
"Apa kau mencintai pangeran Aiden?" Pangeran Gavin
Pertanyaan itu membuatku membeku, aku tidak tahu harus menjawab apa, kalau aku jawab iya aku pun belum tentu sungguh mencintai nya kalau tidak aku juga tidak paham kedepannya seperti apa perasaan ku pada Pangeran Aiden.
"Kalau ditanya seperti itu, aku belum bisa menjawabnya" jawabku
"Pernikahan kalian kemungkinan akan diadakan setelah Pangeran Harris kan? Walaupun bukan besok juga, jadi pastikan perasaanmu pada Aiden." Pangeran Gavin
"Apa Pangeran Aiden mencintai ku juga?" tanya ku
"Tentu! Dia mencintaimu, mustahil kau tidak tau soal perasannya kan? Caranya menatapmu saja berbeda. " Pangeran Gavin
"Tatapan saja tidak bisa menentukan kalau dia menyukai ku!" tegas ku
"Tapi tanpa melihat tatapan pun semua pangeran dan putri sudah tau kalau Aiden mencintaimu... Apalagi yang harus diragukan?" Pangeran Gavin
"Aku akan berusaha memahami sendiri tentang perasaan Pangeran Aiden padaku" jawabku
"Baiklah, mari kita selesaikan makanan kita dulu. Setelah ini kita akan kembali ke istana atau melanjutkan lebih jauh?" Pangeran Gavin
"Sepertinya kembali ke istana saja, karena kita juga sudah jauh berkuda." jawab ku
"Baiklah kalau begitu tuan putri" Pangeran Gavin
...****...
[Senin, pukul 09.00]
Hari telah berganti, pagi ini para putri dan pangeran melakukan kegiatan penjelajahan alam. Tentunya di hutan yang telah ditentukan oleh guru pembimbing di acara ini, penjelajahan dilakukan secara personal dengan dibekali senjata busur panah, dan pedang, juga bekal makanan dan minuman.
Aku membawa semua itu dengan tubuh ku ini, tentunya kami telah melakukan penjelajahan alam ini lebih dari 3× karena memang setiap hari Senin jam 09.00 - 10.00 adalah penjelajahan alam. Aku tidak memakai gaun, pakaian yang digunakan untuk jelajah alam seperti pakaian berkuda hanya saja lebih baik lagi kualitasnya.
Aku mengikuti peta yang diberikan, karena setiap pangeran dan putri mendapatkan misi berbeda. Aku ditugaskan menemukan sebuah pertama berwarna hijau sapphire, sebelumnya aku tidak pernah mendapatkan misi mencari pertama, sejauh ini yang paling sulit bagiku ketika harus mencari kulit ular di hutan. Kulit ularnya pun berada di air saat itu.
Baiklah lupakan misi yang telah lalu, aku terus fokus mencari batu permata itu karena sebelum pukul 10.00 aku harus kembali ke istana Pejasone, tempat awal berkumpul.
__ADS_1
Aku terus mencarinya, lalu sampailah aku di pinggir danau hendak menuju ke arah timur laut, justru dari arah timur ada suara-suara hendak mendekat. Aku waspada mengamati sekitar, dan berjaga sambil memegang busur panah dan anak panah.
Aku menarik busur panah dan mengarahkan kesana kemari ancang-ancang melepaskannya ke arah yang tepat. Saat suara itu semakin keras, keluarlah seekor harimau besar aku terkejut dan berusaha tetap tenang.
(Bukankah guru Frek bilang hutan ini tidak ada binatang buas? Kenapa ada harimau disini? Apakah dia berbohong padaku? Apa yang harus aku lakukan, apakah aku akan berakhir disini? Aku siap, jika memang aku akan berakhir disini, di misi ini!) batin ku
Harimau itu menatapku ganas dan memajukan langkahnya perlahan, aku mundur teratur dan pasti agar tidak terjatuh. Aku memastikan bidikan ku tepat pada harimau itu.
Rawr!
Dia meloncat dan aku secepat mungkin melepaskan anak panah itu dan berlari, aku menengok ke belakang sekilas dia kesakitan karena panah ku menancap di kaki kanannya. Aku bersembunyi dan menyiapkan anak panah berikutnya, membidiknya dan melepaskannya.
Dia mengejar ku, aku berlari dan terus berlari aku tak peduli dengan tangan dan kakiku yang berdarah karena tergores tanaman berduri dan semacamnya, yang penting aku bisa selamat.
(Ya ampun! Apa yang harus aku lakukan?!) batin ku
Aku berlari ke arah lain dan justru aku malah terjatuh karena tumbuhan rambat dibawah kakiku. Aku secepatnya membalikkan badan membidik busur panah lalu melepaskannya. Tepat mengenai lengan kanannya. Dia mengaum dan disana lah aku menemukan batu permata hijau itu.
(Apakah guru Frek menjebak ku? Mana mungkin aku bisa mengambil permata dari mulut harimau yang sedang kelaparan?!!) batin ku
Tak ku sangka dia mengamuk dan berhasil mencakar ku di bagian paha kananku. Cakarannya tak dalam karena aku sempat mundur saat dia mengamuk tapi, cakarannya membuat paha ku mengeluarkan banyak darah. Aku terduduk lemah memegangi pahaku agar tidak kekurangan banyak darah.
(Sepertinya inilah akhir dari semuanya, Carla) batin ku
"Tidak! Aku harus bisa mendapatkan pertama itu..! Takdir akan berubah! Aku tidak akan mati disini! Aku harus melakukannya!!!" aku bangkit dan menahan rasa sakit ini
Aku membuang busur panah dan menarik pedang yang aku bawa kemudian berlari ke arah berlawanan menuju ke samping harimau itu dan menusuk perutnya, darahnya menciprat kemana-mana bahkan wajahku kena. Aku menahan bau amis yang ada di wajahku, aku terduduk karena lemas, harimau itu tumbang dan mati ditempat itu juga.
(Kalau guru Frek ingin aku meninggal akan aku buktikan kalau aku bisa melakukannya, tapi apakah ini termasuk dari rencana putri aura untuk mencelakakan aku?? Kalian berdua tidak akan bisa lari dariku, kebenaran akan terungkap!) batin ku
Setelah memastikan harimau itu mati, aku mengambil permata di mulutnya yang tidak dia telan sejak tadi. Lalu, aku mencabut pedang milikku yang bercucuran darah harimau. Aku membuka luaran bajuku dan ku gunakan untuk menutupi pahaku.
Aku berjalan keluar dari hutan sebisaku walaupun nantinya aku tidak akan bisa sampai, aku harus tetap hidup. Aku mengusap wajahku sambil berjalan pincang kembali ke istana Pejasone dengan berlumuran darah.
Carla POV END
__ADS_1
...*****...
>> At, Istana Pejasone <<
Carla berjalan masuk ke dalam istana, semua penjaga gerbang mengikuti nya berusaha untuk membantu tapi tidak diizinkan. Mereka hanya mengikuti Carla dari belakang untuk berjaga-jaga.
Sampai di Aula, Carla membuka pintu dengan tangannya sendiri, semua orang menoleh dan bangkit dari duduk mereka menatap Carla dari atas sampai bawah yang sudah berlumuran darah bahkan darah yang ada di pedangnya sudah mengering.
"Ya ampun! Putri Carla!! Kau kenapa?" tanya Putri Abella panik dan ingin mengelap wajah Carla yang berlumuran darah justru oleh Carla ditahan tangannya.
Carla maju menuju guru Frek yang masih diam membeku di depan nya, sambil berjalan dia mengangkat batu permata yang dia bawa. Lalu meletakkan nya di tangan guru Frek.
"Jika kau menginginkan aku mati, kau salah! Aku masih hidup di hadapan mu. Aku tau seharusnya aku tidak berkata seperti ini pada guru yang sudah mengajar ku lebih dari 20 tahun ini. Tapi, tak masalah selagi dia telah mencoba membunuhku" Carla tersenyum dan menahan perih
Carla menatap semua orang dan menemukan Putri Aura yang sedari tadi dia cari. Seluruh pengeran maju ingin membantu Carla tapi Carla tetap menolak.
"Kau! Jika ini yang kau inginkan, jika kau ingin aku lenyap.. Kau salah! Aku masih hidup, jikalau takdir ingin aku mati aku akan tetap berusaha bangkit! Sudah ku bilang kan? Kau mencari lawan yang salah! Kalian berdua berurusan denganku tentang hal ini!" ucap Carla tegas
"Putri Carla, bisakah kau duduk saja? Kau kehilangan banyak darah" ucap Putri Ivy sambil menangis mendekati Carla.
Pangeran Sean melepas luarannya untuk menutupi paha Carla yang masih mengeluarkan darah, Pangeran Lynx juga melakukan hal yang sama untuk tuk mempertebal kain yang menutupi pahanya itu.
Pangeran Harris mengambil pedang yang di pegang Carla dan membuangnya di dekatnya, lalu memeluk adiknya yang sudah berdiri tak jejak.
"Kau kenapa? Aku akan mengobatimu sekarang" Pangeran Harris
"Biarkan aku yang membawanya ke tabib kerajaan" Pangeran Aiden
"Jangan ceritakan pada ibu dan ayah, kak, Putri Abella" Carla
Carla menoleh ke arah Pangeran Aiden dan melepaskan pelukannya pada pangeran Harris, dia berdiri di depan Pangeran Aiden.
"Berhati-hatilah Pangeran."
Bugh..
__ADS_1
.... to be continued. ...