
Alana dan Gisel berboncengan kembali ke salon setelah menemui Arion.
Kendaraan telah terparkir di pelataran salon. Alana menjadi gelagapan saat melihat motor sport merah telah terparkir di sana.
Perempuan cantik ini menelan ludahnya kasar.
"Sel, ada kak Zayn!” ucap Alana.
“Emangnya kenapa kalau ada,” balas Gisel santai.
“Ihhh kau ini, dia pasti tidak suka jika tahu aku bertemu Arion.”
“Sudah tidak apa-apa biarkan saja dia tahu.”
Gisel lalu melenggang masuk ke dalam salon meninggalkan Alana yang masih terdiam mematung menyiapkan kata-kata untuk Zayn nanti.
“Kau dari mana saja!” sergah Zayn yang tanpa Alana sadari telah berada di hadapannya membuat perempuan ini tersentak kaget.
Tuh kan, suaminya ini telah menghampirinya.
“Kak Zayn,” sapa Alana memaksakan senyuman.
“Aku ... Aku ....” Alana tergagap.
“Sejak tadi aku menghubungimu!”
Alana menarik napas panjang. Akan membahas masalah dua sepupu ini.
“Aku bertemu Arion,”
Arion
Tuh kan, Wajah Zayn seketika berubah, terlihat sekali dia tak suka.
“Arion, untuk apa kau menemuinya?” tanya Zayn dengan nada terdengar di balut cemburu.
Bagaimana tidak istrinya menemui rivalnya yang juga mencintai Alana.
“Kenapa kak Zayn tidak cerita, jika Arion bergabung di perusahaan dan mencoba merebut posisi kakak,” ujar Alana.
Zayn terbungkam, menatap Alana dengan sedikit terkejut. Astaga ternyata Alana tahu, padahal dia mencoba untuk merahasiakan ini.
"Kau tahu!”
Alana mengangguk pelan. “Iya dari Gisel, dia menceritakan semuanya,” jelas Alana.
Gisel.
Zayn ingat jika ayah Gisel kini telah menjadi asisten Arion.
“Aku menemui Arion agar dia menghentikan rencananya,” jelas Alana.
Inilah alasan Zayn tidak ingin Alana tahu, istrinya itu pasti merasa ini semua karena dia yang menjadi penyebab.
Zayn lalu meraih tangan Alana, tatapannya berubah lembut.
“Aku tidak ingin ini menjadi beban pikiran untukmu. Biarlah ini menjadi urusanku dan Arion. Kau tidak perlu memikirkannya lagi,” ucap Zayn.
“Tapi, kak Zayn. Arion,” protes Alana.
“Sudah biarkan saja dia!”
“Ayo ikut aku.” Zayn lalu menarik tangan Alana.
“Ikut, kemana kak Zayn?” tanya Alana bingung.
“Kita akan jalan-jalan. Yah anggap saja ini kencan dengan Ayang,” katanya dengan nada mengalun menggoda.
__ADS_1
Ayang.
Ya ampun, Alana tertunduk malu. Panggilan baru dari Zayn selalu saja membuat Alana salah tingkah.
Tapi, tunggu dulu kencan!
Alana tercengang sejenak. Kencan, mereka benar-benar seperti ABG di Indonesia yang sedang berpacaran padahal mereka kan telah menikah. Alana lalu tersenyum lucu. Ya ampun semakin manis saja tuan jutek ini.
Menjalani Kencan seperti pasangan lain adalah upaya Zayn untuk dekat dengan Alana, agar hubungan mereka semakin tertambat dalam, sebelum Zayn mengungkapkan cintanya untuk kedua kalinya di taman bunga nanti.
Alana dan Zayn kini telah berada di mall. Ada perasaan menggelitik di dalam hati Alana saat mereka melangkah seirama dan Zayn menggenggam tangannya erat, mengayun-ayunkannya pelan.
“Gini kali ya rasanya punya pacar dan pacaran di mall,” batin Alana di dalam hati dengan senyuman mengembang, menatap tubuh tinggi Zayn yang berjalan sejajar dengannya hatinya terasa berbunga.
Dia yang tidak pernah merasakan yang namanya berpacaran dan apalagi seakrab ini dengan seorang pemuda. Kakak! Entahlah mengapa pandangannya pada Zayn kali ini berbeda. Ia merasa sedang berjalan dengan seorang pemuda tampan dengan kesempurnaan. Bukan dengan kak Vinonya lagi.
Mereka menikmati suasana jalan berduaan di Mall, hingga mereka melewati toko yang menjual peralatan make up.
Otak Zayn berputar. Make up, istrinya ini kan suka sekali bermake up. Bahkan tak bisa jika tidak berdandan walau sejenak. Emm, karena jalan-jalan ini untuk menyenangkan Alana. Tanpa kata lagi Zayn menggiring langkah menuju tempat itu.
“Kak ini?” tanya menatap bingung masih berdiri di depan toko mengapa mereka ke sini.
“Ya, ini menjual make up? Aku akan membelikannya untukmu,” ucap Zayn.
Membelikannya peralatan make up.
“Kak ini brand mahal,” tolak Alana.
“Memangnya kenapa? aku bisa membeli semua untukmu kalau kau mau!” ujar Zayn dengan angkuh lalu masuk ke dalam menarik tangan Alana.
Zayn dan Alana masuk di sambut dengan ramah oleh pelayan tempat itu
“Pilihlah yang mana kau suka.”
“Kak Zayn.”
Alana mengerucutkan bibirnya, ya ampun presdir ini sombong sekali.
“Baiklah tuan presdir aku akan membeli semua alat make up mulai pensil alis pelembab, bedaknya, semuanya,” balas Alana dengan senyum miring.
“Aku akan membuat Walter Grup bangkut hari ini,” ujar Alana dengan menggebu.
“Bagus kalau begitu, kalau perlu beli semua isi di mall ini,” balas Zayn lagi merasa tertantang.
"Baiklah. Aku akan belanja sepuasnya!"
“Silahkan saja kalau kau bisa! Karena Mall ini adalah milik Walter Group,” kata Zayn dengan kekehan lucu.
“Ya curang!” Alana mencebik.
Zayn mengembangkan senyuman melihat Alana yang memberengut.
“Layani dia,” titah Zayn pada pelayan itu.
“Aku tidat akan sungkan,” batin Alana.
Alana pun ikut, dusta jika hatinya tak berdecak hore mendapatkan peralatan make up gratis dan jangan lupa dari brand terkenal dan mahal. Dia kan sejak dulu memang tak bisa mendengar kata gratis.
Setelah beberapa saat Alana mendekat ke arah Zayn.
“Sudah kak! Aku membeli banyak,,” lapor Alana menyiratkan jika Zayn harus membayarnya.
Zayn lalu bangkit dari duduknya, mengeluarkan sebuah kartu.
“Aku ingin setiap item make up yang dia pilih, berikan lima lagi,” ujar Zayn memberi kartu pada pelayan.
What.
__ADS_1
Alana tercengang, satu saja sudah mahal. Ini lima. Ini gila.
“Kak tidak perlu, itu sangat mahal,” ujar Alana kini gelagapan sendiri. Bagaimana tidak dia mengambil peralatan make up yang lengkap.
“Tidak apa-apa! Tenang saja!” ujarnya santai.
“Kak,” protes Alana.
“Aku akan membuatmu Glowing seumur hidup,” canda Zayn dengan tersenyum menggoda. Ya setahu pemuda ini Alana terobsesi dengan kencantikan dan tidak ingin terlihat jelek.
Glowing ...
Seketika Alana terpaku, raut wajahnya berubah sendu, ucapan Zayn membuat hatinya tersentil mengingat tentang wajah buruk rupanya. Ada rasa terhimpit di dada. Zayn pasti menginginkan pasangan yang selalu cantik, sedangkan dia? Dia tidak cantik. Dia si buruk rupa, entah seperti apa jika Zayn melihat wajah aslinya? Apa pemuda itu akan syok atau bahkan takut.
“Ada apa?” tanya Zayn yang melihat Alana berubah diam.
“Tidak ada apa-apa kak.” Alana memaksakan senyuman mencoba mengabaikan ucapan Zayn..
Acara kencan masih berlanjut.
Untuk pertama kalinya pasangan ini menghabiskan waktu berdua menikmati suasana Mall.
Menghabiskan waktu mulai dari belanja dan makan. Sama yang di lakukan pasangan pada umumnya. Alana sangat bahagia sekali untuk kencan pertamanya ini.
“Kak Zayn terima kasih, sudah membelikanku banyak make up,” ucap Alana menunjukkan paper bag yang menggantung di tangannya.
Zayn mengangguk.
“Terima kasih juga sudah mengajakku jalan-jalan hari ini,” tambah Alana dengan senyum terkembang. Dia terlihat sangat riang.
“Kau senang?” tanya Zayn.
“Iya, senang sekali, sekali lagi terima kasih kak,” ucap Alana sekali lagi.
Alana lalu berjinjit dengan cepat menyambar pipi Zayn, mendaratkan satu kecupan di pipi kanannya.
Cup
Deg ...
Tubuh Zayn seketika membatu saat menyadari Alana menciumnya.
Alana menciumnya lebih dulu tanpa di minta. Ini hebat sekali bak mendapatkan jakpot bagi Zayn.
Zayn berdiri mematung, pelan tangannya lalu terulur memegang pipi kanannya. Sumpah demi apa-pun irama jantungnya sekarang bertalu-talu. Wajahnya seketika terasa panas, ia pasti memerah
"Ayo kita pulang, Ayang Zayn,” tekan Alana pada kata Ayang Zayn dengan senyum lebar. Lalu dengan cepat berbalik mengayun langkah.
Ayang Zayn ...
Deg ...
Zayn melotot terkejut dengan mulut sedikit terbuka. Ya ampun, belum hilang keterkejutannya karena menerima ciuman dari Alana kini dia tercengang saat istrinya memanggilnya dengan sebutan Ayang. Uhhhh, manisnya, gemas sekali dia.
Ayang Zayn.
“Ayang Zayn,” gumam Zayn masih memegangi pipinya.
Zayn masih mematung menatap punggung Alana, sungguh Alana telah membuat perasaannya bergemuru senang bak ada jutaan kembang api yang meledak. Kini di lubuk hatinya bertanya-tanya?
“Ayang Zayn!” gumamnya lagi.
Apakah istrinya itu telah mencintainya?
***
Yang geli atau yang mual, lihat kemesraan pasangan Alay ini, silakan kalau mau muntah, tapi awas yeh kalau yang keluar kangkung. Ah malu-maluin dah, pergi loh. Canda kali ... seperti kemarin coment di paragraf cuap-cuap Sya, Sya bales. bagi yang mau ...
__ADS_1