
Carla POV
"Salam tuan putri, anda sudah ditunggu di ruangan kerajaan" ucap pengawal pribadiku
"Tunggu" jawabnya
Aku mengangkat gaun yang bagian depan dan berjalan menuju lantai 4 istana. Sampai disana, ayah dan ibu juga kakak sudah menunggu.
"Baiklah, karena acara hari ini adalah pertemuan rutin pribadi. Aku mau disini tidak ada tahta, anggap saja kita rakyat biasa… kebebasan ada disini dan terbatas" ayah
"Baiklah" jawab Pangeran Harris dan aku bersamaan
"Baiklah, langsung saja. Apa yang selama ini kalian rasakan dan yang ingin kalian sampaikan?" Ibu
"Aku... Ayah... Ibu" Ucapku dan mengangkat tangan sejajar dengan kepalanya.
"Apa putri?" ayah
"Apa setiap putri dan pangeran tidak ada yang boleh turun melihat rakyat walau hanya 10 menit?" tanyaku
"Kenapa kau bertanya soal itu anak ku?" Ayah
"Ayah bilang seorang pangeran dan putri harus mengerti keadaan lingkungan dan orang lain. Sementara, adanya raja dan ratu untuk memimpin rakyat bukan untuk dirinya sendiri. Aku mengajukan bahwa peraturan ini harus agak longgar, kalau rakyat diluar sana merasa lega dan leluasa apakah kerajaan kita tidak maju?" Jelas ku
"Jadi, intinya kamu minta agar kita mementingkan rakyat lebih utama daripada diri sendiri. Dan kau mau rakyat merasakan keadaan kerajaan. Benar kan?" Pangeran Harris
"Iya" Jawabku dan mengangguk
"Saran yang cukup bagus sayang, ibu suka pemikiran mu." Ibu
"Dia sejak dulu ingin melihat rakyat luar tetapi, dia takut kalian tidak menyetujuinya. Dan karena memang kalian sedang sibuk dan waktu seperti ini hanya ada dalam 1× dalam 1 minggu" Jelas kak Harris
"Hmm… maafkan ayah kalau memang kamu berpikir ayah dan ibu sibuk. Tapi, semua memang benar kami terlalu mementingkan diri sendiri. Besok kamu boleh melihat rakyat langsung bersama kak Harris atau teman mu yang lain aku tidak melarangnya" Ayah
"Tapi, ibu sarankan kalau bisa bersama kakak mu atau Pangeran Aiden, Carla. Ibu merasa lebih aman" Ibu
"Maaf bu, aku sibuk besok" Kak Harris
"Pangeran Aiden? Apa harus dia ibu?" Tanyaku
"Kenapa? Kalian akan menjadi seorang raja dan ratu nantinya. Bukankah kalian harus saling memahami, sekalian kalian juga semakin dekat" Ibu
"Bu… tapi, Pangeran Aiden itu beda wilayah. Ini wilayah Rumpelstiltskin dan wilayah Corvus tidak masuk kesini. Dan dia juga pangeran yang..." Aku hampir melampiaskan semuanya
Ayah, ibu dan kak Harris sudah menatapku karena aku seketika berdiam diri. Kak Harris yang melihat wajahku langsung menahan tawanya dengan melihat ke arah lain.
"Pangeran yang apa Carla?" Ibu
"Tidak bu..." Aku menunduk
"Katakan saja" Ayah
"Bilang saja" kak Harris
"Jangan beritahu siapapun ayah, ibu… dan kak Harris? Dengar! Jangan beritahu siapapun" Ucapku dengan penuh penekanan pada kak Harris
"Apa? Sepertinya hal yang tidak kau sukai" Ibu
"Tentu saja Pangeran Aiden itu pangeran yang menyebalkan" Ucapku
"Hmm? Menyebalkan? Kenapa bisa begitu?" Ayah
"Kemarin setelah perang selesai aku disuruh kak Harris bergabung dengannya. Aku bertanya sesuatu saat Putri Ivy mempercayakan Pangeran Aiden padaku… aku bertanya apakah benar Pangeran Aiden sudah menolak 20 putri dari 25 kerajaan terkenal? Dia hanya tersenyum lalu berdiri meninggalkanku. Setelahnya dia kembali membawakan aku payung agar tidak kepanasan.
Dia menjawab pertanyaan ku setelah masuk di gedung istana. Menyebalkan bukan?" Jelas ku
"Hmm… sayang, itu bukan menyebalkan. Dia itu baik hati dan peduli, apa yang menurutmu menyebalkan?" Ibu
"Dia tidak menjawabnya saat itu juga dan meninggalkanku sendiri di lapangan" Jelas ku
__ADS_1
"Dia tidak meninggalkanmu, dia pergi untuk mengambil payung putri. Dan payung itupun kamu dan dia yang memakainya apa itu menyebalkan? Kau salah mengartikan dirinya" Jelas ibu
(Apa benar? Sepertinya semua yang ibu jelaskan tidak salah. Aku saja yang tidak menyetujui perjodohan sampai membencinya, baiklah... Aku salah. Apa yang harus aku lakukan?) batinku
"Baiklah, aku salah dalam hal itu. Dan aku harus bagaimana bu?" Tanyaku
"Besok untuk memperbaiki semuanya kau harus pergi bersama Pangeran Aiden. Dan banyaklah berbagi cerita walaupun sangat berbeda, dan ayah yakin kalian punya 1 kesamaan kalau kalian terus dekat. Kau akan tahu itu suatu saat Carla" Ayah
"Baiklah ayah, tapi masalah peraturan yang akan kau longgarkan untuk rakyat apa bisa kau laksanakan? Hanya itu permintaanku sejak dulu" Pintaku
"Temui ayah saat sedang santai bisa?" Ayah
"Tentu ayah" Carla tersenyum.
Pelayan datang membawakan makanan ringan dan minuman untuk selingan. Lalu mereka pergi lagi.
"Bagaimana dengan hubungan kamu dan Putri Abella, Harris?" Ibu
"Aku menyukainya bu, semoga dia juga begitu" kak Harris
"Ah ya! Aku baru ingat! Putri Abella menyukaimu kak. Dia bilang padaku sendiri sekitar 1 hari yang lalu, hanya saja aku lupa untuk mengatakannya padamu. Kalian hebat! Dijodohkan tanpa paksaan karena saling menyukai" Ucapku
"Baguslah, jika memang putri Abella bilang dia menyukai Harris. Kapan kamu akan bertunangan dengannya? Ratu Valencia bertanya dan butuh kepastian mu Harris" Ibu
"Hmm... Apakah bisa dalam 3 hari ke depan? Aku akan melamarnya" kak Harris
(Kenapa aku harus bersaudara dengan kak Harris? Dia kakak yang perfect bahkan terlalu perfect untuk menjadi seorang kakak. Wah... Aku iri dengan Putri Abella, dia beruntung) batinku dan tersenyum
"Baiklah, kami akan mengkonfirmasinya." Ayah
"Siapkan dirimu kakak" Ucapku dan tersenyum setelahnya
"Terima kasih, persiapkan juga hatimu untuk Aiden. Apa perlu aku membocorkan 1 hal tentang Aiden yang pasti akan membuatmu terpikirkan terus" kak Harris
"Tidak! Tidak perlu" Jawabku
Sebenarnya aku ingin tahu apa itu, tapi aku menarik rasa keingintahuan ku itu kembali.
"Ya sudah kita makan dulu saja" Ayah
Kami memulai makan siang dan setelahnya kami hanya bercanda tawa. Jujur saja, dunia kerajaan ini memang sesak tapi, aku baru merasakan kehangatan ini sekarang.
Dulu, saat pertemuan jika tidak pergi ke taman dan bersembunyi aku hanya diam tak bersuara sekalipun aku benar atau salah.
Aku menyukai kehidupan kerajaan yang seperti ini bukan yang membuatku tersiksa. Ayah juga sudah ingin mementingkan rakyatnya, aku sangat bersyukur untuk itu.
...- - - - -...
Saat sudah selesai acara makan bersama, aku berjalan santai di lorong lantai 4 dan kak Harris mengejutkanku dari belakang.
"HEI! Sedang memikirkan apa?" kak Harris
"Tidak ada" Jawabku
"Aku akan beritahu 2 hal untuk mu" kak Harris
"Jangan soal Pangeran Aiden" Ucapku
"Sayangnya ini menyangkut Aiden" kak Harris
"Aku tidak akan mendengarkannya" Aku menutup telinga
"Serapat apa pun kau menutup telingamu tetap saja terdengar walaupun samar-samar" kak Harris
Memang benar masih terdengar tapi aku berpura-pura tidak bisa mendengarkannya.
"Ok tak apa, yang pertama aiden itu menyukaimu dan yang kedua dia orangnya romantis aku beri bonus… apapun yang sudah menjadi keputusan dia akan pegang kuat, mungkin untuk mempertahankan dirimu. Aku harap kau mengerti, susah untuk memikat seorang wanita yang tidak sepihak. Kamu adalah adik kakak yang sangat baik, kakak yakin kau mengerti perasaan aiden. Semoga sukses dan susul aku untuk berkeluarga. Daah!" kak Harris
(Kalau dia menyukai ku kenapa dia tidak menyatakannya langsung padaku? Kenapa kak Harris bisa tau perasaan Aiden? Atau mungkin kak Harris hanya berbual? Tidak! Kak Harris tak pernah berbual) batinku
__ADS_1
"Kenapa kakak harus mengatakan semua itu?!" tanyaku cukup keras
Kak Harris berbalik menghadap ke arahku saat jarak kami sudah 2 meter dia tersenyum aku bisa melihatnya dari sini.
"Aku hanya membantu hubungan kalian. Adikku itu susah untuk didekati pangeran manapun karena sifatnya. Mengertilah Putri Carla!" ucap kak Harris berteriak
Kak Harris turun menuju lantai 3 dan meninggalkanku. Aku hanya menatapnya yang sudah hilang dari pandanganku, menarik nafas dan mulai berjalan menuju kamarku kembali.
Aku rasa sore ini aku butuh istirahat.
...- - - - -...
Malam ini, aku hanya berdiri di balkon lantai menatap bintang-bintang yang bersinar diatas sana. Dan aku tersenyum melihat bintang yang besar nan indah bersinar paling terang diantara bintang yang lain.
"Tuan putri, pakai ini atau putri akan demam" Pelayan pribadiku
"Untuk apa membuat baju yang seperti ini jika akhirnya aku harus memakai syal atau semacamnya" ucapku
"Memang pakaiannya mungkin terbuka tapi, tidak ada salahnya jika menutupinya sebelum tuan putri sakit" Pelayan
"Taruh saja disini, aku akan memakainya nanti" Ucapku
Tak lama kain itu menempel di bahuku dan aku menoleh ke arah kanan ternyata kak Harris, dia ikut menatap bintang setelah memberiku kain.
"Putri yang keras kepala. Buang jauh-jauh sifat mu yang itu" kak Harris
"Ini sudah melekat" Jawabku
"Sebelum terlalu melekat kau harus membenarkannya" kak Harris
"Kau cocok menjadi penasehat kerajaan kak" Ucapku
"Kau semacam meledek ku" kak Harris
"Hmm.… betapa beruntungnya Putri Abella akan dihadiri pangeran tampan yang juga akan menjadi pendampingnya kelak. Kau terlalu perfect untuk menjadi lelaki pangeran" Ucapku
"Hmm... Aku merasa aku punya banyak kekurangan" kak Harris
"Di matamu, di mataku itu sempurna. Putri abella memang cocok denganmu" Ucapku
"Dan pangeran Aiden cocok untuk menangani sifat mu yang aneh putri" kak Harris
"Ayolah... Ini pemaksaan, aku tidak menyukainya kak" Ucapku
"Tidak suka hari ini entah keesokkan nya saat kau mengenalnya lebih jauh" kak Harris
"Aku rasa itu tidak akan terjadi" Ucapku
"Kau yang merasa aku yang merasa tentu saja berbeda" kak Harris
"Jangan membicarakannya di depanku kak!" Ucapku
"Kau berdansa dengannya di sesi akhir. Bukankah itu menyenangkan?" kak Harris
"Dansa ku dengannya tidak sebanding. Dia lebih lihai dalam hal berdansa dibanding diriku, jadi aku rasa dia tidak cocok untuk ku" Ucapku mengelak
"Apakah keahlian dansa akan dijadikan janji suci pernikahan dalam kerajaan? Yang ditanya hanyalah kesetiaan dan tanggung jawab bukan lihai atau tidak dalam berdansa. Kau tahu putri? Banyaklah bergaul dengannya kau akan cerdas" kak Harris
"Membandingkan keahlian seorang pangeran dan putri tidak bisa dilakukan. Bukankah itu termasuk pelanggaran? " Ucapku
"Aku tidak membandingkan putri" kak Harris
"Terserah kakak saja deh. " Ucapku.
...•...
...•...
.... to be continued ....
__ADS_1
maaf ya semuanya, ada kesalahan part yang aku publish. Jadi, aku harus publish part yang hilang itu.