
Hari telah berjalan seperti semula, pagi ini semua pangeran dan putri berkumpul di istana Pejasone untuk melaksanakan kegiatan jelajah alam.
Setelah semua ditentukan kemana mereka akan pergi, mereka menjalankan perintah. Sebelumnya Carla sudah ditanya apakah akan mengikuti kegiatan jelajah alam atau tidak. Carla memaksa ikut walaupun Aiden sudah melarangnya, akhirnya Aiden mengalah karena memang Carla keras kepala.
Carla tidak mau menolak karena melihat Putri Aura yang sudah smirk menatap dirinya rendah seolah Carla tak sanggup. Dia tidak mau kalah, dia tetap membujuk Aiden dan akhirnya dia bisa ikut dengan syarat selalu bersama Aiden.
Saat sampai di tengah hutan mereka berdua berbincang-bincang ria.
"Kenapa kau memaksa ikut?" Pangeran Aiden
"Kenapa? Apa tidak boleh?" Putri Carla
"Aku yang tidak mengizinkannya, lagi pula ibu Ratu Ellena juga tidak mau kau ikut kegiatan ini kan?" Pangeran Aiden
"Aku tidak mau dianggap lemah" Putri Carla
"Bukan begitu, setidaknya kau akan baik-baik saja jika tidak ikut ini" Pangeran Aiden
"Kalau aku ikut pun, aku punya alasan" Putri Carla
"Apa itu?" Pangeran Aiden
"Aku bersamamu saat jelajah alam" Putri Carla
"Hmm… Kau menjadikan aku alasan?" Pangeran Aiden tersenyum simpul
"Iya, kau alasannya" Putri Carla
"Biarlah, aku akan tanggung jawab penuh atas dirimu" Pangeran Aiden
"Terima kasih" Putri Carla
"Sudah sampai di pohon kembar tanpa daun. Kita harus mencari apa di peta?" Pangeran Aiden mengintip peta yang dipegang Putri Carla
"Kita harus mencari… Disini tidak tertulis harus mencari apa" Putri Carla
"Benarkah?" Pangeran Aiden memastikan
"Sepertinya, karena aku tidak melihat misi apa yang tertulis disini" Putri Carla
"Apa itu artinya…" Pangeran Aiden
"Mungkin kita hanya disuruh jalan-jalan" Putri Carla
"Mana mungkin" Pangeran Aiden
"Mungkin saja" Putri Carla
"Kau mau ikut denganku?" imbuh Putri Carla
"Kemana?" Pangeran Aiden
"Membolos kegiatan ini" Putri Carla
"Kenapa membolos?" Pangeran Aiden
"Hm… Karena selama kau mengikuti kegiatan ini bersama-sama aku tau kau tidak pernah membolos 1× pun pelajaran kerajaan. Benar kan?" Putri Carla, dan dijawab anggukan oleh Pangeran Aiden
"Kau terlalu teladan, oleh karena itu lakukanlah. Aku yakin ini sangat seru!" Putri Carla
"Kau yakin mengajak ku membolos?" Pangeran Aiden
"Sebenarnya tidak-"
Putri Carla berjalan meninggalkan Pangeran Aiden, kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Pangeran Aiden kembali.
"-tapi terserah kau mau ikut atau tidak, suami ku" Putri Carla kembali berjalan
__ADS_1
Mendengar dirinya dipanggil "suamiku" oleh Putri Carla, Pangeran Aiden menyusulnya dan menggandeng tangan Putri Carla erat.
"Aku ikut" Pangeran Aiden
Mereka akhirnya memutuskan untuk membolos pelajaran jelajah alam karena ide dari Putri Carla.
Sementara disisi lain, seorang putri sedang sibuk memanah rusa buruannya yang hendak kabur setelah terkena panah kedua. Ini adalah panah ketiga yang akan dia luncurkan sembari fokus mengikuti kemana arah binatang itu berlari.
Tak disangka bidikannya tepat, dan dia langsung berlari untuk mendekati hewan buruannya yang harus dilakukan karena misi dari jelajah alamnya.
"Disini kau rupanya"
Dia melepaskan ikatan dikaki rusa tersebut karena dia hanya perlu mengambil sesuatu yang diikat itu.
"Biar aku lihat apa yang harus aku ambil" gumamnya
Dia membuka bungkusan hitam yang ternyata didalamnya ada kunci kecil.
(Sepertinya ini hanya kunci brankas istana yang sengaja diikatkan pada rusa untuk misi jelajah alam) batinnya
"Huh! Semudah ini!" serunya
Dia kembali berjalan menuju istana Pejasone, tapi dia mendengar suara tawa lelaki dan perempuan. Dia mencarinya dan menemukannya disela-sela pohon sosok yang tertawa itu. Mereka adalah Pangeran Aiden dan Putri Carla.
"Aku mengambil langkah yang salah untuk merebut Pangeran Aiden darimu Carla. Aku akan membuat rencana lain tunggu saja, akan aku buat kau menderita. Aku tidak akan lamban saat ini." gumamnya, siapa lagi kalau bukan… Putri Aura.
Putri Aura kembali meneruskan perjalanannya karena dia sudah muak melihat kedua insan itu bahagia. Sampai di halaman ternyata hanya ada Pangeran Gavin, Putri Karen, Putri Serena dan Putri Aura yang baru datang.
"Apa yang kau dapat?" Pangeran Gavin
"Kunci, aku mengira ini adalah kunci sebuah brankas istana. Semacam kunci cadangan yang sengaja dipasang di kaki rusa, kecuali kerajaan ini punya hal mistis." Putri Aura
"Sudah lebih dari 20 tahun aku tidak tahu hal mistis. Ini kehidupan nyata bukan kehidupan sihir" Pangeran Gavin
"Putri Aura sepetinya terkontaminasi oleh cerita dongeng" Putri Karen
"Seperti memang begitu" Putri Aura tertawa kecil
"Mungkin mereka menikmati suasana cinta yang sedang tumbuh" jawab Putri Aura dan smirk mengingat dia menemui Putri Carla dan Pangeran Aiden
"Siapa yang kau maksud?" Putri Serena
"Oi oi oi, tunggu sebentar… Apa kau cemburu dengan Aiden karena dia menikah dengan Putri Carla?" Pangeran Gavin
"Benarkah kau merasa begitu?" sahut Putri Lily yang baru datang di belakang Putri Aura
"Ti-tidak begitu" Putri Aura
"Lalu apa maksudmu?" Putri Lily
"Melihat mereka aku merasa ingin secepatnya menikah dan merasakan hal itu juga. Itu maksudku" Putri Aura
"Semua pasti merasa begitu Putri Aura, jangankan kau aku pun mau menikah" Putri Serena
"Kalau begitu sama denganku" Pangeran Gavin
"Bukankah kau dijodohkan dengan Putri Serena?" Putri Karen
Seketika semuanya melirik Putri Serena dan Pangeran Gavin bergantian.
"Halo semuanyaaa~ ada apa ini?" Kalian mengadakan konferensi pers tanpa diriku?" sahut Pangeran David sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Tidak ada konferensi pers, hanya sebuah ocehan" Putri Serena
"Ocehan macam apa?" Pangeran David
"Pernikahan" Putri Lily menjawab kemudian dia menjauh
__ADS_1
"Sudah sudah… Kenapa jadi seperti ini suasananya" Putri Karen
"Ya sudah istirahat dulu saja kalian" Pangeran David menjauh dan duduk di lapangan tak jauh dari kerumunan tadi.
(Sepertinya semua ada di pihak Putri Carla, bisa kalah jika seperti ini) batin Putri Aura
Dia berjalan mendekati Putri Lily yang duduk direrumputan, lalu duduk disampingnya.
"Salam Putri Lily" Putri Aura
"Salam Putri Aura, ada apa?" Putri Lily
"Misi apa yang kau dapatkan?" Putri Aura
"Aku mendapatkan kunci, entah ini kunci apa" Putri Lily
"Kalau begitu kita sama, aku juga mendapatkan kunci dan ini juga misiku" Putri Aura
"Sepertinya banyak yang mencari kunci" Putri Lily
"Sepertinya" Putri Aura
Tak lama semua sibuk mengobrol dan bercanda mereka berkumpul di aula tempat biasa setelah jelajah alam dilakukan. Tapi, sampai saat ini Putri Carla dan Pangeran Aiden belum sampai. Terpaksa semuanya melanjutkan pelajaran ini tanpa menunggu kedua insan itu.
Selesai pelajaran jelajah alam, semua putri dan pangeran keluar dari aula. Dan saat itulah Putri Carla dan Pangeran Aiden muncul di koridor.
"Wah wah… Apa yang kalian lakukan?" Pangeran Sean
"Menurutmu apa pangeran?" Putri Carla
"Oh tidak jangan katakan!" Pangeran Sean memutar bola mata
"Apa yang kau pikirkan?" Pangeran Aiden
"Kalian berdua membolos??" Pangeran Declan
"Benar! Aku yang mengajak Pangeran Aiden." Putri Carla
"Carla… Bisa-bisanya kau mengajak pangeran teladan seperti ini membolos." goda Putri Ivy
"Lagipula dia tidak menolak aku ajak membolos" Putri Carla
"Kalian akan menerima hukuman nantinya" Putri Aura
"Kalau dihukum pun, kami berdua yang menjalankan itu" Pangeran Aiden
"Sepertinya benih-benih cinta sudah tumbuh didalam dirimu ya Aiden?" Pangeran Declan
"Kalau aku tidak cinta, aku tidak mau menikahi Putri Carla" Pangeran Aiden
"Kalian akan merasakan bagaimana bahagianya memiliki pasangan seumur hidup" Putri Carla
"Ouwh… Lihat! Siapa yang dulu menolak, dan terus menggerutu ketika bersama Pangeran Aiden" goda Putri Karen
"Jangankan bersama, melihatnya saja bahkan dia tidak mau" Putri Ivy
"Memang, aku akui karena dia memang menyebalkan" Putri Carla
"Tapi sekarang?" Putri Lily
"Tidak seperti itu" Putri Carla tersenyum malu
"Baiklah, silahkan menjalani hukuman. Aku pamit pergi dulu. Sampai jumpa di acara pertemuan rutin nanti" Putri Serena
Semuanya pergi meninggalkan istana Pejasone, kecuali Pangeran Aiden dan Putri Carla. Mereka justru datang untuk menerima hukuman, karena mereka tau apa yang mereka lakukan salah dan pasti akan menerima konsekuensi sebagai bentuk tanggung jawab. Walaupun mereka melakukan kesalahan itu dengan sengaja.
...•...
__ADS_1
...•...
.... to be continued ....