Pertempuran Wanita Jelek

Pertempuran Wanita Jelek
tawar-menawar


__ADS_3

Zayn baru saja menginjakkan kaki di Indonesia. Setelah tiba, tak menunggu lagi ia langsung ke rumah Kalingga di mana acara syukuran anak ke tiga sahabatnya itu. Yang merupakan kakak Alana. Itu berarti istri yang ia rindukan juga berada di sana. Hari ini dia akan menemui Alana dan meluruskan semuanya.


Kini Zayn telah berada di tempat acara. Irama jantung Zayn berdetak dua kali lebih cepat, rasa gugup menguasainya. Bagaimana tidak kali ini dia datang dengan banyak kesalahan. Ahhh. Pemuda ini merasa frustrasi harus dari mana dia mulai menjelaskan hubungannya dengan Alana.


Zayn telah berada di tengah pesta, menatap pemilik acara sedang berdiri berdampingan menjamu tamu undangan.


Sial, tubuhnya seketika cicit untuk menemui Nara sahabatnya yang kini tanpa sengaja telah menjadi kakak iparnya. Oh rasanya aneh, dia menjadi bagian dari keluarga besar ini.


“Vino, kau datang!” sambut Nara dengan riang melihat Zayn dari kejauhan, masih mematung di tempat.


Nara selalu antusias jika bertemu dengan sahabatnya, karena Vinonya ini sangat sulit di temui, pemuda ini hanya akan terlihat jika dia dan Chelsea mengadakan acara.


Glek ...


Zayn menelan ludahnya. Tenggorokannya seakan kering. Pemuda ini pun melangkah mendekat ke arah Nara dan Milan.


“Aku pikir kau tidak datang,” ucap Nara begitu senang melihat sahabatnya.


“Mana mungkin aku tidak datang, dia keponakanku,” balas Zayn dengan cengiran. sekarang benar-benar menjadi keponakan ke tiganya setelah menikah dengan Alana.


“Bagaimana kabarmu?” sela Milan mengulas senyum memeluk sekilas lalu melepaskan menunjukan keramahan.


Hah ...


Zayn tertegun, terdiam sejenak menatap Milan lekat. Ia teringat sesuatu. Oh astaga ia baru sadar jika dia telah menjadi ipar dengan mantan rivalnya ini.


“Kabarku baik,” balas Zayn kikuk.


Ya walau mereka dulu mantan rival tapi tak ada lagi permusuhan, mereka sudah layaknya teman, saling menghargai.


“Sea mana?” tanya Zayn bertanya keberadaan sahabat yang lain.


“Dia sedang bersama mama sedang menjamu tamu,” jawab Milan.


Arah pandang Zayn pun berputar meneliti keberadaan istrinya itu di tengah tamu undangan. Namun dia tidak menemukan Alana.


“Nana mana?” tanya Zayn.


“Nana,” ulang Nara, menatap Zayn dengan alis berkerut. Tumben Zayn bertanya di mana keberadaan adiknya itu.


Walau aneh.


“Nana bersama dengan ibu di belakang,” jawab Nara.


Bersama ibu.


Oh astaga, nyali Zayn untuk bertemu dengan Alana seketika hilang. Zayn tidak bisa bicara dengan Alana jika ibu Salma ada, begitu banyak yang akan di ceritakan dan di luruskan. Jika ada bu Salma, Bisa-bisa kesalahpahaman belum di luruskan dia sudah di ketuk panci oleh perempuan paruh bayah yang telah menjadi mertuanya itu. Jadi biarkan dia bicara dengan Alana baik-baik setelah itu bicara semuanya pada ibu Salma dan Nara, itu rencana Zayn.


Zayn menarik napas berat, sudah hampir satu jam dia tertahan di tempat acara. Dia bahkan sudah bicara dan bertemu dengan sahabatnya Chelsea. Mereka semua sedang menjamu tamu saat ini. Kini tinggallah Vino yang berdiri di depan menu hidangan. Alana tidak akan pernah keluar menampakkan diri di hadapannya. Ia tahu itu.


Ya ampun. Bagaimana cara agar dia bertemu dengan Alana, istrinya itu tanpa di ketahui oleh ibu Salma? Otak Zayn berputar keras. Mencari ide. Sambil berpikir Zayn melihat anak laki-laki kecil mengenakan jas berwarna hitam yang ia kenal duduk di kursi di hadapan meja bundar terlihat sedang bermain gadget. Akhirnya bak lampu yang menyala di dalam otaknya dia menemukan ide.


“Berlin,” gumam Zayn melangkah mendekat ke arah anak lelaki itu.


Berlin adalah anak pertama, Milan dan Nara.


Zayn duduk di kursi bergabung dengan Berlin yang sedang sibuk dengan gawainya, Zayn menatap Berlin lekat. mengingat jika Berlin adalah copyan dari Milan selain wajah yang mirip anak lelaki ini pun memiliki sifat dingin, cuek. Dan lihatlah di umurnya yang baru empat tahun anak lelaki ini terlihat bermain game yang mengasah otak. ya walau pun sama cueknya dengan Milan, namun Ada sedikit rasa syukur dari Zayn anak sahabatnya menurunkan kecerdasan ayahnya bukan ibunya yang gesrek.


Kembali pada rencana Zayn.


Ya ampun haruskah dia meminta tolong pada anak lelaki yang memiliki sifat cuek ini. Decak Zayn. Akan tetapi dia harus menjalankan rencananya.


“El,” sapa Zayn dengan lembut.


“Iya.” Berlin menatap sekilas Zayn, lalu kembali pada gawainya terlihat serius sekali dia.


Huufff ... Zayn mendesah kasar. Tuh kan, Bisakah dia berharap pada anak lelaki ini? Belum apa-apa sudah menyebalkan.

__ADS_1


“Paris mana?” tanya Zayn akhirnya bertanya tentang satu anak kecil yang ia kenal. Paris adalah anak sahabatnya juga, dari Chelsea, anak lelaki itu riang dan lembut, ceria sama seperti ayahnya Kay. Lebih baik dia menyuruh Paris saja dari pada Berlin.


“Paris bersama dengan aunty Sea,” jelas anak kecil ini, tanpa melihat Zayn.


Zayn mendesah kasar, Paris tidak ada hanya bocah cuek ini. Beri Zayn kesabaran Tuhan, pintanya.


“El, Uncle. Mau tanya, El lihat aunty Nana ngak?” tanya Zayn memulai.


“Aunty Nana suka di kolam renang main air,” jelas bocah kecil ini serius, semakin mengusap layar gawainya.


“El bisa tolong uncle tidak?”


Mendengar kata tolong Berlin menghentikan aksinya, kini mengarahkan pandangannya pada Zayn.


“Tolong apa uncle Vino?” balas Berlin, yang setidaknya mengenal jika lelaki yang ada di hadapan ini teman akrab orang tuanya.


Senyum samar menghiasi wajah Zayn melihat bocah ini mulai fokus padanya. Semoga saja dia bisa di ajak bekerja sama. “Tolong El, bawa aunty Nana ke tempat ini.”


“Memanggil aunty Nana kemari?” Berlin menatap awas Zayn. Bagaimana tidak bibi cantiknya di tanyakan oleh seorang pemuda.


“Iya, tapi jangan beritahu aunty Nana jika uncle Vino yang nyuruh,” jelas Zayn akan rencananya.


“Tolong ya El, Nanti uncle beli mainan yang banyak,” tambahnya lagi, memohon Zayn pada anak kecil ini penuh harap.


“Tidak mau!” balas Berlin singkat lalu kembali pada gawainya. Jiwa melindungi El keluar.


Zayn terbelalak, terkejut tak percaya bocah ini menolaknya.


“Ayolah El, tolong uncle Vino,” rengek Zayn mungkin dia sudah gila berharap pada bocah ini.


“Ada sesuatu yang harus uncle katakan padanya.”


“Tidak, nanti uncle mengganggunya,” balas Berlin. Ya anak lelaki pertama yang telah memiliki dua adik tentu saja dia mulai belajar melindungi.


“Oh astaga mengganggu bagaimana? dia istriku. Boleh ngak ketuk kepala nih bocah,” batin Zayn gemas sekali dia.


Membujuk Berlin semakin alot saja, anak lelaki itu begitu teguh pendiriannya. Namun harapannya hanya Berlin. Andai ada Paris di sini, sejak tadi dia pasti sudah bicara pada Alana.


Berlin menggeleng. Tanda menolak.


"Mainan yang banyak!" tawar Zayn.


Berlin menggeleng lagi terus menatap layar.


"Tablet baru?" tawarnya lagi.


kembali Zayn hanya mendapatkan gelengan dari bocah itu.


"Mobil-mobilan, super car."


Gelengan kepala lagi.


"Mainan Robot Avenger."


Tolak


"Lego."


Tolaknya menggeleng lagi.


"PS."


menggeleng lagi.


"Helicopter remot."


menggeleng lagi.

__ADS_1


Oh Astaga Zayn mengusap wajahnya putus asa, sulit sekali menyogok bocah ini untuk menuruti keinginannya.


Waktu terus berlalu, Sudah banyak yang di tawarkan Zayn untuk Berlin, namun bocah itu masih menolak.


Ya Tuhan melobi klien dari perusahaan besar untuk bekerja sama dengannya, lebih mudah dari pada melobi bocah ini, jerit Zayn dalam hati.


“Minuman Boba,” celetuk Zayn asal teringat selayaknya sedang menyogok ibunya. dia sudah tidak bisa berpikir lagi, apa yang akan dia tawarkan.


Boba.


Berlin berhenti menggeleng. Perhatian dari gawai seketika beralih pada Zayn.


"Boba uncel?" ulang bocah itu.


"Emm." Kini Zayn yang tak semangat di buatnya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya ternyata dia telah banyak membuang waktu membujuk bocah ini.


“Boba uncle, El mau,” ucap Berlin dengan mata berbinar.


Zayn tersentak, terbelalak dengan mulut terbuka, padahal dia hanya iseng.


“Boba jumbo ya uncle,” ucap menambahkan El lagi.


Boba jumbo.


Oh Astaga ini gen Nara.


Zayn memutar mata malas, Walau menuruni gen ayahnya, ternyata ada jiwa norak Nara dari anak lelaki ini.


"Hanya Boba," desis Zayn dalam hati.


“Baiklah uncle akan belikan boba jumbo, setelah El bawa aunty Nana di sini.”


“Iya uncle, El akan bawa aunty Nana.” Berlin lalu turun dari kursi menjalankan rencana Zayn.


“Ingat jangan beritahu jika uncle yang menyuruhmu,” pesan Zayn


“Uncle tenang saja. Ingat boba jumbo El,” ucap Berlin dengan senyum ceria kemudian berlalu.


“Sippp." balas Zayn menaikan jempolnya.


Zayn menghela napas sudah bersusah menawar kan banyak mainan mahal, membuang banyak waktu ternyata bocah itu hanya ingin minuman boba.


Yesss


Senyum kemenangan terbit di wajah Zayn, dia berhasil. setelah tawar-menawar penuh drama panjang. Kini tinggal menunggu bocah itu membawa Alana ke hadapannya lalu mereka akan bicara. Debaran jantung Zayn terpompa dua kali lebih cepat, akan bertemu dengan perempuan yang ia cintai itu. Sungguh dia sangat merindukannya.


Zayn terus berdiri menunggu dengan tak sabar hingga ia mengerutkan alisnya saat mendengar suara musik memekakan telinga telah teralun. Ia mengenal nada itu, itu adalah lagu andalan mereka. Irama awal lagu perawan atau janda yang menghentak.


“Vin kau di sini, ayo dangdutan,” suara perempuan menyapa Zayn. Sesosok perempuan cantik telah berada di hadapannya.


Apa dia bilang dangdutan. Rahang Zayn seakan ingin jatuh.


Oh Ya ampun tahan dulu jangan sekarang dia ada urusan penting.


“Vin ayo.” Chelsea telah menarik tangan Zayn, bergabung bersama dengan Nara.


“Mau apa?” tanya Zayn.


“Ya mau dangdutanlah,” sahut Nara.


“Jangan saat ini, aku sedang tidak ingin,” tolak Zayn memasang wajah memelas. Dia harus bertemu dengan Alana dan bicara penting.


“Kau tidak boleh menolak. Ayo cepat kau harus nyawer,” paksa Nara mendorongnya menuju panggung.


Zayn ingin berteriak kencang dia sudah bersusah payah membujuk Berlin untuk membawa Alana padanya. Hei tahukah kalian betapa sulitnya membujuk bocah itu untuk mau menjalankan rencananya. Dan sekarang Tinggal menunggu perempuan itu berada di hadapannya, dia malah ditarik untuk dangdutan oleh dua sahabatnya ini. Ini gila.


Aaahh! Bagaimana ini dia harus bicara pada Alana? El akan membawa Alana ke tempat ini. Dia malah harus dangdutan.

__ADS_1


****


Segini dulu ya, udah ngantuk banget nih mata, udah kaya habis kena tisu Uya Kuya.


__ADS_2