
Malam telah semakin larut, dua orang pria melangkah malas keluar dari ruangan setelah membereskan semua panci milik mertuanya. Raut wajah tampan itu terlihat sangat lelah. Terutama Zayn yang baru saja menjadi raja sehari. Uhg dia belum istirahat hingga kini. Di tambah menyusun panci di malam pertamanya. Semakin tak bersemangat saja dia.
Dua lelaki ini berpisah menuju kamar istri mereka masing-masing. Zayn menghela napas berat, saat telah berada di dalam kamar, istrinya telah terlelap. Dapat di pastikan malam ini semua rencana buyar.
Zayn berbaring di samping istrinya menatap wajah teduh yang sedang terlelap itu. Semakin menikmati wajah Alana semakin rasa cinta itu membuncah. Ia lalu menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya. Mendaratkan ciuman bertubi-tubi.
“Sayang!” bisik Zayn dengan suara berat sungguh dia merindukan kehangatan tubuh istrinya. Namun yang terjadi istrinya itu semakin nyaman terlelap dalam dekapannya. Sama sekali tak terbangun oleh aksinya.
Zayn mendesahh napas kasar, akhirnya pasrah. Ia pun mulai menutup kelopak matanya.
***
Mentari pagi telah menyambut, bias sinarnya masuk melalui celah jendela. Mengganggu tidur nyaman pemuda yang bergelung di bawah selimut.
Zayn tersentak saat tangannya meraba sisi ruang kosong di sampingnya. Pemuda ini membuka mata istrinya sudah tidak berada di kamar
Astaga dia kesiangan.
Berdecak, Zayn meninggalkan tempat tidur, seharusnya kan tadi dia bisa menghabiskan waktu bersama dengan istrinya.
Setelah membersihkan diri, Zayn menuju dapur di mana Alana berada. Zayn menarik ke dua sudut bibirnya saat melihat istrinya berada di dapur.
Alana yang sedang berkutat di depan kompor menyiapkan sarapan. Terkejut saat merasakan sebuah lengah melingkar di pinggannya.
“kak Vino,” pekik Alana.
“Kenapa ngak bangunin aku,” ucap Zayn lalu mengecup pipi istrinya.
“Aku tidak mau menggangu tidurmu,” jelas Alana lalu. “Semalam sampai jam berapa susun panci?” tanya Alana dengan terdengar mengejek.
__ADS_1
“Tiga,” balas Zayn singkat menempelkan wajahnya di ceruk leher istrinya, mencumbuinya.
Alana tersenyum lucu, membayangkan dua lelaki itu menyusun panci ibunya.
“Kak Zayn hentikan,” protes Alana menggeliat geli saat Zayn terus menciumnya.
“Ayo sarapan,” ajak Alana.
“Ngak mau,” tolak Zayn semakin menggeratkan pelukannya.
Uhg, manja sekali dia. Membuat Alana gemas tuan jutek ini telah berubah begitu manis.
“Mau sarapan kamu aja!” seloroh Zayn lalu melepaskan belitan tangannya menggiring tubuh istrinya ke hadapannya. Tangan Zayn kemudian mengangkat wajah Alana hendak mendaratkan satu kecupan di bibir itu.
Bibir mereka akan bertemu, namun tiba-tiba.
Pletak ...
Alana tercengang melihat siapa yang datang. Zayn pun berbalik.
“Ibu!” pekik Zayn meringis sakit menatap ibu mertuanya dengan panci di tangan. Oh astaga mertuanya baru saja mengetuk kepalanya dengan panci. “Mengapa ibu mengetuk kepalaku dengan panci!” protes Zayn.
“Ini ruang makan, kalau mau bermesraan lihat tempat,” seru ibu Salma.
Alana menipiskan bibirnya menahan tawa, sedangkan Zayn mencebikkan bibirnya. Lagi-lagi kemesraannya terganggu oleh ibu mertua.
Zayn mengarahkan manik matanya ke meja makan menatap Nara dan Milan telah duduk berdampingan di meja. Ya ampun sejak kapan mereka ada di sana. Pasangan itu terlihat menahan tawa melihatnya, di ketuk panci.
“Jangan nempel mulu, Ini untuk kamu,” kata ibu Salma menyodorkan selembar kertas ke arah Zayn.
__ADS_1
“Ini apa bu?” tanya Zayn menyambut kertas pemberian ibu mertuanya.
“Itu tugas untuk kamu.”
Pemuda ini lalu membaca kertas yang di beri ibu Salma.
“Ibu jenar membawa rantang tiga susun, ibu Tina bawa pulang mangkuk buat sup, ibu Retno memakai dua panci susun paling kecil untuk membawa pulang rendang dan acar,” baca Zayn dari sebagian yang tertulis di kertas.
“Itu daftar alamat ibu-ibu yang kemarin bawa pulang makanan saat kita hajatan. Mereka pakai wadah ibu, rantang, mangkuk, kamu minta balik gih, kalau ngak ditagih gitu nanti pada amnesia. Nggak balikin,” jelas ibu Salma.
Apa! Bagaimana-bagaimana tadi?
Jeduar
Zayn tercengang dia di tugaskan mengumpulkan wadah mertuanya.
Oh astaga menagih rantang tiga susun dan wadah lainnya.
“Ibu,” protes Zayn.
“Sudah kerjakan tugas kamu.” Tekan ibu Salma tak ingin protes.
Zayn lalu mengarahkan pandangannya bergantian pada Nara, Milan dan Alana semua terlihat menahan tawa mengetahui tugasnya.
Ibu Salma pun berlalu duduk di meja makan. Tatapannya beralih pada pasangan yang ada di hadapannya duduk berdampingan saling berpegangan tangan.
“Kalian juga jangan mepet-mepet terus, nanti anak ke empat kalian jadi lagi,” cibir ibu Salma pada pasangan Nara dan Milan.
“Ya bu, kok kami,” protes Milan.
__ADS_1
Kini giliran Zayn yang menahan tawa melihat pasangan ini. Semua kebagian dari ibu Salma.
Sarapan pagi pun di mulai mereka duduk di meja makan menyantap menu sarapan pagi terkadang di selingi obrolan ringan. Zayn memasang wajah masam, oh lagi kemesraannya bersama dengan istrinya tertunda, begitu banyak tugas yang ibu Salma berikan padanya.