
Kehamilan Carla sudah berjalan, saat ini sudah berumur 8 bulan. Sifatnya berbeda dengan saat masih hamil muda, justru saat ini dia sangat menempel dengan Aiden dan Aiden pun senang dengan perubahan sifat Carla.
Saat ini mereka sedang berjalan di halaman depan istana, memandang rumput dan langit-langit di depan mereka yang nampak biru polos tanpa awan.
"Jadi, ayah sudah bertanya padaku apakah kau mau ada acara perayaan 7 bulanan?" Aiden
"Kurasa tidak, aku tidak ingin" Carla
"Kenapa?" Aiden
"Tanpa alasan, entah kenapa aku tidak ingin ada acara itu" Carla
"Baiklah, aku akan mengatakannya pada ayah" Aiden
"Tidak perlu aku saja" Carla
Aiden berdiri didepan Carla, kemudian berjongkok dan memegang perut Carla yang membesar.
"Ayah menunggumu…" Aiden
"Aku juga menunggunya" Carla
Aiden berdiri dan mengelus kepala Carla dengan lembut.
"Sekarang aku tidak akan pernah marah lagi. Ternyata alasan kau menjauhi di awal kehamilan adalah karena anak ini akan menjadi calon pangeran yang tangguh nantinya" Aiden, Carla tersenyum dan memegangi perutnya.
Iya benar sekali, jenis kelamin anak Carla adalah laki-laki. Aiden sangat semang saat pengumuman saat itu, dia langsung tersenyum bahagia dan mengerti kenapa Carla menjauhinya itu karena anaknya laki-laki. Menurutnya begitu.
"Mau ku namakan siapa ya dia?" Aiden
"Bagaimana kalau aku, kau, raja dan putri Lily menyumbang 1 nama?" Carla
"Bagus, aku setuju. Karena ini adalah generasi Corvus selanjutnya" Aiden
"Baiklah, jangan lupa beritahu raja dan Putri Lily" Carla
"Dengan senang hati" Aiden
"Aiden… Aku lapar" Ucap Carla
Aiden tersenyum "Baiklah, ayo masuk. Beri dia makan"
Carla dan Aiden masuk ke dalam istana lalu berjalan ke ruang makan. Carla duduk ditemani Aiden memakan makanan yang dia suka. Raja Maverick pun sampai memberitahu pelayan istana untuk menambah porsi makanan, untuk Carla jika seketika rasa laparnya datang.
"Tubuhmu bertambah gemuk" Aiden
"Memangnya kenapa? Ibu hamil memang begitu" Carla
"Bukan begitu, kau tampak lucu dengan badan gemuk dan perut besar" Aiden
"Dasar aneh" Carla
"Ada yang ingin kau makan?" Aiden
"Tidak sudah cukup… Aku ingin sesekali pergi ke hutan sendirian" Carla
"Hutan? Aku tidak menyetujui hal itu! Kenapa? Kau hamil besar, aku takut terjadi sesuatu padamu dan anakku" Aiden
"Kau tidak tau saja" Carla
"Justru kau harus membiarkan itu, karena kau lupa aku dulu mengalahkan seorang hewan buas di hutan dulu" Sombong Carla
"Lalu kau lupa kalau setelah itu tidak sadar berapa hari?" Aiden
"Kan tidak lama" Carla
"Hari itu aku seperti tidak bersemangat, apalagi kalau kejadian itu terulang lagi. Kau dan anakku, jangan sampai" Aiden
__ADS_1
Carla meraih tangan Aiden dan mengelus punggung tangannya lembut.
"Aku berjanji hal itu tidak akan terjadi" Carla
"Kalau kau mau ke hutan ajak aku jangan sendiri" Aiden
"Kau malah akan mengganggu" Carla
"Tidak" Aiden menggeleng
"Ikutlah denganku" Carla
"Baiklah…" Aiden
Carla berdiri dan Aiden mengikuti dari belakang, mereka berjalan keluar istana dan masuk ke dalam hutan.
"Sekarang?" Aiden
"Mau kapan lagi?" Carla
Carla berhenti di tengah hutan karena menemukan seekor bayi harimau putih, mata Carla berbinar dia sangatlah lucu.
"Kau lihat kucing kecil ini?" Carla ingin berjongkok namun Aiden menghalangi dan menyembunyikan Carla di belakang punggungnya.
"Kucing kecil bisa jadi kucing besar yang ganas" Aiden
Namun, Carla menerobos punggung Aiden dan sudah mengelus bayi harimau itu.
"Lihatlah! Dia baik padaku" Carla
Aiden berjaga di belakang Carla dan mengedarkan pandangan dengan pikiran kalau bayi harimau ini tidak datang sendiri.
"Bolehkah aku memeliharanya?" Carla
"Tidak! Aku tidak mengizinkannya" Aiden
"Dia ganas" Aiden
Carla menggendong bayi harimau itu dan menunjukkannya di depan wajah Aiden.
"Ganas? Lihat wajah lucunya" Carla
"Dia memang lucu, tapi kalau sudah besar dia akan melahapmu persis seperti dulu" Aiden
Carla menurunkan bayi harimau itu dan mengerucutkan bibir "Ya sudah, aku mau pulang ke istana"
Carla melongos pergi, Aiden menghela nafas karena ekspresi Carla sedih. Dia menatap bayi harimau putih itu yang tampak tenang dan berdiam diri.
"Jangan. Dekati. Istri dan anakku" Ucap Aiden pada bayi harimau itu
Aiden langsung berlari menyusul Carla dan menggandeng tangannya.
"Carla… Aku tidak mengizinkan hal itu karena khawatir pada kalian berdua" Aiden
"Saat anak kita lahir, bayi harimau itu belum besar. Hanya bertambah 3 bulan memangnya sudah besar dan sebuas itu?" Carla
"Dia hewan buas dan liar, instingnya pasti liar walaupun kau memeliharanya" Aiden
"Baiklah, aku tidak memaksa" Carla
"Jangan kesal denganku" Aiden
"Tidak" Carla
Aiden berdiri didepan Carla dan tersenyum manis.
"Sungguh? Kau yakin?" Aiden
__ADS_1
Carla maju satu langkah dan mengecup bibir Aiden lalu melanjutkan jalannya.
"Sungguh" Carla
Aiden menunduk karena wajahnya memerah, dia tersenyum kemudian mengejar Carla dan merangkul pinggang istrinya yang melebar.
...🍁...
Seperti yang kalian ketahui, Carla bukanlah orang yang bisa dilarang. Buktinya sore ini saat langit sudah gelap dia pergi ke hutan sendiri sambil membawa perlengkapan panah.
Lalu berhenti tepat di tempat yang tadi dia menemukan bayi harimau itu. Dan senyum Carla mengembang ketika bayi harimau itu datang dan menempel pada ujung gaunnya.
"Wahh lucunya… Bagaimana bisa suamiku menoleh dirimu? Kalau aku tidak bisa memelihara dirimu di istana, aku akan mengunjungimu beberapa kali kesini, mengerti?" Carla mengeluarkan daging yang dia bawa dan dimakan harimau itu.
"Anakku pasti bisa berteman denganmu" Carla mengelus perutnya sambil tersenyum.
"Biar ku beri kau nama… Hm… Wiger, iya itu saja" Carla memberikan potongan daging yang lain pada bayi harimau itu lagi
Setelah sudah puas bermain, Carla berdiri dan menarik nafas.
"Huh… Mari bertemu lagi kapan-kapan disini. Jangan pergi kemana-mana ya." Carla membalikkan badannya dan berjalan keluar hutan meninggalkan bayi harimau itu sendirian.
Carla menyerahnya perlengkapan panahnya pada pengawal gerbang istana.
"Letakkan kembali di tempatnya" Carla
"Baik yang mulia" Pengawal
"Aku harus istirahat, dan kau juga ya" Carla
Bayi tersebut menendang memberikan isyarat, Carla tersenyum dan memasuki kamar. Ternyata Aiden belum juga tidur, dia justru menulis sesuatu di atas meja. Carla menutup pintu kamar dan menghampiri Aiden.
"Apa yang kau tulis suamiku?" Carla
"Aku mempersiapkan nama untuk anakku" Aiden
"Apa namanya?" Carla
"Aku punya 3 kandidat" Aiden
"Apa saja?" Carla
"Aiden, Loren dan Zeeden" Aiden
"Nama yang payah" Ledek Carla
"Payah?! Akan ku tanya, kau sudah mempersiapkannya?" Aiden
"Tentu belum, aku belum memikirkannya" Carla
"Bagaimana bis akau menyebutku payah, sedangkan kau belum memikirkan namanya" Aiden
Carla mendekatkan dirinya pada Aiden, dan memainkan rambut Aiden.
"Aku akan memikirkannya nanti, gantilah nama-nama itu aku belum setuju" Carla
Carla mencium bibir Aiden cukup lama dan Aiden pun membalasnya, ketika bibir mereka terlepas Carla tersenyum dan menaiki ranjangnya.
"Pikirkanlah sendiri, aku mau tidur" Carla membenarkan posisinya dan dia memejamkan mata
Aiden tersenyum bahagia dan melamun keluar jendela. Yang membuat Aiden bahagia di kehamilan Carla yang semakin tua adalah fakta kalau Carla ingin terus bersama Aiden dan yang kedua adalah Carla lebih sering mencium dirinya daripada sebelum hamil dan sebagainya.
Rasanya Aiden ingin kalau Carla terus hamil, namun itu tidak mungkin. Bagaimana bisa istrinya terus menahan anak di dalam perutnya? Dia juga kasihan dengan hal itu, Aiden tidak egois.
...•...
...•...
__ADS_1
.... to be continued ....