Rahasia Lain Suamiku

Rahasia Lain Suamiku
Penyesalan 2


__ADS_3

1 jam kemudian mama, papa dan Adit sudah tiba diruang tunggu IGD, dari kejauhan mereka berlari menghampiri kami terlihat wajah yang penuh kekhawatiran bahkan melebihi umma tadi, aku menghampiri mereka menyalami dan memeluk mereka, tangisan mama pecah saat itu juga, lalu umma memeluk mama dengan erat, papa dan Adit terlihat lebih tenang seperti abu dan mereka pun duduk di kursi di depanku.


kembali dokter Nurma menghampiri kami, kali ini bersama seorang dokter bedah mereka menjelaskan tentang operasi yang akan dijalani Airin dari penyebab, sampai efek pada Airin dan janin yang dikandungnya, kami sepakat dan setuju agar Airin menjalani operasi, lalu mereka memberikan surat persetujuan pelaksanaan operasi, aku sebagai Suaminya menandatangani surat persetujuan itu.


Seorang perawat memberitahukan bahwa Airin akan dibawa ke ruang Operasi dan Tak lama dokter dan perawat mendorongnya ketempat operasi, kamipun mengikuti, aku berjalan disamping Airin, tangannya yang dingin selalu kupegang hingga tiba di ruangan operasi, semua keluarga menunggu diruang tunggu hanya aku yang bisa masuk kedalam karena ada surat yang harus ditandatangani lagi olehku, setelah selesai akupun menunggu diruang tunggu bersama Abu, papa, umma, mama dan Adit.


Sudah hampir 3 jam aku menunggu, tapi belum ada tanda tanda bahwa operasi telah selesai, aku masih panik namun tak sepanik tadi,karena memang benar sholat dapat membuat hati kita tetap tenang. umma menyuruhku untuk makan, karena sedari tadi aku emang belum masuk satupun makan an keperutku


"Nadhif, makanlah dulu, sejak umma datang umma belum lihat kamu makan, makanan yang umma bawa juga kamu g menyentuhnya sama sekali, yang ada kamu jatuh sakit"


"Apa Nadhif bisa makan umma, sedangkan istri dan anakku masih berjuang didalam sana, tunggu sebentar umma sampai Nadhif tau kondisi Airin" ucapku lirih namun masih terdengar oleh semuanya.


"Umma tau kamu sangat mencintai Airin, tapi kamu juga harus menjaga kesehatanmu, kalo kamu sakit siapa yang menjaga Airin saat dia sadar" ucap umma mengingatkanku


"Baik umma Nadhif akan makan tapi setelah operasi Airin selesai"


Pintu kamar operasi terbuka dan 2 orang dokter dengan menggunakan baju operasi yang menangani Airin keluar secara bersamaan, dokter Nurma spesialis kandungan dan dokter Fauzan spesialis bedah yang katanya dokter terbaik di rumah sakit ini. Tanpa menunggu lama aku menghampiri mereka


"Bagaimana istri saya dokter"


"Alhamdulillah..operasi berjalan lancar, tapi kondisi pasien saat ini masih belum sadar" jelas dokter Fauzan kepada kami, lega rasanya mendengar kondisi Airin dan akupun kembali menanyakan kondisi janinnya


"Lantas bagaimana kondisi janin yang dikandungnya, apa bisa diselamatkan"


"Seperti yang saya bilang tadi, janinnya sangat kuat, dia ingin berjuang bersama ibunya dan sepertinya janin tersebut ingin lahir kedunia ini dari rahim nona Airin, untuk saat ini anda bisa tenang tuan muda" Aku merasa sangat bersyukur, Allah masih memberikan aku kesempatan kedua untuk menebus kesalahanku pada Airin dan anakku.


"Kami akan memindahkan Nona Airin keruangan intensive terlebih dahulu, dan memantau perkembangan pasca operasi" ucap dr. Fauzan kembali menerangkan pada kami

__ADS_1


"Baik dokter, terima kasih atas usahanya dan telah memberikan yang terbaik untuk Menantu saya" kali ini abu yang mengucapkan terima kasih pada dokter Fauzan dan dokter Nurma


Kini ada rasa lega dihatiku, tubuh terduduk dan baru terasa lapar diperutku, aku memegang perutku dengan mimik meringis menahan sakit perut,


"Nadhif.. kamu makan dulu ya, papa lihat kamu belum makan dan Andi juga bilang sedari siang kamu belum makan. Jangan sampai kamu yang jatuh sakit" ucap papa saat melihatku yang sedang menahan rasa sakit.


"Betul kata papa, Airin dan janinnya butuh kamu nak, kamu harus kuat, tadi mama melihat berkali kali kamu menahan sakit, sengaja mama biarkan tadi karena mama tau Withkamu sedang panik, tapi sekarang kondisi Airin sudah lewat dari masa kritis" mamapun dengan berhati hati mengingatkanku bahwa keberadaanku saat ini sangat dibutuhkan Airin dan janinnya


"Baik ma, kalo gitu Nadhif pergi makan dulu, mungkin sekalian Nadhif pulang kerumah, mau ambil baju dan kebutuhan Airin saat siuman Nanti"


"Hati hati ya, Andi tolong kamu jaga Nadhif ya" umma langsung melihat kearah Andi.


"Siap umma Andi akan selalu ada disamping Nadhif".


" Pa, Ma, umma, Abu Nadhif pamit ya, segera beritahu kalo Airin siuman" aku mencium punggung tangan mereka satu persatu lalu berjalan meninggalkan mereka


"Abu, Umma, Om, tante Andi pamit ya"


Andi memang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh kedua orang tuaku, dan Andipun memanggil dengan sebutan yang sama denganku Abu dan Umma


****


Dalam perjalanan pulang kami menyempatkan diri untuk makan terlebih dahulu, awalnya aku enggan tapi Andi selalu mengingatkan pesan mama tadi


Sesampainya dirumah aku langsung naik kekamarku disusul juga Andi, didalam Andi membantuku merapikan bajuku dan Airin yang sudah kusiapkan, lalu aku masuk kekamar mandi kuambil perlengkapan mandi Sikat gigi, sabun mandi, pasta gigi shampoo dan beberapa handuk saat aku mengambilnya dari rak yang ada didalam kamar mandi ada yang terjatuh dan saat kulihat aku terkejut, ternyata itu adalah alat test kehamilan, kuambil dan kulihat terdapat 2 garis warna pink ditengah alat itu, aku kembali mengingat kondisi Airin dan janinnya, kuhela nafas panjang berkali kali, lalu aku mengingat sesuatu.


"Apa mungkin ini yang ingin Airin beritahukan padaku, berita bahagia yang seharusnya kudengar tapi dengan bo***nya aku untuk menolak mendengarnya, karna keegoisanku aku menyakiti dia.." Airmataku mengalir perlahan dan aku mendekap alat peemeriksa kehamilan itu dan memasukannya kedalam kantong celanaku, lalu aku keluar kamar mandi.

__ADS_1


Andi melihatku dengan penuh tanya dia menghampiriku yang bediri linglung dan memapahku duduk disofa yang ada dikamar


"Apa yang terjadi Nadhif, kenapa kamu keluar dengan derai airmata?"


"Aku menyesal Andi, aku bo***, tadi sebelum berangkat kerja, Airin bilang kalo ada yang ingin dia beritahukan padaku, tapi aku menolaknya dan bilang nanti saja dia, aku terlalu gembira dengan adanya kabar tentang Fanda, padahal dia hanya ingin memberikan kabar bahagia ini"


"Aku egois, aku jahat pada Airin, aku lebih memilih mencari Fanda dari pada mendengarkan istriku sendiri bahkan aku tega membiarkan dia pulang sendiri, padahal bisa saja aku mengajaknya pulang bersama dan kejadian itu tak kan terjadi"


Andi memelukku dan menepuk punggungku perlahan dia berusaha menenangkanku


"Itu semua takdir yang suda tertulis Nadhif, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, dan setelah ini kamu harus memperlakukan Airin lebih baik dan menjadikannya prioritas kamu, Allah memberikan kamu kesempatan kedua dengan cara menyelamatkan Airin dan janinnya, kamu diberikan bonus Nadhif, secara logika usia janin 8 minggu sangat lemah dan rentan, dengan adanya benturan yang kuat sudah bisa dipastikan janin itu meninggal dan bisa saja Airin mengalami keguguran, tapi tidak kan?, pasti ada rencana lain didepan buat kamu yang sudah ditentukan oleh Allah" lagi kata kata bijak itu keluar dari bibir Andi.


Ting...suara pesan masuk dari ponsel Andi, diambilnya ponsel yang ada di saku bajunya dan membuka kunci layar di ponselnya, pesan itu dari Baron orang suruhan Andi yang diberikan tugas mencari Fanda, Andipun membuka pesan itu dan membaca


Baron


Assalamualaikum...bos, saya sudah menemukannya...


Andi


Bagus, dimana dia sekarang? dan beritahu alamat rumahnya, jika ada sertakan foto wanita


Baik bos saya kan mengirimkan foto yang saya ambil tadi


Andi


Saya tunggu...

__ADS_1


Andi mengakhiri pesan itu


Andi melihatku dan menungguku tenang, kulihat Andi masih sibuk dengan ponselnya, Tiba tiba ku lihat raut muka Andi berubah, awalnya kaget lalu mengernyitkan dahinya dan melebarkan matanya dan mendekatkan ponsel kearah wajahnya.


__ADS_2