Putri Carla

Putri Carla
Part 38


__ADS_3

Carla berada di perpustakaan seorang diri, karena Aiden sedang berada di koridor bersama dengan Pangeran Declan, Carla tidak tertarik dengan urusan 2 pangeran itu jadi dia memilih berada di perpustakaan. Seketika Carla berdiri dan  mencari buku-buku yang ada dirak.


Dia berharap menemukan buku tafsir mimpi atau semacamnya yang dia butuhkan saat ini, Carla terus mencari sampai dia menemukan buku dengan judul "Digital's Portal" 


"This book contains about the consequences, causes and signs of people who violate the portal of the digital world. Aku membutuhkan ini" Carla langsung duduk dan membukanya


Carla langsung mencari halaman yang dia baca di daftar isi, dimana dihalaman itu dijelaskan tentang akibat orang yang melanggar portal dunia digital.


"Orang yang melanggar tentu tidak akan bisa lepas dari hukuman sampai dia menikah dengan orang yang digariskan untuknya menurut takdir yang berubah" Carla


(Pangeran yang digariskan?) batin Carla


Carla membuka kain penutup tangannya yang rutin dia ganti tanpa sepengetahuan Aiden. Dan tentunya dia bersyukur selama ini tidak ada yang mengetahui karena semua gaun putri kerajaan memiliki lengan panjang.


"Tanda ini belum memudar, tapi jika aku mengahadapi sesuatu aku merasa seperti tanganku terikat seperti ditali dengan kencang" Carla


"Apakah orang yang digariskan itu Aiden? Aku sudah menikah dengannya tapi kenapa aku masih terus mendapatkan hukuman? Terlebih siapa orang itu? Apa orang itu yang bertugas untuk terus menghukum ku?" gumam Carla


"Apa bibi Aiv tahu soal ini?" Carla


Brak


Pintu terbuka, Carla langsung menutupnya dan menyembunyikan buku itu diatas pahanya dan membalik buku itu.


"Salam pangeran Declan" Carla


"Salam Putri Carla, apa yang sedang kau baca?" Pangeran Declan


"Buku tentang… Perempuan" Carla


"Oh, buku spesial ya?" Pangeran Declan


"I-iya. Oh iya urusanmu dengan Pangeran Aiden sudah selesai?" Carla


"Sudah, hanya sebentar saja kok. Dikit lagi Pangeran Aiden akan datang kesini, jika dia marah jelaskan padanya kalau aku hanya ingin menyapamu saja tidak lebih. Tadi, aku juga bertemu Putri Lily di taman belakang lalu kesini." jelas Pangeran Declan


"Baiklah akan aku jelaskan, ku kira sepertinya Aiden tidak akan cemburu atau marah" Carla


"Kau belum hafal sifat suami mu?" Pangeran Declan


"Mungkin ada yang belum" Carla


"Apa karena kau tidak peka? Kau salah jika menilai Pangeran Aiden tidak akan marah atau cemburu. Justru sebaliknya dia orang yang sangat pencemburu, kau beruntung menikah dengannya, dia pasti akan sangat sayang padamu tuan putri" Pangeran Declan


"Sepertinya begitu, aku belum menyadari nya. Ternyata kau bisa ngomong banyak ya" Carla


"Kau belum mengenali ku dengan baik, yaa~ seperti inilah aku" Pangeran Declan bersandar pada bahu kursi


Brak


"Aiden?" Carla


"Carla? Declan? Apa yang sedang kalian lakukan disini?" Aiden


"Tenang dulu, duduk sini." Carla menepuk kursi disebelahnya


Aiden berjalan dan duduk di kursi samping Carla


"Biar aku jelaskan, dia hanya ingin mengobrol denganku tidak lebih. Dia juga sudah bilang kalau tadi menemui Putri Lily juga" Carla, dan Aiden mengangguk


"Setidaknya harimau itu sudah dijinakkan. Baiklah! Aku pamit pergi dulu, salam pangeran… Putri" Pangeran Declan

__ADS_1


"Salam Pangeran Declan" Carla


Pangeran Declan keluar perpustakaan dan dia Aiden langsung menatap Carla.


"Kenapa?" Carla bingung


Aiden mendekati wajahnya ke wajah Carla dan mencium bibirnya dengan lembut, Carla tersentak kaget dengan hal ini. Padahal ini bukan pertama kalinya bagi Carla, Aiden melepaskan ciumannya untuk memberi Carla ruang untuk bernafas kemudian kembali mencium bibir Carla lagi dengan lembut. Setelahnya Aiden menangkup kedua wajah Carla melepas ciumannya dan memberikan kecupan beberapa kali di bibir Carla.


(Ini memang bukan yang pertama kali, tapi ini terasa berbeda dari yang sebelumnya) batin Carla


"Sudah" Carla


Aiden mengangguk dan mencium kening Carla.


"Aku mencintaimu, kau tahu kan?" Aiden, Carla mengangguk


Aiden menjauhi wajahnya dan matanya menangkap buku yang ada diatas paha Carla, saat hendak mengambil buku itu. Carla lebih dulu menahan tangan suaminya dan tersenyum.


"Buku ini buku tentang perempuan" ngeles Carla


"Bukankah bagus kalau aku membacanya?" Aiden, Carla kembali menahan tangan Aiden dan menggeleng.


"Tidak sekarang" Carla berdiri dan buru-buru menaruh buku itu


Saat hendak kembali ke tempat duduk, Aiden memeluknya dari belakang.


"Kau bisa menggendongku?" Aiden


Carla menepuk tangan Aiden berkali-kali.


"Bukankah terbalik?" Carla


"Ya sudah, ayo ke taman belakang?" Aiden


"Melihat bunga, mau apa lagi?" Aiden


"Ya sudah" Carla


"Tapi gendong aku" Aiden


"Kau berat" Carla


"Haishh…" Aiden beralih menggendong Carla dengan gerakan cepat dan mereka pergi menuju halaman belakang.


...~ ~ ~...


Aiden POV


Pagi ini ada jadwal memanah dan berkuda setelah sarapan. Semua pangeran dan putri sepakat jika latihan ini membawa kuda masing-masing dari istana. Jadi, otomatis aku, Carla dan Putri Lily sedang berada di halaman depan istana dengan kuda masing-masing.


"Karena sudah ada kuda masing-masing, bagaimana kalau kita berangkat sambil balapan? Atau biasa saja?" Putri Lily


"Aku setuju balapan" Carla


"Aku tidak" aku


"Kenapa?" Putri Lily


"Entah kenapa firasatku mengatakan tidak untuk balapan" aku


"Hanya firasat kan? Kenapa tidak coba dulu?" Carla

__ADS_1


"Tidak" jawabku


"Ya sudah, kita seperti biasa saja. Mungkin pangeran itu sedang malas" ejek Putri Lily


"Sudah sudah… Ayo kita berangkat!" Carla


Kami semua naik ke kuda masing-masing, dan memulai perjalanan menuju istana Pejasone. Cukup jauh dari istanaku ke Pejasone, membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke istana Pejasone.


30 menit berlalu, aku, Carla dan Putri Lily masuk istana Pejasone. Ternyata disana sudah ada Pangeran Gavin, Pangeran Gary, Pangeran Lynx, Putri Aura, Putri Hazel dan Putri Ivy.


Kami turun dari kuda setelah menempatkan kuda kami dengan benar dan bergabung dengan yang lainnya.


"Wahh.. pahlawan dari Corvus telah datang" Pangeran Lynx


"Pahlawan?" Putri Aura


"Iya, perlu kalian ketahui anggota keluarga Corvus semua bisa dibilang pahlawan. Lebih tepatnya kesatria" Pangeran Lynx


"Kenapa bisa begitu?" Putri Hazel


"Lihatlah wajah Pangeran Aiden dan Putri Lily. Bukan kah dari wajah mereka sudah terlihat?" Pangeran Gary


"Benar, Pangeran Aiden memang cocok sebagai kesatria. Dan Putri Lily adalah kesatria wanita yang tangguh" puji Putri Aura


"Kalian terlalu berlebihan, White Eagle juga berisi para kesatria" Putri Lily


"Semua dari kita adalah kesatria" imbuh Carla langsung


"Benar! Aku setuju dengan Putri Carla!" Pangeran Gavin


"Memperdebatkan masalah kesatria tidak akan pernah usai. Karena kita semua di didik sebagai seorang kesatria penerus kerajaan masing-masing" Carla


"Benar! Aku juga pernah berfikir sepeti Putri Carla" seru Putri Ivy, aku hanya tersenyum mendengar ucapan itu.


"Sambil menunggu yang lain kalian boleh lakukan apapun" Pangeran Gavin


Carla langsung menghampiri kudanya dan mengelus-elus kudanya. Aku melihat dia dari tempat aku berdiri sambil tersenyum.


(Ternyata kau bisa dewasa juga, aku senang melihatnya) batinku


"Tidak bosan menatapnya bukan?" Pangeran Gavin


"Jelas, dia istriku" tekan ku


"Yaa~ memang benar. Perasaan bukankah bisa berubah?" Pangeran Gavin


"Apa maksudmu? Kau berniat mengubah perasaan Carla, iya?" kesalku


"Hanya itu yang bisa aku katakan padamu. Dia meudah menikah dengan mu, kalau aku melamar nya tidak mungkin. Langkah awal adalah mengubah perasaannya" Pangeran Gavin


"Kau melawan orang yang salah Gavin… Apa yang kau lakukan akan sia-sia. Kau mengerti?" aku


"Aku belum mencobanya, bagaimana bisa kau menyimpulkan kalau apa yang aku rencanakan itu sia-sia?" Pangeran Gavin


"Terserah, aku mengatakan apa yang aku rasakan" jawabku


"Ya ya ya, kau memang jujur diwaktu yang tepat. Kau adalah lawan yang sangat kompetitif untukku. Dan itu seimbang" Pangeran Gavin meninggalkanku dan dia bergabung dengan Putri Lily dan Putri Ivy.


(Takkan aku biarkan namamu singgah di hati Putri Carla) batinku.


...•...

__ADS_1


...•...


.... to be continued....


__ADS_2