Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
bertemu


__ADS_3

“Maaf Arion. Aku tidak bisa datang, aku tiba-tiba ada urusan mendadak,” Alibi Alana dengan duduk di tepi kasur sembari menempelkan ponselnya di telinga. Berbicara dengan aktor idola Jerman itu.


Alana terdiam menyimak suara di seberang sana.


“Baiklah lain waktu saja, aku akan menggantinya. Aku akan membayar hutang traktirku.”


Terdiam lagi menjeda.


"Hanya Gisel yang akan datang. Sekali lagi maaf Arion,” kata Alana dengan pelan. Memasang wajah sendu.


Panggilan terputus Alana mendesaah kasar. Raut wajahnya tersirat kekecewaan, bagaimana tidak? Hari ini adalah akhir pekan, waktu Arion mengadakan pesta yang penuh dengan orang hebat.


Namun apa daya dia terpaksa membatalkan pergi ke acara penting Arion karena pertengkarannya dengan Zayn beberapa hari lalu. Ya, lagi-lagi dia memilih mengalah menuruti perkataan Zayn.


Alana menghempaskan tubuhnya di kasur. Padahal Alana sangat berharap pergi ke pesta bersama Gisel. Namun pertengkaran menyebalkan itu membuatnya harus menyingkirkan keinginannya.


Semua telah di siapkan oleh Alana dengan baik. Tidak mengambil pekerjaan karena untuk bertemu Arion, sekarang ia sendiri di rumah, satu-satunya sahabatnya Gisel juga akan pergi ke pesta itu. Jadi dia tidak tahu harus melakukan apa. Uhg, hari pasti berlalu dengan rasa bosan.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Alana.


Alana bukan tipe perempuan yang hanya diam saja bermalas-malasan seharian. Karena baginya waktu adalah uang.


Pikiran Alana berputar mencari kegiatan apa yang akan dia lakukan untuk mengisi waktu luang di rumahnya ini.


Pikiran mengudara Alana menemukan titik, tertuju pada kulkasnya. Dia punya banyak bahan makanan yang di bawa oleh Zayn beberapa hari lalu.


Alana bangun, duduk di tempat tidur, mengenang jika Zayn sangat ingin makan sup daging buatannya. Namun tak jadi karena pertengkaran mereka. Pemuda yang kesal itu pulang tanpa makan sedikit pun.


“Ya, ini akhir pekan, Kak Vino pasti libur. Diakan ingin sup daging. Aku akan memasak sup daging untuk kak Vino lalu mengantarkannya. Kasihan waktu itu dia pulang tidak mencicipi sup sedikit pun,” gumam Alana bermonolog sendiri. Prihatin juga dia dengan kak Vinonya itu.


Alana pun beranjak dari kamar melangkah menuju dapur akan menghabiskan waktu luangnya dengan memasak makanan untuk pemuda jutek itu lalu membawakan ke rumahnya.


****


Matahari semakin bergulir naik. Sementara Alana berkutat dengan masakannya yang akan di berikan untuk kak Vinonya, lelaki yang ia kira berada di rumah menikmati akhir pekannya. Ternyata berada di kantor. Sudah seharian Zayn berada di kantor.


Menghabiskan waktu dengan bekerja keras, mengalihkan pikirannya. Sungguh saat ini hatinya di selimuti dengan kegalauan.


Ia tahu hari ini adalah pesta yang ingin Vampir China itu kunjungi. Vampir China itu pasti sudah tertawa bahagia dengan Arion sepupu aktornya di sana. itu pikirnya. Uhg, rasa panas menjalar di dada Zayn jika mengingat itu. Sungguh dia tak suka.


Zayn kini berada di ruang rapat, sebagai presdir duduk di ujung meja panjang, menatap dengan mata tajam pada orang-orang yang satu ruangan dengannya. Tatapan yang seakan ingin menguliti itu membuat orang-orang cicit.


Ya, Zayn saat ini memimpin rapat. Menghabiskan akhir pekannya dengan mengumpulkan penanggung jawab perusahaan. Sejak tadi semua ia luapkan pada anak buahnya.


“Laporan apa ini!” hardik Zayn melempar map di hadapan seorang lelaki.


“Kenapa proyek itu berjalan lambat sekali!” berang Zayn tatapannya menusuk.


Lelaki itu terdiam, tubuhnya bergetar. Bukan main-main Zayn terkenal sebagai pemimpin yang dingin dan tak mengenal ampun jika dia tak suka dengan mudahnya ia mengatakan pemecatan.


“Ma ... maaf tuan, tapi semua telah berjalan sesuai dan akan selesai seusai target waktu yang di tentukan,” balas lelaki itu dengan tertunduk. Menyiratkan tak ada masalah dengan laporannya.

__ADS_1


“Aku tidak mau tahu kerjakan semua dengan cepat.”


Perhatian Zayn kini teralihkan pada sudut kanan.


"Dan kau!" tunjuk Zayn dengan tatapannya.


Astaga, kini giliran lelaki lain. Yang akan mendapatkan sorot mata tajamnya.


“Jelaskan keuntungan bulan ini, dengan detail,” cecar Zayn.


Ya ampun mengerikan sekali, dia sudah seperti guru killer yang memberikan pertanyaan yang harus di jawab.


Lelaki yang di tunjuk Zayn berdiri. Dengan gugup mulai menjelaskan.


Ken yang berdiri di sampingnya hanya menatap bingung. Seharusnya mereka kan libur. Kenapa berkumpul di tempat ini. Akhir-akhir ini bossnya jadi aneh.


Zayn mendengar laporan yang di bacakan oleh anak buahnya. Tak memperhatikan Ponsel yang telah dia atur hening, di hadapannya layarnya terlihat menyala.


Ken yang melihat itu meraih ponsel Zayn, mulai melihat ada apa dengan ponsel tuannya.


Sebuah panggilan dari ponsel Zayn. Ken tahu dari siapa panggilan telepon itu. Ken lalu mendekatkan tubuhnya berbisik di telinga Zayn yang terlihat begitu serius.


“Tuan ada telepon dari Vampir China di ponsel Anda,” bisik Ken.


Vampir China


Zayn tersentak, mengerjap kaget, mendengar nama yang di sebut oleh Ken.


Demi apa-pun Jantung Zayn seketika berdetak cepat. Vampir China itu menelponnya setelah berhari-hari mereka tak bertemu, tak mendengar suaranya.


“Mana ponselku. Cepat berikan padaku.”


Ponsel Zayn telah berada di tangannya, lengkungan senyuman menghiasi wajahnya. Saat membaca nama di layar ponselnya. Benar Vampir China. Ia pun akan menjawab panggilan Alana. Mendengar suaranya.


“Berhenti!” kata Zayn pada lelaki yang sedang menjelaskan laporan perusahaan.


Tatapan bingung tertuju pada Zayn. Ada apa dengan bos mereka ini?


“Jangan ada yang bersuara! Aku akan memotong gaji siapa pun yang bersuara.” titah Zayn.


Suasana hening seketika, tak ada sedikit pun suara, bernapas pun mereka mencoba menahannya.


Setelah semua tenang. Zayn lalu menggeser layar ponselnya. Menjawab panggilan Alana di hadapan anak buahnya.


“Eemmm.” Berdehem untuk menetralisir nke gugupannya.


“Ya ada apa!” suara jutek Zayn menyapa telinga Alana.


“Kak Zayn dimana?” tanya suara di sana.


“Ada apa mencariku? Apa kau ingin laporan jika kau pergi dengannya terserah aku tidak peduli.” Ketus Zayn dia ingat sekali hari ini adalah hari Alana dan Arion bertemu. Tuh kan kesal lagi dia mengingat itu.

__ADS_1


“Kak Zayn dimana?”


“Di kantor.”


“Di kantor, ya sayang sekali. Aku pikir kakak di rumah.”


“Memangnya kenapa?”


"Aku ada di depan rumah kakak. Aku mengantarkan sup daging untuk kakak.”


“Tunggu ..." Zayn terkesiap Alana berkunjung ke rumahnya.


"kau di rumahku?” tanyanya memastikan.


“Iya kak.”


“Kau tidak pergi dengan Arion.”


“Tidak kak. Aku membatalkannya.”


Membatalkannya ...


Walau Merasa aneh, namun Ada desiran di dalam hati Zayn mendengar kabar baik untuknya itu.


“Baiklah kakak pasti sibuk, aku titipkan saja makanan ini.”


“Aku tidak sibuk –” potong Zayn.


“Tapi kakak ada di kantor.”


“Aku akan pulang sekarang juga.”


“Tidak perlu kak.”


Zayn lalu dengan cepat bangkit dari duduknya, membuat orang-orang heran.


“Aku akan pulang tunggu aku dan jangan pergi selangkah pun.” Ujar Zayn lalu memutuskan panggilan teleponnya.


Manik mata Zayn lalu mengarah ke depan.


“Rapat cukup sampai di sini kalian boleh bubar!” imbuh Zayn lalu bergegas keluar dari ruangan. Tak peduli jika dia telah membuat orang bingung dengan tingkahnya.


Zayn pun melangkah menuju pintu keluar gedung kantor sembari memikirkan Alana tidak jadi pergi ke pesta Arion padahal dia sangat menginginkannya. Apa yang membuat perempuan itu membatalkannya. Padahal demi pesta itu Alana rela membantahnya. Dan mereka bertengkar.


Zayn tercengang saat ia mulai menyadari mengingat sebuah kalimat terakhirnya saat putus asa tak bisa menahan Alana sebelum meninggalkan rumah Alana dengan emosi. Ia berkata.


“Kau lebih memilih ke pesta dari pada memilih menuruti perkataan ... Suamimu.”


Deg ... Suami ... Kata itu keluar saat ia kesal.


Suami ...

__ADS_1


“Vampir China, dia memilihku, karena itulah dia tidak pergi, karena aku suaminya,” gumam Zayn dengan senyum semakin lebar, rasanya ada jutaan kupu-kupu menggelitik hatinya. Perasaannya berbunga, kini dia semakin mempercepat langkahnya untuk pulang ke rumah di mana istrinya itu telah menunggunya.


__ADS_2