
"Sekarang cepat katakan, apa maumu?" kalimat pertama yang aku keluarkan saat sudah didepan Anto, dia kembali menatapku dalam, ingin dia memegang pundakku tapi aku tepis
"Airin, aku tidak bisa melepasmu, aku sudah berusaha melupakanmu tapi aku gak bisa, malah semakin aku teringat kamu"
kuhela nafas panjang dihadapannya
"Astaghfirullah.... istighfar Anto, kamu taukan aku sudah bersuami, lagi pula kita baru kenal beberapa hari, apa itu masuk akal?" aku berusaha menenangkannya
"Buatku itu masuk akal Airinn, aku jatuh cinta padamu dari pertemuan pertama dan hingga sekarang, aku tidak pernah seperti ini Airin, akan selalu menunggumu Airin, dan aku siiap menunggumu kapanpun disaat kamu ingin meninggalkan suamimu" pandangan Anto kali ini sangat tajam padaku, dan aku Bisa melihat keseriusan dimatanya.
"Apa maksud perkataanmu barusan? apa kamu ingin rumah tanggaku hancur, sudah gak war** kamu Anto" aku marah mendengar apa yang diucapkan barusan
"Maaf Anto, lupakan aku, pasti akan mudah bagimu melupakanku karena kita baru kenal, lihat mereka yang didalam sana, banyak gadis yang menyukaimu dan mereka menunggumu, bukalah hatimu dan pilihlah salah satu diantara mereka, bukan aku..." Ucapku setengah marah dan aku sadar sedari tadi banyak mata yang mengawasi kami berdua
"Aku sudah ada yang punya dan hatiku sudah terkunci untuk suamiku, asal kamu tau sepelik apapun biduk rumah tanggaku, aku akan bertahan sekuat tenaga, jadi jangan menunggu dan berharap kepadaku Anto? karena keinginanmu tidak akan pernah tercapai, Maaf" ucapku terakhir sebelum aku meninggalkannya
"Ijinkan aku terus mencintaimu Airinnn... Aku tetap akan menunggumu dan tidak akan aku melepaskan kamu" aku masih dapat mendengarkan teriakannya dan itu membuatku takut dengannya.
****
Tak terasa sudah sebulan aku bekerja diperusahaan ini, aku cukup nyaman dengan pekerjaanku dan fasilitas yang didapat, hanya saja ada seseorang yang membuatku sangat tidak nyaman dia adalah Anto, hampir tiap hari dia selalu memberikan hadiah hadiah buatku, tapi aku tak pernah menerima satupun hadiah itu, karena jika aku menerimanya itu sama saja aku memberi peluang padanya dan membuat lubang di rumah tanggaku sendiri, akupun lebih banyak berada diruanganku bahkan saat istirahat siangpun aku minta Lia atau Lina untuk membawakan makanan buatku, mereka tau apa yang sudah terjadi dan memahami kondisiku.
Saat Istirahat siang aku mengajak Lia untuk sholat dzuhur dimushola, ternyata Lia sedang ha**, jadi akupun sholat sendiri, disela perjalananku aku jadi teringat kapan terakhir aku Ha** dan mulai menghitung kapan seharusnya aku Ha** bulan ini.
"Seharusnya sudah waktunya Aku ha**, jika dihitung ini sudah telat 1 minggu dan satu minggu ini juga aku merasa badanku mudah lelah dan sering mual dan muntah, apa saat ini aku sedang hamil" Ada rasa bahagia yng sangat dihatiku, tapi juga ada rasa cemas, apa Nadhif akan menerima kehamilanku yang secepat ini
"Bagaimana jika aku benar benar hamil"
__ADS_1
deg...deg...deg...duh jantungku tiba tiba berdegub kencang lalu kusentuh perutku perlahan
"Sepulang kerja nanti aku harus mampir keapotek" ucapku dan aku langsung melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslimah.
Pulang kerja aku masih dijemput dengan ojek online, saat ditengah jalan aku melihat apotek yang ada dipinggir jalan, aku meminta mas ojek online itu untuk berhenti sejenak, aku turun dan masuk kedalam apotek itu lalu aku membeli tesp*** dan berlanjut pulang kerumah.
***
Aku melihat Nadhif yang setelah sholat isya tadi masih sibuk dengan laptopnya, akupun tidur lebih dulu, karena rasa ngantukku yang sangat akhirnya aku terlelap
Keesokan pagi, aku bangun tanpa suara alarm, masih seperti biasa, aku membangunkan Nadhif untuk sholat subuh
"Kakk...bangun sudah mau sholat subuh"
"Hheeeemmm...iya aku sudah bangun sayang" lalu Nadhif mengambil posisi duduk dan bersandar
Saat dikamar mandi akupun membuka bungkus testp***dan memeriksa uri**ku, aku sengaja memeriksanya pagi ini, karena menurut info yang aku dapat, kehamilan baik jika diperiksa dipagi hari
5 menit waktu yang aku butuhkan untuk menunggu hasil, aku mengambilnya dan menutup mata, lalu kubuka perlahan dan ternyata ada dua garis yang muncul di alat itu
"Alhamdulillah...ya Allah, terima kasih atas rizky yang engkau berikan padaku, benih yang engkau tanam dirahimku" bathinku bahagia, kupeluk alat itu, ingin rasanya aku segera memberitahukan pada Nadhif tentang kehamilanku ini, kuletakkan alat itu ditempat perlengkapan mandiku dan dengan segera aku menyelesaikan mandiku, aku langsung berganti pakaian lalu keluar
Dengan semangat 45 aku mencari Nadhif tapi ternyata dia tidak ada dikamar, tak lama ponsel Nadhif yang ada di tempat tidur berdering, kulihat siapa yang menelepon dia pagi pagi seperti ini.
"Andi..,hemmm siapa Andi, ahh mungkin temannya" telp itu berdering berkali kali, lalu terdengar bunyi notifikasi pesan masuk, dan itu dari Andi, aku melihat pesan itu lalu kubaca pesan itu sekilas dari halaman luar ponsel
"Assalamualaikum...Nadhif orangku sudah menemukan Fanda....." hanya sebagaian yang terlihat. aku berdiri dan pindah duduk di kursi depan kaca berhias
__ADS_1
Kulihat Nadhif masuk kekamar tanpa semangat
"Kak ponselmu berdering berulang kali"
Dia tidak menjawab namun langsung lari menghampiri ponselnya, aku melihatnyaa dari cerminan kaca didepanku memandangi dan memainkannya, senyumnua mengembang lebar melihaat pesan yang masuk tadi, lalu menelepon seseorang.
"Assalamualaikum...Andi apa benar yang kamu Bilang"
"Baiklah, sepulang kerja kita kesana"
lalu Nadhif menutup telpnya, wajahnya sangat berbinar, aku tidak menanyakannya karena aku sudah tau apa alasan yang membuat Nadhif sebahagia itu
"Kakk. .ada yang ingin aku beritahukan..."Aku memegang tangannya saat dia lewat didepanku? tapi dia berkata untuk memberitahunya nanti
"Nanti saja kita bicara Airin, sekarang aku mau mandi dulu," sangat sedih mendengar Nadhif bicara seperti itu, karena aku tau dia terlalu semangat mendapatkan kabar tadi dan terlihat dia sudah tidak sabar ingin bertemu wanita itu? akhirnya kuurungkan niatku tadi
"Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahunya" aku mengelus perlahan perutku
****
"Airin hari ini akan ada meeting dengan presiden direktur kita, saya ingin kamu mewakilkan saya hadir dirapat itu, karena saya ada meeting ditempat lain, dan Lia sudah ada tugas sendiri, jadi saya harap kamu tidak menolaknya" bu Irene menjelaskan semua tugas kami masing masing dia tau aku sedikit keberatan dan hendak meminta Lia untuk menggantikan aku
" Baik bu jam berapa meetingnya bu?" taNyaku pada bu Irene
"Jam 10 tepat, jangan sampai kamu terlambat ya, sekarang saya berangkat dulu" kulihat Lia hanya tersenyum dan mengangkatbkedua bahunya.
"Airin ...cepetan naik sono ntar yang ada telat meetingnya, gosipnya bos disini galak dan dia g suka kalo ada yang terlambat datang meeting" Lia mengingatkan aku, dan ku lihat jam ditangan sudah jam 9.45, akupun mengambil berkas yang akan kubawa dan berlari menuju lift.
__ADS_1