
Jadwal pagi ini di Corvus adalah latihan memanah untuk Putri Carla, Pangeran Aiden, Putri Lily. Mereka telah bersiap menggunakan pakaian untuk memanah membawa busur masing-masing dan berdiri ditempat yang sudah ditentukan.
"Wahh… Tak disangka ternyata ini pertama kalinya kita latihan memanah bersama dengan Putri Carla. Benar kan pangeran?" Putri Lily
"Seperti yang kau ketahui" Aiden
"Ternyata seperti ini rasanya jika punya saudara perempuan bukan laki-laki" kesal Putri Lily
"Kalian kenapa tidak akur? Aku kira kalian akur, karena sebelum menikah dengan Aiden kalian selalu bersama dan nampak akur" Carla
"Yaa… Sebenarnya hanya pencitraan. Bukankah kita harus bersikap baik dan akur didepan semua orang?" Putri Lily
"Sama seperti kau dan Pangeran Harris" jawab Aiden
"Tapi, aku dengan Pangeran Harris memang akur" jawab Carla
"Entah kenapa orang itu sulit diajak akur" Putri Lily
"Kau yang tidak menyesuaikan sikapmu denganku, ku rasa" jawab Aiden sambil menghadap ke arah Putri Lily sambil memasang wajah sombongnya
"Oh… Jadi, ini karena sikapku yang tidak bisa menyesuaikan he'em? Lalu bagaimana dengan sikap keras kepala mu hah? Ku harap kau tidak lupa" Putri Lily memasang wajah tak kalah sombong
Carla yang ada ditengah-tengah mereka hanya menatap kedua saudara ini bergantian dan berusaha memahami situasi.
"Sejak kapan aku keras kepala? Kau saja yang tidak mau diatur" Aiden
"Ku rasa aku akan menarik kata-kata ku jika ingin punya pasangan seperti mu" ucap Putri Lily pelan dan mengabaikan Aiden yang masih memasang wajah sombong.
"Ayolah… Kenapa jadi bertengkar kapan kita akan mulai memanah?" Carla
Tak lama pelatih memanah datang dan menghampiri Putri Carla, Pangeran Aiden dan Putri Lily.
"Salam putri, pangeran" sapannya
"Salam" jawab mereka dengan kompak
"Perkenankan saya untuk berkenalan, karena saya baru bertemu dengan anda tuan Putri Carla" ucapnya
"Baiklah, perkenalkan dirimu" Carla
"Terima kasih putri, nama saya Axain, umur saya 20 tahun. Sudah menjadi pelatih memanah disini selama 3 tahun" Axain
"Wahh… Kau berpengalaman sepertinya" Carla
"Tidak seperti yang putri katakan, saya juga masih berlatih" Axain
"Kalau gitu ajari aku dan yang lainnya, agar bisa sehebat dirimu" Carla tersenyum
"Baik-"
"Jangan terlalu lama mengobrol berdua, masih ada aku dan Putri Lily disini." sela Aiden, Carla tertawa kecil melihat tingkah Aiden yang sepertinya terbakar api cemburu.
"Mohon maaf pangeran" Axain
"Silahkan dimulai" Putri Lily
"Baik…" Axain membungkuk sebentar kemudian pelatihan memanah dimulai dengan serius.
...~ ~ ~...
Carla berjalan masuk ke dalam hutan seorang diri, dia terus masuk menelusuri hutan dibawah langit yang sudah gelap saat ini. Entah kenapa dia penasaran dengan harimau tempo lalu yang ingin membunuhnya.
Carla berhenti di tempat yang sama saat harimau itu muncul, dia tidak membawa senjata apapun, dia hanya membawa jiwa dan raganya masuk ke hutan ini. Cukup lama menunggu dia belum melihat adanya tanda kehadiran harimau itu.
Sampai saat ingin duduk di bebatuan, Carla berdiri lagi karena suara gemerusuk terdengar di telinganya saat ini. Carla terus mengedarkan pandangannya melihat di sekitarnya apa yang akan muncul dihadapannya dan bersiap untuk berlari jika harimau itu muncul.
Carla tersentak mundur karena yang keluar adalah seekor serigala serta orang bertudung hitam nampak di depannya. Dia menunjukkan gaun yang sudah bercak darah, lalu melemparnya di depan Carla. Carla terkejut, karena gaun yang dilempar itu adalah gaun yang dia gunakan saat ini.
Carla mengamati orang tersebut dan dia pergi begitu saja, tetapi tidak dengan serigalanya. Dia menerkam Carla. Nafasnya seperti tercekik dan dia sadar.
"Mimpi" Carla mengatur nafasnya dan berusaha tenang
(Apa yang ada di mimpiku itu? Itu tidak masuk akal) batin Carla
Aiden yang ingin berganti posisi merasa kalau disampingnya kosong, dia membuka matanya dan melihat Carla duduk diatas ranjang.
"Carla? Kenapa kau bangun?" Aiden memeluk Carla dari belakang dan menaruh dagunya di bahu Carla.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kau tidurlah lagi" Carla
"Kenapa kau terbangun sayang? Aku bertanya" Aiden
"Aku…" Carla bingung apakah dia akan memberitahu pada Aiden tentang mimpinya atau tidak
"Kau kenapa?" Aiden
"Tidak apa-apa, aku hanya terbangun saja." Carla
"Tidurlah lagi" Aiden
"Iya" Carla
Carla berbaring lebih dulu, kemudian disusul Aiden dan Carla mencoba memejamkan matanya lagi dan berharap kalau mimpi itu tidak datang lagi malam ini.
...× × ×...
Pagi telah tiba, semua sibuk sarapan sedangkan Carla hanya beberapa kali menyuap dan kebanyakan melamun. Aiden menyadari hal itu dia menggenggam tangan Carla dari bawah meja makan dan tersenyum. Carla membalas senyumannya dan kembali menyuap sedikit walau terpaksa.
Selesai sarapan, Carla menatap pemandangan luas didepannya di halaman depan istana. Carla berjalan tak menentu hanya untuk menghirup udara segar dan berpikir jernih dari mimpinya.
Tanpa disadari Carla, Aiden mengikuti dari belakang diam-diam dan berniat mengejutkan Carla tapi melihat Carla hanya diam Aiden pun ikut diam.
(Kenapa gaunku berdarah? Apa maksudnya itu?) batin Carla
"Siapa lelaki itu?" Carla
"Lelaki yang mana?" Aiden spontan menjawab dan melihat kearah yang Carla lihat
"Se-sejak kapan kau disini?" Carla
"Sejak awal kau disini" Aiden
"Kenapa mengikuti ku?" Carla
"Apa tidak boleh?" Aiden
"Bukan begitu, kenapa kau tidak mengajakku mengobrol atau bagaimana" Carla yang semula menatap Aiden jadi kembali melihat ke arah depan lagi.
"Aku? Baik-baik saja" Carla tersenyum, Aiden menggeleng.
"Kau tidak baik-baik saja" Aiden
"Bagaimana bisa kau menyimpulkan itu?" Carla
"Tadi malam, saat sarapan dan sekarang. Ditambah kau mengatakan lelaki. Lelaki mana. Maksudmu?" Aiden
"Tidak ada, kapan aku berbicara begitu?" Carla
"Barusan, sayang… Katakan saja jangan berbohong" Aiden
"A-aku belum siap mengatakannya. Biarkan aku memikirkan ini lebih dulu" Carla menunduk
Aiden memeluk Carla dan mengusap punggung dan kepala Carla dengan lembut.
"Katakan jika kau sudah siap, siapa tau aku bisa membantumu" Aiden mengecup puncak kepala Carla
(Aku ragu kau bisa membantuku) batin Carla sambil memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya pada Aiden.
Aiden melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tangan Carla sambil tersenyum.
"Sekarang ayo kita bersiap untuk berkemah dan berburu. Kau mau ikut?" Aiden, Carla mengangguk mengiyakan
"Baiklah ayo!" Aiden menggandeng tangan kanan Carla seperti mengajak adik kecil pergi bermain.
Mereka bersiap-siap pergi menuju hutan untuk berburu dan berkemah. Saat tengah mendirikan tenda dan menyusun kayu bakar. Aiden membuka percakapan.
"Aku ingat saat kau marah padaku saat itu, kita bertengkar hanya karena sebuah kalung" Aiden
"Kenapa kau mengingat itu lagi?" Carla
"Kau sudah lupa?" Aiden
Carla menggeleng "Tidak"
"Saat itu aku benar-benar merasa bersalah karena telah berlaku kasar padamu" Aiden
__ADS_1
"Yaa~ dan sejujurnya aku juga takut. Karena aku baru pertama kali melihat kau sejarah itu" Carla
"Kau takut?" Aiden, dan Carla mengangguk
"Maaf sudah membuatmu takut" Aiden
"Tidak perlu meminta maaf lagi, itu sudah lewat biarlah berlalu" Carla
"Baiklah" Aiden tersenyum
"Lalu sekarang? Kita mau makan atau berburu?" Carla
"Makan? Bukankah tadi kau sudah makan?" Aiden
"Aku tidak fokus saat sarapan" Carla
"Tapi sebelum berangkat kau meminta ku membawakan makanan" Aiden
"Tapi aku lapar" Carla
Memang sebelum berangkat, Carla meminta Aiden untuk mengambilkan makanan untuknya. Dan Aiden membawa makanan banyak saat itu.
"Kau belum kenyang?" Aiden, Carla menggeleng
"Mungkin sedikit lagi" Carla senyum lebar
Aiden tersenyum "Baiklah, kau makan saja duluan. Biar aku berburu dulu, kalau sudah selesai jangan lupa untuk susul aku. Iya?" Aiden
"Baiklah baiklah, kalau aku tidak malas akan ku susul tapi kalau sebaliknya ya sudah… Aku disini saja" Carla
Aiden menggelengkan kepalanya melihat tingkah Carla saat ini, lalu dia berjalan masuk menelusuri hutan dan memulai berburunya.
Carla mengambil ubi dan kentang yang dia bawa untuk perbekalan dengan Aiden. Dia membakarnya sampai matang dan memakannya saat hangat.
Disaat sedang makan, dia mendengar suara gemerusuk dari sebelah kirinya. Carla dengan sigap berdiri dan membawa panah yang ada di dalam tenda, dia bersiap memegang busur beserta Abah panah yang siap meluncur.
Carla terus mencari sumber suara itu dan menjauh dari tenda, saat sudah jauh dia sempat diam sejenak karena dari arah berlawanan ada yang datang menampakkan dirinya.
"Siapa kau?" Carla
Orang itu tidak bersuara, Carla tidak bisa melihat wajahnya. Saat maju 3 langkah mendekat, betapa terkejutnya Carla saat yang dia lihat saat ini sama persis dengan yang ada di mimpinya malam itu.
"Ka-kau?" Carla langsung gugup dan bergetar tubuhnya tak karuan
"Mau apa kau?" Carla mundur perlahan sebagai tanda dia was-was dengan apa yang akan terjadi nantinya
Orang itu hanya diam memaku dan langsung berlari lagi, Carla mengejar orang itu tapi saat sudah dirasa jauh dari perkemahan Carla berhenti dan kembali ke tenda karena dia takut Aiden mencarinya.
(Lain kali aku akan menangkap mu. Lihat saja) batin Carla
Sesampainya di tenda, Aiden langsung menghampiri istrinya dan memeluknya. Carla membiarkannya dan memejamkan mata.
"Kau kemana saja?" Aiden
"Hanya jalan-jalan" Carla
"Kenapa sendirian? Kau bisa ajak aku" Aiden
"Kau berburu" Carla
Aiden melepas pelukannya
"Kau bisa tetap mengajakku, aku pasti akan menemani mu" Aiden
"Tidak apa-apa, lagipula aku sudah kembali" Carla
"Kau baik-baik saja kan?" Aiden, Carla hanya mengangguk sebagai jawaban.
Dia belum siap menceritakan semuanya pada Aiden, dia takut Aiden malah melakukan hal diluar rencana Carla nantinya.
(Maaf Aiden, aku tidak bisa mengatakan ini padamu. Belum saatnya) batin Carla.
•
•
. to be continued .
__ADS_1