
Nadhif kembali kerumah sakit, sebelumnya Andi menghubungi Lina dan menanyakan ruangan Airin dirawat. Mereka langsung menuju lantai 6 yang dikhususkan untuk ruangan VVIP...
Sreeggg...
"Assalamualaikum..." pintu kamar terbuka dan masuk dua sosok pria tersebut, Nadhif langsung menghampiri Airin dan duduk disamping tempat tidurnya, sedangkan Lina dan Lia yang tadinya berada disamping Airin langsung berpindah ke sofa setelah menjawab salam dan melihat Nadhif dan Andi masukb yang disusul Andi merebahkan diri disof samping Lina tapi masih berjarak.
"Sayang gimana kondisi kamu?" Nadhif memegang tangan Airin dengan lembut dan memegang perut Airin juga melayangkan pandangannya fokus pada wajah cantik Airin, Senyuman yang dikeluarkan Airin cukup membuat suasana hati Nadhif membaik setelah tadi dia menahan amarah pada orang orang yang sudah menyakiti istri tercintanya
"Alhamdulillah...aku dah baikan kak, o ya gimana tadi kak Nadhif g sampai memecat mereka kan?" dengan wajah memelas Airin bertanya pada Nadhif
"Kamu ini ya ...masih aja mikirin orang, sedangkan kondisi kamu seperti ini memangnya mereka juga mikirin kamu?" jawab Nadhif sambil mengusap usapkan tangannya pada kepala Airin dengan perlahan
"Kak.. terserah orang mau berpikir dan berbuat apa tentang aku, kita, tapi jangan sampai kita yang menyakiti orang lain, Allah pasti punya cara tersendiri untuk menegurnya, aku tidak ingin kakak menjadi orang yang menyakiti orang lain hanya karena emosi dan dendam" kata kata Airin sungguh menyayat hatinya, karena dia pernah menyakiti wanita yang kini sangat dia cintai dan tidak ada dendam sedikitpun padanya, rasa penyesalan pada diri Nadhif semakin dalam dan tanpa terasa dia menangis sambil mencium punggung tangan Airin
"Maafin aku Airin ..maaf karena aku pernah menyakitimu, melukai hatimu yang bersih, aku menyesal sangat menyesal.." kembali Nadhif menangis, Airin mengangkat tangan yang digenggam Nadhif dan ditopang dengan tangan satunya
"Kak, itu masa lalu, lupakan dan maafkan aku yang sudah membuatmu ingat akan kejadian masa lalu, aku sudah memaafkanmu sejak dulu dan tidak pernah aku menyimpan dendam padamu kak, saat ini yang aku inginkan adalah berjalan kedepan bersamamu kita hadapi bersama rintangan yang ada didepan nantinya dan berjanjilah jangan tinggalkan aku kelak nanti karena aku akan selalu setia disampingmu, aku sangat mencintaimu kak Nadhif" masih dengan keanggunan dan kelembutan kata kata itu keluar dari mulut dan hatinya, rasa syukur yang sangat Nadhif ucapkan dalam hati karena diberikan istri dengan hati yang mulia hati yang tidak mempunyai rasa dendam pada orang yang sudah menyakitinya.
"Kak gimana pak juki, bu Sum dan anak anaknya?" tanya Airin mengalihkan pikiran Nadhif yang sepertinya masih merasa menyesal pada Airin
"Sore ini Andi menjemput mereka, kemaren surat kepindahan yang mereka urus masih belum beres" dilihatnya respone Airin yang sangat bahagia tentang kedatangan keluarga pak Juki
"Sayang sepulang kamu kita makan malam bersama ya nanti kita ajak mama, papa, umma dan abu sekalian kita kenalkan keluarga pak Juki" tambah Nadhif yang sudah pasti menambah senyum Airin dan anggukan
"Adit?"...tanya Airin
__ADS_1
"Tentunya"
"Kakak g kerja?" Nadhif hanya menggelenng
"Banyak meeting yang harus kakak hadiri, kerjalah kak, disini masih ada Lina dan Lia yang menemani aku" Lina dan Lia yang merasa namanya disebut dan berkata
"Yang penting pak bos jangan kasih SP ya buat kita hari ini" Airin yang mendengar kata mereka berdua kembali tertawa begitu juga Nadhif
"Padahal tadi sudah saya siapkan SP untuk kalian" kali ini yang menjawab Andi dan dibalas dengan cubitan dari Lina
"Aauuww...sakit yang" teriakan Andi yang membuat semua tercengang, kecuali Nadhif yang memang sudah tau tentang hubungan mereka berdua, bukan karena suara teriakan tapi karena panggilan 'yang' yang dilontarkan Andi, Airin memicingkan matanya kearah Andi
"Jadi kalian sudah jadian cepat amat"
"Waahhh ..Now you owe me a story Lin" ucap Airin yang merasa bahwa sahabatnya yang satu ini telah menyembunyikan kisah cintanya
"Dan cepat kalian resmikan, supaya g tambah dosa" kata kata Airin itu justru membuat yang lain menggoda Andi dan Lina
Mereka berlima berbincang dan bercanda, sosok Nadhif yang seperti ini yang langka ditemui jika sudah dikantor atau diluar tanpa Airin, tak terasa jam ditangan Andi sudah menunjukkan pukul 3 sore, itu tandanya sudah saatnya Andi menjemput keluarga pak Juki
"Aku pamit duli ya dif...mau jemput keluarga pak Juki" Andi langsung berdiri dari duduknya dan diikuti Lina
"Aku ikut"
"Aku juga yang ada aku dijual sama pedagang asongan nanti kalo nemenin mereka" ucap lia yang tidak ingin dianggap kacang oleh Nadhif dan Airin, mereka bertigapun pergi meninggalkan suami istri itu didalam kamar rawat menuju tempat tinggal pak Juki dan keluarga
__ADS_1
"Kak aku ngantuk, mau tidur dulu ya?" Nadihf menganggukkan kepalanya lalu berdiri membantu Airin yang merubah posisinyan Nadhif menaruh bantal dibawah kepala Airin lalu Airin meletakkan kepala pada bantal yang diberikan Nadhif.
"Tidurlah sayang, aku akan disini menemani kamu. Sayang abu, bobok juga ya, terima kasih sudah jaga umma dan bertahan didalam tubuh umma, anak abu pasti kuat dan abu tunggu kamu lahir kedunia ya" Nadhif menggenggam tangan Airin dan mencium perut Airin dan berbisik pada buah cinta mereka yang masih berada diperut Airin
****
Andi, Lina, Lia dan keluarga pak Juki sudah sampai di rumah Nadhif, mereka merapikan barang barang pak Juki yang tidak banyak yang tadi diangkut pick up yang disewanya ke dalam kamar yang ada di dekat dapur dan kamar untuk anak anaknya disampingnya
Andi sudah menawarkan kamar tamu yang ada disamping kamar tamu utama sesuai mandat yang didapat dari Nadhif namun mereka lebih memilih kamar yang ada didekat dapur denagn alasan memudahkan istrinya bu Sum bekerja, Andi juga sudah mendaftarkan sekolah untuk kedua anak pak Juki, Mira dan Dinan di sekolah dasar dan taman kanak kanak area perumahan Nadhif dan tentunya itupun mandat dari Nadhif karena permintaan istrinya, sebenarnya tanpa dimintapun Nadhif juga akan melakukan hal yang sama seperti yang diminta istrinya itu
"Bu ...rumahnya gede banget ya" ucap kagum Mira dan Dinan saat memasuki rumah dan mereka lebih kagum lagi bahwa mereka mempunyai kamar sendiri, tak henti hentinya mereka memuji kebaikan suami istri itu.
"Kita bersyukur ya pak ketemu sama non Airin, yang sudah membantu kita, boro boro tinggal disini, bisa buat makan aja tiap hari aja kita dah alhamdulillah.." bu Sum menangis dipelukan pak Juki, tangisan bahagia dan rasa syukur mereka pada Allah yang telah mempertemukan mereka denganmanusia berhati berlian
"Makanya bu kita harus membayar dengan kesetiaan jangan sampai kita mengecewakan mereka yang sudah baik pada kita" bu Sum mengangguk setelah mendengar ucapan pak Juki suaminya
Andi, Lina, dan Lia yang melihat moment itu merasa terharu dan semakin kagum pada sahabat dan bosanya itu, diluar sisi galak dan tegasnya ternyata memiliki sisi yang lembut dan rasa peduli pada sesama dan memang cocok dengan istrinya yang memang Lina ketahui bahwa Airin memang mempunyai hati yang lapang dan baik sejak dulu
"Hari ini kalian tinggal sendiri dulu, karena Non Airin masih dirumah sakit dan pak Nadhif menemaninya disana"
"Non Airin sakit apa den Andi?" tanya pak Juki pada Andi
"Pak panggil saya Andi, anggap saya anak bapak jangan panggil den ya, Non Airin kelelahan saja kemungkinan besok atau lusa baru pulang" Pak Juki dan bu Sum mengangguk terlihat aura kekhawatiran diwajah mereka
"Saya titipkan rumah ini pada bapak dan ibu, ini kuncinya semua keterangan tertera disitu dan nama pada masing masing anak kunci nya, jangan lupa untuk menutup semua pintu dan hati hati ya pak, bu, Andi pamit dulu kalo ada apa apa bapak bisa hubungi nomor saya atau langsung pak Nadhif" Andi memberikan beberapa anak kunci yang tertulis masing masing tempatnya dan juga memberikan 2 box yang berisikan ponsel untuk pak Juki dan bu Sum yang tentunya sudah disetting terlebih dahulu, mereka menerima dengan bahagia, matanya berbinar binar, sebelum pergi Andi mengajarkan sekilas cara menelepon sedangkan Lina mengajari bu Sum untung saja mereka cepat mengerti jadi tidak terlalu lama mengajarinya, setelah itu mereka memanggil Lia yang sedari tadi bermain bersama Mira dan Dinan lalu berpamitan pada pak Juki dan keluarga
__ADS_1