
Pagi menyambut, Alana telah berada di dapur menyiapkan sarapan pagi.
Ada yang berbeda dengan pagi Alana kali ini. Hari ini adalah hari spesial, karena itu sejak pagi buta dia telah bangun melakukan perkerjaan rumah, menyelesaikan tugas dengan semangat.
Rangkaian tugas pagi terakhir Alana selesai saat ia telah menghidangkan menu masakan ke meja.
“Akhirnya semua siap,” kata Alana sembari tersenyum bangga menatap ke arah meja makan.
Perhatian Alana tergeser saat mendengar suara langkah kaki. Ia mengembangkan senyuman saat menatap pemuda tampan yang telah rapi dengan stelan jas.
“Kak Zayn!” sapa Alana dengan senyum ramah.
Zayn melangkah mendekat dengan wajah datar lalu duduk di kursi yang biasa ia tempati.
Bak istri Alana mulai melayani Zayn.
Setelah semua selesai dan Zayn mulai menyantap makanannya, Alana pun ikut duduk.
Gadis cantik ini ikut sarapan bersama. Tak lama tatapannya tertuju pada Zayn. Ada sesuatu penting yang harus ia katakan pada pemuda itu.
Ya Tuhan semoga Zayn, mau mendengarkan dan mengabulkan keinginannya, itu harapnya.
“Kak Zayn!” panggil Alana yang menikmati sarapannya.
"Emmm.” Zayn berdehem lalu mengarahkan netranya pada Alana. Dengan wajah datar sembari mengunyah.
“Hari ini kakak bekerja kan?" ucap Alana membuka kata sebelum menyebutkan keinginannya.
“Kau tidak lihat aku sudah rapi,” sinis Zayn menatap Alana lalu kembali menyuap makanannya.
Duh, wajah tampan tapi jutek terpasang lagi di wajah Zayn. Decak Alana.
“Kak Zayn, hari ini kan kakak ke kantor dan aku juga sudah membersihkan rumah. Berarti aku boleh pergi kan,” pinta Alana meminta izin pada pemuda jutek itu.
Dia tidak bisa pergi seenaknya saja. Terakhir kali dia meminta izin, Zayn membolehkannya jika tugasnya selesai. dan kali ini semua telah selesai lebih awal.
Zayn pun akan ke kantor tidak mungkin dia di suruh memasak rendang lagi. Sebagai penghambatnya.
"Pergi saja kau tidak perlu izinku jika hanya bekerja,” kata Zayn.
“Bukan kak, aku tidak akan bekerja,” sela Alana dengan cepat.
“Lalu ....”Zayn menatap malas.
“Hari ini pemutaran perdana film Arion, aku mendapatkan dua tiket menonton dari Arion,” ucap Alana dengan ceria, matanya berbinar senang, inilah kebahagiaan Alana hari ini. Menonton film Arion dengan tiket gratis.
What ... Arion ...
Zayn menghentikan makannya mendengar Alana mengucap nama sepupunya itu. Matanya membulat.
“Apa!” sentak Zayn dengan suara meninggi.
Oh tidak, mereka akan kembali bertemu.
Alana terkesiap dengan reaksi Zayn. Terlihat berbeda saat ia meminta izin menonton film Arion, tidak seperti tadi tenang dan wajah datar.
“Aku dan Gisel akan pergi ke pemutaran film Arion,” jelas Alana menegaskan.
“Kenapa kau baru bilang sekarang!” decak Zayn.
“Memangnya kenapa kak?”
“Kau kan bisa mengatakannya semalam,” sosor Zayn.
__ADS_1
Ahh menyebalkan sekali, Vampir China ini, meminta izin di detik terakhir hingga pikirannya terasa tak dapat berpikir dengan baik.
Zayn terdiam mengatur napas mencoba tenang.
“Apa tugasmu sudah selesai?” tanya Zayn.
“Sudah kak,” jawab Alana dengan senyum bangga.
“Kau sudah mengepel?” tanya Zayn lagi.
“Sudah kak.”
“Melap kaca jendela?” berucap semakin cepat.
“Sudah kak.”
Uhh, apalagi yang harus dia tanyakan, berpikirlah. Mata Zayn menyapu seluruh ruang yang telah bersih dan rapi.
“Melap perabotan rumah dari debu?”
“Sudah kak.”
Ya ampun kenapa semua jawaban Vampir China sudah semua. gerutunya
“Cuci piring?” tanya Zayn
“Belum kak,” balas Alana.
Belum
Mendengar itu Zayn tersenyum samar.
“Hanya piring bekas sarapan kita ini yang belum di cuci kak,” tambah Alana.
Zayn menatap Alana sinis, siap sekali Vampir China ini menonton film Arion.
“Menyiram tanaman?” sosor Zayn lagi.
“Sudah kak.” Jawab Alana cepat bak bermain sebuah kuis dengan Zayn.
“Memandikan kucing?” sebut Zayn lagi asal.
“Hah.” Alana tercengang mendengar pertanyaan Zayn.
“Kucing. Kita kan tidak punya hewan peliharaan kak,” balas Alana.
Zayn tersentak mendengar ucapan Alana, astaga pertanyaan apa itu? Itu konyol diakan tidak punya hewan peliharaan.
Ini memalukan
Zayn dengan cepat bangkit dari duduknya, membuang pandangannya.
“Baiklah, kau pergilah, aku tidak peduli,” ucap Zayn dengan ketus, bersikap jutek.
“Benar kah kak. Aku boleh pergi?” tanya Alana lagi meyakinkan.
“Terserah padamu! Aku bilang aku tidak peduli” tekan Zayn.
Alana tersenyum puas mendengar izin dari Zayn.
Pemuda ini lalu melangkah meninggalkan Alana. Keluar rumah.
“Dasar Vampir China, semua sudah siap untuk apa meminta izin,” gerutu Zayn di dalam hati melangkah menuju mobil di mana Ken telah berdiri menunggunya.
__ADS_1
Sedangkan Alana berdecak hore, yes akhirnya dia mendapatkan izin menonton bersama Gisel.
//////
Sesosok gadis cantik mengenakan dress berwarna peach terlihat baru saja memutar kunci, mematikan mesin kendaraan roda dua miliknya.
Gadis ini belum beranjak dari motornya, tapi, dering ponselnya sudah terdengar dari tas selempang yang ia gunakan. Ia pun merogoh tas mengeluarkan ponselnya.
“Tidak sabaran sekali,” gerutu Alana.
Memutar bola mata malas, sudah sejak tadi ponselnya terus berdering.
Ia pun meletakkan ponsel di telinganya.
"Ya, Sel sabar,” ucap Alana.
“Aduh Alana, aku sudah berada di sini dua jam."
Alana tergelak, ya ampun sahabatnya ini bersemangat sekali datang lebih dulu sebelum jadwal pemutaran film.
"Itu kan maumu. Kau juga sih, belum waktunya, kau sudah di sana.”
“Aku sudah tidak sabar Alana, semoga nanti aku mendapatkan foto bersama Arion.” Terdengar antusias di seberang sana.
“Kau di mana sekarang?”
“Aku sudah di sini, Tinggal masuk.”
“Cepatlah kemari! Aku sudah tidak sabar.”
“Ya baiklah.”
Panggilan telepon terputus Alana menggelengkan kepala pelan, melihat ulah Gisel yang begitu bersemangat jika menyangkut Arion idolanya.
Alana memasukkan ponselnya kembali ke tas selempangnya lalu melangkah untuk masuk ke dalam gedung.
Suasana begitu ramai banyak orang-orang yang ingin menonton pemutaran film.
Sedikit lagi Alana akan masuk ke dalam gedung. Akan tetapi langkanya menjadi pelan saat manik matanya menatap pada sesosok pemuda mengenakan kemeja putih yang tergulung hingga siku berdiri dan menjadi perhatian karena wajah tampannya.
Wajah itu ...
Sepertinya tak asing
Alana mengerjap, mempertegas pandangannya sembari berjalan melangkah mendekat. Apa dia tidak salah lihat.
Alana mencoba menegaskan jika dia tak salah melihat kan, hingga. Suara itu membuatnya tersadar.
“Kenapa kau lama sekali! Aku sudah menunggu dari tadi!” ucapnya dengan ketus.
Suara khas itu memekakkan gendang telinganya. Oh siapa lagi pemilik suara ketus itu.
“Kak Zayn!” ucap Alana menatap pemuda itu dengan wajah juteknya, kenapa Zayn berada di sini dan sedang berdiri di samping pintu masuk.
Alana mengerjap bingung. Kenapa pemuda ini berada di tempat ini
Hai segini dulu. ...
Like
Coment ...
lagi ngetik lagi nih ...
__ADS_1