mulai melangkah namun baru selangkah tubuhnya, terkunci oleh sepasang lengah yang melingkar di pinggangnya.
“Arion,” sentak Alana mencoba berontak membebaskan pelukan itu. Sungguh ia tidak menyangka Arion memeluknya dari belakang.
“Alana aku sangat menginginkanmu, hanya kau perempuan yang bisa membuatku tertawa. Kau pernah bercerita tentang perhatian ibu, membuatku sedikit tahu. Aku tidak pernah menemukan perhatian seorang ibu dari gadis-gadis mana pun yang aku kenal. Dan itu hanya padamu. Perhatianmu pada Zayn, kasih sayangmu, membuatku iri saat aku melihatmu bersamanya, aku ingin perhatian itu, aku ingin keluarga yang hangat dan itu akan terwujud jika bersamamu,” lirih Arion yang melihat jiwa keibuan yang di miliki oleh Alana setiap kali ia datang ke rumah Zayn, bagaimana Alana memasak, melayani Zayn dengan begitu perhatian. Dia ingin posisi itu.
Ya Arion yang telah kehilangan ibunya sejak kecil, merasakan itu pada sosok Alana.
Miris itulah yang di rasakan Alana pada Arion, ternyata pemuda ini hanya butuh kehangatan keluarga. Alana menitik pikiran. Arion tidak punya ibu dan ayahnya pasti sibuk bekerja, keluarga besarnya juga tidak akur karena kekuasan, dia pasti hanya tumbuh dari perhatian pelayan. Alana juga merasakan itu saat tinggal bersama Zayn, pemuda itu juga sama seperti Arion kesepian.
Tapi, tidak seperti ini juga ini salah.
“Arion lepaskan!” sergah Alana menyentak tangan Arion hingga belitan tangan itu terlepas.
Alana lalu berbalik menghadap Arion. Pemuda ini lalu meraih tangan Alana.
“Alana hiduplah bersamaku selamanya, aku berjanji akan membahagiakanmu! Hanya aku yang tulus padamu, aku menerimamu apa-adanya.”
Alana menepis tangan Arion.
“Arion aku tidak bisa! Dan ingat ini baik-baik, apa-pun yang kau lakukan pada Zayn. Aku tidak akan meninggalkannya. Aku adalah miliknya, jiwa, ragaku, tubuhku semua adalah miliknya, dia pemilik hidupku. Dan aku tidak akan meninggalkannya kecuali dia menyuruhku pergi dari hidupnya,” papar Alana kemudian berlalu pergi meninggalkan Arion.
Jiwakku, ragaku, tubuhku dan hidupku semua milik Zayn!
Bak di sambar petir jutaan Volt mendengar ucapan Alana. Tangannya mengepal erat, dadanya terasa terbakar api cemburu, Alana begitu terikat pada Zayn.
Ya, semenjak kak Vinonya, menyelamatkan nyawanya tujuh tahun yang lalu Alana dari tragedi kecelakaan yang hampir merengut nyawanya. Saat itu Alana menganggap Zayn adalah pemilik hidupnya. Karena itu dia akan selalu menuruti dan patuh pada apa-pun ucapan Zayn.
Arion membeku menatap nanar kepergian Alana, dadanya terasa teremmas kuat. Denyut sakit menyerap sanubarinya. Perempuan yang ia cintai menolak cintanya dan menegaskan tak ingin bersamanya dan tidak akan meninggalkan sepupunya. Oh hatinya terluka.
__ADS_1
***
Ya ampun Arion butuh banget sandaran nih. Sini nyandar di dada anget Sya.