
Rongga dada Alana terasa kering, ia seakan tak dapat menghirup oksigen dengan baik setelah mendengar ucapan lelaki paruh baya itu yang memutuskan agar Zayn menikah dengannya.
Menikah ...
Ya Tuhan, ada apa ini, niatnya hanya ingin menolong kenapa jadi kacau seperti ini. Bak benang kusut yang tak bisa terurai.
Alana dan Gisel kini berada di ruang yang berbeda, meninggalkan Zayn dan lelaki paruh bayah itu bicara serius untuk mencari keputusan yang terbaik.
Alana berjalan mondar-mandir sangat resah dengan ucapan lelaki itu. Bagaimana dia jika benar-benar menikah. Oh, semoga saja tidak.
“Bagaimana ini?” tanya Alana putus asa sedangkan Gisel hanya diam mematung, tak tahu harus berbuat apa. “Sel kenapa jadi begini?" cecar Alana.
“Aku juga tidak tahu Lan,” balas Gisel tak menyangka masalah bisa sejauh ini. Dia pikir jika mengatakan Alana kekasih Zayn dan akan menikah di hadapan orang-orang itu adalah ide yang baik untuk mengakhiri masalah, semua segera selesai mereka bisa pulang dan tidur nyenyak dan nama baik Zayn juga terjaga. Akan tetapi yang terjadi ternyata tidak, idenya itu malah menambah masalah baru.
“Sel, bicaralah pada mereka! Tentang kejadian yang sebenarnya. Ini tidak seperti yang mereka pikirkan,” desak Alana.
Gisel menghela napas berat. Andai dia bisa bicara.
“Maaf Lan, aku tidak bisa bicara, itu sama saja aku berbuat lancang. Lelaki itu paman Zayn dan dia adalah atasan Daddykku. Jika aku ikut campur Daddyku akan mendapatkan masalah juga nanti,” ujar Gisel dengan lemah dan merasa bersalah.
Gisel yang pemberani tiba-tiba cicit karena atasan Daddynya. Tentu saja keluarganya menggantungkan nasib pada keluarga Walter.
“Maafkan aku Lan,” pintanya sekali lagi.
“Aku dengar Zayn dan pamannya memiliki hubungan yang buruk, mereka selalu bersitegang memperebutkan kerajaan bisnis Walter, kejadian ini bisa menjadi celah untuk menyerangnya,” jelas Gisel.
__ADS_1
Alana meraup wajahnya putus asa. Dia terjebak dalam perangkap Laura seharusnya perempuan ular itu yang berada di posisi ini.
Sama dengan Alana yang cemas dengan ide gila pernikahan itu, di tempat lain Zayn sedang terlihat sedang bersitegang dengan lelaki bernama Willy, lelaki paruh bayah itu adalah paman Zayn.
“Kenapa aku harus menikahinya? aku tidak mengenalnya!" hardik Zayn emosinya naik saat, pamannya sejak tadi menyuruhnya menikahi perempuan yang telah tertangkap satu ranjang bersamanya.
“Kau telah membuat berita buruk, ini akan menjadi skandal Zayn menodai seorang gadis,” terang paman Willy.
“Aku tidak mengenalnya! Aku tidak mungkin melecehkannya! Dan dia juga bukan kekasihku,” murka seorang Zayn Arsenio Walter suaranya menggema memenuhi ruangan saat mengetahui terjebak bersama seorang wanita dan tertuduh melecehkannya. Apalagi mendengar perempuan itu mengaku kekasihnya.
“Perempuan ini mungkin saja menjebakku!” tudingnya.
Paman Willy yang duduk di sofa tersenyum miring menatap keputusasan keponakannya.
“Pilihannya hanya kau harus menikahinya, paman tidak mau kau terseret kasus yang merusak namamu,”ujarnya santai.
“Kenapa kali ini paman sangat cemas denganku,” cibir Zayn pada sang paman sekaligus rivalnya.
“Kenapa paman sangat menginginkan aku menikah dengannya, apa paman punya maksud lain,” cecarnya lagi.
Paman Willy mengalihkan wajahnya tak suka Zayn menatapnya lekat, merasa terintimidasi.
“Aku hanya khawatir dengan nama baik keluarga kita, aku tidak mau mereka menyebarkan berita buruk tentang keluarga Walter.”
Zayn mendengus memutar bola mata jengah.
__ADS_1
“Untuk apa paman berada di tempat ini?” tanyanya langsung tanpa basa-basi mengalihkan pembicaraan.
Paman Willy bangkit dari duduknya.
“Paman ada meeting dengan rekan bisnis di tempat ini.”
Semakin jengah saja Zayn mendengar ucapan pamannya, cukup aneh mengapa lelaki itu datang ke kamar dan melihat semuanya, jika memang dia harus meeting. Apalagi pamannya itu datang di moment yang tepat saat dia terciduk.
“Aku harus pergi,” pamit paman Willy.
Paman Willy melangkah mendekat ke arah Zayn.
“Saranku nikahi perempuan itu, jangan membuat malu keluarga,” ucapnya pelan dengan senyum miring memepuk pundak Zayn setelahnya melangkah pergi.
Tangan Zayn terkepal erat, emosinya memuncak.
“Aku akan mencari orang yang berada di balik ini. Dan aku akan menghancurkannya,” berang Zayn dengan nada mengancam.
Paman Willy berbalik.
“Apa kau menuduhku.”
“Itu jika paman memang merasa tertuduh dan melakukannya,” ucap Zayn dengan senyum seringai menghiasi wajah tampannya.
Paman Willy pun berlalu tanpa kata meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Ah, sial. Zayn menarik rambutnya putus asa dia telah terjebak dalam permainan seseorang.