
"Setelah selesai ini apa yang akan kau lakukan?" Aiden
"Aku? Mungkin aku akan tertidur" Carla
"Tidur? Kenapa tidur?" Aiden
"Entah, aku merasa lelah sekali. Tiba-tiba tubuhku ingin tergeletak di ranjang saat ini" Carla
"Baiklah, kalau gitu nanti tidur saja setelah pulang dari acara ini" Aiden
"Baiklah, oh iya! Apakah kau baik-baik saja? Aku lupa menanyakan ini setelah kau selesai latihan perang tadi" Carla
"Seperti biasanya, aku tidak pernah terluka" Aiden
"Baguslah kalau begitu, kau tahu? Apa yang aku rasakan saat melihatmu tadi?" Carla
"Apa itu?" Carla
"Aku merasa berbeda, biasanya aku akan duduk dan menatap semua pangeran bukan 1 orang. Tapi tadi, aku tidak berhenti menatapmu" Carla
"Huh… Sejak kapan istriku pandai menggoda begini, hm?" Aiden tersipu malu
"Aku tidak menggoda mu, aku hanya jujur sesuai dengan realitanya. Itu yang aku rasakan, beda saat aku duduk menjadi seorang putri dengan aku duduk sebagai istri dari Pangeran Aiden." Carla
"Baiklah baiklah… Aku paham bagaimana rasanya. Jadi kau bangga?" Aiden, dan Carla mengangguk dengan cepat
"Kau begitu yakin" Aiden tersenyum dan meminum air yang ada di depannya.
...~ ~ ~...
Setelah selesai acara dan semua kembali ke istana masing-masing Carla menepati janjinya dia langsung tertidur saat ini. Aiden yang duduk disamping Carla menatap wajah istrinya itu dengan intens.
(Kau tau? Kau itu sempurna bagiku, sangat sempurna, aku tidak tahu kenapa aku bisa sangat candu untuk mencintai mu Carla. Aku adalah pangeran paling beruntung diantara pangeran-pangeran lainnya, aku tahu kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku aku akan menunggu sampai kau mau menceritakannya sendiri) batin Aiden.
Dia beranjak pergi dari ranjangnya dan keluar dari kamar untuk pergi menuju tempat dimana kudanya beristirahat.
Aiden mengeluarkan kudanya itu dan menungganginya diarea pacu. Dia fokus dengan kudanya dan sesekali mengendalikannya dengan pelan.
Setelah lama dia menunggangi kuda, Aiden turun dari kudanya dan beristirahat di rerumputan langsung. Dia mengatur nafasnya dan menatap sekeliling.
Langit mulai gelap perlahan-lahan, Aiden masih setia duduk diatas rerumputan itu menikmati angin yang menerpa tubuhnya itu.
Tak lama, Putri Lily datang dan menghampiri Aiden yang tengah duduk diatas rerumputan itu.
"Salam, Pangeran Aiden." Putri Lily
"Salam Putri Lily" Aiden
"Apa yang kau lakukan?" Putri Lily
"Tidak ada, hanya duduk saja melihat langit yang perlahan jadi gelap" Aiden
"Tidak takut sendirian disini?" Putri Lily
"Kenapa takut?" Aiden
"Kelelawar yang biasanya tidur jadi bangun dan terbang kemana-mana" Putri Lily
"Itu hal normal" Aiden
"Tidak bagiku, karena aku tidak suka kelelawar" Putri Lily
"Semua orang juga tidak akan suka dengan hal seperti ini jika dia membenci kelelawar. Tidak hanya kau saja" Aiden
"Itulah sebabnya, alasanku benar kan?" Putri Lily
"Walaupun bagiku tidak masuk akal. Aku akan mengiyakan saja" Aiden tersenyum dan menganggukkan kepalanya
__ADS_1
"Ish… Selalu begitu" Putri Lily
"Sebaiknya kau masuk" Aiden
"Harusnya aku yang berkata seperti itu, sebaiknya kau masuk. Bagaimana bisa kau meninggalkan istrimu sendirian?" ledek Putri Lily kemudian dia langsung masuk kedalam istana.
Aiden menyusul Putri Lily untuk masuk istana, karena langit sudah gelap.
...~ ~ ~...
[Malam hari]
Carla sedang duduk di kursi belajar milik Aiden yang menghadap ke luar istana. Aiden duduk dibibir ranjang menghadap ke Carla.
"Apa yang kau pikirkan?" Aiden
"Tidak ada" Carla
"Sungguh?" Aiden
"Kau meragukan ku?" Carla
"Baiklah, bolehkah aku meminta sesuatu dari mu?" Aiden, Carla menoleh ke belakang tepat dimana Aiden duduk sambil menatap dirinya.
"Apa itu?" Carla
"Aku menginginkan seorang pangeran, dari mu." Aiden
"Aku menginjak seorang putri" balas Carla
"Kenapa putri?" Aiden
"Dia pasti akan cantik sepertiku" Carla
"Tapi, aku menginginkan seorang pangeran" Aiden
Aiden mendekati Carla dan duduk dimeja yang membuat Carla mendongak menatap Aiden.
"Apapun itu, entah putri atau pangeran aku akan menerimanya. Yang penting Corvus memiliki keturunan" Aiden
"Ya sudah, kita tunggu Putri Lily saja" Carla
"Jangan mengelak… Kau pintar membuat alasan rupanya" Aiden
"Bisakah kita menunda itu?" Carla
"Kenapa?" Aiden
"Aku memikirkan banyak hal" Carla
"Kau bilang tidak memikirkan apapun" Aiden
"Ya memang, hanya saja aku memaksa berpikir." Carla
"Hmm… Terserah kau saja." Aiden mengusap kepala Carla dengan lembut sampai Carla menaruh kepalanya di paha Aiden.
...~ ~ ~...
Jadwal saat ini adalah kelas formal pangeran dan putri seluruh kerajaan. Kereta kuda berdatangan dari kerajaan mana pun masuk ke dalam istana Pejasone.
Mereka semua berkumpul di perpustakaan megah milik Pejasone, atas usulan Pangeran Declan akhirnya mereka belajar di perpustakaan.
Dan guru yang mengajar mereka pun sudah bersedia hadir, jadwal mengajar saat ini adalah guru dari Rumpelstiltskin.
"Suatu kehormatan hari ini karena guru dari Rumpelstiltskin akan mengajar" ucap Putri Aura pada Putri Carla sambil berjalan menghampiri Carla yang sedang duduk tenang.
Carla tidak terlalu menanggapi, dia hanya berdiri dan melakukan penghormatan atas ucapan Putri Aura dan duduk kembali sambil tersenyum. Perlakuan itu membuat Putri Aura ditatap semua pangeran dan putri.
__ADS_1
"Dimana pangeran Harris? A-aku tidak menemukannya" tanya Putri Aura kikuk untuk mengalihkan perhatian.
"Mungkin sebentar lagi dia akan datang bersama Putri Abella. Ada perlu apa kau dengannya?" Carla menaikkan 1 alisnya
"Hmm… Hanya bertanya. Bukankah lebih baik jika kalian berdua datang?" Putri Aura
"Memangnya kenapa kalau misalnya Putri Abella dan Pangeran Harris tidak datang?" Carla
"Lebih baik datang, karena guru dari kerajaanmu yang akan mengajar. Suatu kehormatan bukan untuk menyambut atau hadir dikelas pertama guru kalian mengajar kami semua?" Putri Aura
"Apa yang kau katakan?" Putri Ivy
"Bukankah Putri Abella sedang hamil besar? Akankah lebih baik kalau Pangeran Harris di istana menemani kehamilannya?" sahut Putri Serena
"Tetapi, seharusnya murid hadir disaat guru istana datang dan mengajar. Untuk menghargai guru" Putri Aura
"Mungkin kau belum tahu, kalau seorang pangeran dan putri yang sudah menikah, kemudian istrinya tengah mengandung. Mereka berdua tidak wajib untuk mengikuti acara kerajaan. Itu sudah diatur di peraturan circle kami sejak kakek nenek pertama. Sampai disini kau paham?" Aiden buka suara, membuat Carla menoleh ke arah kanan tepat dimana Aiden duduk.
"O-oh i-iya benar. A-aku tidak tahu soal itu, maaf" Putri Aura menjauh dan kembali di tempat duduknya
"Itulah pentingnya mempelajari peraturan circle kerajaan, putri" imbuh Pangeran Sean
Putri Aura hanya terdiam, pasalnya dia ingin membuat Putri Carla marah tapi gagal karena semua mendukung Putri Carla.
(Kalau begini caranya aku bisa kalah, sebaiknya sendiri-sendiri tidak disaat ramai seperti ini) batin Putri Aura
(Bodohnya kau bertindak gegabah, setelah ini semua orang akan mencurigai perilaku mu dan lihat saja siapa yang akhirnya akan tersingkir perlahan) batin Putri Carla
Selesai kelas, mereka keluar dari ruangan-ruangan satu persatu. Carla dan Aiden berjalan santai berdua di koridor sambil bergandengan tangan. Mereka tidak mau terburu-buru berjalan dan menaiki kereta kuda yang sudah siap.
"Kenapa Putri Aura tiba-tiba berbicara seperti itu padamu?" Aiden
"Hm… Mungkin karena dia termasuk orang baru disekitar kita jadi dia tidak paham aturannya. Lagipula, mungkin di kerajaannya pangeran dan putri tetap harus ikut agenda kerajaan walaupun sang putri tengah mengandung, sebagai tanda hormat." jelas Carla
"Hm… Benar juga. Tapi, bukankah aneh jika dia bertanya dengan nada menohok seperti itu?" Aiden
"Mungkin dia sedang periode" jawab Carla asal
"Periode? Periode apa?" Aiden
"Kau tidak tahu?" Carla, Aiden menggeleng
"Akan lebih baik kalau kau tidak tahu" Carla
"Sebaiknya aku tahu, atau nanti aku dibilang bodoh" Aiden
"Tidak semua yang tak kau ketahui menjadikan dirimu terlihat bodoh. Lagipula itu bukan hal penting" Carla
"Kalau Putri Aura bisa periode, apa itu berarti kau juga bisa berperiode?" Aiden, dan Carla mengangguk sebagai jawaban
"Tunggu… Apa itu berarti periode adalah halangan?" Aiden
"Iya begitu" Carla mengangguk
"Kenapa kau mengatakan periode? Aku akan mengerti kalau kau bilang halangan" Aiden
"Menurutku, lebih sopan mengatakan periode. Menurutku sih" Carla
"Baiklah, setidaknya aku paham bahasa mu" Aiden
Carla tertawa kecil, saat sudah sampai di halaman depan istana Pejasone. Carla dan Aiden memasuki kereta kuda yang sudah menunggu mereka sejak awal kelas selesai.
•
•
. to be continued .
__ADS_1