
[Pukul 16.00]
Saya ini semua pangeran dan putri sedang duduk di kursi mereka masing-masing. Tentunya tempat duduk pangeran dan putri dipisah tidak 1 meja karena memang seperti ini urusannya. Pangeran Harris dan Putri Abella tidak ikut acara kerajaan sejak kabar kehamilan Putri Abella diketahui semua orang.
"Baiklah, karena kita sudah lama menggunakan jadwal kerajaan. Seperti nya ada yang mau kita perbarui mulai besok. Apa ada usulan putri? Pangeran? Katakan saja nanti akan kita pertimbangkan" ucap Pangeran Gavin, pangeran tertua nomor 2 setelah Pangeran Harris.
"Bagaimana kalau kita mengadakan acara berbagi makanan dengan rakyat disekitar istana Pejasone?" Putri Ivy
"Aku tidak akan menolak ini" jawab Putri Carla
"Baiklah mari diskusi soal ini. Ada yang berpendapat lain?" Pangeran Gavin
"Aku! Izinkan aku berbicara!" Putri Karen
"Silahkan Putri Karen…" Pangeran Gavin
"Aku tidak ada masalah dengan keputusan Putri Ivy hanya saja mengenai itu aku berpikir setiap kerajaan memiliki peraturan masing-masing yang harus ditaati tanpa adanya tawar-menawar. Jadi, sebagai contoh kerajaan ku Black Cart tidak bisa se-leluasa itu. Itu saja pendapat ku" Putri Karen
"Aku setuju dengan kakak ku, Putri Karen. Seperti yang kalian ketahui setelah kerajaan Corvus kerajaanmu lah yang keras akan aturan-aturan nya" imbuh Pangeran Declan
"Aku setuju juga dengan pendapat Putri Karen, setelah dipikir memang benar setiap kerjaan punya peraturan sendiri-sendiri yang tidak bisa ditawar." Putri Ivy
"Jadi, kita tidak bisa mengambil usulan itu sebagai kegiatan baru kita. Ada usulan lain?" Pangeran Gavin
"Aku! Aku punya usulan!" Putri Aura mengangkat tangan
"Silahkan Putri Aura…" Pangeran Gavin
"Aku mengusulkan bagaimana kalau ada pelatihan atau kompetisi berkuda dan memanah, dijadikan satu. Jadi, diantara kita semua bisa sambil melatih kemampuan 2 olahraga itu" Putri Aura
Putri Carla menatap Putri Aura yang berdiri disamping Putri Karen. Dia menaikan 1 alisnya menatap Putri Aura diseberang sana sambil mencerna apa yang akan dia rencanakan selanjutnya.
"Ada benarnya, bagaimana kalau kita melakukan itu?" Pangeran Sean setuju, Putri Aura kembali duduk.
"Benar, jadi selain di istana masing-masing kota bisa melihat kemampuan masing-masing. Bisa jadi yang sudah ahli mengajarkan sebagai tambahan ilmu. Aku secara pribadi setuju" Pangeran David
"Tapi, aku tidak terlalu handal" Putri Lily
"Banyak yang akan mengajarimu Putri Lily" jawab Putri Hazel
"Baiklah, aku menyetujuinya. Lagipula aku harus bisa ini sebuah tantangan untuk ku" Putri Lily
"Benar! Aku setuju dengan Putri Lily. Yang lainnya apa setuju?" Pangeran Gavin
"Setuju!" sahut Pangeran Gary disetujui yang lainnya
"Baiklah, atur jadwal di hari apa kita akan melakukan nya" Pangeran Lynx
"Aku punya usulan!" Putri Serena
"Silahkan tuan putri.." Pangeran Lynx
"Hari Jumat adalah hari yang pas menurutku. Rata-rata aku bertanya pada beberapa putri di kerajaan mereka hari Jumat tak banyak jadwal pribadi." Putri Serena
"Oh iya aku setuju! Karena setiap hari Jumat, kerajaan ku cukup bebas bahkan aku sering merasa bosan karena tidak ada kegiatan yang serius" jelas Pangeran Lynx
"Aku setuju juga, di kerajaan ku memang tak banyak kegiatan di hari Jumat" Pangeran Sean
"Kerajaan ku juga begitu" sahut Pangeran Gary
"Baiklah, kalau gitu kegiatan memanah dan berkuda bisa dilakukan di hari Jumat." Pangeran Aiden buka suara
"Jam berapa mau dilakukan?" Pangeran Lynx
"Alangkah baiknya kalau pagi" Pangeran David
"Kalau sore sepertinya sudah mulai lelah" Pangeran Sean
"Bagaimana kalau jam 09.00 sudah dimulai?" Pangeran Lynx
"Berapa lama kegiatannya?" Pangeran Gavin
"Aku rasa 2 jam cukup" Pangeran Gavin
__ADS_1
"Iya, 2 jam saja sudah cukup" jawab Putri Hazel
"Baiklah, sampai pukul 11.00 siang sudah selesai" Pangeran Gavin
Pangeran Gavin mengambil buku agenda kerajaan yang ada di ruangan ini. Dia mengambil tinta dan pena untuk menulis perubahan jadwal ini.
"Baiklah kalau gitu, ada lagi?" Pangeran Gavin
"Aku!" Pangeran Lynx
"Silahkan pangeran…" Pangeran Gavin
"Kelas formal pangeran dan putri yang diadakan di kerajaan masing-masing. Bagaimana jika diubah menjadi bersama?" Pangeran Lynx
"Apa alasan kau mau mengubahnya menjadi bersama-sama?" Pangeran David
"Aku bosan jika hanya dengan kakak ku, Pangeran David." Pangeran Lynx
"Aku setuju dengannya" tunjuk Pangeran David pada adiknya yang tengah berdiri, semuanya langsung tertawa mendengar kejujuran mereka berdua.
"Baik, apa yang lainnya setuju? Putri Carla? Apa kau setuju?" Pangeran Gavin
Semua langsung menoleh pada Putri Carla yang sedang bersandar santai mendengarkan setiap pembicaraan pada pertemuan rutin putri dan pangeran sore ini. Carla langsung membenarkan cara duduknya dan tersenyum ramah.
"Aku setuju, mungkin bisa aku tambahkan alasan Pangeran Lynx. Selain dia bosan dengan kakaknya dia juga bosan karena tidak ada teman selain Pangeran David. Sama seperti yang aku rasakan dengan Pangeran Harris, begitu." jelas Putri Carla
"Baiklah, apa ada yang tidak setuju?" Pangeran Gavin
Semuanya setuju dan Pangeran Gavin kembali menuliskan jadwal barunya.
"Karena jadwal kelas formal masuk ke masalah jadwal pribadi wajib setiap kerajaan jadi nanti aku akan mengirimkan pesan terbuka untuk setiap kerjaan jika kelas formal diubah menjadi bersama-sama." Pangeran Gavin dan diangguki semua orang.
"Hari apa akan dilaksanakan?" Pangeran Lynx
"Hari Rabu, bagaimana?" Pangeran David
"Bisa jadi" Pangeran Lynx
"Aku setuju hari Rabu!" Putri Karen
"Kami setuju" Putri Lily
"Baiklah, akan dilaksanakan hari Rabu." Pangeran Gavin
"Setelah adanya perubahan yang harus kalian ingat, ubah lagi atau sesuaikan jadwal pribadi istana dengan jadwal bersama ini. Agar tidak terjadi tabrakan." jelas Pangeran Aiden
"Kami akan lakukan, setelah surat resmi pangeran dan putri turun" Pangeran Declan menjawab
"Baiklah" Pangeran Aiden
"Ada lagi?" Pangeran Gavin
"Sudah cukup" Putri Ivy
"Baiklah, kita akhiri diskusi ini. Selanjutnya adalah acara jamuan" Pangeran Gavin
Semuanya berdiri untuk pergi menuju ruang makan di istana Pejasone saat ini. Mereka mengambil tempat duduk sesuai kemauan mereka. Tak disangka Pangeran Aiden diapit oleh Putri Carla dan Putri Aura. Sedangkan, disamping Putri Carla ada Pangeran Gavin dan disebelah Putri Aura ada Pangeran Declan.
Makanan tiba di meja makan, mereka mulai makan perlahan makanan yang memenuhi meja makan yang panjang dan megah ini.
"Kau mau anggur?" tanya Putri Carla
"Suapi aku.." Pangeran Aiden membuka mulutnya untuk dimasukkan buah anggur.
Putri Aura yang merasakan kesal hanya bisa menahan. Karena dia tahu posisinya saat ini walaupun dia duduk disamping Pangeran Aiden.
"Sepertinya kau jadi sangat mencintai Aiden" Pangeran Gavin
"Hm… Bukan aku, tapi Pangeran Aiden lah yang sangat mencintai ku" jawab Putri Carla
"Bukankah memang sejak awal dia begitu? Tapi, yang aku tanyakan perubahan mu setelah menikah dengan Aiden" Pangeran Gavin
"Yaa… Walaupun dulu aku tidak menyukainya setidaknya aku belajar menyukai dia, karena aku tidak suka bersikeras mengejar orang yang tidak menyukaiku" Putri Carla
__ADS_1
"Jadi, kau lebih memilih dicintai daripada mencintai?" Pangeran Gavin
"Iya, kau akan merasakan bagaimana rasanya dicintai nanti tanpa harus bersusah payah mengejar orang yang tidak peduli denganmu" Putri Carla
"Sayangnya aku belum mendapatkan hal itu" Pangeran Gavin kembali menyantap makanannya.
"Nanti akan tiba waktunya" Putri Carla
Mereka kembali sibuk makan masing-masing setelah berbincang-bincang ria.
Setelah pulang dari acara perkumpulan pangeran dan putri kerajaan. Aiden dan Carla duduk santai di kamar mereka, sejak awal kedatangan Carla di kamar Aiden dia selalu merasa kalau Aiden adalah orang yang tegas.
Karena hampir semua yang ada didalam kamarnya adalah pedang, saat dia bertanya ternyata setiap pedang punya cerita masing-masing yang pastinya sudah dipakai untuk perang sebelum bergabung dengan circle kerajaan saat ini.
"Aku masih takut berada disini" Carla
"Kenapa? Apa karena pedang-pedang itu?" Aiden, dan Carla mengangguk.
"Apa kau mau aku menyingkirkannya?" Aiden
"Tidak! Tidak perlu. Aku hanya perlu terbiasa saja" Carla
Aiden yang sedang duduk disamping Carla beralih berlutut didepan Carla dan menggenggam kedua tangannya.
"Kalau kau mau aku menyingkirkannya katakan saja. Aku akan memindahkannya ke tempat lain agar kau merasa nyaman." Aiden
Tangan Carla beralih mengusap kepala Aiden didepannya sambil tersenyum manis.
"Tidak apa, aku yang akan membiasakan diriku" Carla
"Jangan memaksakan diri" ucap Aiden, lalu dia mengambil tangan Carla yang diatas kepalanya dan mencium punggung tangannya.
"Ini sudah malam, mari kita tidur…" Carla, dan dianggukki Aiden.
Mereka berbaring diatas ranjang, sambil menatap satu sama lain.
"Kenapa? Kau terpesona dengan ketampanan ku?" ucap Aiden percaya diri sampai Carla menggelengkan kepalanya
"Kalau kau cantik, kau akan jadi seorang putri. Bukan pangeran" Carla
"Maksudku sebagai lelaki aku tampan bukan?" Aiden, Carla mengangguk pasrah jika tinggal percaya diri Aiden meningkat.
"Akhirnya, aku bisa melihat pemandangan seperti ini setiap aku ingin tidur." Aiden mengelus wajah Carla di hadapannya.
"Apa yang kau bayangkan sebelum menikah denganku?" Carla
"Aku membayangkan wajahmu" Aiden
"Tetap sama?" Carla
"Dan tidak akan pernah berubah" Aiden, Carla tersenyum manis mendengar hal itu.
"Apa aku boleh meminta sesuatu?" Aiden
"Apa itu?" Carla
"Bolehkah aku merasakan ini" Aiden menyentuh bibir Carla dengan jempolnya yang sedari tadi mengusap wajah istrinya.
Dengan perasaan ragu, Carla mengiyakan permintaan Aiden. Aiden langsung mendekati istrinya, dan mencium bibirnya dengan lembut. Mereka saling merasakan deru nafas masing-masing karena tidak ada jarak diantara mereka.
Carla bisa mencium wangi tubuh Aiden begitu pula sebaliknya. Mereka sedang mabuk oleh cinta yang tumbuh di hati mereka. Termasuk Aiden hang sejak dulu merasakan perasaan seperti ini dan akhirnya mimpinya bisa menjadi kenyataan seperti sekarang.
Bahkan sebelumnya dia tidak pernah mengira kalau dia bisa mencium dan memeluk Carla, karena dia benar-benar menjaga Carla. Bahkan dia jarang atau mungkin tidak pernah menyentuh Carla dengan sengaja.
Terbawa suasana mereka memperdalam aktifitas mereka, dirasa sudah Aiden menjauh dan kembali ke posisi semula. Mereka mengontrol nafas masing-masing, terutama Carla.
"Apa sudah selesai?" Carla, Aiden mengangguk.
"Ayo kita tidur" Aiden memeluk Carla dan mereka pun bersiap untuk menyambut mimpi mereka malam ini.
...•...
...•...
__ADS_1
.... to be continued ....
jangan lupa vote yaa terima kasih 💜☺️