
Sepulang dari rumah Nadhif,Andi mengantarkan Lia dan Lina kembali kekantor lalu dia balik kerumah sakit untuk menemani Nadhif menjaga Airin
Diruang rawat, Airin terbangun dan melihat Nadhif yang juga tertidur dengan posisi zaduduk disamping tempat tidur dengan kepala bersandar pada tempat tidur pasien dan tangan tetap menggenggam tangannya, melihat Nadhif yang tidur lelap dengan posisi seperti itu Airin merasa kasihan pada suaminya itu, di usapnya kepala suaminya itu dengan penuh kasih sayang dan sentuhan itu membuat Nadhif terbangun
"Eeehhmmm....sayang kamu sudah bangun, maaf ya aku ketiduran tadi" ucap Nadhif sambil meregangkan tubuhnya yang baru bangun
"Aku juga baru bangun kok, kak Nadhif capek banget ya, maaf ya kak aku sudah merepotkan terus" Airin merasa tidak tega melihat wajah suaminya yang penuh kelelahan
"Sudahlah sayang aku tidak pernah merasa direpotkan sama kamu, aku suamimu dan ini sudah kewajibanku, jadi tolong berhenti mengatakan itu, aku melakukan semuanya karena aku mencintaimu Airin, apapun akan aku lakukan untukmu" semua yang diucapkan Nadhif menyentuh hati Airin dengan kedua tangan yang berada dipipi Airin dan pandangan mata menatap penuh cinta pada Airin
"Aku percaya sama kakak...aku juga sangat mencintai kakak" balas Airin dengan senyuman bahagia dan satu kecupan kecil dibibir Nadhif yang membuat Andi berdiri mematung didepan pintu, sengaja Andi membuka pintu perlahan dengan maksud tidak menggangu istirahat Airin dan Nadhif, namun ternyata dugaannya salah, dia malah melihat drama percintaan yang membuatnya merasa malu sendiri
"heemmm...hheemmm..." sontak Airin dan Nadhif mengalihkan pandangannya pada asal suara tersebut
"Oh kamu Ndi, Lina dan Lia dah pulang" kata pertama yang dikeluarkan Nadhif saat melihat Andi yg mematung, sedangkan Airin hanya tersenyum, Andi hanya berfikir bahwa kedua manusia yang ada didepannya ini sudah tidak punya malu setelah kepergok sedang bermesraan, justru dia merasa kalah dan malu sendiri
"Haa... ooo..mereka sudah aku antarkan kekantor, karena ada kerjaan yang harus diselesaikan sama mereka" jawab Andi sedikit gelagapan dan langsung menjatuhkan diri disofa yang tadi dia tempati
"Ndi gimana pak juki dan keluarganya, sudah sampaikah dirumah?" tanya Airin pada Andi
"Alhamdulillah...mereka dah sampai dirumah, sudah kubilang juga kalo kalian hari ini tidak pulang, dan juga ponselnya sudah aku berikan pada mereka ya" jawab Andi dengan badan yang bersandar pada sofa
__ADS_1
"Ponsel maksud kamu?" Andi menunjuk Nadhif dengan dagunya yang mengartikan bahwa dialah yang membelikan ponsel itu untuk pak Juki dan bu Sum lalu Airin mengalihkan pandangan pada orang yang dimaksud diberikannya senyuman yang lebar
"Terima kasih ya kak, kamu memang berhati mulia aku bangga sama kamu kak" kedua tangan Airin sudah melingkar di tubuh Nadhif dan menyandarkan kepalanya pada dada Nadhif, rasa nyaman menyelimuti hati Airin Nadhif membelai kepala Airin dengan lembut, menambah rasa nyaman pada Airin
1 jam kemudian
Tok...tok...tok
Sreggg...
"Assalamualaikum..." Sapa seorang wanita didepan pintu
"Waalaikumsalam..." mereka bertiga menjawab bersamaan, dan melihat Lina yang sedang berjalan masuk kedalam
"Ada yang ingin bertemu kamu Airin, hanya saja mereka takut pada Nadhif" memang sudah kesepakatan buat mereka untuk memanggil nama pada Nadhif jika bertemu diluar kantor dan jam kerja, karena posisi Nadhif yang sebagai suami sahabatnya bukan sebagai atasannya, Airin memberikan tatapan bertanya pada suaminya itu dan hanya mendapatkan anggukan yang berarti memperbolehkan orang yang ingin bertemu dengannya masuk kedalam, Nadhif kembali fokus menggenggam tangan wanita tercintanya
"Biarkan mereka masuk Lin" ucap Airin setelah mendapat persetujuan dari suaminya
Tak lama masuklah beberapa orang yang ternyata mereka adalah karyawan perusahaan Nadhif, merekalah yang berperan dalam kejadian yang dialami Airin hari ini dan didampingi Lia yang langsung mengambil posisi duduk disofa disamping Lina yang sudah lebih dahulu duduk disana
"Assalamualaikum..." serempak mereka mengucapkan salam saat masuk keruangan Airin. Nadhif yang mendengar membalikkan badannya dan berdiri dengan wajah merah padam karena menahan marah pada mereka yang datang. Airin yang mengetahuinya menahan tangan suaminya itu agar menenangkan dirinya
__ADS_1
"Mau apa kalian datang kesini,?!!" Nadhif berbicara dengan nada yang sedikit tinggi sisa emosi yang tadi sudah diredakan oleh Airin
"Kakk...bicaralah baik baik, hargai usaha mereka datang kemari, bagaimanapun juga mereka pasti takut padamu kak, tapi mereka memaksa datang kesini, dan kitakan belum tau tujuan mereka" ucap Airin meyakinkan Nadhif, Nadhif menghela nafas panjang dengan tujuan agar emosinya menghilang
"Baiklah apa tujuan kalian datang kemari" kali ini nada suara Nadhif tidak seperti tadi, saat ini dia lebih lembut dan dapat menstabilkan emosinya yang tadi meluap saat melihat orang orang yang sudah membuat istri dan janinnya hampir celaka
"Maaf pak tujuan kami datang kemari untuk meminta maaf secara langsung pada bu Airin atas tindakan kami yang sudah menggunjingnya tadi" jawab salah satu wanita yang jika dilihat seumuran dengan Airin, Nadhif berbalik dan melihat Airin dan Airin membalas dengan senyuman disertai anggukan
"Baiklah katakan langsung pada istriku" Nadhifpun beranjak dari duduknya yang berada disamping tempat tidur Airin dan pindah ke sofa disamping Andi
Beberapa karyawan tersebut maju kedepan ranjang Airin dan meminta maaf padanya, salah satu dari karyawan itu maju tepat didepan Airin menadakan dia sebagai wakil mereka
"Saya dan teman teman meminta maaf pada bu Airin, atas ucapan dan tindakan saya pada anda, kami janji tidak akan mengulanginya lagi dan kami sangat menyesal sekali" semua tertunduk tanpa berani melihat wajah Airin sedangkan Airin hanya melempar senyuman pada mereka walaupun tak dilihat
"Saya sudah memaafkan kalian, tapi saya mohon agar hal ini tidak terulang lagi pada siapapun tanpa melihat statusnya, dan jika kalian mengetahui hal seperti ini terjadi lagi saya ingin agar kalian yang mengingatkan mereka, dan jika ingin melakukan sesuatu perhitungkan baik dan buruknya posisikan diri kita sendiri pada mereka yang tersakiti, jika sudah seperti itu InshaAllah kita tidak akan melakukan hal hal yang merugikan orang lain karena kita tau rasa sakitnya" ucapan Airin ini merupakan sentilan yang luar biasa untuk semua termasuk keempat orang yang mendengarkannya dari sofa. (termasuk Author sendiri)
semua menjadi kagum pada Airin jiwa yang besar juga pikiran yang logis dan selalu memikirkan orang lain walaupun sudah mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari orang lain, termasuk suaminya sendiri Nadhif (namun itu dulu diawal awal pernikahannya)
"Terima kasih bu Airin ternyata Anda adalah orang yang baik, kami semakin menyesal dengan perbuatan kami sebelumnya, dan bagaimana kondisi janin anda?" masih wanita yang sama yang berbicara sedangkan yng lain masih dengan posisi berdiri disamping ranjang Airin dengan kepala tertunduk
"Sudahlah menyesal boleh tapi jangan berlarut larut buat seemua itu pelajaran kita agar kita menjadi lebih baik kedepannya, dan alhamdulillah janinku sehat wal alfiat" Airin memegang perutnya dengan wajah yang tak lepas dari senyuman
__ADS_1
"Saya sangat menghargai usaha kalian untuk datang kesini, saya tau butuh keberanian yang kuat dan saya sangat berterima kasih pada perhatian kalian semua, mulai sekarang mari kita buka lembaran baru, oh ya panggil saya Airin saja karena kita sama sama bekerja disana" semua yang tertunduk kini sudah mulai mengangkat kepalanya memberanikan diri melihat sosok wanita yang lembut nan baik dihadapannya.
Awalnya bayangan yang ada dibenak mereka adalah kemarahan dari seorang istri presiden direktur pada mereka tapi ternyata semua diluar dugaan yang mereka dapatkan justru kata maaf yang tulus diberikan bahkan nasihat nasihat yang bisa membuat mereka lebih tenang, memang tidak ada yang mengetahui isi hati istri bosnya hingga mereka mendengarkan sendiri termasuk suaminya sendiri yang sedari tadi memperhatikan sikap dan sifat istrinya yang luar biasa dan untuk kesekian kalinya Nadhif dibuat jatuh cinta lagi pada Airin bukan hanya karena wajah cantik Airin namun sifat pemaaf dan kebaikan hati Airin pada semua tanpa memandang status orang tersebut.