Putri Carla

Putri Carla
Part 41


__ADS_3

Pagi ini mereka tidak ada jadwal kegiatan di istana yang artinya semua bisa istirahat sesuka mereka. Aiden dan Carla masih di dalam kamar karena Aiden terus mendesak Carla untuk menceritakan semuanya.


Aiden sebenarnya sudah curiga dengan Carla yang memang setiap Aiden terbangun di tengah malam dia terus terbangun dari bangunnya. Aiden mengerti hal itu tapi dia pura-pura tertidur untuk melihat Carla dicelah matanya. 


Terlebih saat hari lalu Carla hanya diam dan bergumam sendiri tentang lelaki yang dia ucapkan. Aiden semakin penasaran dengan apa yang Carla sembunyikan darinya.


"Katakan saja" Aiden


"Aku belum siap" Carla


"Sampai kapan?" Aiden


"Sampai aku siap" Carla


"Lalu kau akan terus merasa ketakutan atau gelisah terus seperti ini sendirian?" Aiden


"A-aku takut kau marah dan membenci ku" Carla


"Percayalah aku tidak akan melakukan itu" Aiden


"Aku tidak yakin" Carla


"Kau tidak mempercayai suami mu sendiri?" Aiden


"Aku hanya takut hal itu terjadi" Carla


"Katakan saja, aku akan mendengarkan semuanya" Aiden


"Baiklah, tunggu… aku rasa dengan hal ini kau sudah tau sebagian" Carla membuka kain yang selama ini menutupi lukanya


Aiden terkejut biasa, dia berusaha tetap tenang walaupun sekarang di otaknya sudah mulai tersusun pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan.


"Kau tau ini kan? Kalau kau masih tidak percaya, kala itu saat ada Pangeran Declan, aku menyembunyikan buku darimu… itu adalah buku hukuman dunia digital" Carla


"Silahkan tanya apapun" imbuh Carla yang mencoba mengatur nafasnya


"Bagaimana bisa kau melakukan itu?" Aiden


"Aku penasaran saat itu, akhirnya aku bersikeras untuk memasukinya tapi bibi Aiv masih menyelamatkan aku" Carla


"Lalu, hukuman apa yang kau dapatkan selama ini?" Aiden


"Aku terus diserang oleh hewan buas" Carla


"Termasuk harimau saat jelajah alam?" Aiden, Carla mengangguk


"Dan kemarin malam, kau benar aku tidak mencari angin segar. Aku pergi ke hutan untuk menemui orang berjubah hitam yang terus muncul di mimpiku selama ini" Carla


"Orang berjubah?" Aiden


Carla mengangguk "Iya, dia memberikan aku sebuah kertas yang berisikan…" gantung Carla, dia takut saat mengatakan ini dia akan membuat Aiden marah


"Apa isinya?" Aiden


"Aku…" Carla meremas gaunnya masih ragu untuk mengungkapkan apa yang terjadi


Aiden mengangkat dagu Carla agar menatap matanya, Carla melihat ketenangan di mata Aiden saat ini.


"Katakanlah… aku tidak akan marah" Aiden


"Di kertas itu tertulis kalau takdir ku bukan untuk menikahi dirimu sejak aku melanggar portal itu" Carla kembali menunduk sedangkan Aiden sedikit menjauh


(Kalau gitu, kau akan meninggalkan aku?) batin Aiden


Carla menggenggam kedua tangan Aiden dan berlutut di depannya.

__ADS_1


"Jangan marah, semua ini salahku. Tapi, kalau kau mau menghukum ku silahkan… lakukan apa yang mau kau lakukan. Aku sungguh-sungguh minta maaf" Carla menangis sementara Aiden mencoba untuk mendinginkan kepalanya dan berpikir apa yang akan dia lakukan setelah ini.


"Siapa yang akan kau nikahi? Apa kau tau?" Aiden


Carla hanya menggeleng disela tangisannya, dia benar-benar menyesal. Andai saja dia bisa membaca atau menuruti apa kata bibi Aiv dan pak Ian kala itu dia pasti tidak akan berasa di posisi seperti ini, Carla menyesal.


"Sayang…" Aiden ikut berjongkok di depan Carla dan menghapus air mata istrinya


"Apa yang kau pikirkan setelah mendapatkan surat itu?" Aiden


"Kau boleh menceraikan aku" Carla 


"Tidak" jawaban Aiden membuat Carla mendongak menatap kedua mata Aiden yang sayu.


"Kenapa? Aku akan menikahi orang yang ditakdirkan untukku. Kau harus menceraikan aku, kau pasti malu" Carla


"Aku akan tetap bersama mu sampai kau menikahinya atau sampai hukuman mu selesai" Aiden


"Tidak, jangan permalukan dirimu pangeran. Banyak wanita diluar sana yang pantas untuk mu" Carla


"Ingat, aku akan terus bersamamu, apapun yang terjadi aku tidak akan menceraikan mu. Karena aku sudah benar-benar mencintaimu" Aiden memeluk Carla, tangisan Carla makin pecah.


Carla merasa pelukan ini adalah pelukan penenang sekaligus pelukan hangat yang bisa membuat nya nyaman berada di dalam dekapan Aiden.


"Aku tidak akan menceraikan mu sayang. Ingat itu!" Aiden mengelus kepala Carla, Carla hanya mengangguk.


...~ ~ ~...


Aiden terus menatap wajah Carla yang terlelap dalam tidurnya, dia tertidur saat memeluk Aiden tadi. Aiden mengerti, Carla masih lelah dengan semua masalah yang dia pendam sendiri.


Sampai Carla membuka matanya dan dia tersenyum ketika melihat wajah Aiden saat membuka mata.


"Tidur mu pulas sayang?" Aiden


"Iya" Carla mengangguk, kemudian dia bangun dan berdiri didepan jendela melihat pemandangan diluar.


"Terasa sepi" Aiden


"Seperti biasanya bukan?" Carla


"Kau tidak mau membuat istana ini ramai?" Aiden


"Caranya? Menggelar acara?" Carla


Aiden tersenyum dan membalikkan tubuh Carla untuk menghadap ke arah Aiden. Aiden berjongkok dan mengelus perut Carla dan berkata "Dengan ini" lalu dia tersenyum.


"Perutku? Bagaimana bisa dengan perutku?" Carla


"Keturunan sayang" Aiden


"Maksudmu seorang anak?" Carla


"Tidak seorang, tapi sepasang" Aiden


"Kau mau kembar?" Carla


"Tidak harus, yang penting perempuan dan laki-laki" Aiden


"Kau mau aku hamil?" Carla, Aiden mengangguk dan tersenyum manis


"Bisa?" Aiden


Carla sejenak berpikir dan Aiden tersenyum kemudian mengelus kepala Carla.


"Aku tidak memaksa" Aiden membalikkan badannya hendak duduk di bibir ranjang. Tapi Carla menahan tangan Aiden.

__ADS_1


"Baiklah, aku siap" Carla 


Aiden berbalik badan dan tersenyum


"Terima kasih" 


Lalu Carla membiarkan Aiden memberikan keturunan untuk kerjaan Corvus. Kalau Carla mengandalkan Putri Lily itu tidak akan mungkin, karena Putri Lily belum pasti menikah dengan cepat. 


Karena bisa dibilang Putri Lily adalah putri termuda nomor 4 yang pasti masih lama untuk menikah. Carla berharap dia bisa memberikan keturunan yang baik untuk Aiden dan istana Corvus nantinya.


...~ ~ ~ ...


Sementara di sisi lain, Pangeran Gavin sedang bertemu dengan Putri Aura di perpustakaan istana White Eagle.


"Tidakkah sebaiknya kita menyerah? Aku sudah cape, Carla akan tetap menyukai Aiden dan begitu juga sebaliknya" Pangeran Gavin


"Jadi hanya sampai sini kemampuan mu? Tidak ku sangka kau sungguh lemah" Putri Aura


"Lalu apa usahamu? Apakah kau berhasil? Sampai saat ini aku lihat kau terus gagal dan Carla terus melawan mu. Bahkan pernah terang-terangan. Kau tidak mau jika suatu saat kedok mu terbongkar??" Pangeran Gavin


"Prinsipku adalah tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang aku mau. Meskipun caranya salah" Putri Aura


"Salah tapi kenapa masih kau lakukan?? Apa kau kurang perhatian hah?!" Pangeran Gavin


"Bagaimana jika aku mengaku hamil?" Putri Aura


"Kau gila ya?! Aku tidak mau melakukan atau bekerja sama untuk hal semacam itu" Pangeran Gavin


"Akan aku lakukan setelah menjebaknya menjauh dari Carla, tunggu saja." Putri Aura


"Urus saja dirimu, jangan libatkan aku ketika kau ketahuan" Pangeran Gavin


"Baik, aku tidak akan melakukan itu. Kau yakin tidak ingin ikut rencana ku yang satu ini?" Putri Aura


"Tidak minat, biarkan aku mencari caraku sendiri. Aku mencari musuh yang salah demi orang yang tidak tahu malu" sindir Pangeran Gavin


Pintu perpustakaan terbuka, Pangeran Gary datang duduk di samping Putri Aura tanpa dipersilahkan.


"Apa yang kalian bicarakan?" Pangeran Gary


"Hmm… hanya masalah permaiann berkuda. Karena sejak latihan kuda kemarin kakak mu sangat handal aku ingin belajar darinya secara materi. Benar bukan?" Putri Aura mengangkat satu alisnya, Pangeran Gavin hanya memutar bola matanya


"Kau bisa meminta ku untuk mengajari mu tentang memanah kalau kau mau" Pangeran Gary


"Mungkin lain kali, karena waktuku tidak banyak hari ini Pangeran Gary, mohon maaf." Putri Aura berdiri dan memberikan salam hormat


"Baiklah, katakan saja jika kau ingin aku ajarkan. Aku siap selalu" Pangeran Gary


"Baiklah pangeran, salam" Putri Aura pergi meninggalkan istana white Eagle.


"Bukankah dia cantik dan berwibawa?" Pangeran Gary


"Apa yang kau lihat darinya?" Pangeran Gavin


"Dia cantik sekali" Pangeran Gary


"Jangan lihat dari wajahnya, bahkan Cinderella yang lusuh saja bisa menjadi seperti seorang putri. Bagaimana jika Putri Aura adalah penyihir?" Pangeran Gavin


"Aku tidak mengerti, jangan berbelit-belit" Pangeran Gary


"Jangan menilai seseorang dari penampilan" Pangeran Gavin langsung melongos pergi meninggalkan Pangeran Gary yang masih menatap keluar jendela tempat Putri Aura berjalan tadi.


"Aku yakin dia juga putri yang cerdas" Pangeran Gary langsung melongos keluar perpustakaan setelah mengkhayal tentang Putri Aura.


...•...

__ADS_1


...•...


.... to be continued ....


__ADS_2