
Aku membuka mata, dan melihat Pangeran Aiden masih tertidur pulas di sampingku. Aku bangun dan membuka jendela, menghirup udara segar sambil menatap pohon-pohon jauh disana.
"Apakah kehidupan sesungguhnya akan dimulai saat ini?" gumam ku
Aku melihat bibi Aiv sedang berjalan di halaman luas, kemudian dia menatap ke arahku dan dia hormat padaku. Aku hanya tersenyum melihat bibi Aiv kemudian dia lanjut berjalan. Seketika aku merasakan hangat menerpa tubuhku.
"Selamat pagi" suara ini milik Aiden
"Selamat pagi juga, kau sudah bangun rupanya" aku
"Kau membuka jendela, jadi aku bangun" Aiden
Aiden mengeratkan pelukannya dipinggang ku, dan menaruh dagunya dipundak kiri ku.
"Inilah yang aku impikan, dan jadi nyata sekarang" Aiden
"Apa yang kau impikan?" tanyaku
"Menikah denganmu, dan memeluk orang yang aku sayang setiap hari. Kau tidak pernah memikirkan atau membayangkan hal itu?" Aiden
"Dari membayangkan / halusinasi aku sadar, kalau mendapatkan orang yang aku sayang hanyalah sebuah haluan, bukan kenyataan." aku
"Aku berpikir seperti itu" imbuh ku
"Tapi, saat ini kau tidak halu" Aiden
"Memang, kau karena kau manusia bukan bayangan halusinasi" aku
"Hmm... Aku mencintaimu" Aiden mengeratkan pelukannya lagi
"Jangan erat-erat aku gak akan kabur" kesal ku
"Hanya tidak ingin kau meninggalkan ku" Aiden
Aku berbalik dan menatap kedua matanya.
"Tidak akan" jawabku
Pangeran Aiden mendekatkan wajahnya ke wajahku, dia memberikan kecupan di kening ku dan pipi kanan ku tak lama beralih ke bibir ku.
"Terima kasih" Aiden
"Aku hanya mencoba tak meninggalkan mu" aku
Pangeran Aiden mendekati wajahnya lagi, saat ini bukan hanya kecupan melainkan sebuah ciuman kasih sayang yang baru aku rasakan saat ini selama aku hidup.
Aku merasakan kehangatan, dan jantungku tak karuan saat Aiden menciumku lebih dalam lagi.
...- - -...
Semua berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama, semua sibuk dengan makanannya kecuali Putri Abella dia sungguh berisik sejak awal. Aku tidak tahu ini karena hormon kehamilan nya atau bagaimana dia lebih berisik dari sebelumnya.
"Aku ingin saat anak ku sudah lahir nanti, dia akan memanggil ku ibu-"
"-dia akan bermain bersama ayah dan ibu, aku akan sering membawanya bermain di luar istana bersama mu dan piknik di halaman kerajaan sudah cukup."
"Aku juga akan mengajarinya cara memanah, menjadi putri atau pangeran yang tangguh dan punya rasa kasih sayang yang besar" oceh Putri Abella
"Iya Abella sayang, bisakah kau berhenti berbicara atau kau akan tersedak makanan nantinya" Pangeran Harris buka suara
"Biarlah Harris, sepertinya memang ini karena faktor kehamilannya jadi dia banyak berbicara" ucap Ratu Ellena
"Benar kata ibu, lagipula aku tidak akan tersedak. Tenang saja, benar kan Putri Carla?" Putri Abella, aku hanya mengangguk sebagai jawaban
"Hei, bagaimana kau bilang akan memberitahuku anak lelaki atau perempuan yang kau inginkan?" Putri Abella
__ADS_1
Sontak semuanya berhenti makan sejenak lalu melanjutkan makan mereka ketika dirasa sudah kembali tenang. Aku menatap sinis Putri Abella yang sekarang bahagia dan memakan banyak makanan di hadapannya.
"Kau yang janji bukan?" Putri Abella
"Tapi tidak sekarang membicarakan hal itu, ayolah bumil jangan banyak berbicara. Kau jadi menyebalkan" kesal ku
"Baiklah baiklah, katakan padaku jika sudah menemukan jawabannya ya." Putri Abella, aku hanya berdehem sebagai jawaban
...- - -...
Selesai makan, aku buru-buru keluar ruang makan untuk mengunjungi Ofish. Aku memberinya makan dan menatap mereka yang masih aktif berenang sana sini.
"Aku pasti akan merindukan kalian saat sudah pindah ke Corvus nanti" aku
"Apa kau lebih merindukan ikan daripada suami mu? Kau bahkan meninggalkan ku seakan kau belum menikah" Aiden
"Lagipula tanpa aku beritahu kau sudah tau aku akan kemana saja" aku
"Berikan, aku juga mau mencoba memberi makan Ofish" Aiden merebut makanannya dari tanganku dan melemparkan ke dalam kolam.
Setelah cukup dia menaruh makanannya dan mengarahkan tubuhku untuk menatapnya.
"Boleh aku bertanya?" Aiden
"Apa?" tanyaku
"Kapan kita akan pindah ke Corvus?" Aiden
"2 jam lagi" aku
"2 jam lagi? Sungguh?" Aiden
"Kau meragukan ku?" tanyaku sambil menatap Aiden dengan menaikkan 1 alisku keatas.
"Prajurit!" aku
"Salam tuan putri, ada yang bisa saya bantu?" prajurit
"Katakan pada pelayan istana untuk mengemasi barang-barang ku, aku akan ke Corvus 2 jam lagi. Jangan ada yang terlewatkan." aku
"Baik, ada lagi tuan putri?" prajurit
"Tidak itu saja" aku
"Akan saya sampaikan tuan putri, salam." prajurit itu pergi melaksanakan tugas.
"Apa lagi yang harus aku buktikan?" tanyaku
Aiden tertawa kecil kemudian tersenyum manis.
"Aku tidak menyuruh untuk menyetujuinya hari ini" Aiden
"Kau tidak, tapi aku iya" jawabku
"Oh iya, kau bilang aku seperti belum menikah bukan? Kesana kesini sendiri, kalau gitu ikut aku agar kau mengakui kalau aku sudah menikah" aku
Aku menggandeng tangan Aiden dan pergi menuju area pacuan kuda dengan berjalan santai. Aku tersipu malu sepanjang perjalanan karena tangan Aiden terasa hangat seakan menyuruhku untuk terus menggenggam tangan ini terus-menerus.
"Kenapa kau malu?" Aiden menoleh ke wajahku
"Kau lihat?" aku
"Menurut mu?" Aiden
"Jangan lihat kalau begitu" aku
__ADS_1
"Kau manis, bagaimana bisa aku tidak melihat hal ini" Aiden
"Kita mau kemana putri?" Aiden
"Melihat kuda" aku
"Baiklah" Aiden
Sampai di area pacuan kuda aku melepaskan genggamannya dan melihat kudaku yang sedang diajak berjalan-jalan bersama pengurus pribadinya.
Aiden kembali menggenggam tanganku dengan erat saat ini.
"Jangan dilepas" Aiden, aku menoleh menatap wajahnya
Aku mengamati setiap inci wajahnya dengan baik, dan tanpa disadari hal itu membuatku tersipu malu. Tapi, aku terus menatapnya.
"Pipimu memerah, ini lucu" Aiden menangkup wajahku
"Apa benar ini adalah orang yang dulu sempat membantuku berjalan saat kaki ku terkilir?" aku
"Benar, itu aku" Aiden
"Apa benar ini orang yang pergi bersamaku mengunjungi rakyat kerajaan Rumpelstiltskin?" aku
"Benar, itu aku" Aiden
"Kau juga orang yang sama melawan penjahat denganku saat itu?" aku
"Benar, itu aku" Aiden
"Dan sekarang, kau jadi suami ku" aku
"Benar" Aiden
"Kalau begitu, pangeran… bolehkah aku mengatakan sesuatu?" tanyaku
"Silahkan istriku.." Aiden
"Aku akan mengatakan kalau aku sudah mencintai mu" aku
Aiden tersenyum bahagia melihatku dan mengusap lembut kepalaku.
"Terima kasih sudah mau mencintaiku bukan orang lain" Aiden
"Aku yang berterima kasih, kau mau menerima aku yang seperti ini" aku
"Seperti apa?" Aiden
"Yaa... Kau tau sendiri" aku
"Tidak masalah bagiku" Aiden
Aku tersenyum dan dia membalas senyuman ku dengan senyuman yang lebih manis lagi.
(Aku sudah mencintai mu, jangan tinggalkan aku) batinku
Carla POV END
...•...
...•...
.... to be continued ....
jangan lupa vote yah, terima kasih 💜
__ADS_1