
Hari ini adalah hari dimana Carla akan menikah dengan Axain. Entah dia harus bahagia atau sedih hari ini. Carla tidak tersenyum dan tidak pula menampakkan raut wajah yang senang atau sedih.
Aiden saat ini bermain dengan Elio, dia mengajaknya ke hutan bersama dengan Putri Lily. Aiden tidak mau menyaksikan Axain mengucapkan janji pernikahan terlebih dia ingat akan Elio.
Walaupun Elio belum mengerti, namun Aiden yakin dia akan menangis ketika melihat ibunya akan menikah dengan pria lain karena yang Elio tahu, lelaki pendamping ibunya hanya Aiden seorang.
"Yang Mulia Tuan Putri Carla, apakah anda sudah siap?" tanya sang penghulu
"Sudah" Carla mengangguk
"Tuan Axain, apakah anda sudah siap?" Penghulu
"Sudah" Axain
"Baiklah, saya akan memulai pernikahan nya" Ucap sang penghulu.
"Tuan Axain, anda boleh menggenggam tangan Yang Mulia Tuan Putri Carla" Penghulu
Axain melakukan apa yang disuruh, dia meraih kedua tangan Carla dan tersenyum. Carla hanya bisa menatap wajah Axain yang hari ini tampak sangat senang.
Dan saat ini pula, pernikahan di laksanakan. Carla dan Axain sama-sama mengucapkan janji pernikahan.
Pernikahan ini memang bukan pernikahan resmi seperti saat Carla dan Aiden menikah. Katakan saja ini nikah siri, yang berbeda hanyalah saksi seorang raja dan seorang prajurit panah. Dan para pelayan istana, Aiden, Putri Lily dan Elio tidak menghadiri pernikahan ini atas izin Carla.
(Aku berharap, ini akan segera berakhir) batin Carla saat Axain mencium keningnya, setelah memasangkan cincin pernikahan.
"Ayah… Kapan kita akan jalan-jalan ke hutan bersama ibu?" Elio
"Mungkin kita bisa ajak ibu, setelah semua urusannya selesai" Aiden
"Urusan apa ayah? Apa ibu punya banyak masalah??" Elio
"Tidak, ibu tidak punya masalah. Tepatnya seperti tugas khusus" Aiden
"Tugas khusus?? Apa itu? Elio juga mau tugas khusus" Elio
"Pangeran Elio, tugas khusus itu hanya dimiliki orang itu saja. Kau belum punya tugas khusus, lagipula… Tugas khusus itu tidak menyenangkan. Kau tahu?" Putri Lily
"Benarkah itu tidak seru?" Elio
"Iya" Putri Lily
"Benarkah ayah?" Elio
"Benar sayang, tugas khusus itu sangat tidak menyenangkan untukmu, dan orang disekitarmu" Aiden
"Lalu, kenapa ibu mau melakukannya?" Elio
"Karena ibu ingin tahu bagaimana tugas itu" Aiden
"Kalau begitu… Elio ingin tahu ayah!" Seru Elio sambil tepuk tangan
"Elio, kau tidak boleh tahu. Suatu saat ayah akan memberi tahu mu ya?" Aiden
Elio langsung menampakkan wajah murung, dia membalikkan badan sambil bersedekap dan mengerucutkan bibirnya.
"Aku marah sama ayah!" Elio
"Pangeran Elio, apa yang dikatakan ayah mu memang benar. Tugas khusus tidak boleh ada yang mengetahui" Putri Lily
"Aku mau tahu sekarang kak" Elio
"Ayah berjanji akan memberi tahu mu soal tugas khusus itu tapi… Setelah umurmu 12 tahun. Bagaimana?" Aiden
__ADS_1
"Terlalu lama ayah, tapi tak apa" Elio akhirnya tersenyum lagi.
Aiden dan Putri Lily senang melihat Elio yang kembali tersenyum dan mengurungkan niat untuk marahnya tadi.
Sementara itu Carla mendatangi Aiden, Putri Lily dan anaknya Elio. Dia membawa senyum tipis saat menghampiri mereka bertiga sedangkan Aiden hanya menghela nafas.
"Salam Putri Carla, bagaimana pernikahan nya?" Putri Lily
"Salam Putri Lily, semuanya tampak lancar" Carla
"Dan kau bahagia?" Aiden
Carla menatap rumput diujung gaunnya, dan menghela nafas.
"Kau pikir aku bahagia? Ini bukan seperti kemauanku. Aku hanya memenuhi tanggung jawabku" Carla
"Kau tampak tersenyum" Aiden
"Ada yang cemburu berat" Putri Lily
"Jelas saja dia cemburu" Carla
"Ibu? Kenapa ibu memakai gaun yang sangat indah itu?" Elio
"Ibu sedang mencobanya sayang" Ucap Carla beralasan
"Mencobanya? Tak perlu ibu, itu sudah tampak sangat cantik" Elio
"Terima kasih sayang" Carla jongkok dan memegang bahu serta mengelus pipi Elio lembut
"Apa kau bersenang-senang sayangku?" Carla
Elio mengangguk "Iya ibu, aku bersenang-senang" Elio
Kemudian Axain datang disamping Carla dan memberi hormat.
"Salam Yang Mulia" Axain
"Salam Axain" Putri Lily
"Aku masih tidak menyangka, pelatih panah pribadi Corvus justru menjadi calon raja juga" Aiden
"Aku belum dijadikan kandidat Yang Mulia, apakah kau sudah mengkhawatirkan hal itu?" Axain
"Yaa.. Yang harus kau ingat adalah, dia tetap istriku" Aiden
Axain hanya tersenyum dan dia mengangguk samar.
"Ayah? Apa maksud semuanya?" Elio
"Dan kenapa pak Axain memakai pakaian yang rapi?" Imbuh Elio
"Pak Axain hanya mencobanya sayang..." Ucap Aiden
Elio mengangguk dan tersenyum
"Ayah... Aku ingin makan" Elio
"Bagaimana kalau makannya bersamaku saja pangeran? Agar kita bisa makan kue yang banyak" Ucap Putri Lily berbisik di akhir perkataannya
Elio mengangguk dan membisikkan sesuatu ke telinga Putri Lily namun bisa terdengar oleh semua orang.
"Kita makan roti vanila yang banyak" Elio
__ADS_1
"Iya setuju, ayo!" Putri Lily
Elio berlari dan Putri Lily mengejarnya, setelah itu suasana diantara Carla, Aiden dan Axain menjadi canggung. Aiden berdehem dan menoleh pada Axain.
"Sayang, ikutlah denganku" Aiden, Carla mengangguk dan mengikuti kemana Aiden pergi.
Mereka berhenti di kolam ikan ofish, Aiden menatap kedua mata Carla dengan intens.
"Kau bahagia?" Aiden
"Tidak, siapa yang menginginkan pernikahan ini? Kau dan aku? Sama-sama tidak menginginkan nya bukan?" Carla
"Huhh... Perlu aku beritahu kepadamu kalau aku sangat cemburu dan rasanya aku ingin sekali mengajak Axain berperang" Aiden
Carla menepuk pundak Aiden dan tersenyum.
"Untuk apa kau berperang dengannya? Itu membuang tenaga mu" Carla
"Bagaimana bisa hukumannya seperti ini? Kenapa harus seperti ini?" Ucap Aiden menggerutu
"Maafkan aku" Carla
"Iya?" Aiden
"Maafkan aku. Karena aku saat ini semua menjadi kacau" Carla
"Ya... Perlu aku akui kau memang salah namun kau sudah mencoba bertanggung jawab atas semua ini. Yang tidak bisa ku terima adalah saat kau menikah pria lain setelah berkeluarga denganku" Gerutu Aiden
"Sudahlah, jangan marah-marah. Aku sedang berharap kalau semua ini cepat selesai" Carla
"Tapi kapan? Kapan semuanya akan selesai?" Aiden
"Entah... Mungkin aku bisa mendapatkan petunjuk dari mimpiku itu" Carla
Aiden menggenggam kedua tangan Carla dan menatap kedua matanya dengan lembut.
"Berjanjilah... Kau akan menyelesaikan semua hukuman ini. Aku sudah tidak tahan lagi mendapatkan semua ini" Aiden
Carla mengangguk "Iya, iya. Aku akan. Menyelesaikan nya"
Aiden mengecup bibir istrinya sekilas "Dan berjanjilah untuk menjaga ini juga dan hak ku"
Carla mengangguk "Iya aku berjanji"
Aiden langsung mencium Carla dengan lembut, Carla sempat terkejut namun ini bukan pertama kalinya Aiden menciumnya tanpa izin, dia membalasnya dengan lembut.
Namun perlahan ciuman Aiden menjadi tak beraturan, Carla merasakan kalau Aiden emosi saat ini.
Di sisi lain, Axain yang ada dibalik koridor melihat dan mendengar semua percakapan itu. Dia sedih dan pasrah dengan keadaannya.
(Benar, aku hanya menikahi Putri Carla untuk membantunya menyelesaikan hukuman. Bukan sebagai suami atau pendamping hidupnya yang serius. Jadi aku tidak seharusnya berharap seperti ini. Sadar diri lah Axain kau tidak sebanding dengannya, bahkan hanya untuk menatap matanya kau tidak berhak) batin Axain.
Dia pergi dari balik koridor dan berjalan ke tempat semula dimana dia selalu berada di saung yang terletak di samping pacuan kuda.
Axain berbaring disana sambil menghela nafas dan menatap birunya langit diatas sana.
"Kenapa hidupku seperti ini? Ke apa harus aku yang dijadikan suaminya? Aku mencintainya murni dari perasaanku bukan karena suatu hukuman. Aku ingin pernikahan ini terjadi karena cinta yang tumbuh di hati kami berdua bukan karena hukuman. Benar! Aku harus sadar diri." Gumam Axain.
"Entah apa yang akan terjadi setelah ini" Imbuh Axain.
•
•
__ADS_1
. to be continued .