
Karena saat ini acaranya adalah pertemuan rutin anggota kerajaan sendiri, jadi saat ini semua sedang berkumpul di singgasana raja dan ratu.
"Baiklah, seperti biasa. Apakah ada yang ingin kalian sampaikan pada ayah atau ibu dan yang lainnya?" Raja Vincent
"Aku ayah!" Carla mengangkat tangan kanannya
"Bagaimana Carla?" Raja Vincent
"Tadi saat aku sudah selesai sarapan, Pangeran Aiden berbicara padaku jika pernikahan aku dengannya akan diadakan 5 hari lagi. Apakah itu benar ayah?" Carla
"Itu rencana ibu nak, karena ibu takut kau terluka lagi. Maka dari itu ibu mempercepat pernikahan kalian agar ada yang menjagamu setiap harinya" Ratu Ellena
"Tapi Pangeran Aiden bilang dia ingin mendengar jawaban dari dirimu sendiri. Kau setuju atau tidak dengan usulan ibu mu." Raja Vincent
(Jadi, ini usulan ibu. Aduhh.. mana tadi aku udah marah duluan lagi.) batin Carla
"Carla?" Ratu Ellena
"Akan aku pikirkan, bu." Carla
"Ku rasa tidak perlu waktu lama Carla, kalian sudah cocok dan Pangeran Aiden bisa diandalkan." imbuh putri Abella
"Aku setuju dengan Putri Abella. Apa yang ahrus kau pikirkan tentang Aiden lagi? Bukankah kau sudah dekat dengannya??" Pangeran Harris
"Hanya dekat, aku belum mengetahui sifat aslinya bagaimana" Carla
"Sifat aslinya itu yang setiap hari kau lihat, kau rasakan dan kau temui, Carla.." Raja Vincent
"Baiklah ayah, aku akan memikirkan nya jangan membebaniku dan berusaha membujukku dengan kalimat positif lainnya." Carla
Ratu Ellena tersenyum melihat putri kesayangannya saat ini.
(Ibu dan ayah melakukan ini bukan tanpa sebab, ibu hanya ingin kau diperlakukan dengan baik oleh suami mu nanti) batin Ratu Ellena.
"Selain Carla, apa ada lagi?" Raja Vincent
"Aku ayah!" Putri Abella
"Ada apa putri?" Raja Vincent
"Saat pelatihan inti perang kemarin. Ibu mengirimkan surat untukku agar aku dan Harris menginap disana selama 3 hari. Apakah ayah mengizinkan nya?" Putri Abella
"Kenapa tidak? Silahkan... Aku tidak melarangnya" Raja Vincent
"Terima kasih ayah" Putri Abella tersenyum
Carla mengangkat tangannya kembali dan semua menoleh pada Carla setelah semua masih menatap Putri Abella.
"Ada apa nak?" Ratu Ellena
"Izinkan aku pergi dengan Pangeran Aiden" Carla
"Kemana?" Pangeran Harris
"Biar raja dan ratu saja yang menentukan, asalkan masih masuk akal bagiku." Carla
"Kau yakin?" Ratu Ellena
"Iya! Aku sangat yakin!" Carla
"Kalau begitu jawab lebih dahulu" Raja Vincent
"Apa itu ayah?" Carla
"Apa yang disukai Pangeran Aiden?" Raja Vincent
"Aku tidak tau" Carla
"Sungguh? Kau tidak tahu?" tanya Pangeran Harris dan dijawab anggukan pasti oleh Carla.
__ADS_1
"Kalau begitu setelah ini kau harus menulis surat untuknya. Tulislah pertanyaan seperti ini 'apa yang akan kau lakukan besok Pangeran Aiden?' Itulah jawaban dan keputusan yang aku buat." Raja Vincent
"Kau siap menerima?" Putri Abella
"Sejak kapan seorang Carla tidak siap menerima apapun?" Carla menyombongkan dirinya, semua menggelengkan kepala.
"Kalau begitu, aku harus menulis surat seperti itu?" Carla
"Iya dan ikuti saja apa kegiatannya besok" Raja Vincent
"Baik raja.." Carla
...* * *...
Pertemuan anggota istana telah selesai beberapa menit yang lalu. Saat ini Carla sedang menulis surat untuk Pangeran Aiden sesuai dengan saran ayahnya tadi.
Setelah selesai dia, menggulung rapi kertas tersebut dan mengantarnya ke pengirim surat di istana Rumpelstiltskin.
Sampai di ruang khusus tempat untuk mengirim barang atau surat di kerajaan, Carla masuk dan langsung menemui pak Vein.
"Salam putri Carla" pak Vein
"Salam pak Vein" Carla
"Ada yang bisa aku bantu putri?" pak Vein
"Ada pak! Aku ingin mengirim surat ini ke istana Corvus untuk Pangeran Aiden. Sore ini harus sudah sampai, bisa kan pak?" Carla
"Akan aku usahakan putri" pak Vein
"Aku memaksa, sore ini harus.sudah.sampai." tekan Carla
"Baik tuan putri, akan saya kirim segera" pak Vein
"Baguslah, aku pergi dulu… Terima kasih pak." Carla
"Salam Putri Carla" pak Vein
"Aku penasaran apa yang akan dia lakukan besok. Seperti apa kegiatan kesukaannya, masa bodo jika nanti aku tidak bisa kalau mengikuti kegiatannya yang penting aku ingin memahami bagaimana sifat pangeran menyebalkan itu!" gerutu Carla sambil berjalan
Sampai di halaman depan, putri Carla langsung terduduk karena nyeri di pahanya secara tiba-tiba.
"Akh! Dengan keadaan seperti ini apa aku bisa mengikuti kegiatan Pangeran Aiden? Bagaimana jika besok dia malah berburu? Petaka bagiku, aku belum sembuh dari rasa takut kejadian itu." Carla
Dia masih memegangi pahanya yang terasa nyeri kemudian, bibi Aiv mendatangi Carla yang tak sengaja melihat Carla di koridor tadi, bibi Aiv langsung membantu Carla.
"Ada apa Putri Carla? Apakah sakit lagi?" bibi Aiv
"Iya bi, sakit dan nyerinya datang lagi." Carla
"Ayo ikut bibi! Biar aku obati" bibi Aiv
"Tapi, tadi pagi kan sudah bi" Carla
"Jika kembali sakit harus diobati tuan putri" bibi Aiv
"Baiklah, pelan-pelan bi. Aku sepertinya tidak kuat berdiri." Carla
"Baiklah, mari aku bantu!" bibi Aiv
...- - - -...
Sampai di ruang pengobatan istana, Carla berbaring di kasur dan bibi Aiv mulai mengobatinya.
"Ada kabar apa saja hari ini Putri Carla?" bibi Aiv
"Hanya masalah aku dan Pangeran Aiden saja" Carla
"Oh iya, aku harap kau tidak membenci nya putri" bibi Aiv
__ADS_1
"Memang kenapa bi?" Carla
"Banyak sifat benci yang berakhir menjadi cinta" bibi Aiv
"Itu kan hanya cerita saja" Carla
"Tapi ada yang sungguhan putri, kau tidak ingat?" bibi Aiv
"Oh iya! Ibu dan ayah! Kenapa aku bisa lupa?" Carla tertawa kecil
"Masih ingat kan bagaimana raja dan ratu bisa bertemu dan akhirnya menikah?" bibi Aiv
"Pertemuan ayah dan ibu karena sebuah penyerangan istana, untuk memperluas wilayah. Saat itu istana ayah menyerang istana ibu, mereka sempat mengadu senjata... Karena kalah, istana ibu jatuh miskin hanya ibu yang selamat saat itu karena kepintarannya. Lalu karena kekalahan itulah ibu sangat membenci ayah tapi mereka malah memutuskan menikah." jelas Carla sambil melihat atap-atap ruangan.
"Nah.. raja dan ratu saja berawal dari sebuah rasa benci menjadi cinta." bibi Aiv
"Tapi bi, aku tidak mau kalau kehidupan cintaku seperti itu. Bukankah itu sudah biasa?" Carla
"Lalu mau sepeti apa kisah cintaku nanti putri?" bibi Aiv
"Cinta yang lahir murni tanpa ada rasa benci sama sekali" Carla
"Pangeran Gavin?" bibi Aiv
"Apa maksud bibi?" Carla tiba-tiba duduk dan dia mengeluh kesakitan karena tidak sadar jika pahanya baru saja selesai diobati.
"Jangan banyak bergerak putri, kau langsung bangun begitu saja" bibi Aiv
"Ini karena bibi Aiv tiba-tiba mengucapkan nama Pangeran Gavin" Carla
"Bukankah kalian pernah berkuda berdua?" bibi Aiv
"Lalu hubungannya dengan pembahasan cintaku apa bi?" Carla
"Pangeran Gavin bisa saja menyukai mu putri, hanya saja dia memilih diam." bibi Aiv
"Bibi jangan mengatakan yang tidak-tidak, aku membencinya!" Carla
"Baiklah, pikirkan dengan baik soal keputusan pernikahanmu dengan Pangeran Aiden, tuan putri" bibi Aiv
"Akan aku pikirkan dengan sangat-sangat baik bi, kalau gitu aku pergi dulu. Karena hari ini jadwalnya tidak banyak aku ingin beristirahat." Carla
"Silahkan tuan putri, salam putri Carla" bibi Aiv
"Salam bibi Aiv" Carla keluar ruangan.
(Bagaimana bisa bibi menyebutkan Pangeran Gavin? Kenapa tiba-tiba? Bibi Aiv membuatku jadi ge-er kan tidak mungkin Pangeran Gavin menyukaiku hanya karena kami pernah berkuda berdua saja.) batin Carla menggerutu.
Saat hendak masuk ke dalam kamar, pelayan pribadi Carla datang.
"Salam Putri Carla" pelayan
"Salam, ada apa?" Carla
"Ada kiriman surat, ini pemberian pak Vein" pelayan, Carla mengambilnya setelah diberikan.
"Terima kasih, aku akan membacanya" Carla
"Baiklah, salam Putri Carla" pelayan pergi dari hadapan Carla.
Saat sudah masuk kamar dan duduk di bibir kasur, Carla membuka suratnya dan membacanya.
"Hah? Apa ini? Habislah aku!!"
...•...
...•...
.... to be continued ....
__ADS_1
jangan lupa vote yaa ☺️👍