
9 bulan kemudian
Dengan perut yang mulai membesar, Carla sedang duduk di rerumputan halaman depan Rumpelstiltskin. Sudah 1 bulan Carla menginap di istana Rumpelstiltskin.
Awalnya Raja Maverick tidak mengizinkan karena khawatir dengan kandungan yang ada di perut Carla. Tapi, Carla bisa meyakinkan kalau dia baik-baik saja dan itu disetujui oleh Aiden.
Seperti yang Aiden inginkan, sifat Carla semenjak memasuki 7 bulan kehamilan dia keras kepala, pemalas, tapi dibalik sifat itu Carla lebih manja dengan Aiden dan bibi Aiv. Bukan kepada ibunya tapi bibi Aiv, Carla juga tidak mengerti kenapa bayi yang di kandungnya malah ingin Carla terus dekat dengan bibi Aiv dibandingkan nenek kakeknya Ratu Ellena dan Raja Vincent.
Aiden senantiasa selalu disamping Carla kemanapun istrinya pergi, dia bahkan tidak meninggalkan Carla kecuali kalau Carla pergi diam-diam. Tapi, selama dia mengandung Carla selalu izin kemanapun dia pergi pada Aiden.
Dan hari ini Carla sudah ada di istana Rumpelstiltskin lalu menginap di disana. Carla tidak peduli Aiden akan memarahinya atau tidak tapi yang dia inginkan adalah seperti ini.
Dan saat ini dia sudah berada di samping bibi Aiv. Bahkan, sejak tadi mereka mengobrol banyak hal.
"Tuan putri, bolehkah aku bertanya?" Bibi Aiv
"Silahkan bi, apa yang ingin kau tanyakan padaku?" Carla
"Apa hukuman seperti itu atau hal berbahaya lainnya sudah tidak mendatangimu lagi?" Bibi Aiv
"Tidak, namun saat kandunganku berumur 8 bulan. Aku mendapat mimpi yang sangat mengerikan bi" Carla
"Mimpi mengerikan? Seperti apa?" Bibi Aiv
"Aku bermimpi kalau 3 harimau putih akan menerkam ku. Dan tentu saja anakku dalam bahaya" Carla
"Kenapa harimau putih?" Bibi Aiv
"Tidak tahu bi, karena sebelum harimau itu menerkam ku dan anakku. Aku memang sesekali mengunjungi bayi harimau putih di hutan dekat istana Corvus. Dia lucu sekali Aiden melarang ku untuk mendekatinya namun saat itu aku nekat untuk mendekatinya bahkan mengunjunginya dia tampak jinak padaku" Carla
"Lalu apa dimimpi mu itu kau terluka?" Bibi Aiv
Carla menggeleng dan menatap ke bawah melihat hijaunya rerumputan istana Rumpelstiltskin. Carla menghela nafas kemudian menatap manik mata bibi Aiv dengan intens.
"Anehnya, saat aku menghadap ke harimau yang sering aku kunjungi itu dia sudah mati karena anak panah. Aku tidak melihat siapapun dalam mimpiku kecuali aku dan harimau-harimau itu bi" Carla
"Anak panah? Bibi yakin, itu adalah suatu peringatan untuk mu dan anak yang kau kandung putri. Kau harus selalu waspada dan tetap bersama Pangeran Aiden." Bibi Aiv
"Yang selalu menggangguku adalah, kenapa setiap aku bermimpi pasti mereka akan menerkam ku. Hanya sampai disitu, dan aku tersadar dari mimpiku. Dan semua yang ku mimpikan adalah hewan buas" Carla
"Itu artinya, kau harus berhati-hati dengan semua hewan buas. Lagipula dulu kau pernah diserang harimau bukan? Kau harus lebih berhati-hati tuan putri" Bibi Aiv
Carla mengangguk "Setidaknya aku merasa sedikit tenang sekarang, bi. Aku dan anakku ini baik-baik saja sampai sekarang" Carla
"Baguslah... Bibi merasa senang mendengar tentang kabarmu ini" Bibi Aiv
"Apa bibi baik-baik saja? Bibi makan dengan baik bukan?" Carla
Bibi Aiv tersenyum dan mengangguk "Bibi baik-baik saja dan sehat disini, tak perlu khawatir"
__ADS_1
"Maaf aku jarang mengunjungi bibi, mengirim surat pun tidak. Aku terlalu sibuk dengan urusanku dan kegiatan-kegiatan kerajaan" Carla
"Gak perlu sedih tuan putri, mendengar kau baik-baik saja aku sudah senang. Tak perlu mengirim surat untukku, minat bacaku sudah menurun sekarang. Aku sudah menua" Bibi Aiv
"Namun, kau tetap ibu bagiku bi.." Carla memeluk bibi Aiv dari samping, dan bibi Aiv pun membalas pelukan Carla sambil menepuk lengannya pelan.
"Kau sudah seperti anakku sendiri" Bibi Aiv
Sementara Aiden, dia sudah sampai di Istana Rumpelstiltskin membawa barang-barang yang Carla butuhkan. Aiden ikut menginap di Rumpelstiltskin untuk menjaga Carla selama dia disini.
Aiden masih tidak mengerti apa yang Carla inginkan, kadang keinginan dan emosinya juga berubah-ubah. Aiden harus lebih bersabar lagi menghadapi Carla.
"Aiden? Kau sudah tiba rupanya" Sapa Pangeran Harris
"Salam pangeran... Aku baru saja tiba disini." Aiden
"Apa ini semua barang bawaan Carla?" Pangeran Harris
Aiden mengangguk sambil tersenyum "Benar".
"Banyak sekali, untuk kau seorang pangeran. Banyak prajurit dan pelayan yang bisa membantumu. Kalau tidak sudah ku pastikan tubuhmu pegal-pegal." Pangeran Harris tertawa diikuti tawa Aiden.
"Boleh aku tau siapa nama anakmu pangeran?" Tanya Aiden sambil melihat bayi yang di gendong Pangeran Harris.
"Quely Harrison Avabella Elyona Rumpelstiltskin. Panggil saja Quely" Pangeran Harris
"Nama yang indah" Aiden menyentuh pipi Quely dan dia mengikuti kemana arah tangan Aiden.
"Tenanglah... Kau akan mendapatkan ini juga nanti" Pangeran Harris
"Benar, aku tidak sabar untuk menggendongnya" Aiden
"Apa Carla mengidam yang aneh-aneh?" Pangeran Harris
"Tidak pangeran, hanya saja suasana hatinya selalu berubah-ubah. Bahkan di usia muda kehamilannya dia sama sekali tidak mau melihatku" Aiden
"Wah... Itu lebih parah dari Abella" Pangeran Harris
"Yaa... Mau seperti apapun aku harus menerima itu, bahkan dia juga tidak mau tidur denganku" Aiden
"Maklumi saja, yang terpenting dia sudah kembali normal lagi bukan?" Pangeran Harris
"Iya aku senang dengan Carla yang sekarang" Aiden
"Apa yang sedang bapak-bapak ini bicarakan?" Timbrung Putri Abella datang dari dalam istana.
"Salam Putri Abella" Aiden
"Salam Pangeran Aiden. Kenapa kalian mengobrol di depan pintu istana? Masuklah" Putri Abella mengambil alih Quely dan Pangeran Harris menepuk pundak Aiden lalu mereka masuk ke dalam istana bersama-sama.
__ADS_1
...🍁...
Carla dan Aiden berada di kolam ikan karena Carla mengajak Aiden kesana untuk menemui ofish.
"Kau yakin tidak mau istirahat saja? Perutmu semakin membesar aku takut melihatnya" Aiden
"Takut? Kenapa?" Carla
"Aku takut kalau perutmu meledak" Aiden
Carla tertawa sampai dia duduk di pinggir kolam memegangi perutnya.
"Apa? Meledak? Yang benar saja! HAHAHA" Calra mendorong pundak Aiden sampai dia mundur beberapa cm ke belakang.
"Tidak mungkin akan meledak sayang, buktinya Putri Abella bisa melahirkan tanpa meledakkan perutnya" Carla
Aiden senyum kikuk, dia tetap saja ngeri menatap perut istrinya yang semakin membesar.
"Namun, aku berharap kau tidak kasar pada perutmu" Aiden
"Lagipula kenapa aku harus kasar dengan anakku sendiri? Kau ini kenapa? Ada ada saja" Carla mengatur nafasnya dan menatap Aiden yang masih berdiri.
Carla menghampiri Aiden dan menyentuh dada bidang milik suaminya.
"Berjanjilah kau akan bersamaku saat persalinan" Carla
Aiden meraih tangan gemuk Carla dan mencium punggung tangannya.
"Tentu sayang, ini anak kita. Aku akan menemanimu bahkan menjaga, merawat dan membesarkannya bersama mu" Aiden
"Terima kasih" Carla tersenyum.
Carla mendekati Aiden sambil memegang bahu suaminya, namun Aiden salah mengartikan maksud Carla. Dia mencium bibir Carla dengan lembut selama beberapa detik. Carla menjauhkan wajahnya dan menatap kedua mata Aiden.
"Kenapa kau mencium ku?" Carla
"Kau tau? Setelah nikah pun aku jarang menciumi, aku sennag kau hamil tua karena kau mau aku cium, lantas aku berpikir setelah melahirkan aku tak yakin bisa mencium mu lagi. Aku juga seorang lelaki." Ucap Aiden dengan nada gentlenya membuat Carla tersenyum manis
"Baiklah baiklah, kau tidak pernah meminta padaku. Jadi aku pikir, kau tidak mempermasalahkan hal itu" Carla
Aiden meraih kedua pinggang Carla dan menatap manik mata istrinya dengan intens.
"Tidak mungkin, aku juga pria. Aku juga mau orang yang aku sayang mencium diriku, kau paham ibu hamil?" Aiden
Carla tertawa kecil dan mengangguk "Iya iya, aku paham"
Aiden langsung mendekatkan tubuh Carla padanya dan mencium bibir Carla lagi dengan perlahan. Bahkan Aiden juga mengontrol nafsunya karena mengerti kondisi Carla yang sedang hamil besar.
...•...
__ADS_1
...•...
.... to be continued ....