Putri Carla

Putri Carla
Part 30


__ADS_3

Semalam adalah acara pemberkatan untukku, dan hari ini aku akan melaksanakan pernikahan dengan Pangeran Aiden. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasa, aku gugup dan perasaanku bercampur aduk saat ini.


"Seluruh tamu sudah datang putri, kami akan membawaku kepada Pangeran Aiden sekarang. Kau siap?" tanya bibi Aiv yang berada di sisi kananku


"Siap atau tidak, aku tetap harus masuk ke ruangan pernikahan bukan?" aku


Bibi Aiv tertawa kecil, dia menggandeng tanganku sampai pintu ruangan. Kemudian, aku berjalan sendiri menghampiri Pangeran Aiden yang berdiri disana sambil menatapku.


Sesampainya didekat Pangeran Aiden dia berlutut, dan meraih tanganku dan menggenggam kedua tanganku.


"Kau siap?" Aiden, aku hanya mengangguk


Kami membacakan janji pernikahan bergantian, lalu pemasangan cincin. Pangeran Aiden mendekat ke arahku dan mencium kening ku, pipiku sempat memerah, dia membuka penutup wajahku kemudian mencium bibirku dengan lembut tak lama hanya sementara.


"Kau sudah jadi milik ku, aku akan menjaga mu selalu" Aiden


"Terima kasih" jawabku


Setelah acara pernikahan selesai semua tamu menikmati acara jamuan. Kemudian, tak sengaja aku menangkap sosok Putri Aura dan aku tersenyum.


(Sudah ku bilang, kau salah mencari lawan) batinku


"Carla... Kau tidak mau makan?" Aiden


"Aku lapar, mungkin aku akan makan buah" aku


"Aku ambilkan" Aiden mengambil kan 1 piring berisi penuh buah-buahan.


"Terlalu banyak tapi, terima kasih." aku mengambil buahnya lalu memakannya.


"Kau tau? Aku punya kebahagiaan lain, selain pernikahan ini" aku


Aiden menoleh ke arahku dengan wajah yang bingung.


"Apa itu?" Aiden


"Tidak, belum saatnya aku mengatakan hal ini. Mungkin lain kali" aku


"Kenapa tidak sekarang?" Aiden


"Terlalu dini mengungkapkannya sekarang" aku


"Nanti malam?" Aiden


"Boleh... Tapi, kau juga harus memberitahu ku 1 hal" aku


"Apa?" Aiden


"Ada apa antara kau dengan Pangeran Gavin?" tanyaku


"Tidak ada apa-apa" Aiden


"Kau berbohong!" aku

__ADS_1


"Aku tidak berbohong, hanya masalah umum antara 2 pangeran" Aiden


"Ya sudah kalau begitu" aku


"Kenapa kau ingin tau?" Aiden


"Salah kah? Baiklah, kalah kau tidak mengatakannya aku juga tidak" aku


"Simpan lah rahasia mu, kalau memang kau tidak mau mengatakan nya" Aiden langsung memasang wajah datar, aku takut melihat ekspresi wajah seperti itu.


"Kenapa kau jadi seperti ini?" gumamku


...* * * ...


Setelah acara pernikahan selesai, sore ini aku berjalan-jalan menelusuri hutan sendirian. Entah mengapa, aku berfikir seperti ingin pergi kesana sekarang juga.


Semakin berjalan masuk ke dalam, aku semakin merasakan kedinginan dan diriku seakan terikat. Kemudian, aku ingat hukuman yang ada di tanganku, aku melepasnya dan melihat tanda itu semakin jelas yang awalnya memudar.


Tapi, aku terus memasuki hutan. Sampai saat aku di tengah-tengah pohon besar, aku melihat ada seekor harimau di depanku. Tubuhku gemetar saat melihat kalau harimau itu adalah harimau yang sama saat itu.


(Jangan bilang kau masih hidup, aku tidak siap. Aku tidak membawa senjata apapun) batinku


Aku perlahan mundur sambil mengamati harimau dan


Jleb


"Hah..." aku mengeluarkan nafas perlahan karena ada yang menangkapku dari belakang saat harimau itu melompat ke arahku.


(Itu hanya imajinasi ku, mana mungkin harimau yang telah mati masih hidup) batinku


Suara ini aku sangat mengenalnya, aku berbalik kemudian memeluknya karena masih ada rasa takut akan kejadian tadi.


"Kau kenapa? Apa yang terjadi?" Aiden


"Tidak, tidak apa-apa" jawabku


"Kau ketakutan, lagipula kenapa sore-sore seperti ini kau dihutan?" Aiden


Aku melepaskan pelukan Aiden dan menatap ke langit yang sudah mulai surup dan gelap.


"Hanya berjalan-jalan saja" jawabku


Aku langsung kembali ke istana sambil mengontrol nafasku yang masih memburu, Aiden menggandeng tanganku saat dia sudah menyeimbangkan langkahnya denganku.


"Lain kali jangan pergi sendiri, apa guna nya aku jadi suami mu" Aiden


"Baiklah baiklah, aku tidak mau berdebat" jawabku


Saat sampai halaman depan istana, Aiden menarik tanganku dan mendudukan aku di pinggir kolam dan dia berdiri di depanku.


"Ada apa?" tanyaku


"Sejak awal aku melihatmu di hutan, kau tampak aneh. Setelah aku tanya kau jawab tidak apa-apa. Kau ini sebenarnya kenapa? Ceritakan padaku." Aiden

__ADS_1


Aku menatapnya, sorot matanya seakan memaksaku bercerita. Aku berdiri dari duduk dan menatap Aiden.


"Tidak apa-apa" ucapku lalu pergi meninggalkannya tapi dia, menahan tanganku dan menariknya agar kembali ke tempat tadi aku duduk.


"Kenapa? Kau tidak percaya padaku?" Aiden


"Baiklah! Aku akan cerita" aku


"Kenapa?" Aiden


"Saat di hutan tadi aku melihat harimau yang sama waktu aku diserang saat itu. Aku ketakutan karena dia melompat ke arahku, aku kira aku akan mati saat itu dan kau datang bersamaan saat harimau itu ingin menerkam." jelas ku


Aiden menarik ku ke pelukannya, jujur saja aku merasakan ketenangan, kehangatan saat dipeluk Aiden. Aku tidak tahu apakah kedepannya aku akan candu dengan pelukan ini, wangi tubuhnya pun khas sekali dan aku menyukainya.


"Baiklah, jangan takut. Mungkin itu hanya pemikiran atau khayalan mu saja karena hari sudah menjelang malam kau malah kehutanan. Lain kali, kemanapun kau ingin pergi katakan padaku jangan sendirian. Kau mengerti?" Aiden, aku hanya mengangguk


"Berarti kalau aku ke toilet kau juga ikut?" tanyaku


"Kecuali yang itu, kau paham putri cantik?" Aiden


Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya malas "Iya aku paham, jangan merayuku. Sebaiknya kita bersiap-siap besok kita akan pindah ke istana Corvus." aku berjalan mendahului Aiden untuk masuk ke dalam istana.


...- - -...


Malam pun tiba, semua anggota kerajaan telah tertidur termasuk Aiden yang sudah tidur disamping ku. Aku duduk bersandar pada ranjang dan menatap pergelangan tanganku, tandanya kembali memudar tak seperti tadi saat di hutan.


"Apakah setiap aku mendekati hutan luka ini akan terlihat jelas ditangan ku? Karena sekarang lukanya memudar tak begitu jelas" gumam ku


(Apa itu berarti aku tidak boleh memasuki hutan?) batinku


"Iya, sepertinya aku tidak boleh memasuki hutan. Aku akan terus mencoba membuktikan hal ini" gumamku


Aku merubah posisi duduk ku menjadi berbaring, sebelum tidur aku menatap wajah Aiden yang begitu dekat denganku tetapi, hal ini justru membuat jantungku menjadi tidak karuan.


"Iya, sepertinya aku sudah mencintai mu" aku


Tanganku beralih memainkan rambut diatas kepalanya dan tersenyum.


(Rambutmu halus Aiden) batinku


Tak terasa ada tangan yang menahan aksi ku, aku beralih menatap mata Aiden ternyata dia terbangun.


"Kau belum tidur?" Aiden, suara seraknya membuatku tidak bisa berkutik, aku baru pertama kali mendengar suaranya seperti ini.


Aiden memindahkan tanganku yang semula memainkan rambutnya menjadi memegangi pipinya.


"Tanganmu halus dan hangat" Aiden kembali memejamkan matanya setelah berbicara.


"Tidurlah" aku memejamkan mataku dan tertidur karena tak ingin jantungku terus-menerus berdegub kencang layaknya orang lari maraton.


...•...


...•...

__ADS_1


.... to be continued ....


Jangan lupa vote dan komen ya, terima kasih banyak 💜


__ADS_2