
masih dimeja makan...
Tanpa ada suara lagi kami makan dengan nikmat
"Ternyata kak Nadhif jago masak juga, enak banget masakannya, perfect sebagai laki laki , selain tampan, pintar, jago masak lagi, eee tambah lagi satu kelebihannya yang membuat dia cocok jadi tokoh utama di Novel...yaitu kata kata kasar yang sering diucapkan padaku, walaupun beberapa hari ini sudah ada perubahan dari dia" aku menatap tanpa berkedip dan terenyum.
"heem...heem.." aku kaget dan gugup mendengar suara Nadhif, kepalaku, langsung tertunduk, aku tidak berani melihatnya, kumasukkan sendok yang berisikan nasi dan lauk kemulutku lalu kukunyah dengan cepat dan kutelan" disela sela makanku di berkata sesuatu yang membuat aku tersedak.
"Kamu terpesona sama aku ya Airin, apa kamu sudah mulai mencintaiku"
"hukk.huk..huk.." Nadhif dengan sigap mengambilkan air minum buatku sepertinya dia sudah tau apa yang akan terjadi padaku
"Pelan pelan Airin" ucapnya sambil mengusap punggungku..kembali jantungku berdetak kencang.
kupandang dia, terlihat senyum merekah yang melambangkan kemenangan buat dia, dengan santai dia kembali melanjutkan aktifitas makannya
"huu dasar kak Nadhif, Bisa bisanya dia menggodaku" gumamku sambil menatap tajam padanya
Selesai makan aku merapikan meja dan piring kotor Nadhif membantuku sengaja aku biarkan karena aku sedang malas berbicara padanya.
kegiatan bersih bersih berakhir lebih cepat karna Nadhif membantuku tadi, Nadhif memeriksa seluruh penjuru rumah memastikan sudah terkunci apa belum, sedangkan aku segera kekamar dan merebahkan tubuhku ke tempat tidur.
"heemmm nyaman sekali rasanya" aku berguling ke kanan dan kekiri...rasanya sangat menyenangkan ditambah lagi ingatanku saat makan tadi kembali menghampiriku membuatku semakin semangat dan kembali tersenyum senang, saat tubuhku berbalik kearah pintu kulihat Nadhif sudah berdiri didepan pintuku, ternyata aku lupa menutup pintu kamarku, reflek aku bangun keposisi duduk.
"Sejak kapan kakak disitu, ada perlu apa?"tanyaku dengan sinis padanya, Nadhif melangkah masuk kedalam kamarku dan melihat sejenak keliling kamarku.
"Siapkan baju secukupnya, dan simpan dilemari bajuku, lalu jangan lupa kunci kamarmu jangan sampai Umma tau kalo kita tidur terpisah" Nadhif mengingatkanku kembali tentang kedatangan ibunya besok
"Ok kak,...besok pagi sebelum aku berangkat aku simpan bajuku dilemari kakak" jawabku asal
"Kenapa tidak sekarang??"
"Aku capek kak, ingin tidur lebih cepat, kan besok harus bangun pagi" aku memijit mijit punggungku dengan tangan kananku, Nadhif menghampiriku dan meletakkan tangannya dipunggungku sambil memijitnya
__ADS_1
"Biar aku saja yang memijit badanmu"
aku menggeliat menolaknya dan menjauhkan darinya ...
"Udah kak gak usah nanti saat bangun tidur juga akan hilang sendiri capeknya“
"Baiklah, panggil aku jika kamu butuh bantuanku" lalu Nadhif melangkah kelur kamarku dan kembali kekamarnya.
aku bangun dari dudukku dan berlari kearah pintu lalu kukunci, aku kembali ketempat tidur dan menjatuhkan tubuhku yang akhirnya terlelap dengan nyenyak.
***
Kukuruyukkkk... kukuruyukkkk...
Lagi lagi alarm yang membangunkanku, aku bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, saat diluar aku mengetuk pintu Nadhif, membangunkannya untuk sholat subuh
tok ...tok...tok...
"Selamat pagi Airin..kita sholat subuh bareng ya" sapanya dan lalu mencium ujung kepalaku dan melepaskan pelukannya tadi, aku bangun dengan gelagapan dan langsung kekamar mandi.
"ternyata berpelukan dengan istri dipagi hari itu menyenangkan, menambah semangatku pagi hari ini" gumam Nadhif yang diikuti tertawa ringan dan masuk kembali kedalam kamar,
aku bersiap dengan mukena yang sudah kupakai, aku berjalan kearah kamar Nadhif pintunya terbuka dan ternyata dia sudah menungguku untuk sholat, setelah melihatku dia melambaikan tangannya dan menyuruhku, masuk kedalam
aku masuk kedalam kamar Nadhif untuk pertama kalinya kuarahkan pandanganku kesekeliling kamar
"waaahhh...untuk dikatakan kamar pria, ini sangat rapi, ruangan yang cukup luas, dibandingkan kamar yang aku tempati sekarang, kamar mandi, ruang ganti, sofa tunggal dan didepannya sebuah meja kecil, ada dalam satu ruangan dan semua tersusun sesuai dengan porsinya" bathinku menambah kagum pada laki laki ini.
Nadhif memanggilku dan melambai lambaikan tangannya padaku dengan maksud mengarahkan padaku yang sedari tadi masih terdiam melihat kanan dan kiri, untuk berdiri dibelakangnya dan memulai sholat...
Selesai sholat aku mencium punggung tangan Nadhif, dia tersenyum melihatku, akupun merasa senang seperti mimpi disiang bolong sholat berjamaah dengannya.
aku kembali kekamarku dan merapikan mukena yang aku pake tadi dan menggantinya dengan jilbab siap pake yang biasa aku pakai sehari hari.
__ADS_1
Aku bergegas turun untuk bersih bersih, kemudian masak. Setelah semua tersaji, aku kembali kekamarku untuk bersiap berangkat kerja, aku ambil beberapa potong baju rumah dan baju kerja untuk besok untuk ku pindahkan dilemari baju Nadhif.
tok ..tok...tokk
"Assalamualaikum...kak Nadhif ..?"
"Masuk aj Airin..."terdengar suara dari dalam kamar menyuruhku masuk kedalam..
Kubuka pintu dan aku masuk kedalam ternyata kosong,
"Dimana dia, tadi aku mendengar suaranya, kenapa sekarang tidak ada, aku mencarinya kekamar mandi tapi dia tidak ada disitu lalu kulangkahkan kakiku keruangan sebelah yang hanya tertutup tirai kain, aku membuka perlahan dan ...
"Aaarrrgggghhhhh...."spontan aku teriak dan menutup kedua mataku dengan tangan dan membalikkan badanku membelakanginya,
Nadhif sedang mengeringkan badannya dengan handuk, Astaghfirullah...apa yang sudah aku lihat.
"Kenapa harus teriak ..."ucap Nadhif datar
"Maaf kak ...aku g sengaja aku tadi mencari cari kakak tapi kakak g ada, aku cuma mau taroh bajuku seperti yang kakak bilang semalam".
"Ooo..taroh aj dilemari situ"
"Bagaimana bisa tarohb kakak masih telanjang gitu..." aku berkata dengan kesal padanya.
"Memangnya kenapa kalo aku telanjang, toh kamu jg akan melihatnya nanti bahkan kamu juga akan merasakannya.." merinding seketika aku mendengar ucapan Nadhif.
tidak habis pikir aku bahwa seorang Nadhif bisa bertingkah nakal seperti itu.
"Tenang Airin...tubuhku sudah halal buat kamu, tidak perlu kamu tutupi matamu, kita ini suami istri..."ucapnya dengan tenang.
"Iya benar kata kamu kak...kita memang suami istri, tapi ingat masih ada kontrak diantara kita dan itu menjadi batasan kata halal buat kita" aku sedikit marah dengan kelakuan Nadhif, sehingga mengingatkanku pada masa disaat dia berlaku buruk padaku
aku memberanikan diriku berbalik badan kearah Nadhif dan Alhamdulillah dia sudah berpakaian lengkap tapi dia hanya mematung melihatku tampak kesedihan dimatanya, aku menyimpan semua bajuku dilemarinya dan langsung bergegas keluar kamarnya
__ADS_1