
Aiden mengajak Carla melihat bunga Lily dibelakang taman, awalnya Aiden mau mengajak Carla menunggangi kuda tapi Carla menolak dengan alasan panasnya matahari.
"Ternyata sudah sebagus ini" Carla
"Iya, Putri Lily merawatnya dengan baik" Aiden
"Apa perlu anak kita diberi nama Lily?" Carla
"Tidak! Kalau anak ini laki-laki bagaimana?" Aiden
"Ya ganti saja dengan nama laki-laki" Carla
"Aku yang akan memberikan dia nama jika anak pertama kita adalah laki-laki" Aiden
"Iya sayang" Carla
"Kau lapar?" Aiden
"Tidak" Carla menggeleng
"Kenapa? Biasanya kau minta makan?" Aiden
"Ini tidak biasa, aku malas." Carla
"Kau mau apa?" Aiden
"Denganmu saja" Carla tertawa kecil
"Eh, sejak kapan kau pandai merayu begini?" Aiden
"Sejak entah kapan" Carla
"Tak apa, asalkan jangan merayu pangeran yang lain" Aiden
"Salam pangeran, putri" pengawal datang disaat Carla dan Aiden selesai berbicara
"Salam, ada apa?" Aiden
"Ini sudah waktunya untuk perkumpulan pangeran putri di istana Pejasone." ucap pengawal
"Oh iya, pengawal itu benar. Aku sampai lupa" Carla
"Baiklah, terima kasih" Aiden
Pengawal itu memberikan hormat lalu pergi meninggalkan Carla dan Aiden.
"Ayo kita bersiap-siap" Aiden dan Carla berjalan menuju kamar mereka untuk bersiap-siap
...~ ~ ~...
>> At, istana Pejasone <<
Saat sampai di istana, ternyata semua pangeran dan putri telah sampai. Aiden dan Carla datang paling akhir.
"Kenapa kau tidak memberitahu kami Putri Lily?" Carla
"Aku juga diingatkan lalu pergi bersiap tanpa memberitahu kalian. Maaf" Putri Lily
"Sepertinya kita lupa ada cara pertemuan ini" Carla
"Iya, padahal aku sedang asyik tertidur" ucap Putri Lily lalu tertawa kecil setelahnya
"Baiklah, acara akan segera kita mulai" Pangeran Gavin
"Sebenarnya hari ini kita tidak terlalu membahas banyak. Seperti biasa kita hanya perlu pesta saja, sekaligus kita rayakan jadwal baru yang sudah diterapkan berjalan dengan baik" jelas Pangeran Gavin
"Ya sudah, kalau gitu mari kita bersenang-senang" seru Pangeran Sean
Karena hari ini mengadakan pesta dadakan, pangeran dan putri berpencar dari tempat duduk mereka ada yang keluar istana ada yang di perpustakaan ada yang diruang makan. Semua berpencar mencari tempat nyaman tersendiri.
Carla ada di perpustakaan bersama Putri Lily dan Putri Ivy mereka berbincang-bincang bagaimana serunya menikah dan yang lainnya.
"Sepertinya Putri Carla memang beruntung menikahi Pangeran Aiden. Aku sempat bermimpi menikahi pangeran gagah dan bijaksana seperti dongeng dongeng kuno itu" Putri Ivy
"Kau bisa mendapatkannya, jika di kerajaan pangeran itu masih menerapkan peraturan kuno" Putri Lily
"Dari buku yang aku baca, masih ada istana yang menerapkan sistem kuno. Mereka membuat circle dan tidak menerima perubahan peraturan dari luar" jelas Putri Ivy
__ADS_1
"Apa nama istana nya?" Carla antusias
"Nama istana nya adalah Hole Sun" Putri Ivy
"Hole Sun? Wah… aku tau kerajaan itu. Tidak diragukan aku bertemu dengan cicit raja kerajaan itu. Dan kalian tau? Dia tampan" Putri Lily
"Kau pernah bertemu?" Carla
Putri Lily mengangguk "Hanya sekilas melihat wajahnya saat dia berkunjung ke istana 15 tahun lalu. Aku masih ingat sampai sekarang, saat itu aku tidak bisa mengobrol dengannya karena aku dan Pangeran Aiden di suruh masuk ke dalam kamar" jelas Putri Lily
"Sangat disayangkan, aku ingin kesana. Tapi, ya mereka menjaga ketat dan selalu mengawasi tamu-tamu yang datang" Putri Ivy
"Kau pernah dengar tentang kerajaan Hole Sun, Putri Carla?" tanya Putri Lily
"Tidak, sepertinya aku memang tidak diizinkan atau diberitahu tentang dunia istana luar" Carla
"Hm… aku mengerti bagaimana kondisi kerajaan mu dulu" Putri Ivy
Pintu perpustakaan terbuka dan menampakkan wajah Pangeran Lynx dan Declan.
"Oohh… sepertinya ini zona tuan putri. Kita harus pergi" Pangeran Lynx
"Tidak apa, kalian bisa bergabung" Putri Ivy
"Baiklah kalau begitu" Pangeran Declan
Kedua pangeran itu membalikkan badannya dan duduk di sebelah Putri Carla.
"Apa yang kalian bicarakan?" Pangeran Declan
"Kerajaan Hole Sun" Putri Ivy
"Ohh… kalian mengkhayalkan Pangeran Curse? Benar bukan?" Pangeran Lynx
"Namanya Pangeran Curse?" tanya Putri Lily
"Pangeran Aiden tidak memberitahu dirimu? Hole Sun pernah berkunjung ke istana kalian bukan?" Pangeran Lynx
"Iya memang, tapi aku tidak tahu jika Pangeran Aiden tahu namanya" Putri Lily
"Dan baru sekarang kau tahu namanya?" Pangeran Lynx
"Ku rasa yang mengkhayal hanyalah Putri Ivy" Pangeran Declan
"Bagaimana bisa kau tahu?" Carla buka suara
"Jika mengobrol denganku dia terus berkhayal untuk menikahi pangeran gagah dan bijaksana disertai referensi buku yang dia baca untuk meyakinkan khayalannya" Pangeran Declan
"Oh iya? Seperti itukah kau jika bersama Pangeran Declan?" Carla menahan tawanya
"Dari banyaknya pangeran, hanya Pangeran Declan yang menerima fantasi pikiranku" Putri Ivy malu-malu
"Aku hanya mengiyakan apa yang kau khayalkan, lagipula dengan cerita begitu aku tidak perlu banyak menanggapi ucapan mu kan?" Pangeran Declan
"Ya lebih baik seperti itu" Putri Ivy
"Bagaiman kabar perjodohan mu Putri Lily?" goda Putri Carla
Pangeran Declan melirik Putri Lily begitu pula sebaliknya dan mereka saling menunduk setelah tatapan mereka bertemu. Hal itu membuat Putri Carla dan yang lainnya menahan tawa.
"Baiklah, seperti dua orang ini malu mengatakannya. Biar aku beritahu bagaimana susahnya mendekati Putri Aura" Pangeran Lynx
"Kau menyukainya?" Putri Carla
"Iya, aku menyukainya. Tapi, saat aku mengobrol dengan Pangeran Gary. Ternyata dia menyukai Putri Aura juga" Pangeran Lynx
"Lalu kau menyerah?" Carla
"Sepertinya, kau tahu melawan Pangeran Gary itu tidak mungkin" ucap Pangeran Lynx pasrah
"Kenapa? Karena umurnya lebih tua darimu?" Carla dan diangguki oleh Pangeran Lynx
"Bukankah Raja Lewis sudah menjodohkan kau dengan Putri Aura" Putri Lily
"Iya sudah, hanya saja Putri Aura belum menyetujui bahkan menanggapi saja tidak" Pangeran Lynx
"Seharusnya kau tidak menyerah begitu saja, kau juga bisa membuktikan pada Pangeran Gary kalau garis umur tidak menentukan pernikahan" Pangeran Declan
__ADS_1
"Aku setuju dengan Pangeran Declan" Carla
(Alasan Aura tidak menanggapi karena dia menyimpan rasa pada suamiku. Akan aku buat dia menerima mu Pangeran Lynx, tapi aku tidak rela kau baik harus menerima dia yang sifatnya seperti itu) batin Carla
"Pangeran Lynx? Bisa kau ikut aku?" Carla
Pangeran Lynx mengangguk, Carla dan Pangeran Lynx keluar dari perpustakaan dan berjalan santai di lorong hendak menuju halaman depan istana Pejasone.
"Kenapa kau tidak percaya diri?" Carla
"Seperti yang kau tau putri, garis umur biasanya lebih dominan dalam pernikahan" Pangeran Lynx
"Tapi, Raja Lewis dan Raja Ronan setuju untuk menjodohkan kalian. Lalau kenapa kau tidak percaya diri?" Carla
"Jadi, apa menurut mu aku bisa mengalah Pangeran Gary? Walaupun umurku lebih muda darinya?" Pangeran Lynx
Carla mengangguk sambil tersenyum "Buktikan kalau umur bukan penentunya, orang tua kalian sudah mendukung. Saatnya kau maju"
"Baiklah, aku akan berusaha melakukannya" Pangeran Lynx
"Masalah Putri Aura akan merespon perasaanmu atau tidak bisa aku bantu" Carla
"Wahh… terima kasih banyak Putri Carla. Aku berdoa agar pernikahan mu dengan Pangeran Aiden tidak ada masalah" Pangeran Lynx
"Semoga saja" Carla
Saat mulai menghadap ke depan, Carla memberhentikan langkahnya sesaat karena melihat Putri Aura yang sedang bersama dengan suaminya.
Aiden memojokkan Putri Aura di tembok, dan tangan Putri Aura ada di wajah Pangeran Aiden saat Carla melihat kejadian itu. Emosinya sungguh meluap saat ini.
"Putri Carla kau kenapa?" Pangeran Lynx melihat ke arah dimana Carla menatap dan dia menengok Carla dan Aiden bergantian
"Pu-putri sebaiknya kau kembali-"
Belum selesai Pangeran Lynx berbicara, Carla melangkah cepat mendekati Aiden dan Aura di ujung koridor. Pangeran Lynx ikut mengejar Carla yang sudah mulai menjauh.
(Apa kau tidak punya malu??) batin Carla
Saat sampai di hadapan Aiden dan Putri Aura, Carla mengontrol nafas dan emosinya sebisa mungkin dia menahan tangannya ahar tidak melayang di wajah Putri Aura.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Carla
"Ini tidak seperti yang kau lihat" Aiden
Putri Aura senyum kemenangan melihat Carla yang sudah ingin meledak saat ini. Tanpa menjawab Putri Aura menambah aksinya.
"Kita lanjutkan lagi kapan-kapan pangeran, salam…" Putri Aura menjauh meninggalkan Carla dan Aiden. Sedangkan, Pangeran Lynx langsung mengejar Putri Aura.
Suasana semakin sunyi ketika Carla hanya diam sambil menatap Aiden dengan tatapan tajam.
"Bisa aku jelaskan, semua tidak seperti yang kau lihat" Aiden
"Lalu yang aku lihat tadi itu sebuah drama untuk mengkhianati ku?" Carla menahan emosinya
"Bukan seperti itu" Aiden
"Aku tidak menyangka, disaat aku menjauh kau malah bersama musuhku? Iya?" Carla membuang nafasnya kasar dan meninggalkan Aiden.
Dia mencari tempat sejuk untuk menenangkan pikirannya dan berusaha berpikir positif walaupun bukan saatnya.
Di sisi lain tempat dia meneduh, Carla melihat Putri Aura sedang mencium Pangeran Lynx.
"Apa sih yang sebenarnya wanita itu mau? Setelah mengancam ku, dia ingin merebut Aiden, kemudian dia bermesraan dengan Aiden lalu sekarang? Dengan mudahnya dia mencium Pangeran Lynx seakan masalah yang lalu sudah selesai. Dasar wanita penyihir!" Carla duduk di rerumputan dan memejamkan matanya.
"Lihat! Bahkan saat bersalah seperti ini pun dia tidak ada niatan untuk mendekatiku dan menjelaskannya. Semakin bertambah kesalahannya" gumam Carla
Aiden memang tidak menyusul Carla, dia justru berjalan ke arah lain untuk melampiaskan kekesalannya. Karena istrinya melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat, yang tadi bukanlah yang asli dia ada alasan berdua dengan Putri Aura tadi bukan untuk bersenang-senang berdua.
...•...
...•...
.... to be continued ....
**partnya udah sejauh ini? gimana menurut kalian makin bingung?
ngebosenin? atau seru? aku butuh pendapat kalian tentang cerita ini. mungkin beberapa part lagi bakal end hehehe.
__ADS_1
jangan lupa vote nya yah, terima kasih 💜❤️**