
Matahari telah naik, sinar teriknya menyengat kulit. Sepeda motor Alana baru saja terparkir di depan salon. Dengan langkah cepat Alana masuk ke dalam tempatnya bekerja itu.
“Alana kau terlambat!” suara memekik Gisel menyambut Alana. Berdiri menghampiri Alana yang baru saja melalui ambang pintu.
Alana hanya bisa membalas dengan cengiran. Sembari merutuk dalam hati. bisa-bisanya dia bangun kesiangan. Uhg, ini semua karena Zayn yang semalam mengganggu tidurnya. Dan lebih menyebalkannya lagi dia pergi tanpa membangunkannya.
“Maaf Sel. Semalam aku begadang. Dan saat aku membuka mata ternyata udah siang,” alibi Alana.
Tangan Gisel bersedekap, menatap penuh selidik. Merasa aneh dengan jawaban Alana.
“Memangnya apa yang membuatmu begadang?” tanya Gisel.
Alana terdiam memikirkan alasan apa untuk Gisel tidak mungkin dia mengatakan jika dia tidak bisa tidur karena sekamar dengan Zayn.
Ahh Gisel pasti heboh, terus bertanya bak penyidik, lalu mengeluarkan ucapan mesum berawalnya dan berakhirnya, akan keluar jika tahu ia tidur bersama Zayn.
“Aku ... Aku bermain game di ponsel,” alibi Alana mengalihkan pandangannya dari Gisel agar raut wajah bohongnya tak terbaca.
Mendengar alasan keterlambatan Alana. Gisel mengangguk, memaklumi. Kemudian berlalu.
Gisel percaya, syukurlah. Alana menarik napas lega. Dia bebas dan bisa bekerja dengan tenang.
Waktu telah menjelang sore tak lama lagi masa kerja Alana untuk hari ini berakhir. Gadis ini pun mulai merapikan alat make up. Bergegas pulang.
Pandangan Alana beralih saat merasakan ada seorang yang baru saja masuk ke dalam salon.
Netra Alana pun ke arah pintu. Alana menautkan alisnya saat melihat pemuda tampan berdiri di ambang pintu. Mengulas senyum menawan yang membuat ke tampananya naik berlipat-lipat.
“Arion!” sapa Alana pada superstar Jerman ini.
Aktor itu datang ke salon? Perihal apa ini?
“Arion kau di sini? Kau tidak syuting?” tanya Alana menatap heran, aktor sibuk sekelas Arion datang ke salon.
“Iya, aku kabur,” balas Arion.
“Kau kabur, astaga,” pekik Alana panik.
Arion mengembangkan senyuman melihat tingkah Alana, menatap lekat wajah Alana. Netranya seakan menyiratkan sebuah pancaran saat melihat Alana. Setelah beberapa hari tak bertemu dengan perempuan ini.
“Aku punya sedikit waktu, jadi aku kemari? Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,” ujar Arion.
__ADS_1
Alana beroria. Lalu mempersilahkan pemuda itu duduk.
“Memangnya ada apa Arion? Apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Alana penasaran yang kini duduk di sofa panjang berdampingan dengan aktor tampan ini.
“Begini, aku sedang membutuhkan seorang asisten make up untukku saat syuting,” jelas Arion.
“Jadi kau sedang mencari. Assisten make up untuk menemanimu saat syuting?” ulang Alana.
Arion mengangguk.
“Wah yang bekerja padamu nanti pasti sangat beruntung. Perkerjaan itu pasti asyik sekali, bisa bertemu dengan banyak artis," seru Alana heboh.
“ Kalau beruntung, Bagaimana jika kau saja? Apa kau mau menjadi asisten untuk memake upku?” tanya Arion langsung.
“Hah,” balas Alana tercengang.
Astaga demi apa. Dia yang mendapatkan tawaran langsung dari aktor ini untuk menjadi asistennya.
Seketika senyum Alana surut berganti wajah bingung. Syok dia.
“Aku Arion," ulang Alana.
"Iya. aku menawarkannya padamu.” Arion menatap wajah Alana yang menggemaskan terlihat syok dia seakan tak percaya.
Di salon Gisel saja dia hanya menjadi asisten Gisel.
“Tapi, Aku percaya padamu, dan aku mengenalmu,” ujar Arion memasang wajah serius menatap Alana.
“Maaf Arion cari saja yang lain, aku tidak bisa,” tolak Alana merasa tak pantas. “Bagaimana kalau Gisel,” tawar Alana. Ya anda ia menawari sahabat mesumnya itu seketika salon ini bisa menggema teriakannya. Jangan kan seperti itu mendengar Alana di tawari jadi asisten Arion, Gisel pasti memecat Alana saat itu juga agar bisa bekerja bersama Arion.
“Aku hanya menawarkan ini padamu,” terang Arion terlihat sangat berharap.
Cengiran samar menghiasi wajah Alana melihat binar harap dari Arion. Ya ampun, ada ribuan tukang make up di Jerman kenapa, aktor top ini malah memilih dia. Sebenarnya tawaran itu sangat menggiurkan, bertemu dengan banyak superstar Jerman, pengalaman yang sangat hebat. Tapi. Oh astaga dia ini hanya perias remahan wijen di onde-onde. Sangat tidak layak untuk Arion. Alana merendah.
Suasana hening tak ada jawaban mengiyakan dari Alana.
“Aku akan memberi gaji yang besar, berlipat-lipat dari yang kau hasil kan dari salon,” ujar Arion memecah keheningan.
Alana tersentak menatap Arion lekat.
Apa dia bilang? Gaji berlipat-lipat. Oh tidak, seketika iman Alana bergetar. Ia mulai oleng, mendengar gaji yang ia dapatkan.
__ADS_1
Uhg, itu bisa menambah tabungan untuk operasi wajahnya. Apalagi waktu yang di berikan oleh ibunya juga tinggal beberapa bulan lagi, mungkin tiga bulan lagi, dia harus semakin giat mengumpulkan uang.
“Bagaimana kau mau kan?” tanya Arion lagi.
Ya Tuhan, bagaimana ini?
“Baiklah. Begini saja, bagaimana jika kau mencobanya satu bulan? Jika pekerjaanmu tidak beres dan tidak sesuai, aku tidak akan segan-segan memecatmu,” tekan Arion melotot galak. Membuat Alana tersenyum lucu.
Uji coba satu bulan? Hanya satu bulan tak masalah. Lagi pula dia akan di pecat oleh Arion jika dia gagal. Ingat Alana jika berhasil gajinya lumayan. Dan bonusnya ibunya pasti bangga.
“Langsung pecat. Wah, ternyata kau boss yang kejam,” cibir Alana mencebikkan bibirnya.
Arion tercengang mendengar ucapan Alana.
“Jadi kau mau?” sosor Arion.
“Uji coba satu bulan kan,” ujar Alana.
Arion menarik ke dua sudut bibirnya. Alana akan menjadi asisten make upnya. Pasti harinya menjadi seru jika bersama dengan Alana.
“Aku akan bekerja keras sebagai asistenmu, agar orang melihat kemampuanku sebagai asisten make upmu, bukan karena aku pakai orang dalam,” ujar Alana yang dengan mudahnya menjadi asisten artis karena Arion sendiri yang menawarinya.
Tuh kan, Arion tersenyum lucu akan ucapan Alana. Arion membayangkan bagaimana nanti hari-hari yang ia lalui bersama perempuan ini. Dia akan terus tertawa.
“Karena kau dapat pekerjaan baru bagaimana jika merayakannya,” usul pemuda tampan ini.
“Merayakannya?”
“Iya kau harus mentraktirku, makan malam, malam ini,” papar Arion.
Alana membisu tak bisa menjawab.
“Ingat kau masih punya hutang,” tambah pemuda itu, menatap Alana belum menjawab tawarnya.
Ya ampun benar. Arion tidak melupakan hutangnya, dia masih punya hutang traktir pada Arion.
“Baiklah, aku akan mentraktirmu makan malam kali ini, setelah itu hutanku lunas ya,” putus Alana.
Senyum puas menggembang di wajah Arion.
Alana dan Arion baru saja menggiring langkah keluar dari pintu salon. Mereka akan makan malam.
__ADS_1
Akan tetapi Iringan Kaki mereka berhenti melangkah, saat menatap seseorang lelaki berdiri menjulang di hadapan mereka. Memasang wajah jutek.