Putri Carla

Putri Carla
Ending


__ADS_3

Tidak akan ada yang menyangka kalau Carla sudah tiada hari ini, semua orang terkejut. Vincent, Ellena, Raja Harris, Ratu Abella sert Quely datang ke istana Corvus. Quely berada di kamar Elio untuk menemani Elio yang terus terdiam sejak dia pingsan.


Sedangkan, Vincent, Ellena, Raja Harris dan Ratu Abella menangis di dekat peti kematian Carla. Selesai dimandikan tubuh Carla dibalut beberapa lapis kain untuk menutupi semua luka yang ada ditubuhnya dan hanya menyisakan wajahnya yang tampak cantik dan damai.


Namun, keluarga Carla tidak berhenti menangis terutama kedua orang tuanya yang terus mengeluarkan air mata ditepi peti mati Carla.


“Maafkan ayah, ayah tau ini terlambat. Namun... Ayah berharap kau bisa mendengar ini dan memaafkan ayah. Karena sudah memperlakukanmu dengan kasar saat itu.” Vincent


Ratu Ellena yang menangis itu tiba-tiba pingsan begitu saja. Vincent membopong tubuh Ellena untuk menepi dibantu Ratu Abella. Sedangkan Raja Harris masih berdiri sejajar dengan lutu Carla kemudian dia berjalan sejajar dengan wajah Carla air matanya mengalir dengan lancar namun tangisannya tidak bersuara.


“Kau... Adik terbaik. Kau satu-satunya adikku yang paling aku sayangi Carla. Kau pemberani walaupun kau keras kepala tapi aku beruntung kau seperti itu. Namun, hari ini dan kematian ini tidak aku inginkan. Kembalilah, bagaimana dengan Elio anakmu? Kau tega meninggalkannya? Tenang saja, aku akan menjaga Elio sebagai pamannya dan Aiden.” Ucap Raja Harris dengan lembut


Raja Harris mundur beberapa langkah dan memberikan penghormatan khusus, dia melepaskan mahkotanya dan membungkuk selama beberapa menit untuk menghormati adiknya.


Setelah itu, Raja Harris duduk di salah satu bangku kosong dan Ellena pun berjalan mendekati peti kematian Carla dengan jalannya yang lemah.


“Sayangku Carla... Kenapa kau bisa seperti ini sayang? Kenapa kau meninggalkan ibu? Ayah? Kakak dan anak mu? Kembali lah sayang, ibu akan menjaga dan memelukku lebih lama dan tidak akan ibu lepas sampai kapanpun. Kau...” Ellena kembali menangis lagi dan lagi


“Kau... hikss... ibu... hiks... minta... maaf... padamu nak. Baik-baiklah disana” Ellena berdiri dibantu oleh Ratu Abella yang sudah berjaga dibelakangnya.


Kemudian, Ellena memberi salam penghormatan diikuti Vincent dan Ratu Abella.


“Selamat tinggal Yang Mulia Ratu Carla” Ucap Ratu Abella


Aiden yang duduk di sebelah peti mati hanya bisa menampilkan wajah datar serta matanya yang merah dan sembab, tidak beda jauh dengan Maverick dan Putri Lily. Mereka semua sangatlah terpukul dengan kepergian Carla.


Axain? Axain ada di kursi paling depan yang terus saja menatap peti itu tiada henti, bayang-bayang kenangan bersama Carla semua ditayangkan dalam otaknya. Dan semua tampak indah baginya, namun dia tidak tahu kalau Carla akan meninggalkannya secepat ini. Bahkan ini seperti mimpi baginya.


(Katakanlah ini mimpi, maka bangunkanlah aku. Aku sudah tidak sanggup lagi) batin Axain, dan dia pun menangis dalam diamnya.

__ADS_1


Sementara, semua pangeran dan putri bergantian melihat Carla dan memberikan penghormatan terakhir untuk Carla. Termasuk Pangeran Gavin, dia mendekat ke peti Carla dan tersenyum disela tangisannya yang diam ini.


“Hai, selamat siang. Ini pertemuan terakhir kita bukan? Aku tidak menyangka pertemuan terakhir ini sangat tidak adil. Aku melihatmu namun kau tidak melihatku bahkan kau tertidur tenang saat ini. Carla... Kau putri pertama yang berhasil masuk ke hatiku, aku tahu Aiden yang memenangkan hatimu, namun jujur saja aku turut senang bisa menyukaimu yang sangat pemberani untuk seorang putri kerajaan...


Senang bisa mengenalmu, senang bisa berteman denganmu, aku berharap kau bisa bahagia disana. Aku akhiri ini semua termasuk perasaanku, selamat tinggal putri cantik.” Pangeran Gavin mundur beberapa langkah dan memberikan penghormatan yang cukup lama pada Carla dan setelah itu dia duduk namun tanpa disadari air matanya mengalir dengan mulus dipipinya.


Disisi lain, Elio masih terus diam dan Quely terus berusaha untuk mengajak Elio makan, minum, bermain. Namun, itu semua tidak digubris oleh Elio.


Dia hanya diam.


“Elio yang tampan, jangan kau sedih seperti ini. Aku datang untuk menghiburmu” Quely memeluk Elio


“Apa ibuku tidak akan bermain denganku lagi? Dia tidak akan tidur, mencium ku dan memelukku lagi?” Elio


“Tidak tidak tidak, ibuku bilang. Bibi Carla pasti masih akan tidur bersamamu, memelukmu dan mencium mu pangeran tampan” Quely


“Elio, aku ada disini. Kau tidak perlu menangis. Kau harus percaya yang aku katakan tadi, ibumu ada disini” Quely menunjuk hati Elio


Elio terdiam dan menatap wajah Quely dengan tatapan bingung


“Disini?” Elio menyentuh tempat yang tepat Quely tunjuk tadi


Quely mengangguk “Ibumu ada disini Elio”


Elio hanya diam yang terus memegang itu dengan kedua tangannya, Ratu Abella menyuruh Quely untuk mengatakan hal seperti itu untuk Elio. Karena Ratu Abella tahu, Elio pasti akan menanyakan ibunya dan kebiasaan yang ibunya lakukan tidak akan dia rasakan lagi.


...🍁...


Dan atas permintaan Aiden, Carla di makamkan dibelakang istana. Semua setuju, dan saat ini adalah waktu untuk mengubur peti mati Carla ke dalam tanah. Prosesi dilakukan sesuai prosedur istana Corvus. Sebelum di makamkan, semua orang memberi salam perpisahan dan perhormatan selama 1 menit bersama-sama.

__ADS_1


Setelah itu, peti mati akan dibawa menuju liang lahat diiringi dengan penghormatan pedang. Saat sampai di liang lahat dan peti mati sudah mulai terkubur tanah, Aiden meletakkan bunga nya dan mengucapkan kata-kata sebelum meninggalkan makam Carla.


“Carla... Aku akan menjaga Elio sebisaku, aku akan menjaganya dan menyanyanginya. Semua orang tidak menginginkan hal ini terjadi, termasuk aku... Kenapa kau harus meninggalkan aku disaat posisiku sudah ada diatas? Aku menjadi raja di istana Corvus dan kau ratunya, namun kau memilih hal ini. Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik, maafkan karena aku tidak membantumu saat melawan harimau itu.


Maafkan aku, ini semua salahku, semua karena kelalaianku. Andai saja bukan pelantikan menjadi raja, aku yakin kau masih tersenyum dan ada didekapanku saat ini. Aku rindu tawamu yang tidak akan pernah aku dengar lagi, aku rindu senyumanmu yang manis yang tidak akan aku lihat lagi. Aku tahu kau tidak akan mendengar semua kata-kata ku ini.


Namun, aku yakin. Kau sedang melihatku sekarang dari atas sana ya kan? Walaupun begitu, percaya dan yakin lah padaku kalau aku tidak akan menikahi siapapun. Hanya kau dan hanya seorang Ariel Carla Nataline Alexandrine Rumpelstiltskin yang akan aku nikahi, aku cintai, aku sayangi, aku rindu selama aku hidup. Tidak akan ada lagi wanita setelah kau. Percayalah. Baik-baik disana istriku...” Aiden menghela nafas kecil dan berdiri.


Dia tersenyum menatap sebuah batu betuliskan nama Carla dibawah sana, kemudian Aiden masuk ke dalam istana. Seperti inilah akhir dari kehidupan Carla, dia berani bertanggung jawab walaupun dia sempat ingin menghindarinya. Namun, takdir mengejarnya, sejak menembus portal itu semua mimpinya menjadi petunjuk dan hal-hal yang berbahaya mendekat pada Carla.


Berani berbuat berani bertanggung jawab, walaupun terkadang semua tidak seperti yang diharapkan. Namun, tanggung jawab tetaplah menjadi tanggung jawab.


...🍁...


Panas matahari semakin menurun, dan langit cerah akan berubah menjadi gelap. Namun, hal itu tidak membuat seorang anak kecil yang sedang duduk dihalaman depan istana ini bangkit dari duduknya. Dia terus menatap ke arah gerbang dimana dia melihat ibunya dibawa masuk dari arah sana.


Dan entah apa yang dia pikirkan, sehingga anak itu berlari menuju ke hutan dan berjalan perlahan sembari mengendap-endap menelusuri hutan. Dia bersembunyi dibalik pohon besar ketika ranting kayu yang patah terdengar ditelinganya.


Dan saat itu juga dia melihat harimau putih yang tidak terlalu besar sedang berdiri didepannya. Dia membuka matanya lebar saat melihat harimau itu, tak lama matanya menelusuri kedua tangan harimau yang menerka bahwa tangan hewan itulah yang membuat ibunya berdarah.


Anak itu menampakkan tubuhnya didepan harimau dengan beraninya, dia bahkan tidak membawa senjata apapun. Harimau itu tidak menyerang, bahkan dia hanya menatap anak itu yang sedang berdiri didepannya.


Tidak lama kemudian, harimau itu berbaring ditanah dan menundukkan kepalanya layaknya sedang hormat pada anak tersebut. Iya, anak itu adalah Elio.


...•...


...•...


.... the END ....

__ADS_1


__ADS_2