
Aku bangun dari tidurku lalu mandi dan bersiap menggunakan pakaian pangeran. Pagi ini semua jadwal pribadi istana oleh Raja Maverick dikosongkan karena persiapan untuk pernikahan ku 3 hari lagi.
Aku menatap aula yang sedang di dekorasi dengan indah, aku tersenyum melihat semuanya mendekorasi ruangan aula untuk pernikahanku
"Salam pangeran..." Lily datang dan berdiri disamping ku
"Salam Putri Lily" jawabku dengan bahagia
"Wah... Aura orang yang akan menikah itu berbeda ya. Kau tampak berbeda hari ini kak..." Lily
"Kalau kau menikah kau akan merasakannya" jawabku
"Mungkin setelah ini aku akan dijodohkan, tidak tahu dengan siapa." Lily
"Biar aku tebak! Kau akan menikah dengan... Pangeran Declan" jawabku
"Hmm.. kalau boleh memilih lebih baik tidak." Lily
"Kenapa? Dia baik, orang yang sangat bertanggungjawab walaupun dari semua pangeran dia yang paling muda. Tapi perbandingan usia kalian sudah pas" jelas ku
"Menyesal aku mendengar kakak untuk menebak" Lily pergi begitu saja meninggalkan aku
Aku tersenyum melihat Lily yang lama-kelamaan menghilang dari pandanganku. Lalu, aku berniat untuk pergi ke halaman utama istana dan pergi ke area pacuan kuda.
"Halo Zeak... Kau tau kan? Pemilik mu akan segera menikah, yang artinya dia akan memiliki pendamping hidup sampai aku mati. Kau harus mengenali calon istriku." ucapku kemudian aku senyum-senyum sendiri
"Selamat pangeran atas pernikahan yang akan dilakukan ini" jawab Vir, dia pengasuh kudaku Zeak.
"Terima kasih Vir, aku sangat bahagia" jawabku
"Aku ikut bahagia jika Pangeran Aiden juga bahagia" Vir
"Bisakah kau lepaskan Zeak? Aku ingin bermain dengannya" aku
"Baik pangeran" Vir
Aku mulai menaiki Zeak dan menungganginya memutari area pacu. Setelah beberapa putaran aku memutuskan untuk berhenti dan beristirahat.
(Sepertinya aku akan menemui mu) batinku
"Iya, aku akan menemui mu" aku beranjak berdiri untuk pergi ke istana Rumpelstiltskin ingin bertemu dengan Carla.
Aiden POV END
...* * *...
Carla POV
Semua sibuk mendekorasi ruangan, sedangkan para pelayan istana menjamin aku untuk makan dengan teratur dan tidak melakukan hal apapun hari ini. Terasa membosankan tapi kalau kata putri lainnya mereka menyukai ini, karena dimana setiap putri yang ingin menikah dia akan diperlakukan seperti ratu yang sangat dipuja-puja.
"Pangeran Aiden pasti senang menikah denganmu putri..." ucap salah satu pelayan
"Sepertinya begitu. Karena dia tak berhenti tersenyum sejak kemarin" jawabku
"Jelas Pangeran Aiden tidak bisa berhenti tersenyum, karena dia akan memiliki calon permaisuri yang sangat cantik" ucap pelayan yang lainnya
"Sudahlah, jangan menggodaku terus. Aku ingin keluar istana." ucapku
"Baik tuan putri" sahut semua pelayan
__ADS_1
Aku berjalan ke halaman depan untuk bersantai karena sejak tadi aku jenuh berada dikamar sejak matahari belum terbit.
"Sepertinya aku pun sudah mulai mencintai mu pangeran." gumam ku
Kemarin memang aku sendiri yang memutuskan untuk menerima perjodohan ini tanpa ada dorongan orang lain. Aku hanya mengatakan pada ayah dan ibu kalau aku ingin menemui Pangeran Aiden. Setelah itu, aku mengatakan ke kerajaan Corvus lebih dahulu kalau aku menerima perjodohan ini.
Pulang dari Corvus, aku baru memberitahu kerajaan ku sendiri kalau aku sudah menerima perjodohan ini. Semua tampak bahagia, mereka bilang aku serasi dengan Pangeran Aiden.
Bibi Aiv juga selalu menggodaku setelah semua anggota istana tau kalau Pangeran Aiden dan aku akan menikah. Putri Abella juga melayani layaknya seorang ratu, kak Harris juga memperlakukan ku dengan sangat baik. Lebih baik dari hari-hari sebelum aku menikah.
Saat kaki ku sudah memijakkan rumput dihalaman, ada seekor kuda bersama pemiliknya yang berhenti ditengah jalan. Pemiliknya turun dan kudanya diserahkan oleh pelayan istanaku. Dia adalah Pangeran Gavin.
"Salam putri.." Pangeran Gavin
"Salam pangeran, ada apa pagi-pagi kau kesini?" tanyaku
"Hanya ingin melihat bagaimana suasana pengantin wanita yang akan menikah ini. Aku ucapkan selamat, kalian akan menikah nantinya" Pangeran Gavin
"Terima kasih pangeran" jawabku
"Kau sedang apa?" Pangeran Gavin
"Tidak ada kegiatan sejak pagi, aku jenuh jadi memutuskan keluar istana saja" jawabku
"Oh... Jadi sejenuh ini ya kalau ingin menikah? Aku juga ingin merasakan nya" Pangeran Gavin
"Menikahlah pangeran, kalau kau ingin merasakannya" aku
"Hmm... Aku belum tau akan dijodohkan dengan siapa" Pangeran Gavin
"Tidak akan lama lagi, kau pasti tau." jawabku
Tak lama Pangeran Aiden datang sendiri dengan kudanya. Aku tersenyum melihat kedatangan nya.
"Salam Pangeran Aiden" jawabku
"Salam Pangeran Aiden" Pangeran Gavin
"Hmm... Karena pengantin pria sudah datang, aku permisi dulu." Pangeran Gavin langsung pergi meninggalkan aku dengan Aiden berdua saja.
"Apa kalian sudah daritadi disini?" tanya Aiden
"Belum ada 5 menit" jawabku
"Baguslah... Ada perlu apa Pangeran Gavin kesini?" Aiden
"Dia bilang hanya ingin melihat suasana istana saja, entahlah akhir-akhir ini dia tampak aneh. Sering sekali kesini" jelasku
"Kau suka dengan kedatangan yang tanpa tujuan seperti itu?" Aiden
"Tidak, tapi siapa tau dia memang ingin bertemu dengan Pangeran Harris" jawabku
"Aku harus datang jam berapa agar tidak didahului olehnya?" Aiden
"Kau bertanya denganku?" tanyaku
"Iya, siapa lagi kalau bukan kau" Aiden
"Kenapa? Kau kesal karena dia selalu datang kesini?" tanyaku
__ADS_1
"Iya, aku kesal dan aku tidak suka. Bukankah pengumuman pernikahan sudah disebar? Kenapa dia masih berani menemui mu." Aiden
Aku menepuk pundaknya karena dia sudah tersulut emosi saat ini.
"Sabarlah... Lagipula mau dia datang kapan pun aku tidak akan peduli" jawabku
"Huuh baiklah kalau begitu, aku berusaha untuk sabar." Aiden tersenyum setelah aku tepuk pundaknya
"Kenapa kau datang sepagi ini?" tanyaku
"Aku ingin menemui mu" Aiden
"Kemarin kau sudah menemui ku" jawabku
"Tapi, kemarin bukan aku. Kau yang menemui ku, sekarang aku yang ingin menemui mu." Aiden
"Baiklah, kalau begitu." jawabku
"Putri, boleh kah aku minta 1 hal padamu?" Aiden
Aku mengerutkan kening mencoba mencerna apa maksud dari yang dia katakan.
"Bolehkah aku memeluk mu?" Aiden
Deg
(Me-meluk ku? Oke santailah... Anggap saja dia Pangeran Harris kakakmu. Agar kau tidak canggung) batinku
"Baiklah, aku anggap kau keluarga." jawabku
Aiden mendekat padaku dan memelukku, dan dia berbicara di telingaku.
"Aku calon suami mu" Aiden
Deg
(Ahh sudahlah... Kenapa dia jadi seromantis ini, jantungku tidak bisa terkontrol. Wajahmu memanas saat ini, bahkan... Ini pertama kalinya seorang pangeran memelukku selain Pangeran Harris. Dan aku... Nyaman seperti ini) batinku kemudian tersenyum
"Kau belum jadi suami ku, kenapa bangga sekali" jawabku
"Jelas aku bangga, karena memiliki istri seperti mu" Aiden
Aku melepaskan pelukannya dan dia menatap mataku saat ini.
"Aku memang tidak ingin terlalu bahagia hari ini tapi, aku tidak bisa. Wajahku memaksa aku selalu tersenyum" Aiden
"Ya sudah, biarlah seperti itu" jawabku
Aku berbalik dan berjalan menuju area pacuan kuda, Aiden sudah ada disamping ku saat ini dan kami berjalan beriringan. Saat sampai di area pacuan kuda, aku menarik nafas dan menatap langit juga pohon-pohon tinggi diseberang sana.
"Kalau boleh aku tau, setelah menikah kau ingin tinggal di sini? Aku ke istanaku?" Aiden
"Sejak kapan seorang pangeran tinggal dirumah putri setelah menikah?" tanyaku
"Bisa saja, kalau kau mau tetap disini aku yang akan pindah" Aiden
"Tidak, aku tetap akan ikut peraturan. Tinggal di istana mu pangeran" jawabku
"Baiklah kalau begitu" Aiden tersenyum kepadaku.
__ADS_1
(Apakah aku akan melihat senyum seperti itu setiap hari nantinya?) batinku
.... to be continued ....