Putri Carla

Putri Carla
Part 25


__ADS_3

Saat acara Crown Princess selesai, Carla berdiri di halaman depan tak tau hendak apa. Dia seharusnya kembali ke istana Rumpelstiltskin hanya dia ingin berdiam diri disini.


Kemudian datanglah Putri Aura dari belakang Carla dan ikut berdiri disana.


"Senang kau sudah siuman, Putri Carla." Putri Aura


"Jangan membohongi dirimu sendiri, benci katakanlah benci, suka katakan suka. Jangan menyembunyikan perasaan yang sebenarnya" ucap Carla dengan angkuh


"Syukurlah kau tau artinya" Putri Aura


"Tak mungkin aku tidak mengetahui apa yang musuhku ingin kan, aku harus tau seperti apa mau musuhku" Carla


"Kau terlalu baik ingin mengetahui apa yang musuh mu rasakan, apa yang musuh mu ingin lakukan. Jika aku jadi dirimu aku tidak akan melakukannya." Putri Aura


"Bagiku mengetahui semua yang musuh lakukan itu adalah sebuah keuntungan besar. Karena saat ingin membalas apa yang dilakukan kita harus tau apa yang dia lakukan, jadi tidak asal melakukan sebuah rencana-" Carla menghadap ke arah Putri Aura dengan tatapan datar.


"-kau pasti tidak melakukan itu kan? Makanya rencana mu tidak ada yang berjalan lancar." Carla tersenyum diakhir kalimatnya


Putri Aura menahan amarahnya kali ini dia sudah ingin meluap tapi dia masih menahannya.


"Jika kau ingin melakukan apa yang aku katakan tadi silahkan, aku tidak akan kesal dengan senang hati kau bisa tau apa rencana ku lalu setelahnya kau bisa balas dendam. Jika, ingin marah marahlah jangan ditahan itu tidak baik, salam Putri Aura" Carla tersenyum dan pergi meninggalkan Putri Aura sendiri yang masih berdiri.


"Ingat!! Aku tidak akan kalah!!!" teriak Putri Aura


Carla sempat berbalik sambil berjalan mundur


"Buktikanlah ucapanmu! Aku tidak suka kebohongan!!!" Carla melambaikan tangannya kemudian masuk kereta kerajaan untuk kembali ke istana Rumpelstiltskin.


...* * *...


Sampai di istana, Carla masih menatap ke arah luar jendela kamarnya. Dia masih mengulang kejadian dimana dia dan Pangeran Aiden bertengkar sampai dirinya menangis.


"Hah! Kenapa aku harus menangis tadi?? Aku malu sekali untuk bertemu dengan orang itu besok" gumam Carla.


"Lagipula kenapa aku memberikan kalung itu juga, itu kan hak ku! Kenapa secepat itu aku melepaskan kalungnya agar dia tidak marah padaku?" imbuh Carla


"Jangan-jangan… aku sudah.. ah tidak! Tidak mungkin aku seperti itu! Tapi cobalah buka pikiran dan hatimu Carla… tapi aku tidak mau melakukannya." Carla


Jika orang melihatnya dia bisa saja sudah dianggap orang gila, berbicara sendiri dan heboh sendiri. Untungnya tidak ada yang melihatnya karena saat ini sudah malam.


"Sebaiknya aku tidur besok aku harus bangun dengan pemikiran yang baru. Aku harus memikirkan hidupku kedepannya. Apakah aku akan menikah dengan Pangeran Aiden atau dengan pangeran lainnya yang lebih tampan dan kaya, ahaha." Carla terkekeh kecil kemudian tertidur di ranjangnya.


...* * *...


Aiden POV


Pagi ini aku sudah berjemur di depan halaman istana, sendiri tentunya. Lily entah kemana saat ini. Aku membiarkan diriku berkeringat pagi ini, karena selanjutnya adalah latihan pedang bersama Lily.


Karena sudah terlalu lama berdiri aku berjalan ke arah pacuan kuda dan melihat kudaku sedang diberi makan. Aku mendekati prajurit itu dan berbicara sedikit dengannya.


"Jangan sampai dia kelaparan, dia berarti bagiku" ucapku


"Baik pangeran" pengawal


Saat aku menoleh ke arah pacuan kuda aku teringat ada seorang wanita yang berani menggangguku dan memanjat area berkuda milikku pertama kalinya selama ini. Dia adalah Putri Carla.

__ADS_1


Jujur saja, sebanyak-banyaknya putri kerajaan yang berusaha melamar ku dan dekat denganku mereka tidak seberani itu dengan percaya diri memanjat pagar pembatas dan meneriaki ku.


Entah kenapa aku merasa Putri Carla punya keberanian sendiri didalam dirinya, aku tidak pernah melihat dirinya takut, jikalau dia memang takut pasti akan ditutupi dengan sangat baik.


"Dan aku mencintai wanita itu" ucapku spontan


(Kapan kau menyetujui pernikahan kita Putri Carla?) batinku


Sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi dengan menunggu seperti ini tapi, aku tidak mau egois. Yang menikah bukan aku sendiri tapi dengan Putri Carla, maka dari itu aku harus bersabar menunggu keputusan nya.


"Baru kali ini aku menunggu jawaban seseorang begitu lama" gumam ku


"Karena semua wanita pasti akan cepat membuat keputusan jika sudah berurusan dengan mu. Begitu bukan kak?" sahut Lily dari belakang


"Kau mendengar semua ucapan ku?" tanyaku, kemudian Lily mengangguk


"Bersabarlah kak, aku tau Putri Carla akan memikirkan ini dengan baik karena pernikahan bukan hanya sekedar mengucap janji suci sehidup semati tapi kehidupan sesungguhnya baru akan dimulai setelah menikah." Lily


"Sejak kapan kau tau hal semacam itu?" tanyaku


"Putri Ivy memberitahuku" Lily


"Kau menjadi sangat dewasa karena Putri Ivy" jawabku


"Dia pun di dewasakan oleh buku" Lily


"Wajar saja, kemana-mana dia selalu membawa buku" jawabku


"Maka dari itu, dia memberitahu ku hal semacam itu" Lily


"Tentu saja kak, aku selalu bijak menelaahnya" Lily


"Bagus..!" jawabku


"Kak! Jika kau menikah, bagaimana denganku?" Lily


"Carilah pangeran yang kau sukai" jawabku


"Aku tidak butuh pangeran saat ini, karena tidak ada yang seperti kakak" Lily


"Yang akan menjadi jodohmu pasti lebih baik dari aku" jawabku


"Tapi kakak lah yang terbaik bagiku" Lily


"Dengar, diluar sana banyak yang lebih baik daripada aku. Dan pangeran yang akan menikahi mu pasti sangat mencintai mu, walaupun nanti aku akan menikah pasti aku akan terus menjagamu." jawabku


"Terima kasih kak" Lily


"Baiklah, ini sudah jam nya kita untuk latihan perang. Ayo mempersiapkan diri" ucapku


"Ayo kak!" Lily


Aku dan Lily menyiapkan diri untuk pelatihan perang, tentunya masing-masing dari kami akan dilatih dengan pelatih pribadi.


...-----...

__ADS_1


Selesai perang, aku dan Lily sedang beristirahat dan duduk di rerumputan masih ditempat kami berlatih pedang.


Tak lama datanglah kereta kencana yang berhenti tepat di depan gerbang. Setelah melihatnya sekilas aku langsung melihat ke arah lain dan tiduran di atas rumput. Sedangkan Lily, dia masih duduk di sampingku.


"Salam Pangeran Aiden" aku membuka mataku disaat aku merasakan wajahku teduh.


Saat itu pula aku melihat wajah Putri Carla di atas wajahku yang sedang tertidur. Aku langsung kembali duduk dan menjawab salamnya.


Lily langsung bangun dari duduknya dan memeluk Putri Carla.


"Salam Putri Carla" jawabku


"Wah senangnya kau bisa pulih lagi putri..." Lily


"Senang juga bisa bertemu dengan mu lagi putri" Putri Carla melepaskan pelukannya


"Apa aku menganggu kalian?" Putri Carla


"Tidak, kebetulan kami baru saja istirahat" Lily


"Sampai jam berapa kalian berlatih?" Putri Carla


"Setelah istirahat kita kembali berperang dan selesai. Begitu saja putri." Lily


"Semangat untuk kalian berdua! Jangan pernah merasa lelah" Putri Carla


"Terima kasih putri" Lily


"Kau sendiri kesini?" tanyaku


"Seperti yang kau lihat" jawab Putri Carla


"Aku kira kencana tadi bukan dari kerajaanmu" jawabku


"Santai saja, aku juga tidak menuntut mu untuk menghafal setiap transportasi yang aku gunakan." Putri Carla


"Setidaknya aku harus tau kalau kau akan datang" aku


"Hm... Apakah aku salah ada disini? Ayolah~ jangan seperti itu, aku belum dijodohkan." kesal Lily


"Kau pasti akan dijodohkan sebentar lagi. Yang pastinya setelah kakakmu, Pangeran Aiden sudah menikah" jelas Carla


Aku tersenyum mendengar jawabannya sambil melihat dia yang masih tersenyum manis kearah Lily.


"Kalau begitu, kapan kalian menikah?" Lily


Putri Carla langsung menoleh ke arahku, sedangkan aku hanya tersenyum melihatnya.


(Kenapa kau tidak menjawabnya? Jawabanku ke Putri Lily juga termasuk jawaban untukku Carla) batinku


.... to be continued ....


Jangan lupa vote nya yahh☺️


terima kasih 🙏🏼

__ADS_1


__ADS_2