
"Mau ini? Coba makanlah" Aiden menyuapi kue rasa pisang yang sebelumnya selalu ditolak oleh Carla karena dia tidak menyukainya.
"Kau saja yang makan, aku tidak mau" Carla
"Kau belum makan daritadi loh" Aiden
"Tapi tidak dengan kue pisang" Carla
"Baiklah kau mau makan apa sayang?" Aiden
Carla menunjuk buah anggur malu-malu, Aiden langsung mengambilnya dan menyuapi Putri Carla. Saat sedang asyik makan bersama Putri ruang makan terbuka secara kasar yang membuat dua insan ini menoleh.
"Eh? Apa aku mengganggu?" Putri Lily terkejut
"Sangat mengganggu!" ketus Aiden
"Tidak, silahkan bergabung Putri Lily" imbuh Carla dan menenangkan Aiden
"Kalian tahu? Aku sangat bahagia hari ini" Putri Lily
"Apa yang membuatmu bahagia?" Carla
"Bunga Lily yang aku tanam sudah ingin berbunga" Putri Lily
"Benarkah? Aku ikut senang kalau gitu" Carla senyum lebar
"Kalau sudah tumbuh, aku akan menanamkan di pot yang berbeda untuk mu nanti Putri Carla" Putri Lily
"Wahh… dengan senang hati aku akan menerimanya" Carla
"Aku sudah tidak sabar, oh iya. Kalian baru sarapan atau makan siang? Ini sudah jam 1 siang" Putri Lily
"Kita sa-"
"Makan siang" potong Aiden dengan cepat
"Kalian sudah sarapan? Aku tidak melihat kalian di meja makan tadi pagi" Putri Lily
"Iya kamu tertidur, sampai lupa sarapan" Carla
"Oh, aku kira kalian sengaja tidak ikut sarapan. Beruntung karena hari ini Sabtu ya kan? Tidak ada hukuman" Putri Lily
"Iya beruntung seperti itu hehe" Carla terkekeh
"Makanlah ini" Aiden menyuapi kue stoberi ke mulut Carla
Putri Lily yang melihatnya memangku dagu dan tersenyum menatap sepasang suami istri di depannya.
"Bisakah aku mendapatkannya juga sayang?" goda Putri Lily yang membuat Carla tertawa
"Ini untuk tukang kebun bunga" ledek Aiden
"Baiklah aku terima, lagipula tidak masalah selagi itu bunga Lily" jawab Putri Lily
Carla tertawa melihat tingkah kakak beradik ini, Carla salut dengan Putri Lily. Walaupun Aiden sudah punya istri, Putri Lily tidak pernah mengurangi aku membedakan sifatnya, dia masih seperti Putri Lily yang sejak awal dia temui.
Putri Lily yang ceria, yang humble dan baik hati, jujur dan mengatakan kebenaran apapun didepan orang itu.
"Sudah selesai?" Aiden
"Sudah" Carla
"Ya sudah, ayo kita jalan-jalan" Aiden
"Baiklah, Putri Lily. Aku duluan ya" Carla berdiri bersama dengan Aiden yang menggenggam tangan Carla
"Hmm, ya sudah gak apa. Memang nasib ku selalu sendiri" Putri Lily sedih
Carla dan Aiden jalan-jalan ke halaman depan istana, mereka menikmati udara dan saling berbincang.
"Aku sudah tidak sabar menunggu anak ku" Aiden
"Hmm, masih sangat lama" Carla
__ADS_1
"Lama atau sebentar, yang penting kita punya penerus. Yang cantik seperti mu dan yang tampan sepertiku" Aiden
"Kau terlalu percaya diri" Carla
"Percaya diri bukannya dibutuhkan?" Aiden
"Tapi tidak terlalu berlebihan" Carla
"Baiklah. Oh iya! Ada yang aku rindukan darimu" Aiden
"Apa itu?" Carla
"Sifat keras kepalamu" Aiden
"Yang benar saja" Carla tertawa kecil
"Bisakah aku mendapatkan itu lagi?" Aiden
"Aku harap kau tak menyesal ketika mendapatkan hal seperti itu lagi" Carla
"Tentu tidak sayang, kau lupa? Sebelum menikah, kau selalu keras kepala. Mendengar ku saja tidak, iya kan?" Aiden
"Sudah lah, kau menyesal aku seperti itu padamu?" Carla
"Tidak, sama sekali tidak. Menaklukkan sifat mu yang itu adalah sebuah tantangan" Aiden
"Baiklah terserah kau" Carla
Aiden berhenti di depan Carla dan dia setengah jongkok sambil menggenggam kedua tangan Carla dan tersenyum.
"Anakku, cepatlah hadir" Aiden mengelus perut Carla
"Tunggu, jika dia bisa menjawab. Kau mau dipanggil apa?" Carla
"Ayah, aku mau dipanggil ayah. Tanpa memandang derajat ku nantinya" Aiden
"Bolehkah aku bertanya?" Carla
Aiden kembali berdiri dan menatap mata Carla dengan lembut.
"Kau mau punya anak berapa?" Carla
"Aku? Hmm… bagaimana kalau 7? 10? Atau 12?" goda Aiden
"12?" Carla terkejut dan wajahnya menampakkan raut takut
"Kenapa raut wajahmu seperti itu?" Aiden
"Kau tau kan sakitnya melahirkan?" Carla
"Sayang… aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius, berapapun anak yang hadir diantara kita aku menerimanya" Aiden
Carla hanya tersenyum mendengar jawaban Aiden, kemudian mereka kembali melanjutkan jalan-jalan mereka di halaman depan.
...~ ~ ~...
Sore ini Carla meminta izin pada Aiden untuk pulang ke istana Rumpelstiltskin sendirian, awalnya Aiden tidak mengizinkan terlebih Carla ingin menunggangi kuda sendirian.
Tapi akhirnya Carla diizinkan dengan catatan pengawal andalan Aiden ikut dengan Carla, dengan berat hati Carla menerimanya.
Sekarang Carla sudah menginjakkan kakinya di halaman depan istana Rumpelstiltskin. Kedatangannya tidak diketahui siapapun karena Carla sengaja dan mendadak melakukan ini.
Carla masuk dan berjalan di koridor, semua yang lewat disana membungkuk hormat pada Carla dan ada beberapa juga yang terkejut.
Saat ingin masuk ke ruang singgasana, Carla bertemu dengan Putri Abella. Perutnya sudah mulai terlihat menonjol membuat Carla tersenyum manis.
"Carlaaa!!! Aku merindukanmu, bagaimana kabarmu? Kenapa tidak mengirim surat sama sekali padaku?" Putri Abella
"Aku baik-baik saja, aku belum sempat untuk mengirim itu. Lagipula kau tau kan? Acara putri dan pengeran semakin padat sekarang ini" Carla
"Setidaknya 1× dalam setahun ya bukan?" Carla
"Baiklah, aku akan mengirim surat mulai besok ini. Kalau aku tidak lupa ya" Carla tertawa kecil
__ADS_1
"Kau ini, oh iya! Mau bertemu dengan raja dan ratu? Silahkan masuk" Putri Abella menunjuk pintu dengan tangga
Pintu terbuka dan semua langsung memberi salam hormat saat yang datang adalah Carla.
"Salam raja… ratu. Aku datang, maaf tidak memberitahu kalian lebih dahulu" Carla memberi salam hormat yang disambut hangat oleh raja dan ratu di kursi mereka.
"Salam Putri Carla, kami senang melihatmu bisa datang disini" Raja Vincent
"Dimana Pangeran Aiden? Kenapa kau sendirian?" Ratu Ellena
"Aku yang ingin datang sendiri kesini, awalnya dia melarang ku tapi aku tetap ingin kesini sendiri dengan syarat aku dikawal pengawal andalannya menuju kesini, ratu" jelas Carla
"Syukurlah kalau begitu, kami senang mendengarnya" Raja Vincent ikut berbicara
"Apakah kalian sudah punya keturunan?" celetuk Ratu Ellena membuat Carla kaget
"Apa maksud ibu?" Carla
"Baiklah, ibu paham jika jawabanmu seperti itu. Semoga hubungan kalian semakin membaik" Ratu Ellena
"Terima kasih ibu" Carla
"Temui lah kakak mu, dia sedang berada di perpustakaan akhir-akhir ini" Raja Vincent
"Baik raja, aku pamit" Carla memberi salam dan keluar dari ruang singgasana untuk menemui kakaknya, Pangeran Harris.
Sampai di perpustakaan dia justru melohat kejadian yang tak seharusnya dia lihat, kedua kalinya dia memergoki dua insan itu sedang bercumbu.
"Sejak kapan perpustakaan dijadikan markas cumbuan?" goda Carla yang langsung masuk perpustakaan begitu saja
"Sejak kapan kau disana?" tanya Pangeran Harris dengan raut wajah yang memerah
"Salam pangeran… putri. Belum lama, tenang saja aku tidak tahu awal kejadiannya" goda Carla
"Perlu kau ketahui, sejak aku hamil anak di perutku. Aku selalu ingin mencium Pangeran Harris, aku tidak tahu kenapa seperti ini" jelas Putri Abella
"Kau dengar? Jangan berpikir yang tidak-tidak" Pangeran Harris
"Wajahmu memerah, pangeran" ledek Carla kemudian dia tertawa kecil
"Disini panas" Pangeran Harris beralasan
"Iya, disini panas sekali" Putri Abella mengedarkan pandangan perpustakaan
"Kalian itu malu karena kepergok aku atau lupa membuka jendela?" tanya Carla sambil membuka jendela perpustakaan dan angin langsung masuk
"Oh iya sepertinya aku lupa, karena selama ini kan kau yang selalu membuka jendela ini" Pangeran Harris
"Apa kabar kalian berdua?" Carla
"Seperti yang kau lihat, aku sehat. Sangat sehat" Putri Abella
"Iya, aku juga sehat" Pangeran Harris
"Kau harus sehat karena mengurus ibu hamil ini" Carla
"Tak lama kau juga akan menjadi ibu hamil. Iya kan?" Putri Abella
"Semoga saja" Carla tersenyum lebar
"Aku membayangkan betapa serunya ketika anakku bermain dengan anakmu. Mereka berlarian sana sini di halaman istana, pasti jadi ramai" oceh Putri Abella
"Iya, pasti seru ya kan?" jawab Carla mengiyakan
Carla terus berpikir sambil melihat dan mendengar ocehan Putri Abella didepannya, akankah ketika dia hamil dia akan mengidamkan hal yang sama seperti Putri Abella semacam ciuman? Atau demam pelukan? Atau dia kelak akan membenci Aiden saat sedang hamil?
Semoga terlintas di otak Carla saat ini, dia bahkan senyum sendiri saat membayangkannya saat perutnya mulai membesar dan bulat nantinya.
(Aku pasti akan menjadi ibu) batin Carla
...•...
...•...
__ADS_1
.... to be continued ....
huhu~ maaf ya aku telat update, harusnya kemarin rabu. aku up hari ini ya, selamat membaca 💜✨