
Saat turun dari kereta kuda, Carla langsung jalan masuk ke istana mendahului Aiden tanpa mengucapkan apapun. Akhirnya Aiden menarik tangan Carla untuk masuk ke perpustakaan dan mempersilahkan Carla untuk duduk.
Carla mencoba pergi, tapi tangannya ditahan oleh Aiden dan dia terpaksa duduk. Aiden duduk di hadapan Carla dan menatap kedua matanya.
"Ada yang mau kau tanyakan padaku soal kejadian tadi?" Aiden
"Kenapa aku harus bertanya, kau bisa menjelaskan sendiri kan?" ucap Carla dengan nada dingin
"Baiklah, dengarkan sayang… tadi saat kau, putri Lily dan Putri Ivy pergi ke perpustakaan aku sudah menyusul mu. Tapi tiba-tiba Putri Aura menarik tanganku dan mengajakku ke ujung lorong. Dia menyatakan perasaannya kalau dia menyukaiku dan aku tidak menanggapinya aku bahkan mengatakan padanya kalau perasaannya salah, karena dia mencintai orang yang sudah mempunyai istri. Dia justru marah karena mendengar jawabanku, dia mau aku menceraikan mu dan menikah dengannya. Aku tidak mau, aku sempat bertanya apa yang terjadi diantara kalian berdua dan dia tidak mau jujur denganku… dia bilang aku harus bertanya padamu apa yang sebenarnya terjadi. Aku melupakan hal itu, dia mengatakan kalau aku tidak menceraikan mu dia akan membuat mu hancur berantakan. Saat aku hendak pergi, dia menarik tanganku dan mau mencium ku. Aku menjauh darinya dan menggenggam tangannya dengan kuat sampai memerah, lalu dia memegang wajahku dan kau datang saat itu. Jelas kan? Itu tidak seperti yang kau lihat sayang" jelas Aiden
"Reaksi mu tidak seperti yang aku mau, kau justru sedikit lebih kalem menghadapi penyihir itu" Carla
"Sayang, aku tidak mungkin menamparnya. Aku tidak diajarkan untuk kasar dengan perempuan walaupun aku membenci perempuan itu" Aiden
"Ya sudah, biarkan aku sendiri" Carla hendak beranjak pergi tapi tangannya ditahan lagi dan Aiden memeluknya dari belakang.
"Kau marah padaku? Lampiaskan semuanya padaku jangan menjauhiku, tolong" Aiden
"Biarkan. Aku. Sendiri. Dulu. Kau dengar?" tekan Carla
"Biarkan aku mendengar apa yang kau sembunyikan apa yang kau pikirkan. Selesaikan ini dengan baik." Aiden
Carla menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
"Kau tahu bagaimana perasaan ku ketika sejak awal telah diancam karena mendekatimu? Kau tau rasanya harus membuat rencana untuk mendekati mu? Padahal saat itu aku tidak menyukaimu sama sekali, bukan untuk apapun tapi aku melakukan semua itu agar penyihir itu tidak bisa menang sedikit pun. Aku melakukan itu agar penyihir itu tidak bisa melancarkan 1 rencananya dengan sukses. Dan apa? Kalau saja dia tidak berusaha menghancurkan kerajaanmu aku mungkin tidak menikah denganmu" Carla
"Jadi, selama ini kau menikah denganku bukan karena perasaan yang kau miliki? Tapi karena ancaman Putri Aura yang mau menghancurkan kerajaan ku? Berarti kau tidak tulus melaksanakan pernikahan ini" ucap Aiden dengan nada yang lesu
Carla seketika terdiam, pada awalnya memang seperti itu. Tapi lama kelamaan dia mencintai Aiden juga karena sikapnya yang begitu tulus dengan dirinya, itu salah satunya. Jika di tanya ke apa bisa mencintai Aiden dia juga bingung karena tidak ada sebabnya.
"Baiklah, kalau memang selama ini kau tidak tulus denganku. Tidak apa, aku akan berusaha untuk menerimanya." Aiden melongos pergi, tapi Carla menahannya
"Tapi aku sungguh mencintaimu bahkan diluar ancaman itu. Entah kenapa, sejak dekat dan mendapatkan perlakuan kasih sayang darimu aku sudah mulai mencintai mu perlahan!" ucap Carla dengan tegas
Aiden membalikkan tubuhnya dan berhenti di depan Carla.
"Sungguh? Apa itu sungguhan?" tanya Aiden yang dijawab anggukan oleh Carla.
"Apakah kau sudah memaafkan ku? Apa masalah ini selesai?" Aiden
"Entahlah, aku masih bingung dengan apa yang aku lihat dan penjelasan mu. Masih belum bisa aku terima" Carla
Tanpa aba-aba Aiden memeluk Carla dan mencium puncak kepala Carla.
"Maafkan aku, seharusnya aku melawan saat tanganku dipegang. Ini salahku, aku minta maaf" Aiden
"Simpan saja maaf mu. Aku mau istirahat dulu, aku lelah" Carla melepas pelukan Aiden dan keluar dari perpustakaan.
...~ ~ ~...
Malam ini Carla duduk di ranjangnya menatap jendela, bahkan dia membuka jendela kamarnya agar angin malam bisa masuk.
"Sayang… kenapa kau buka jendelanya?" Aiden
Carla tidak menjawab barang 1 kata, dia hanya terus menatap pemandangan langit yang gelap dan bulan yang hanya separuh. Aiden langsung menutup jendela kamarnya dan juga gordennya, Carla yang malas menatap Aiden dia memilih berbaring miring agar tidak berhadapan dengan Aiden saat berdiri.
"Sayang… kau masih marah denganku? Maafkan aku" Aiden memeluk Carla dari belakang
"Aku mau tidur" Carla
"Ayo kita selesaikan masalah ini" Aiden
Carla memejamkan matanya walau tidak tidur, agar Aiden tidak terus mengajaknya berbicara. Karena tidak mendapatkan jawaban Aiden melirik Carla dan saat sudah tau Carla memejamkan mata dia langsung berbaring dengan posisi memunggungi Carla.
"Ya sudah, kalau kau butuh sesuatu katakan saja. Bangunkan aku jika aku tertidur" Aiden
__ADS_1
Carla langsung memejamkan matanya dan beralih posisi menjadi telentang. Dia menatap langit-langit kamar dan menghela nafas kemudian keluar dari kamar. Aiden yang merasa Carla keluar langsung menyusulnya beberapa saat setelah Carla keluar.
"Selamat malam tuan Putri Carla, apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini?" Raja Maverick
"Maaf raja, entah kenapa aku belum bisa tertidur dan ingin pergi ke perpustakaan" Carla
"Perpustakaan? Kau akan membaca buku saat malam seperti ini?" Raja Maverick
"Atau mungkin mencari ketenangan" Carla tersenyum
"Baiklah, jangan sampai terlalu larut malam" Raja Maverick
"Iya raja" Carla membungkuk memberi hormat setelah itu Raja Maverick pergi meninggalkan Carla.
Carla langsung melongos ke perpustakaan dan duduk di lantai di lorong-lorong perpustakaan. Menatap buku dari bawah sini membuat dia sedikit tenang, lagipula hawa perpustakaan malam ini sejuk.
"Sepertinya aku bisa tertidur disini" Carla
"Sayang?" Aiden mendekati Carla saat sudah menemukan keberadaan istrinya
"Kenapa kau disini?" Carla
"Tidak, aku ingin disini. Menemani mu" Aiden duduk disamping Carla sambil menatap ke atas langit perpustakaan.
Carla menoleh dan menatap setiap inch wajah Aiden, kemudian dia kembali menatap kedepan dan membuka suara.
"Kau tau aku butuh waktu sendiri?" Carla
"Jangan egois, aku juga butuh dirimu" ucap Aiden masih menatap langit perpustakaan
"Terserah" Carla
"Bisakah kita selesaikan ini? Ini hanyalah masalah kesalahpahaman saja. Bisa diselesaikan dengan baik, aku tidak suka kau menghindar dari masalah ini. Bukan seperti ini caranya sayang" Aiden
"Kau mau raja yang menyelesaikan masalah ini?" Aiden
"Jangan bawa raja ke dalam masalah ini, ini urusanmu dan aku" Carla
"Ya sudah kalau begitu… ayo selesaikan. Kalau kamu mau memukul ku silahkan" Aiden
Carla langsung menampar Aiden, tangannya sudah tidak tahan. Dia merasa geram.
"Maaf" Carla hendak berdiri tapi tertahan oleh tangan Aiden dan dia kembali duduk tapi didepan Aiden
"Lagi?" Aiden, Carla langsung menggelengkan kepalanya
"Itu sudah cukup" Carla
"Sudah puas?" Aiden
Carla hanya mengangguk
"Ya sudah, sekarang bisakah kau memaafkan ku? Apa masih ada yang kurang jelas soal penjelasanku tadi?"Aiden
"Aku hanya mau memberi saran, jangan dekati wanita penyihir seperti Aura. Kau tau aku berselisih dengannya jadi jangan menatapnya atau dekat dengannya. Mendekati musuhku sama saja kau juga menjadi musuhku" Carla
"Baik, sekarang aku sudah tau apa yang tidak boleh kulakukan. Aku akan menjauhi Putri Aura dan tidak mendekati dia tanpa seizin mu" Aiden
"Aku mau tidur" Carla
"Tapi kau sudah memaafkan aku kan?" Aiden, Carla mengangguk biasa
"Boleh aku minta sesuatu?" Aiden
"Apalagi?" Carla
__ADS_1
"Bolehkah aku memeluk mu?" Aiden
Carla merentangkan tangannya dan Aiden memeluknya. Tangan Aiden beralih ke perut Carla dan mengusapnya.
"Hadir diantara kita ya nak, biar kau jadi pembujuk saat ibumu marah dengan ayah nanti" Aiden
"Kau ini, masih lama bukan?" Carla
"Kau tau? Mungkin ini terdengar asing bagimu tapi, percobaan pertama itu tidak cukup" Aiden
"Apa maksud mu?" Carla
"Agar menjadi janin, percobaan pertama tidak cukup. Setidaknya lebih dari 1 kali sudah berusaha, syukur-syukur kalau dapat kembar bukan?" Aiden
"Aku tidak punya keturunan kembar" Carla
"Kita belum mencobanya" Aiden
"Tapi tak perlu kembar" Carla
"Kenapa?" Aiden
"Kau yang melahirkan mau?" Carla
"Bagaimana bisa seorang lelaki melahirkan?" Aiden
"Maka dari itu, 1 aja cukup. Taruhannya nyawaku" Carla menunduk sedih
"Sayang… tidak akan terjadi apapun padamu nanti" Aiden
"Semoga saja, ayo kembali ke kamar. Aku mengantuk" Carla
"Tapi, bolehkah aku melakukan percobaan kedua itu?" Aiden
"Haruskah sekarang?" Carla
"Aku tidak memaksa" Aiden tersenyum
"Senyum mu seperti memaksa" Carla
"Tidak, ini senyuman tulus" Aiden
"Terserah kau saja" Carla
"Boleh?" Aiden
"Terserah kau sayang, sudah aku ke kamar dulu" Carla beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan Aiden.
Aiden buru-buru menyusul Carla dan menggendongnya dari belakang, Carla terkejut dia bahkan sempat berteriak.
"Bisakah jangan mengagetkanku seperti itu?" Carla
"Maaf sayang" Aiden senyum lebar
Mereka kembali ke kamar dan Carla tidak bisa menolak usaha Aiden untuk memiliki keturunan darinya. Percobaan kedua yang Aiden inginkan mereka lakukan untuk menghadirkan penerus Aiden dan Carla sekaligus penerus kerajaan Corvus.
...•...
...•...
.... to be continued ....
akhirnya selesai wisuda aku bisa update Putri Carla lagi. maaf ya aku lama gak update, ada yang masih setia menunggu?
jangan lupa vote nya yah, terima kasih 💜💜
__ADS_1