
setelah dr. Pandu keluar Airin berjalan menuju meja makan dan duduk, Airin mengambil bungkusan yang dibawanya lalu membuka dan hendak menyiapkan untuk Adit dan Irena
Irena yang merasa canggung dengan suasana saat ini bingung apa yang akan dilakukannya, pipinya memerah saat dia mengingat kejadian pagi tadi, Irena malu dia merutuki kebodohan yang telah dilakukannya memeluk Adit dengan erat rasa bahagia yang sangat menyelimuti Irena saat melihat lelaki yang dicintainya telah pulih seperti sedia kala dan tanpa sadar dia langsung berlari dan memeluknya
Saat melihat Airin membuka bungkusan Irena langsung berjalan cepat kearah Airin berniat untuk membantunya
"Nyonya biar saya bantu" Suara Irena sedikit mengagetkan Airin, tak lama Airin tersenyum pada Irena
"Kamu lebih baik bersama Adit, sepertinya ada yang ingin disampaikan Adit padamu" Irena mengangguk perlahan, sebenarnya dia enggan bertemu langsung dengan Adit rada malu masih mendiami didalam dirinya, namun Irena harus menghadapinya
Perlahan Irena berbalik dan berjalan menuju tempat tidur dimana Adit berada dengan posisi duduk
"O ya Iren ...kamu jangan panggil saya nyonya ya tapi panggil saya kakak seperti Adit" Airin tersenyum, senyuman yang sangat cantik. Irena sedikit bingung dengan maksud ucapan Airin namun lagi lagi dia hanya mengangguk dan kembali berjalan kearah Adit
Saat berjalan Irena tanpa sengaja mrnatap Adit yang sedang menatap dirinya, begitu tampan dan aura sejuk ada pada diri Adit, yang sangat dia rindukan. Irena masih terpukau dengan wajah Adit terlihat jelas rasa cinta yang begitu besar yang terpancar dari mata Adit
"Tidak. tidak..Irena apa yang kamu pikirkan, apa kamu masih berharap padanya setelah apa yang kamu lakukan padanya" gumam Irena, Irena segera menepis perasaan yang telah kembali meskipun tak pernah hilang dengan menggeleng gelengkan kepalanya
Tanpa sadar Irena sudah berada didepan Adit
" Aauuw" lutut Irena terbentur pinggiran ranjang Adit, dia berjalan dengan pikiran yang melayang hingga tak sadar jika dia sudah berada didepan Adit
"Kamu kenapa? " Irena menggeleng sambil mengusap usap lututnya yang sakit
"Makanya kalo jalan itu fokus jangan sambil ngelamun" Irena hanya menunduk malu namun dibalas senyuman manis oleh Adit
Ada rasa senang dalam dirinya karena Adit mau berbicara dengannya, semenjak Irena merawat Adit dapat dikatakan Adit sangat irit bicara pada Irena karena rasa kecewa dan rindu ditambahbdengan gengsi menjadi satu hingga tumbuh keegoisan dalam diri Adit
Sampai saat kebenaran dari kisahnya terungkap, Adit meminta tolong pada Nadhif untuk menyelidiki tentang Irena dan apa yang terjadi pada waktu itu dan hasil yang didapat sangatlah miris.
Flashback on...
Irena harus menikah dengan laki laki lain, demi membayar kedua orang tuanya yang saat itu dalam kondisi kritis, dan pamannya memaksanya untuk menikah dengan laki laki yang sudah memberikan pinjaman pada ayahnya, Irena secara terpaksa meninggalkan Adit yang saat itu sedang melamarnya dia pulang dan mengikuti apa yang disuruh oleh pamannya yaitu menikah dengan tuan tanah, seorang duda tampan yang telah ditinggal mati istrinya dan mempunyai seorang anak laki laki berumur 3 tahun, sebenarnya laki laki tersebut tidak ingin menikahi Irena dan tidak mempermasalahkan hutang kedua orang tua nya, namun karena hasutan dari pamannya dengan niat terselubung itu akhirnya tuan tanah itupun mau menerima saran dari paman Irena dengan dalilh bahwa anaknya membutuhkan seorang ibu dan Irena adalah orang yang tepat
sedangkan pada Irena dia berkata sebaliknya, mengatakan jika tuan tanah yang bernama Zaki yang sudah meminjamkan uang pada kedua orang tuanya sangat marah saat mengetahui kondisi kedua orang tua Irena dan menagih semua hutangnya atau Irena harus menikah dengannya sebagi ganti hutang orang tuanya
Akhirnya Irenapun menikah dengan Zaki dengan perasaan marah bercampur sedih dengan tangisan yang dia tahan karena pernikahan mereka dilakukan dihadapan kedua orang tua Irena yg terbaring kritis, Irena tak berdaya menolak. Tak lama setelah pernikahannya kedua orang tua Irena meninggal dunia
Setelah pemakaman kedua orang tuanya Irena membawa adiknya Aris dan tinggal bersama suaminya Zaki, perlakuan Zaki sangatlah baik padanya dan adiknya hanya saja Zaki tidak pernah mau menyentuh Irena karena Zaki masih mencintai mendiang Istrinya, dan hal itu membuat Irena bernafas lega
Sebulan pernikahannya dengan Zaki, Irena masih tak disentuh oleh Zaki, Irena menjalankan tugasnya sebagamana mestinya dan menjadi kakak dan ibu yang baik buat anak tirinya
Kringgg...kring....
__ADS_1
Sore hari Irena mendapatkan telepon dari nomor tak dikenal, Deg.. jantungnya terasa mau copot, ada rasa khawatir pada dirinya dan pikirannya langsung tertuju pada Zaki suaminya memang Irena belum bisa mencintai Zaki karena dihatinya masih ada Adit, namun bagaimanapun juga mereka terikat suatu hubungan dan Irena merasakannjika sesuatu terjadi pada suaminya
Kriinggg... suara dering telepon mengaketkan Irena dan langsung mengangkatnya
"Assalamualaikum...hallo" Sapa Irena dengan ragu saat mengangkat teleponnya
"Waalaikumussalam...apa benar ini dengan nyonya Kinan istri dari bapak Zaki?" tanya suara diseberang
"Iya benar saya istrinya, maaf ini dari mana ya?" jawab Irena masih dengan kondisi tegang
" Saya dari kepolisian ingin mengabarkan bahwa suami anda telah mengalami kecelakaan mobil, saat ini kondisinya sedang kritis dan dirawat di RS Bunda Cinta"
"Baik Pak saya akan segera kesana"
Irena bergegas masuk kedalam kamarnya dia mengambil tas yang berisikan dompet dan teman temannya, sebelum pergi mrninggalkan rumah Irena berpesan pada penjaga rumah dan menitipkan adik dan anaknya
Irena berlari kearah IGD dan dikejuhan terlihat 2 orang pria bertubuh gempal dan tegak berseragam polisi berada didepan pintu IGD, Irena menghampiri mereka
"Assalamualaikum... Saya Kinan, apakah bapak yang tadi menghubungi saya" tanpa berpikir anjang Irena langsung bertanya pada polisi tersebut
"Anda nyonya Kinan istri dari pak Zaki korban kecelakaan
" Benar pak" Irena mengangguk
"Begini nyonya Kinan.."
"Panggil saya kinan saja" potong Irena yang merasa janggal dengan panggilan nyonya
"Baiklah, saat ini kondisi suami anda sangat kritis, terjadi benturan yang sangat kuat dan tubuhnya terhimpit badan mobil sehingga mengalami perdarahan, untuk lebih lengkapnya dokter akan menjelaskan pada anda" Rozak menjeda penjelasannya dan menarik nafas sebelum melanjutkan kembali
"Kecelakaan ini kami duga sudah direncanakan dengan matang, karena ada sabotase pada kendaraan suami anda, apakah anda tau siapa saja yang mungkin bisa dicurigai sebagai musuh suami anda" Irena termenung memikirkan apa yang terjadi pada Zaki, dia tidak menyangka jika ada orang yang ingin menyakiti dia, selama dia menjadi istrinya Irena merasa bahwa Zaki adalah orang yang baik, bahkan penyayang tidak seperti yang diceritakan pamannya itu
"Paman...apakah paman yang tega melakukan hal ini" gumam Irena yang tanpa dia sadari jika Rozak sedang memanggil manggil namanya
"Mbak Irena...mbak Irena...mbak..." Irena tersadar dan hanya menggeleng
"Maaf ..saya tidak tau siapa musuh suami saya, tapi yang saya lihat suami saya sangat baik pada semua orang... " ucapannya tergantung Irena masih belum yakin dan ragu akan pemikirannya
"Baiklah kalo begitu saya harap anda datang kekantor polisi untuk emberika keterangan dan mengisi beberapa berkas kasus ini, kami undur diri dan kembali melanjutkan penyelidikan kami" baru 3 langkah kedua polisi itu beranjak Irena memberanikan diri untuk berbicara tentang siapa yang sudah dia curigai
"Pak Rozak, sepertinya saya tau siapa yang harus dicurigai atas kecelakaan suami saya" kini Irena yakin
"Lebih baik dijelaskan saat dikantor saja, kami tunggu kedatangan anda" kedua polisi itu akhirnya pergi
__ADS_1
Setelah kedua polisi itu pergi Irena dipanggil untuk menyelesaikan administrasi suaminya dan melihat kondisi suaminya
Miris melihat kondisi Zaki yang berada di ruang ICU IGD tubuhnya tak polos lagi, banyak peralatan medis yang menempel ditubuhnya, pikirannya melayang pada Dika anak laki laki berusia 3 tahun, bagaimana nasibnya jika ayahnya pergi meninggalkannya, apakah Irena harus merawatnya, aahh semakin kacau
Irena berada dikantor polisi memenuhi permintaan pak Rozak, Irena mengisi beberapa berkas dan memberitahukan siapa orang yang dicurigainya yang tak lain adalah pamannya sendiri, Irena juga menjelaskan alasan kenapa dia mencurigai pamannya sendiri. Setelah semua selesai Irena berniat kembali kerumah untuk mengambil baju ganti dan melihat kondisi adik dan anak tirinya, ditengah jalan ponselnya berbunyi dan dilihatnya nomor itu adalah nomor rumah sakit dan langsung mengangkatnya
Bergegas Irena memutar balik tujuannya menuju rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari rumah sakit yang mengatakan ada hal penting yang harus diurus tanpa menjelaskan apa apa sesampainya Irena berlari dan langsung menemui dokter yang menangani Zaki
"Bagaimana kondisi suami saya dok, dan kenapa pihak rumah sakit menghubungi saya,?" Tanya Irena pada dokter itu
"Sebaiknya anda masuk kedalam, suami anda ingin bertemu" ucap dokter itu dan Irena langsung masuk kedalam dengan mengenakan jubah khusus yang telah disediakan
"Mas .."
"Ire...na..maafkan mas be..lum bi..sa.. men..cin..tai..mu, mas titip Di..ka, to..long ja..ga Di..ka, ha..nya kamu yang mas per..caya, sa..yangi dia se..per..ti anak..mu sen..diri, dan ja..ngan per..ca..ya pa..da siapapun..." ucap Zaki dengan terbata bata namun tetap memaksa untuk berbicara
"Mas ...aku panggil dokter ya..." saat hendak berdiri Zaki menahan tangan Irena
"Dengarkan mas baik.. baik, ku..bur..kan mas disam..ping istri mas, la..lu pu..lang..lah bu..ka laci dalam kamar mas am..bil buku tabu.ngan dan ATM..nya.." ucapan Zaki terjeda dengan nafas tersengal sengal dia melanjutkan ucapannya
"disa..na ter..te..ra pin..nya dan se..ge..ra pergi yang ja. uh, ja..di..kan ua.ng yang ter..si..sa un .tuk be..kal kali..an, hehhh...hehh jangan sam..pai pa..manmu tau kare. na dialah da..lang dari ke..jadi..an ini..." Zaki tersenyum dan mengucapkan kata terakhirnya
"terima kasih Irena...maaf... belum bisa men..cin..taimu.."
Ttiiiiittttt........bunyi yang terdengar berasal dari salah datu alat medis Irenapun segera memanggil Dokter. Tak lama dokter datang dan menyatakan waktu kematian Zaki
"Mas...." Irena menangis, bukan karena ditinggalkan oleh orang yang dia cintai, bagaimanapun Zaki adalah suaminya dan dia merasa kasian padanya, Zaki adalah orang yang baik tidak adil jika dia mendapatkan perlakuan jahat apalagi pelakunya adalah pamannya sendiri, bagaimana nasib Dika ..
Seperti dugaannya pamannyalah dalang kejahatan ini, seperti kata Zaki Irena segera menguburkan jenazah Zaki disamping makam istrinya tanpa dibantu warga hanya petugas Rumah Sakit yang dibayarnya untuk membantu pemakaman Zaki, dia tidak ingin kabar kematian Zaki terdengar oleh warga dan membuat pamannya leluasa menyakitinya juga Aris dan Dika
Setelah pemakaman Irena bergegas kembali kerumah, saat hendak memasuki kamar Zaki pelayan menghadangnya namun irena beralasan ingin mengambilkan baju ganti Zaki dan akan kembali kerumah sakit, kata kata Zaki selalu diingatnya untuk tidak percaya pada siapapun..
Didalam kamar Irena mencari apa yang sudah dikatakan Zaki yaitu buku tabungan beserta kartu ATMnya, lalu disembunyikan didalam bajunya dan mengambil baju Zaki beberapa dan memasukkan kedalam tasnya
Diam diam Irena memasukkan bajunya Aris dan Dika kedalam tas yang dia bawa lalu mengajak mereka berdua keluar dari rumah itu, beruntung para penjaga sedikit lengah sehingga dia bisa kabur...
Flashback off....
Assalamualaikum... memdekati Last Episode ni... dukung terus ya...
Ingat Corona belum pergi loh jd selalu lindungi diri kita dan orang yang kita cintai...
Terima kasih
__ADS_1