Putri Carla

Putri Carla
Part 45


__ADS_3

Hari ini Carla, Putri Lily dan Aiden sedang berkumpul di lapangan untuk pelatihan memanah pagi ini. Dan seperti biasa, mereka akan dilatih oleh Axain.


"Salam pangeran… Putri. Hari ini apakah kalian semua sudah siap untuk pelatihan memanah?" Axain


"Tentu saja! Aku selalu siap" Jawab Putri Lily dengan sangat antusias


"Baiklah, hari ini saya akan memberi perintah untuk memanah cepat. Jadi tidak ada jeda untuk membidik. Kesempatan membidik hanya di awal saja yang seterusnya langsung lepas busur panah nya. Apakah putri dan pangeran mengerti?" Axain


"Mengerti Axain" Putri Lily mengangguk


"Baiklah, kita mulai" Axain berjalan ke samping Putri Lily berdiri


"1… 2… 3. Mulai!" Axain


Mereka bertiga mulai membidik dan setelah dirasa pas dengan bull eyes. Mereka melepas busur panah.


Mereka bertiga melakukan sesuai dengan yang diperintahkan, dan itu berlangsung selama 15 menit dan menyelesaikan 3 babak.


"Tunggu… Bolehkah aku istirahat? Kepalaku terasa pusing" Carla 


"Kau sakit? Biar aku bawa ke tabib" Aiden menggendong Carla ala bridal style dan langsung pergi ke tabib kerajaan.


"Tabib, bisakah kau periksa istriku?" Aiden


"Tentu yang mulia" Tabib itu langsung berdiri dari duduknya dan mendekati Carla


"Tunggu…" Carla mengentikan aktivitas tabib itu dan membuat Aiden bingung


"Ada apa tuan putri?" Tabib


"Bisakah kau keluar? Aiden?" Carla 


"Aku? Kenapa aku keluar?" Aiden


"Keluar saja" Carla


"Baiklah kalau begitu.." Aiden berjalan keluar dan menunggu Carla di depan ruangan tabib


"Ada apa kau menyuruh Pangeran Aiden keluar Putri Carla?" Tabib


"Entahlah, aku merasa tidak mau menatap wajahnya" Carla


Tabib itu mengerutkan dahi dan meletakkan tangan Putri Carla diatas perutnya.


"Kau sehat-sehat saja Putri Carla" Tabib


"Tapi aku merasa pusing" Carla


Tabib itu memberikan Carla obat yang dibungkus kain "Minumlah ini dan istirahat dahulu, aku yakin kau akan lebih baik" 


Carla menerima obatnya dan menganggukkan kepala "Terima kasih tabib, salam."


"Salam Putri Carla" Tabib


Carla keluar dari ruangan tabib dan berjalan menuju kamarnya diikuti Aiden dibelakangnya.


"Apa kata tabib?" Aiden


"Aku harus istirahat dan meminum ini, kau lanjutkan saja pelajaran memanahnya" Carla


"Aku akan merawatmu" Aiden


"Tidak, tidak perlu. Aku bisa" Carla berjalan terus menuju kamarnya sedangkan Aiden berbalik menuju ke lapangan kembali tanpa Carla.


Carla beristirahat di kamarnya sesuai dengan apa yang tabib sarankan. Dan sudah beberapa hari ini juga Carla tidak mengikuti semua kegiatan kerajaan karena dia terus merasakan mual. 


Aiden ingin menemani Carla namun tidak diizinkan. Carla mau aiden tetap ikut kegiatan kerajaan sedangkan dia di istana istirahat sampai pulih. 


Dan Aiden lakukan, walaupun berat sekali mengikuti kegiatan seperti itu tanpa Carla di sisinya. Carla berinisiatif untuk pergi ke tabib setelah apa yang dia rasakan ini tak kunjung menghilang. 


"Salam tuan Putri Carla" Tabib


"Salam tabib, bisakah kau periksa keadaanku? Aku merasa mual ku tak kunjung sembuh" Carla

__ADS_1


"Baiklah, aku akan periksa" Tabib


Setelah berbaring, tabib itu memeriksa tubuh Carla dan tersenyum lembar menatap sang tuan putri. 


"Aku turut bahagia tuan putri, anda akan menjadi seorang ratu" Tabib


Carla membulatkan matanya menatap tabib yang tersenyum lebar di hadapannya. 


"Ra-ratu? Benarkah?" Carla


"Benar tuan putri, anda hamil" Tabib


Carla langsung duduk dan mengelus perutnya yang belum membesar dan tersenyum. 


"Anak ku… Kau keajaiban ku sayang… " Carla


"Jaga kondisi kesehatan mu putri" Tabib


"Pasti, terima kasih banyak tabib. Tapi… Aku mohon jangan beritahu hal ini pada semua orang, biar aku yang umumkan sendiri." Carla


"Baik tuan Putri Carla, sesuai perintahmu." Tabib


"Baiklah, saya permisi" Carla langsung pergi begitu saja dan dia berjalan di tengah halaman depan istana yang luas dan hijau ini. Carla berjalan perlahan dan memegangi perutnya. 


"Bagaimana rasanya kalau berbadan dua? Aku menunggu kau besar nak… Kita lihat bagaimana reaksi ayah, kakek, dan bibi mu nanti" Carla. 


...🍁...


Malam ini Carla dan Aiden ada di dalam kamarnya, Carla yang duduk di kursi masih terus tersenyum menatap keluar jendela, sedangkan Aiden dia tertidur setelah Carla memarahinya. 


Carla juga belum paham, sebelum dia tahu kalau dirinya hamil. Carla terus menyuruh Aiden menjauh darinya dan tidak mau melihat wajahnya Aiden apapun alasannya. 


Bahkan tidur saja dia memunggungi tubuh Aiden sebagai suaminya. Dan setelah dia pikir mungkin ini efek dari kehamilannya. Namun disisi lain, Carla juga merasa bersalah dan kasihan dengan Aiden karena semua usaha yang dilakukan Aiden agar Carla mau melihatnya tidak pernah berhasil. 


Carla menatap wajah Aiden dari tempat dia duduk, dan menghela nafas sambil menyentuh perutnya lagi, lagi dan lagi. 


"Apakah nanti kalian berdua tidak akur? Karena saat ini aku merasa tidak ingin melihat wajah Aiden" Carla


Setelah lama berpikir, Carla memutuskan untuk beranjak ke atas ranjangnya dan tidur di samping Aiden menghadap ke arah tembok. 


...🍁...


Dan untuk hari ini Carla beruntung dengan jadwal yang sangat ringan yaitu kelas formal pangeran dan putri di Corvus dan kelas formal seluruh pangeran dan putri di seluruh istana. 


Setelah menyelesaikan kelas formal di Corvus sekarang Carla, Aiden dan Putri Lily ada di istana Pejasone untuk acara kelas formal seluruh pangeran dan putri. Dari tempat Aiden duduk, dia terus memperhatikan Carla sedangkan Carla hanya menatap guru yang sedang mengajari mereka. 


Dan seperti biasa saat kelas sudah berakhir mereka semua berpencar karena waktunya istirahat. Carla langsung menutup bukunya dan memangku kepalanya dengan satu tangan. 


"Putri? Apa kau tidak ikut istirahat?" Tanya Putri Aura yang memberhentikan langkahnya


Carla tersenyum manis "Tidak tuan Putri Aura"


Putri Aura langsung melongos pergi diikuti putri-putri lainnya tersisalah Putri Lily, dia duduk disamping Carla. 


"Putri… Kalau kau butuh sesuatu katakan saja padaku. Kau belum pulih seutuhnya karena sakit mu itukan?" Putri Lily


Carla sempat senyum sementara pada Putri Lily dan menganggukkan kepala "Iya, aku belum pulih seutuhnya"


"Baiklah, kalau begitu aku pergi keluar dulu putri, salam." Putri Lily pergi meninggalkan Carla


Tersisa Carla dan Aiden di dalam ruangan ini, Aiden membenarkan posisinya menatap istrinya dengan menyangga kepalanya dengan 1 tangan. Sedangkan Carla melakukan hal yang sama namun tujuannya berbeda, agar Aiden tidak bisa melihat wajahnya. 


"Kenapa kau tutupi?" Aiden


"Memangnya kenapa?" Carla


"Aku mau melihat wajahmu" Aiden


"Tidak perlu" Carla


"Baiklah… " Aiden


Terdengar helaan nafas di ruangan dan berubah menjadi sunyi setelah beberapa detik, Carla langsung menoleh dan melihat ke samping betapa terkejutnya Carla ketika nafas Aiden bisa dia rasakan di kulit wajahnya. 

__ADS_1


"Akan aku maklumi kalau kau sakit, tapi kenapa kau menjauhi ku juga?" Aiden


"Tidak ada alasan" Carla langsung kembali menghadap ke depan menutupi wajahnya yang sudah memerah. 


Namun, Aiden malah mendengus leher dan berbisik di telinga Carla. 


"Aku merindukan aroma ini" Aiden langsung menjauhkan wajahnya dan pergi begitu saja meninggalkan Carla yang sedang merinding diseluruh tubuhnya karena perlakuan Aiden. 


"Aku mau memberimu kejutan, apakah hari ini saja? Entahlah, aku akan memikirkannya nanti" Carla menutup kedua wajahnya dengan kedua tangan dan tersenyum malu dibalik tangan itu. 


Namun, tidak lama dia juga merasa kalau bosan dan sunyi, Carla menatap keluar jendela dan melihat semua putri sedang melakukan ajang show dress yang mereka pakai dan saling tertawa. Carla ingin bergabung dengan para putri disana, dia langsung keluar dari aula Pejasone dan berjalan santai menuju ke halaman depan itu. 


Tidak disangka, kejadian tempo lalu terjadi lagi. Dia melihat Aiden dan Putri Aura dengan posisi yang sama saat itu, kali ini Carla mendengarkan pembicaraan mereka berdua sambil menyusun rencana dadakan setelahnya.


"Jangan pernah berbual, aku tidak suka dengan orang seperti itu." Aiden


"Berbual? Ya ampun… Apa aku berbual dengan masalah ini?" Putri Aura


"Pikirkan dengan baik, aku sungguh hamil anakmu pangeran… " Imbuh Putri Aura


"Kau sudah gila sepertinya, tidak kah kau berpikir tentang Pangeran Lynx?" Aiden


"Lagipula kita tidak pernah melakukan hal melebihi batas, dan aku juga tidak mau melakukannya karena aku sudah punya Carla!" Imbuh Aiden dengan tegas


"Lupakan dia, kau menikah denganku bukankah kita akan bahagia tanpa adanya pengganggu? Sejak awal dia memang pengganggu bagi diriku. Dan untuk apa aku berpikir tentang Pangeran Lynx? Kalau hanya kau saja yang aku pikirkan" Putri Aura menangkup wajah Aiden. 


Carla menahan panas yang merajai tubuhnya, bahkan nafasnya menjadi memburu ketika melihat itu, beruntung Aiden menepis tangan Putri Aura dan memarahinya karena telah lancang. 


Carla mengatur nafasnya dan bersikap tenang, dia berjalan dengan sangat elegan dan menghampiri dua insan itu. Aiden terkejut sedangkan Putri Aura senyum miring.


"Ku dengar kau hamil tuan putri?" Carla


Putri Aura tersenyum puas dan maju satu langkah mendekati Carla "Benar sekali, apa kau ingin tahu siapa ayahnya?"


"Tidak perlu, aku tidak ingin ikut campur rumah tangga barumu… " Ucap Carla


"Carla ini tidak seperti yang kau pikirkan" Potong Aiden


"Selamat atas kehamilan mu, dan aku berharap ayah itu bukanlah seorang pangeran yang hendak menjadi raja sungguhan" Carla


"Apa maksudmu?" Putri Aura


Carla menarik Aiden untuk berdiri di belakang tubuhnya dan menarik nafas. 


"Aku sudah mendengar semuanya." Carla maju mendekati Putri Aura dan menatapnya dari bawah sampai atas dan menampakkan ekspresi iblis di wajahnya. 


"Jauhi suamiku… Atau kau akan terus berusan denganku sampai selesai, jauhi Aiden karena dia milikku, dia suamiku. Kau dan kehamilan mu? Hahaha! Yang benar saja, biar ku beritahu… Aku hamil anak Aiden, kalau kau ingin mencelakai bayi ini aku tidak akan tinggal diam" Carla mundur selangkah dan hendak menarik Aiden untuk pergi dari koridor ini. 


Namun karena Aiden mendengar semua yang Carla katakan, dia menahan tangannya dan bertanya untuk memastikan. 


"Kau sungguh hamil anak ku? " Aiden dan Carla mengangguk "Iya"


Tanpa berbicara Aiden langsung memeluk Carla sambil memojokkan Carla di tembok koridor. Mereka berpelukan sangat berat dan saling tersenyum. 


"Akhirnya, kau hamil" Aiden terus tersenyum dan mengelus kepala Carla dengan lembut.


Dan tak berselang lama, pelukan itu menjadi ciuman yang lembut disana. Aiden mengungkapkan perasaannya lewat ciuman ini, Carla yang masih bisa berpikir jernih memutuskan untuk melingkarkan kedua tangannya di tengkuk Aiden untuk memancing emosi Putri Aura yang belum pergi dari posisinya. 


Ciuman Aiden semakin dalam dan dia menarik Carla ke pelukannya, dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Carla. Setelah cukup lama, Aiden beralih menjadi memeluk Carla kembali dan tersenyum lagi. 


Sedangkan Putri Aura memutuskan pergi melewati dua insan ini, Carla menjulurkan lidahnya pada Putri Aura yang melihat kemesraan mereka berdua. 


Dan Putri Aura tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa melangkahkan kakinya pergi menjauh setelah melihat adegan kemesraan Aiden dan Carla. 


"Sejak kapan kau tahu kalau hamil?" Aiden


"Kemarin" Carla, Aiden melepas pelukan dan menggenggam kedua tangan Carla. 


"Bayinya laki-laki atau perempuan?" Aiden


"Tidak tahu, usia kandungan ku masih sangat muda. Dan yang paling penting jangan hanya karena kejadian tadi aku sudah mau melihat wajahmu. Jawabannya masih sama, aku tidak mau melihat wajahmu" Carla melepas genggaman Aiden dan berjalan sesuai dengan tujuan awalnya, dan Aiden mengejar Carla sambil terus menampakkan senyuman di bibirnya. 


...•...

__ADS_1


...•...


.... to be continued....


__ADS_2