Putri Carla

Putri Carla
Part 61


__ADS_3

Carla keluar ruangan singgasana bersama dengan air mata di kedua pipinya. Dia hanya tidak menyangka kalau Raja Maverick tidak menghukumnya tetapi malah menyemangati dirinya atas apa yang telah dia lakukan sebelumnya.


Namun masalah ini belum selesai, dia harus menjelaskan semuanya pada kedua orang tuanya. Belum lagi dengan hukuman atau perlakuan yang akan dia dapatkan nantinya.


Carla masuk ke dalam ruang perpustakaan untuk menangis disana, dia tidak tahu tempat mana yang harus dia masuki untuk meluapkan emosinya saat ini.


Dia tidak mau Elio melihat dirinya dan kondisinya yang sedang kacau seperti ini. Namun, di sisi lain Aiden datang dengan Elio di pundaknya mereka saling tersenyum namun senyum itu pudar kala melihat Carla menangis di tempat duduk.


Elio meminta Aiden untuk menurunkan dirinya kemudian dia berlaru menuju tempat Carla duduk dan dia menaiki kursi didepan Carla yang masih kosong.


“Ibu? Ibu tidak apa-apa? Kenapa ibu menangis?” Elio


Carla menyeka air matanya dan tersenyum tipis “Tidak, ibu tidak menangis”


“Tapi, air mata ibu keluar. Ibu tidak apa-apa? Apa Elio nakal?” Elio


Carla menggeleng dengan cepat “Tidak, Elio anak yang paling baik”


Elio naik ke atas meja dan memeluk ibunya dengan erat, Carla kembali meneteskan air mata saat Elio memeluknya dengan hangat. Dia merasa lebih bersalah pada Elio daripada siapapun.


“Ibu jangan menangis, ada aku dan ayah. Apa ayah nakal pada ibu? Katakan padaku bu, agar aku bisa menghukum ayah” Ucap Elio setelah melepas pelukannya.


Carla tertawa kecil, dia menggeleng dan menangkup wajah imut Elio.


“Sayang... Kau membenci ibu?” Carla


Elio menggeleng “Tidak, aku sayang ibu”


“Apa Elio mau berjanji dengan ibu?” Carla


“Janji apa bu?” Elio


“Jangan membenci ibu sampai kapanpun, bisa kah?” Carla


“Tentu! Aku sayang ibu, bagaimana bisa aku membenci ibu” Elio


Aiden mendekat pada dua orang kesayangannya, dia memeluk Elio dan Carla bersamaan. Aiden mengelus puncak kepala Carla dengan lembut.


“Elio... Tadi kau mengantuk bukan? Pergi tidur ya” Aiden


“Iya ayah... Ibu... Aku tidur dulu ya” Elio mencium pipi Carla kemudian Aiden menurunkannya ke bawah dan Elio langsung keluar dari ruang perpustakaan.


“Apa ada masalah antara kau dan ayah?” Aiden


Carla menggeleng “Tidak, dia justru baik padaku”


“Kenapa kau menangis?” Aiden menatap kedua mata Carla yang sangat sayu

__ADS_1


“Karena, kebaikan ayahmu membuatku merasa malu. Aku malu menjadi menantunya yang punya sifat seperti ini, dia memaafkan ku. Aku mengira dia akan membunuhku karena tidak mau hal ini tersebar, justru dia menyemangati ku dan akan menutupi masalah ini. Aku malu untuk bertemu dengannya” Carla


Aiden memeluk Carla dan menepuk-nepuk punggungnya “Kau tidak perlu malu, aku rasa semua orang punya satu hal yang mereka rahasiakan masing-masing”


“Bagaimana dengan mu?” Carla


“Aku tidak punya rahasia” Aiden


“Maafkan aku, seandainya aku mengatakan ini sebelum memutuskan menikah. Corvus tidak akan memiliki calon ratu seperti ku” Carla


Aiden melepas pelukannya dan dia menangkup wajah Carla sambil tersenyum.


“Kau jujur atau tidak yang penting aku bahagia sudah menikah denganmu. Kalau tidak denganmu mungkin saat ini aku sedang termenung sepanjang hidupku” Aiden


“Apa maksudmu?” Carla


“Aku benar-benar tidak menyukai putri manapun kecuali Putri Carla dari kerajaan Rumpelstiltskin. Kau tahu?” Aiden


“Nikahilah Axain” Imbuh Aiden, hal ini membuat Carla terkejut.


“Kau setuju dengan hal itu?” Carla


“Itu hukumannya, siapa tau kau diberi petunjuk untuk menceraikannya.” Ucap Aiden, Carla langsung ketawa kecil dengan maksud dari perkataan Aiden. Jelas dia tidak setuju.


“Aku akan menikahinya 3 hari lagi” Carla


Sedangkan saat dulu dia ingin menikahi Carla butuh waktu yang lama untuk dapat persetujuannya.


“Silahkan” Jawab Aiden


“Oh ayolah... Kau bilang tidak apa-apa” Goda Carla


Aiden duduk di salah satu kursi, memijat pelipisnya perlahan lalu menarik nafasnya juga mengontrol emosinya.


“Secuek-cueknya seorang lelaki dia tidak akan setuju wanita yang sangat dia cintai itu menikah dengan pria lain. Kau mengerti?” Aiden


Carla tertawa kecil dan berlutut di samping Aiden duduk. Aiden menoleh dan menanti apa yang akan dilakukan istrinya dibawah sana.


“Restui aku” Carla


Aiden menghela nafas berat, dia berdiri untuk menyingkirkan kursi itu dan ikut berlutut di depan Carla.


“Aku tidak rela namun... Aku harus merestui. Aku berharap semua ini cepat berakhir” Aiden


Carla mendongak menatap wajah Aiden dan dia tersenyum tipis.


“Terima kasih” Carla

__ADS_1


Aiden mengecup bibir Carla sekilas


“Sudahilah semuanya, lalu cepat kembali kepadaku dan Elio kita”


“Pasti, aku akan kembali” Carla


Carla mendekatkan wajahnya ke arah Aiden kemudian dia menciumnya dengan lembut. Aiden tidak diam saja, dia membalasnya dengan lembut. Kasih sayang dan kecemburuannya menjadi satu saat ini.


Namun, Carla berhasil membuat dirinya kembali tenang seakan tidak akan terjadi apapun.


Carla melepas ciumannya dan dia berdiri disusul Aiden yang juga ikut berdiri. Dia menginjak gaun Carla yang lebar serta panjang itu kemudian kembali mencium Carla dengan lembut.


Atmosfer yang tadinya dingin berubah menjadi panas karena ciuman Aiden yang begitu dalam. Aiden melepaskan ciumannya untuk memberikan jeda karena nafas Carla yang sudah memburu.


“Berjanjilah untuk kembali padaku dan Elio” Aiden


Carla mengangguk “Iya, aku berjanji”


Aiden kembali mencium Carla lagi dan lagi seakan Carla akan menghilang selamanya dan meninggalkan dia dan Elio. Aiden tidak mau kehilangan Carla begitu saja, jujur saja dia tidak suka dengan semua hukuman yang diterima oleh Carla.


Namun, apa boleh buat. Carla yang berulah dia yang tetap harus menerima semua konsekuensinya. Aiden tahu semuanya mengenai portal digital itu. Dan dia juga tahu kalau hukuman ini tidak bisa terelakkan.


...🍁...


Carla berniat untuk mengunjungi Rumpelstiltskin sore ini, dia menunggangi kuda sendirian. Awalnya Aiden meminta agar dia bisa menemani Carla namun, Carla terus menolak dia ingin pergi sendirian kesana.


Tujuannya adalah Carla ingin menagih hukuman untuknya, disaat semua orang menjauh atau berlari agar tidak dihukum justru Carla memilih mendekat dan menghampiri hukuman tersebut.


Dengan perasaan was-was dia langsung berjalan menuju ruang singgasana begitu sampai di istana Rumpelstiltskin. Begitu pintu singgasana terbuka, semua orang menoleh pada Carla dan dia memberanikan diri melangkah maju ke dalam ruang singgasana dimana diatas kursi tersebut ada Raja Harris.


Namun, tujuannya bukan Raja Harris tapi ayahnya Vincent. 


“Salam Yang Mulia Raja Harris” Carla memberi salam


“Salam tuan Putri Carla” Raja Harris


“Aku datang sebagai adik dan tuan Putri. Kehadiranku yang pertama adalah sebagai anak ingin bertemu dengan ayah danyang kedua aku datang sebagai tuan Putri ingin bertanggung jawab atas semua yang telah aku lakukan.” Carla


“Kau berani datang kesini tuan Putri?”


Carla menoleh ke belakang dan melihat sosok ayahnya sedang berdiri tepat didepan pintu ruang singgasana.


(Dan semuanya akan dimulai sejak detik ini juga) batin Carla.



__ADS_1


. to be continued .


__ADS_2