
Uwek ... Uwek ...
Alana membungkukkan tubuhnya di westafel, memuntahkan isi perutnya yang terasa bergejolak sejak tadi.
Setelah selesai membasuh mulut, Alana melangkah keluar dari toilet salon.
Alana mendudukkan tubuhnya di sofa panjang, tubuhnya memang terasa lemah sejak tadi.
“Sel aku sangat gugup, hingga asam lambungku naik,” jelas Alana.
Perasaannya campur aduk, dia akan bertemu dengan Zayn dan melangkah menjadi sepasang suami istri yang sebenarnya. Tentu saja dia gugup. Ini awal kehidupan pernikahannya.
“Ini karena kau tidak makan seharian,” papar Gisel.
“Sudah kemarilah, ganti pakaianmu dengan ini.”
Gisel memperlihatkan gaun cantik putih panjang, di hadapan Alana. “Lihat cantikkan, ini terlihat anggun padamu,” jelasnya.
“Ganti pakaian? Apa perlu Sel,” Alana mengerutkan alisnya.
“Iya, masa kau ke taman dengan pakaian seperti itu. Tentu saja kau harus tampil cantik,” jelas Gisel.
“Tapi Sel ini terlalu berlebihan, Inikan pakaian di salon,” protes Alana.
“Ihhh, Alana hari ini itu sangat berkesan. Dan Zayn akan terpesona dengan melihatmu datang ke sana, hingga merasa sangat beruntung, kalian akan menghabiskan malam di taman yang indah. Ahhh romantis sekali,” ucap Gisel membayangkan.
Ya ampun Gisel selalu saja heboh.
“Berawal dari taman ....”
“Sel!” tekan Alana memotong ucapan sahabat mesumnya itu.
Gisel tersenyum pelik, menggaruk tengkuknya. Saat Alana telah memicingkan mata.
“Iya ... iya. Cepat ganti.”
Menarik napas pasrah Alana lalu mengganti pakaiannya sesuai saran Gisel.
Sementara Alana bersiap-siap. Di tempat yang jauh di sana. Di taman Zayn kembali menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. sudah hampir jam sembilan namun cintanya itu belum ada tanda-tanda menampakkan diri.
“Kumohon datanglah,” gumam Zayn masih menunggu dengan kerisauan. Setiap detik yang terlewat semakin besar juga keresahan menggelayuti perasaannya.
Kembali pada Alana dan Gisel.
“Alana kau sangat cantik sekali, pakaian ini sangat pas untukmu," puji Gisel saat Alana telah berganti pakaian.
Senyum lebar menghiasi wajah Alana.
__ADS_1
“Kemarilah aku akan merias wajahmu, aku akan membuatmu seperti putri,” ucap Gisel menarik kursi untuk Alana berhadapan depan kaca.
Langkah Awal Gisel mulai menghapus make up yang di kenakan Alana sejak tadi. Dia akan merubahnya.
“Alana, wajahmu sangat pucat,” kata Gisel saat melihat wajah Alana telah polos tanpa make up.
"Ini pasti karena kau belum makan. Kau ingin makan dulu?” tawar Gisel.
Gisel tahu orang yang galau memang kehilangan selera makan dan itu yang sedang di rasakan oleh Alana.
Makan
Alana menggeleng, dia sedang tidak nafsu makanan.
“Tidak perlu Sel, lagi pula aku harus pergi secepatnya,” ujar Alana.
“Duhh, kan udah nggak sabaran,” goda Gisel menaik-naikan Alisnya.
“Sel.” Alana memberengut.
Gisel tersenyum lalu mulai mengulas make up untuk Alana. Hari ini Gisel akan membuat Zayn terpesona melihat Alana.
Setelah beberapa saat. Alana telah siap. Mengenakan gaun putih, dengan rambut panjang di gerai bergelombang.
“Wah Alana kau sangat cantik, Lihatlah Zayn pasti akan terpesona melihatmu.” Lagi Gisel heboh. “Zayn akan semakin cinta padamu.”
“Sudah cepat kau pergi.” Gisel mendorong tubuh mungil Alana.
“Sel ...”
“Sudah pergi sana, jangan cemas. Kalian akan bersama,” ujar Gisel.
Alana mengangguk lalu berbalik melangkah ke luar, dia akan pergi.
“Ingat Alana jangan khawatir maju terus, berawal dari keresahan dan berakhir dengan desahann, aaahhhhh,” teriak Gisel lengkap dengan desahannyaa.
Alana hanya membulatkan matanya. Oh astaga masih saja mesum.
“Semangat Alana.” Gisel menaikkan kepalan tangannya tanda memberi semangat.
Alana telah ke luar dari salon menuju di mana ia memarkirkan motornya dia harus pergi secepatnya, Zayn pasti sudah menunggunya sejak tadi.
Alana hendak naik ke kendaraannya namun Perempuan ini terhenti saat melihat ada sebuah mobil berhenti di samping motornya. Tak lama keluar seorang pemuda tampan, melangkah mendekat ke arahnya.
“Arion,” gumam Alana dengan alis berkerut untuk apa pemuda ini berada di tempat ini.
Arion yang telah berada di hadapan Alana terdiam, terpaku menatap perempuan itu terlihat begitu berbeda malam ini. Terlihat sangat cantik bak seorang putri, hingga membuatnya terpesona.
__ADS_1
“Arion!” sapa Alana yang melihat pemuda itu hanya diam menatapnya.
“Arion ada apa?” suara Alana sedikit menghentak membuat pemuda itu tersadar.
“Aku tahu Zayn sedang menunggumu di taman bunga. Alana kumohon jangan pergi,” ujar Arion.
Arion mengetahui informasi tentang taman bunga untuk Alana dan keberadaan Zayn yang menunggu Alana.
“Tidak bisa Arion aku harus pergi, Kak Zayn telah menungguku sejak tadi di sana,” ujar Alana dengan penuh keyakinan.
Arion lalu beralih meraih tangan Alana.
“Alana, hanya aku yang akan tulus menerimamu apa-adanya,” ucap Arion.
Alana menepis tangan Arion.
“Maaf Arion tapi aku tidak punya perasaan padamu! Aku mencintai kak Zayn,” ungkap Alana akan perasaannya.
Mencintai Zayn, ahhh hati Arion bak di remat. Kini Alana mengakui cintanya. Dadanya terasa sesak.
“Alana, mengertilah Zayn tidak akan pernah menerima keadaanmu,” jelas Arion dengan nada penuh penekanan.
“Arion kami saling mencintai. Kami akan selalu bersama," tekan Alana.
Oh astaga Arion tidak mengerti juga.
"Aku harus pergi, sekarang kak Zayn menungguku,” seru Alana hendak melangkah.
Namun terhenti saat pergelangan tangannya di cekal oleh Arion.
"Kau pikir dia akan menerimamu," seru Arion. lalu menarik tangan Alana hingga tubuh perempuan itu ikut terhuyung.
“Ikut aku."
Arion semakin menarik tangan Alana menuju mobilnya, membuka pintu mobil, lalu memasukkan separuh tubuhnya seperti mencari sesuatu. Lalu tak beberapa lama ia meraih air mineral.
“Arion kau mau apa?” ucap Alana gelagapan saat melihat Arion membuka tutup botol air kemasan lalu mengarahkannya ke wajah Alana.
"Aku akan memperlihatkan apakah dia tulus padamu,” ujar Arion.
Blur ...
Arion menyiram wajah Alana dengan air mineral, hingga wajahnya basah.
“Arion mengapa kau menyiram wajahku!” pekik Alana menutup wajahnya dengan telapak tangan.
****
__ADS_1
Arion sayang kabur, pembaca udah siap ketuk kepalamu pake centong lodeh. Pada sebel ya?