Putri Carla

Putri Carla
Part 49


__ADS_3

Carla membuka pintu kamar Aiden dan melihat suaminya sedang berbaring sambil memejamkan mata. Carla baru mendatangi Aiden tengah malam ini, butuh keberanian untuk mendatangi Aiden.


Carla masuk ke dalam kamar dan melihat wajah Aiden yang tenang didepannya, dia masih berdiri bahkan ingin kembali karena mengurungkan niatnya untuk bertemu.


Namun, Aiden membuka matanya dan Carla bersikap biasa saja mencoba tidak panik saat suaminya bangun.


"Ada apa kau kesini?" Aiden


"Kau sudah tidur?" Carla


"Belum, aku tau kau masuk jadi aku pura-pura tidur. Ada apa?" Aiden


"Ada yang perlu aku tanyakan pada mu" Carla


"Duduklah…" Aiden menarik tangan Carla pelan agar dia duduk di atas ranjang


Carla pun duduk dan ragu apakah dia akan menanyakan hal yang terus berputar di otaknya sejak kejadian tadi atau tidak.


"Soal apa?" Aiden


"Kau sungguh tidak ada hubungan apapun dengan Putri Aura?" Carla


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukankah kemarin kau sudah yakin sendiri?" Aiden


"Masalahnya…" Carla menggantungkan kata-kata nya dan menatap kedua mata Aiden


"Apa masalahnya?" Aiden


"Ceritakan semuanya" Imbuh Aiden


"Tadi, saat acara Crown Princess, aku melihat perut Putri Aura berisi… Perutnya lebih gemuk dari biasanya jadi aku berpik-"


"Itu anakku dan dia?" Aiden, dan Carla mengangguk


"Carla… Kenapa kau tidak percaya? Kalau anak ku yang sesungguhnya ada di dalam rahim mu? Kenapa kau percaya dengan wanita yang merusak hubungan kita?" Aiden


"Hanya saja itu membuat aku berpikir, apakah dia sungguh hamil atau tidak" Carla


"Aku tidak pernah menyentuhnya, apalagi sampai membuat dia hamil. Dia hanya melakukan sebuah cara untuk menghancurkan rumah tangga kita. Kau tau kan siapa yang dia inginkan?" Aiden


Carla mengangguk dan mengarahkan pandangannya ke arah lain.


(Benar juga, dia menginginkan Aiden sejak awal. Dia pasti akan berbuat licik demi keinginannya itu, akan aku pastikan perbuatannya terbongkar semua. Namun, dengan siapa dia bekerja sama? Mungkinkah Pangeran Gavin??) Batin Carla


"Siapa sainganku?" Carla


"Sainganku? Gavin, ada apa?" Aiden


"Tidak mungkin kau tak tahu" Carla beranjak pergi dari ranjangnya namun gaunnya ditarik oleh Aiden.


"Kau mau kemana?" Aiden


"Tidur" Carla


"Tidurlah disini, kenapa dengan Putri Lily?" Aiden


"Karena aku masih tidak ingin melihatmu" Carla


"Tapi tadi kau menatap mataku" Aiden


"Karena hal penting, sekarang sudah selesai" Carla melepaskan tangan Aiden perlahan dan keluar dari kamar.


Dia tidak langsung pergi, Carla berdiri di depan pintu kamar dan menarik nafas.


(Putri Aura dan Pangeran Gavin? Mereka berdua? Akan ku cari tau) Batin Carla.


...🍁...


Hari telah berganti, matahari telah terbit terang di atas langit. Raja, pangeran, dan putri sedang sarapan di meja makan dengan tenang sampai Raja Maverick membuka suaranya untuk bertanya pada Carla.


"Bagaimana keadaan mu hari ini Putri Carla?" Raja Maverick


"Aku merasa baik raja, sangat baik" Carla


Putri Lily tersenyum dan dibalas senyuman oleh Carla kembali.


"Kalian berdua… Putri Carla dan Putri Lily adalah permata dan berlian bagiku. Harta yang paling berharga yang harus dilindungi dan dijaga" Raja Maverick


"Kau berlebihan ayah.." Putri Lily


"Kalian berdua lah yang bisa memberikan keturunan untuk Corvus" Raja Maverick

__ADS_1


"Dan tentunya pangeran pun harus dijaga karena membantunya" Aiden


Raja Maverick yang mengerti arah pembicaraan Aiden pun tertawa kecil.


"Hanya tinggal menunggu putri bungsu ayah menikah." Raja Maverick menatap Putri Lily


"Kau ingin dengan siapa putri?" Goda Carla


"Aku? Setelah berbicara dengan Putri Ivy, aku juga ingin menikah dengan Pangeran yang tampan dari kerajaan kuno itu" Putri Lily sudah berkhayal dan wajahnya berseri-seri


"Maksudmu Pangeran Curse?" Aiden


"Benar sekali" Putri Lily


"Kau menyukainya?" Raja Maverick


"Entahlah ayah, aku dan Putri Ivy bercerita tentang dia" Putri Lily


"Kau punya kesempatan itu nanti" Raja Maverick


"Maksud ayah?" Putri Lily


"Dia akan datang saat pelatihan perang inti semua pangeran" Raja Maverick


"Apakah hal itu benar raja?" Carla menimbrung


Aiden merasa cemburu, menyenggol tangan Carla dan menatapnya tajam. Sedangkan Carla hanya rolling eyes.


"Tidak akan ada putri yang melewatkan kesempatan bertemu dengan pangeran tampan" Ucap Carla berbisik


Aiden hanya menampilkan ekspresi datar dan melanjutkan sarapannya.


"Dia yang akan melihat pangeran perang nantinya, seperti yang kalian ketahui bagaimana kehebatan kerajaan kuno ketika berperang" Raja Maverick


"Betul sekali" Putri Lily bergembira dan semuanya kembali melanjutkan sarapan


Setelah itu, mereka semua pergi ke perpustakaan karena jadwalnya adalah membaca. Namun, Carla malah pergi ke tempat penyuratan dan dia berencana mengirimkan surat itu pada Pangeran Gavin.


Untuk Pangeran Gavin, White Eagle


Salam pangeran,


Aku Putri Carla dari kerajaan Corvus. Tujuan ku menulis ini untuk menyampaikan kalau saat pertemuan kerajaan nanti di istana Black Cart aku ingin duduk denganmu karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan.


Salam,


Putri Carla, Corvus.


...🍁...


Carla kembali ke perpustakaan dan mengambil buku asal lalu duduk di samping Aiden. Namun, Carla tidak membuka bukunya apalagi membaca karena minat bacanya sedang turun jadi dia melihat pemandangan dari luar perpustakaan.


Sesekali dia melihat Putri Lily dan Aiden yang sibuk membaca buku. Carla menghela nafas pelan dan kembali ke aktifitas awalnya.


"Kenapa kau tidak membaca?" Aiden


"Aku sedang tidak minat" Carla


Aiden mengangguk dan mengikuti arah pandangan Carla keluar jendela.


"Menurut mu apakah Putri Lily bisa menikah dengan Pangeran Curse?" Tanya Carla, Aiden langsung menoleh dan menutup bukunya.


"Kenapa? Kau tidak rela?" Aiden


"Tentu, wanita mana yang rela seorang pangeran tampan impian semua putri menikah dengan orang lain?" Carla


"Kau belum tau bagaimana sifatnya" Aiden


Carla menatap mata Aiden, mata mereka bertemu dan keduanya mengeluarkan tatapan tenang.


"Kau tahu?" Carla, dan Aiden mengangguk


"Tentu saja, menurut ku dia tidak pantas untuk menikah denganmu." Aiden


Carla rolling eyes dan berdecak "Itu karena kau tidak mau aku menikahinya"


"Kau tahu itu, jadi jangan sekali-kali berkhayal menikah dengannya. Aku tidak rela, kau milikku bukan miliknya. Kau paham?" Aiden


"Iya iyaaaa" Carla mengangguk


"Kau darimana tadi?" Aiden

__ADS_1


"Bukan urusanmu" Carla


"Baiklah" Aiden mengangguk


Jadwal membaca telah selesai, mereka sedikit bersantai sebelum acara pertemuan kerajaan tiba nantinya.


Saat Aiden sedang berada di halaman istana, dia melihat pengantar surat. Aiden langsung maju dan pengantar surat itu memberitahu tujuannya.


"Salam yang mulia, saya pengantar surat dari kerajaan White Eagle." Ucapnya


"Untuk siapa?" Aiden


"Yang mulia tuan Putri Carla" Jawabnya


"Berikan padaku, aku suaminya." Aiden


Pengantar surat itu memberikan suratnya pada Aiden dan memberi salam lalu pergi.


"Untuk apa Carla mengirim surat ke White Eagle? Untuk Gavin atau Gary?" Gumam Aiden


Aiden mencari tempat aman untuk membaca suratnya, dan setelah sudah aman dia membuka dan membaca isinya.


Dari Pangeran Gavin, White Eagle.


Salam Putri Carla, aku senang kau mengirimku pesan. Mengenai hal itu aku bersedia untuk menjawab semua pertanyaan mu nantinya.


Dan kalau boleh tau, apakah kita akan berbicara secara terbuka atau tertutup? Karena aku yakin ini pertanyaan yang penting bukan? Aku tidak keberatan dengan semua keputusanmu tuan putri.


Ku tunggu kehadiranmu nanti, beritahu aku dimana kita harus bicara nanti.


Salam,


Pangeran Gavin, White Eagle.


"Pertanyaan? Apa yang mau Carla tanyakan pada Gavin?" Gumam Aiden


Aiden langsung melipat kembali suratnya dan merapikannya, lalu dia berjalan untuk menemui Carla. Dia mencarinya di perpustakaan dan tidak ada, dia mencari di kamar Putri Lily juga tidak ada, ditaman belakang juga tidak ada.


"Huh… Kenapa istana ini luas sekali. Kemana dia?" Aiden


Aiden kembali ke kamarnya dan berencana untuk memberikan pada Carla nanti. Namun, dia justru bertemu di kamar ini. Carla sedang berdiri di depan jendela kamar.


"Carla?" Aiden


"Aku tau ada surat yang datang, kau membacanya?" Carla


"Ti-tidak" Aiden


Carla membalikkan badannya dan menatap tajam Aiden sambil berjalan mendekatinya.


"Berbohong pun aku tau, kau mengumpat dibawah pohon sana" Carla


Aiden terdiam dan memberikan suratnya dan duduk dipinggir ranjang. Carla sibuk membaca suratnya dan setelahnya dia tersenyum lalu duduk di pinggir ranjang beda sisi dengan Aiden.


Aiden mendekat dan merangkul bahu Carla sambil menatap wajah istrinya dengan intens.


"Kau tersenyum karena balasan suratnya? Apakah ada hal romantis?" Aiden


"Bukan urusanmu" Carla berdiri dari duduknya, namun Aiden menahan tangannya.


"Kenapa bukan urusanku? Kau istriku bukan kawanku" Aiden


"Aku tidak mau kau ikut campur urusan ini" Carla


"Kenapa? Setelah menikah kau juga mau menutupi semua rencana? Membiarkan aku diam diri seperti ini? Bagaimana jadinya kalau aku ditanya soal masalahmu ketika ketahuan nantinya?" Aiden


"Nanti ku beritahu" Carla


"Sekarang, bukan nanti" Aiden


"Baiklah" Carla menghela nafas 


"Duduk" Ucap Aiden dengan nada serius


Carla mengikuti apa kata Aiden, karena sikap Aiden sudah dingin dan cuek. Bukan Aiden yang penyayang dan ramah lagi.


"Aku masih ada keraguan soal kehamilan Putri Aura, orang seperti dia pasti punya banyak rencana jahat dan pasti punya teman untuk bercerita tentang semua rencananya. Yang pasti orang itu harus punya masalah yang sama sepertinya, kenapa aku bertanya siapa sainganku kemarin karena… Aku yakin dialah tempat untuk bercerita tentang semua rencana perempuan licik itu" Carla.


...•...


...•...

__ADS_1


.... to be continued ....


__ADS_2