Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
sepi


__ADS_3

Mentari pagi menyambut, Zayn telah siap menjalani hari seperti biasa. Kini dia berada di ruang makan, menyantap selembar roti tawar dengan selai.


Ya menu sarapan hanya selembar roti, karena sungguh dia tidak punya selera makan, entah apa yang terjadi pada dirinya. Lidahnya seakan tak bisa menerima rasa masakan dari tangan orang lain, seolah sudah terbiasa dengan racikan masakan Vampir China itu, padahal baru beberapa bulan perempuan itu memasak untuknya.


Manik mata Zayn terus menatap nanar kursi yang ada di hadapannya, tempat yang selalu di duduki oleh Alana si Vampir China, gadis centil yang dulu selalu ia anggap hanya bisa berdandan untuk menggodanya.


Rasa sepi, kosong kini di rasakan oleh hatinya, mengingat jika dia suka diam-diam menatap Alana yang mengulas make up setelah berpeluh dengan kegiatan memasaknya di dapur.


Lagi hati Zayn bertanya-tanya di dalam lubuk hati tentang apa yang sedang dilakukan Alana yang jauh di sana.


Sudah seminggu Zayn, merasakan berpisah dengan Vampir China itu, namun hatinya terus gelisah bayangan perempuan bermake up tebal terus mengusik pikirannya.


Harinya terasa benar-benar kacau, tak ada semangat. Ada apa dengan dirinya? Ini sudah seminggu berlalu? Namun perasannya masih saja hampa.


Menenggak segelas orange jus sebagai penutup, Zayn pun mengakhiri sarapan setelah selembar rotinya habis. Itu cukup untuk mengganjal perutnya. Dia siap melalui hari berat lagi, berkutat dengan banyak perkerjaan di kantor. Berharap dengan cepat rasa kosong itu hilang dengan menyibukkan diri di kantor.


****


Berjuta bintang menghiasi langit. Malam telah menjelang Alana berada di rumahnya, sedang berbaring telentang sembari memeluk guling.


Terlihat benda pipih melekat di telinganya. Seperti biasa Alana sedang menerima panggilan dari ibunya. Saling bertukar kabar.


“Kamu sudah makan Na?” tanya suara ibu di seberang sana.


“Sudah bu,” balas Alana.


“Ibu apa ini sudah bisa di susun ke dalam lemari?” Alana mendengar suara berat laki-laki di seberang sana sedang berbicara dengan ibunya.


“Ya taruh yang rapi ya.” Balas suara ibu.


Alana duduk di tempat tidur menegakkan tubuhnya terlihat serius. Dia tahu suara itu.


“Ibu itu kak Milan?” tanya Alana memastikan.


Jika lelaki yang bersama ibunya itu adalah kakak iparnya.


“Iya, itu nak Milan, mereka sedang berkunjung, kakak kamu lagi masak di dapur.”


“Kak Milan masih ibu suruh lap panci ibu?” tanya Alana lagi.


Oh astaga, ibunya ini tega sekali dengan menantunya.


“Ya, itu hukuman untuknya karena sudah menyakiti hati anak ibu, lagi pula itu janjinya Na, jika dia kembali bersama dengan kakakmu,” jelas ibu Salma mengenang prahara di awal pernikahan anak pertamanya itu dengan seorang pemuda kaya.


“Ya ampun bu, kak Milan sudah mau punya anak 3 masih ibu hukum lap panci,” ucap Alana tak habis pikir. Ibunya masih menyuruh presdir itu, melap koleksi pancinya padahal rumah tangga mereka telah bahagia, badai pernikahan mereka sudah tidak ada lagi, mereka pun akan menyambut anak ketiga. Namun Ibunya masih saja belum menghapus tugas itu.


“Anak ibu sangat berharga. Ini juga agar nak Milan berpikir panjang untuk menyakiti kakakmu lagi.”


Alana menarik napas berat, mengingat hubungan pernikahan kakaknya memang rumit, penuh drama, air mata dan salah paham. Tapi semua telah membaik.


“Ibu itu tidak akan terjadi, kak Milan sangat menyayangi kak Nara. Kak Nara malah kewalahan menerima limpahan cinta darinya,” ujar Alana.

__ADS_1


“Iya, kamu benar Na. Benar-benar nempel banget, kakakmu udah kaya sandera penculikan sama suaminya. Tapi ibu senang, kakakmu mendapatkan suami baik, mana ganteng, kaya lagi,” tambah ibu Salma berbangga hati akan kelebihan menantunya.


“Iya bu, kak Nara sangat beruntung.” Alana.


“Semoga kamu juga dapat jodoh yang baik, kaya kakak kamu Na.”


“Kok Nana bu.” Alana merotasi mata malas. Kenapa jadi bahas dirinya.


“Iya Na. Ibu ngak muluk-mulu kamu dapat jodoh yang sama seperti nak Milan. Pns aja udah cukup Na.”


“PNS, Bu. Emang kenapa?”


“Kalau kamu punya suami pns, dia punya jaminan hari tua. Trus yang paling penting Na. Kalau mau ambil kredit di bank gampang, banyak yang mau ngutangin,” oceh sang ibu dengan menggebu.


Alana mengusap wajahnya kasar. Oh astaga ibunya ini.


“Ya walau pun ngak bisa mencari suami yang kayanya luar biasa seperti nak Milan, pns lumayan lah.”


“Ibu.” Alana mengeram kasar.


“Iya-iya. Apa-pun Na, yang penting kamu bahagia bersamanya dan dia mencintaimu dengan tulus juga menghargaimu. Jika dia menyakitimu, ibu akan memukul kepalanya dengan panci koleksi ibu.”


Alana terdiam ... suami, seketika bayangan pemuda tampan terlintas di pikirannya. Ada perasaan bersalah dalam dirinya.


“Ibu sudah dulu yah, Nana lelah,” ucap Alana sudah tak bersemangat untuk melanjutkan obrolan.


“Ya baiklah. Kau istirahatlah.”


Panggilan terputus. Alana tertunduk sedih.


“Ibu pasti kecewa,” gumam Alana.


Alana kembali mengatur posisi berbaring di ranjang. Berbaring menatap langit-langit, mengingat kilas baik, situasi yang membuatnya terjebak pernikahan dengan sahabat kakaknya. Perlakuan yang ia terima oleh pemuda itu.


Ya Tuhan, Alana terkesiap ada sesutu yang mulai ia sadari, ternyata kisahnya sama dengan awal pernikahan kakaknya. Terjebak. Seketika bayangan Milan, yang merupakan kakak iparnya sedang melap panci ibunya mengudara di pikirannya.


Jika ibunya tahu pernikahannya. pasti Lelaki itu juga akan menerima hukuman yang sama seperti kakak iparnya.


Uhg, tanpa sadar Alana tersenyum lucu, membayangkan Zayn melap satu persatu koleksi panci ibunya dengan wajah datarnya itu. Pasti menggemaskan, serasa sikap semena-mena Zayn padanya terbalas.


Alana menggeleng cepat. Pikir apa dia ini. Kemudian bergidik dengan hukuman ibunya Milan saja sudah melap panci hingga anak ketiga. Bagaimana dengan Zayn ini?


“Ahhh, itu tidak akan terjadi, ibu tidak boleh tahu. Kasihan kak Vino,” gumam Alana lalu menutup matanya, rasa kantuk telah menerjangnya.


***


Malam telah larut sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki pelataran rumah. Zayn telah kembali ke rumah setelah menghabiskan waktu seharian dengan perkerjaan kantor. Semenjak tidak ada Vampir China di rumah, dia memilih banyak menghabiskan waktu di kantor.


Zayn menatap sayu rumahnya. Entah mengapa setiap pulang ke rumah, ujung hatinya terus merasakan gundah, sepi.


Menarik napas berat, pemuda tampan ini turun dari mobil kemudian melangkah kakinya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


“Selamat malam tuan,” sapa bibi Lucy seperti biasa menyambut kepulangan Zayn.


“Tuan makan malam telah sedia,” ucap bibi Lucy.


“Aku tidak lapar,” ujar Zayn singkat terus berlalu.


Lagi dia tidak punya selera makan.


Netra mata Zayn lagi-lagi menatap kosong ruang makan. Sudut hatinya terasa hampa, gadis itu benar-benar telah membuatnya menggila dan terus berharap dia berada di dapurnya, berkutat dengan alat dapur, memasak atau duduk di ruang makan dengan ponsel menerima panggilan telepon dari ibunya atau mengulas wajahnya dengan make upnya namun semua itu tidak terjadi.


Vampir China, kenangannya dan bayangannya terasa di semua sudut rumah.


Zayn melanjutkan langkah menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Malam semakin larut, seorang pemuda tampan terlihat berbaring di ranjang king size miliknya. Berbaring menatap langit-langit kamar, hingga saat ini kelopak matanya juga belum terpejam.


Lagi dan lagi kenangan bersama Alana terus terlintas menari-nari di pikiran bagaimana perempuan itu bermake up, mendengar celetukan lucu dan polosnya khas warga +62.


Zayn selalu saja bertanya dalam hati apa yang sedang di lakukan perempuan itu di rumahnya?


Uhg, rasanya kepala Zayn ingin pecah.


“Ini sudah seminggu, kenapa aku terus mengingat Vampir China itu?” decak Zayn meremmas guling yang ada di dalam pelukannya.


“Kenapa aku selalu memikirkannya?” gerutu Zayn lagi. “Kenapa aku begitu bergantung padanya?” oceh Zayn yang hidupnya menjadi tak teratur tak berselera makan, tak bersemangat dan menyebalkannya lagi tak bisa terlelap dengan nyenyak. Dia pikir perasaan ini hanya akan menghilang seiring waktu nyatanya tidak.


Zayn menendang guling menjauh darinya lalu bangun, duduk di ranjang.


“Aku tidak bisa terus begini! Vampir China itu akan membuatku gila!” decak Zayn mengepalkan tangan, lalu bangkit, turun dari ranjang.


Zayn melangkah menuju laci nakas menyambar sebuah kunci mobil.


Sejenak Zayn menatap kunci mobil yang telah berada di tangannya.


“Kau sangat merepotkan,” gerutu Zayn lalu menggenggam erat kunci mobil dalam telapak tangannya.


Setelahnya pemuda tampan yang mengenakan pakaian tidur ini, melangkah cepat keluar dari kamar, dia harus menuju suatu tempat yang bisa menghilangkan semua kegelisah dan kegalauannya. Memecah jalan di keheningan malam tak peduli selarut apa ini.


***


Emang gitu bang, Vampir China emang suka ngerepotin perasaan orang.


Ingat abang Vino kata petuah dari Sya, orang yang kuat bukan orang yang tahan dan diam aja waktu liat jemurannya di asapin tetangga yang lagi bakar sampah, tapi orang yang kuat itu adalah yang tahan nahan rindu. Yaelah Baru juga seminggu ...


Hai, Rindu sama aku ngak? Hahaha,


Pede banget ya.


Alhamdulillah kondangan udah habis. Semoga bisa lancar.


Like ...

__ADS_1


Coment ...


Vote ...


__ADS_2