
Carla POV
Pagi ini kami semua tengah sarapan pagi sebelum memulai aktifitas hari ini. Semua fokus pada makanan sendiri-sendiri seketika aku teringat akan Putri Abella yang terus mengoceh ketika sedang hamil membuatku tersenyum sendiri saat makan.
"Kau tidak apa Putri Carla?" Putri Lily
"Tidak apa apa" jawabku, kemudian aku melanjutkan sarapanku kembali.
Setelah selesai sarapan aku pergi ke perpustakaan, entah kenapa aku menyukai pemandangan dari perpustakaan ini. Aku merasa tenang menatap pemandangan diluar sana.
Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangku, dia mencium pipiku dan menaruh dagunya di bahu kiriku.
"Jangan melamun" Aiden
"Aku tidak melamun" jawabku
"Lalu apa?" Aiden
"Aku menatap pemandangan diluar yang sangat indah" aku
Aiden melepas pelukannya dan duduk di jendela depanku, dia menghalangi pemandangan mataku.
"Kalau sekarang, apa pemandangan nya masih terlihat indah?" Aiden, aku mengangguk dan tersenyum
"Bahkan lebih indah" aku
"Aku pun juga begitu" ucap Aiden sambil menatap wajahku dengan intens, terlihat dari gerak-gerik matanya.
"Jangan menatapku terlalu lama" aku
"Kenapa? Apa tidak boleh?" Aiden
"Nanti kau jatuh cinta" aku tertawa kecil
"Bahkan aku sudah jatuh cinta lebih dahulu sebelum melihatmu seperti tadi" Aiden
"Aiden, bolehkah aku bertanya 1 hal?" aku
"Apa itu? Silahkan saja…" Aiden
"Kenapa kau memilih ku? Bukan putri kerajaan lainnya? Bahkan aku merasa mereka lebih cantik dariku" aku
"Memang benar, diluar banyak putri putri cantik. Tapi, mereka belum tentu jadi pilihanku. Aku memilihmu karena aku merasa aku cocok denganmu, lagipula aku bersyukur karena ayahku dan ayahmu menjodohkan kita berdua" Aiden
"Hm… Bagaimana dengan Putri Aura? Dia lebih cantik dariku, kenapa kau tidak memilihnya?" aku
"Dia datang disaat yang salah" Aiden
"Kenapa begitu?" aku
"Dia datang disaat aku sudah jatuh cinta denganmu, tidak ada penawaran. Itu sudah valid." Aiden
"Seandainya dia datang di saat yang tepat? Kau akan memilihnya?" aku
"Tidak" Aiden
"Kenapa?" aku
__ADS_1
"Karena aku tahu mana yang sungguhan mana yang tidak" Aiden
"Maksudmu?" aku
"Istriku… aku sudah tahu apa yang Putri Aura dan kau lakukan" Aiden
"Se-sejak kapan kau tau?" tanyaku gugup
"Sejak obrolan kalian dimulai, aku sudah tau" Aiden
"Jadi… Aku berkompetisi mendapatkan mu juga kau sudah tau?" aku, dan Aiden mengangguk
"Jangan berpikir kalau aku menikahi mu agar kau menang kompetisi. Aku murni mencintaimu, sedangkan kau? Yang tadinya kompetisi menjadi nyata. Kau harusnya beruntung punya suami seperti ku" ledek Aiden
"Hm… Setidaknya aku berusaha" aku
"Berusaha untuk membalas perasaanku. Terima kasih" Aiden mencium tanganku dan dia menggenggam nya.
"Sudah mau jam 8, kau tidak bersiap-siap? Aku rasa Putri Lily aka-"
"Putri Carla!! Kau disini rupanya, apa aku menggangu?" potong Putri Lily
"Tidak, ada apa Putri Lily?" tanyaku
"Ayo kita keruang belajar, sudah mau dimulai" Putri Lily datang menghampiri ku
"Baiklah ayo" aku hendak melangkah pergi tapi Aiden tidak melepas tanganku dan masih menatapku.
"Ck ck ck… Kakak! Bisakah lepaskan tangan Putri Carla?" kesal Putri Lily
"Sudahlah, ayo Putri Carla" Putri Lily merangkul lenganku dan kami keluar dari perpustakaan.
Ini adalah kedua kalinya aku mengikuti jadwal istana Corvus. Aku masih menyesuaikan diri dengan apa yang diajarkan di istana ini, semua aku pelajari dan aku terapkan perlahan karena tentunya Corvus dengan Rumpelstiltskin sangatlah berbeda.
Jadwalnya juga berubah karena kehadiranku, itu adalah kemauan raja Maverick sendiri. Karena aku akan tinggal disini dia mau membuat jadwal kegiatan baru yang lebih mudah untuk aku ikuti agar cepat menyesuaikan diri di istana Corvus.
Saat ini adalah pelajaran pribadi seorang putri, Putri Lily menjelaskan kelas seperti ini pernah dia jalankan selama 1 tahun lalu ganti karena kemauan raja Maverick. Kelas ini seperti pendidikan pribadi kehidupan seorang putri/wanita.
Dimana kita diajarkan cara agar terlihat lebih anggun, lebih menawan dan terlihat cerdas walaupun mungkin terbatas. Dan diajarkan juga untuk menjadi seorang istri kelak jika sudah menikah. Pelajaran pribadi seputar wanita, dan Aiden pun akan mendapatkan pelajaran seperti ini khusus untuk dirinya sendiri.
Waktunya tak lama, hanya 1 jam untuk pelajaran ini. Jadi terlihat sangat singkat jika kita memperhatikan dengan serius apa yang diberikan. Selesai kelas, Aiden masuk ke ruangan dimana aku dan Putri Lily belajar tadi. Putri Lily mengajakku ke halaman belakang istana yang belum pernah aku kunjungi.
Ternyata disana ada banyak tanaman Lily berbagai warna, dan semua tersusun dengan rapi dan tumbuh dengan baik.
"Apa semua ini kau yang menanamnya putri?" tanyaku
"Tidak, ini ibuku juga menanamnya. Lalu aku yang melanjutkannya" Putri Lily
"Ratu suka bunga Lily?" aku
"Iya, oleh karena itu. Ibu memberiku nama Lily" jawab Putri Lily
"Sebenarnya, ibu itu suka bunga anggrek. Dia bercerita kenapa dia jatuh cinta dengan Lily karena ayah memberinya bunga lily yang saat itu warnanya sangat cantik. Walaupun anggrek tak kalah jauh cantiknya" imbuh Putri Lily
"Memang indah, seperti bunga dan orangnya. Ibumu memilih nama yang tepat" aku
"Terima kasih…" Putri Lily
__ADS_1
"Putri Carla… Apakah kau mau aku ajak bermain dihalaman belakang? Kau pernah bermain kesana?" Putri Lily, aku menggeleng kepala dengan pelan kemudian Putri Lily tersenyum ramah.
"Baiklah aku maklumi, karena kakak ku pasti ingin selalu ada di dekatmu iya kan? Sampai dia lupa kalau istrinya harus hafal seluk beluk istana Corvus" jelas Putri Lily
"Sepertinya begitu putri" jawabku
"Baiklah, ayo bermain di taman belakang" Putri Lily mengajakku ke taman belakang istana. Disana benar-benar istana layaknya surga bunga. Semua warna warni banyak jenis bunga disini.
"Siapa yang menanam sebanyak ini?" gumamku
"Kami semua bekerja keras untuk hal ini putri" Putri Lily
"Ini sungguh luar biasa!" seruku dan bertepuk tangan
"Disebelah kanan sana ada tempat duduk yang bisa kita singgahi untuk menatap bunga-bunga ini. Dan, kalau kau suka ikan kita punya ikan disebelah tempat duduk" Putri Lily
"Ayo kesana!" ajak ku, Putri Lily dan aku berjalan mendekati kursi duduk itu dan menatap bunga yang mekar berbagai macam warna.
"Aku dulu mengira, kalau Corvus itu menegangkan. Sampai ke isi istana aku mengira mengerikan. Ternyata seindah ini yaa" aku
"Memang! Banyak yang mengatakan kalau Corvus menyeramkan, tapi ketika mereka telah berkunjung dihalaman ini mereka akan menepis persepsi itu" Putri Lily
"Sama seperti ku" aku
"Kalau kau sejak dulu selalu membuat persepsi sendiri tanpa melihat adanya fakta objektif disana" Putri Lily
"Kau mengenalku dengan baik" aku menunduk malu
"Kau sangat menonjol diantara putri-putri lainnya, itulah kenapa aku bisa cepat dekat denganmu karena mudah memahami sifatmu saat pertama kali bertemu" Putri Lily
"Aku sempat mengira kalau kehadiranku menganggu" aku
"Justru aku menyukaimu, entah kenapa aku membenci Putri Aura. Sejak awal dia ada aku sudah tidak suka, sepertinya kakak juga seperti itu." Putri Lily
"Apa alasan kau bisa bilang begitu?" tanyaku
"Aku memang belum mengenalnya tapi semua seakan sudah tergambar di wajahnya" Putri Lily
"Kau tau kan putri? Setiap orang memiliki sifat yang berbeda-beda. Siapa tahu dia adalah orang baik, wajahnya saja tampak seperti itu. Bisa kan?" aku
"Tetap saja, walau dia baik firasat ku mengatakan untuk tidak mendekatinya" Putri Lily
"Setidaknya kau harus hati-hati jika tidak ingin mengenal orang lain lebih dekat lagi" aku
"Aku berusaha saat ini" Putri Lily
(Ternyata yang merasakan hal seperti itu tidak hanya aku, Putri Lily juga merasakannya. Tak apa! Setidaknya aku menang saat ini. Aku menikahi Aiden tulus dengan hatiku, bukan karena ingin menang kompetisi dengan Putri Aura) batinku.
...•...
...•...
.... to be continued ....
jangan lupa vote ya guys...
maaf aku jarang up karena sekarang aku jadi bingung sama alurnya takut gak masuk gitu nantinya :(
__ADS_1