
Terdengar bunyi ponsel Airin, diambilnya ponsel Airin yang ada didalam tas dilihatnya dan tertera nama yang melakukan panggilan adalah Mama
Deggg....ada rasa aneh dihati Airin saat melihat nama mama yang tertera diponselnya
dengan cepat Airin menggeser tombol berwarna hijau keatas
"Assalamualaikum...ya ma ada apa?"
"..eemm iya benar saya sendiri adalah Airin, ada apa ya pak? bagimana ponsel mama saya ada bersama anda?" seketika wajah Airin menjadi pucat pasi matanya menatap lurus kedepan dengan bibir yang terbuka menunjukkan ekspresi kaget dan syok perlahan airmatanya luluh jatuh dipipinya tanpa sadar ponsel yang digenggamnya jatuh kelantai mobil, Nadhif sangat panik melihat kondisi istrinya dia langsung mengambil ponsel Airin yang jatuh karena Airin tidak memberikan jawaban dan ekspresi apapun saat ditanya, dengan rasa penasaran Nadhif mengambil ponsel Airin yang terjatuh
"Halloo...Hallooo" terdengar suara panggilan dari balik telpon
"Assalamualaikum... saya Nadhif suami Airin ada apa ya pak" ucap Nadhif setelah mengambil ponsel Airin yang terjatuh tadi rasa penasaran yang besar tentang penyebab berubahnya ekspresi dari istrinya menghampiri Nadhif
"Waalaikumsalam, saya Hendri dari kepolisian ingin mengabarkan bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan di jalan xx, kondisinya lumayan parah dan saat ini para korban sudah dibawa kerumah sakit RY" terdengar jelas suara orang yang ada diseberang
"Baik pak saya akan segera kerumah sakit tersebut" kini Nadhif tau apa yang menyebabkan istrinya syok saat ini sebenarnya dipun juga mengalami hal yang sama, namun dia harus tetap kiat dan tegar karena istrinya saat ini lebih membutuhkannya
"Pak juki kita antar bu Sum dan anak anak dulu lalu kita kerumah sakit RY" ucap Nadhif pada pak Juki karena jarak rumah sudah dekat dan tidak memungkinkan juga membawa Mira dan Dinan yang masih kecil ke rumah sakit, Airin masih terlihat syok begitu juga dengan bu Sum yang tidak mengetahui kenapa Nadhif Airin dan pak Juki harus pergi kerumah sakit ditambah dengan ekspresi Airin yang tampak sangat syok dan belum bisa diajak bicara
Setelah mengantar bu Sum dan anak anak, pak Juki langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit RY sesuai instruksi Nadhif, ingin rasanya pak Juki bertanya namun diurungkan saat melihat wajah majikannya terlihat khawatir
"Sayang kamu tenang ya, istighfar...,kita berdoa supaya mama, papa dan Adit baik baik saja" Nadhif memeluk Airin dia tau apa yang kini dirasakan istrinya itu, sama seperti Airin Nadhifpun juga kaget mendengar kabar buruk ini namun dia harus tetap tegar demi Airin
"Aku takut kak, aku takut apa yang aku rasakan tadi terjadi" tangis Airin semakin menjadi, Nandhif semakin erat memeluknya sambil berdoa berharap apa yang didengar tidak terjadi
__ADS_1
Hampir 30 menit mereka tiba di lobby rs RY, Nadhif dan Airin bergegas turun dan menuju bagian IGD, disana terlihat 2 orang laki laki berseragam polisi dan beberapa orang berpakaian formal yang entah siapa mereka, dengan tidak sadar Airin berlari menghampiri mereka, Nadhif yang melihat sikap istrinya hanya berusaha siaga pada istrinya yang berlari d ngan kondisi perut yang sudah besar
Setelah mendekat dengan orang orang yang berada didepan pintu IGD, Airin hendak bertanya tentang kondisi adik dan kedua orang tuanya, namun bibir Airin kelu tak sanggup mengeluarkan kata kata, hanya air mata yang keluar tanpa suara tangisan dan Nadhif yang sadar akan kondisi istrinya mulai bertanya pada salah satu orang yang berseragam polisi
"Assalamualaikum...dengan pak Hendri?" ucap Nadhif yang sebelumnya memastikan nama polisi itu dengan melihat nama yang ada didadanya
"Iya benar saya sendiri, apa bapak keluarga dari korban?" tanya Hendri pada Nadhif
"Benar pak saya Nadhif keluarga korban kecelakaan tersebut yang tadi bapak hubungi bagaimana kondisi kedua orang tua saya dan adik saya?" tanya Nadhif yang juga mewakili istrinya
Pak Hendri menjelaskan kronologi kejadian dan itu didapat dari keterangan saksi yang kebetulan berada disana dan juga cctv, diantara ketiganya kondisi kedua orang tua Airin sangat parah, namun saat dibawa kerumah sakit kondisi mereka masih bernafas, begitupun juga Adit yang mendapatkan luka yang didapat dari benturan dikepalanya cukup parah dan itu yang menyebabkannya tidak sadar, saat ini polisipun masih mennggu dokter yang sedang menangani para korban
Tak lama Ramdhan dan Mila tiba dirumah sakit mereka berlari menuju IGD dengan air mata yang membanjiri wajahnya, dan langsung memeluk anak dan menantunya Airin, sama seperti Airin Mila juga tampak syok dengan kabar yang diberikan Nadhif saat diperjalanan menuju rumah sakit, mereka sama sama menangis, Ramdhan dan Nadhifpun tak sanggup menghibur para istrinya karena mereka juga merasakan hal yang sama, rasa takut kehilangan sahabat dan ayah mertua yang baik dan sayang pada mereka
30 menit berlalu Airin masih berjalan mondar mandir didepan pintu IGD, sedangkan Mila duduk dikursi tunggu dengan kedua tangan menempel dibibirnya dan siku yang ditopang dipahanya, air mata kedua wanita itu terus mengalir tanpa henti, hingga saat ini masih belum ada dokter yang keluar meskipun hanya untuk memberitahukan kondisi kedua orangtuanya dan adik satu satunya
"Sayang kamu duduk ya" ucap Nadhif sambil memeluk istrinya
"Enggak kak, aku mau nunggu kabar dari dokter tentang kondisi mama papa dan Adit" Airin meremas kedua tangannya tak henti hentinya dia berdoa dan beristighfar berharap mendapatkan kabar baik yang dispaikan oleh dokter yang menangani
"Sayang ingat kamu juga sedang hamil besar, ingat juga ada anak kita didalam perut kamu, paling tidak kamu duduk, jangan mondar mandir seperti ini, aku takut terjadi apa apa dengan kamu dan anak kita nantinya" Airin masih terdiam dan mengeluarkan airmata kembali lalu memeluk suaminya
"Aauuww" rintih Airin saat merasakan sakit diperutnya, dipegangnya perutnya sambil beristighfar
"Kenapa sayang, apa perutmu sakit" tanya Nadhif dan mendapatkan anggukan dari Airin sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya, Nadhif semakin panik takut apa yang dikhawatirkan terjadi, dia tau jika orang yang sedang hamil tdak boleh terlalu stress yang dapat mempengaruhi pertumbuhan janin dan proses kelahirannya nanti, apalagi kehamilan Airin yang sudah menginjak bulan kedelapan
__ADS_1
"Kita duduk ya" lagi lagi Airin mengangguk, Nadhif menuntunnya menuju kursi disamping Mila sambil memegang perut Airin dan membacakan doa agar kehamilan Airin tidak bermasalah karena kabar buruk ini
Sreggg...
2 orang dokter keluar dari balik pintu IGD, mereka menanggil keluarga korban kecelakaan yang mereka tangani, Nadhif dan Ramdhan menghampiri kedua dokter tersebut untuk mendengarkan penjelasan dari dokter tentang kondisi orang tua dan adiknya
"Kalian keluarga korban?" semua mengangguk mendengar pertanyaan dokter Gery salah satu dokter tersebut
"Begini, kondisi ketiga korban cukup kritis, kedua orang tua anda menderita luka yang cukup parah pada seluruh tubuhnya karena terjepit badan mobil, dan adik anda terluka dibagian kepala sepertinya benturan itu cukup keras dan mengkibatkan ada gumpalan darah dikepalanya, jika pasien sudah sadar baru kita akan melakukan operasi..." belum selesai dokter menjelasankan terdengar suara teriakan dari Airin
"Aauuww... astaghfirullah...eeggghhhhh" Airin memegang perutnya dengan kencang, terlihat wajah yang kesakitan dan seketika semua orang yang ada disana panik, termasuk kedua dokter yang ada
"Bawa istri anda kedalam" ucap salah satu dokter tadi, Nadhif menggendong istrinya masuk kedalam, dan menurunkan pada kursi roda yang selanjutnya didorong keruangan obgyn, Nadhif mengikuti kemana isrinya pergi sambil menggenggam tangan istrinya erat
Sesampainya diruangan obgyn mereka disambut oleh beberapa bidan dan dokter kandungan, sesuai instruksi bidan Airin dipindahkan ke tempat bersalin, Nadhif dengan sabar menggendong tubuh istrinya itu, dia selalu berada disamping tubuh istrinya yang sedang mengerang kesakitan
Menurut dokter Mia dokter kandungan yang menangani Airin, Airin akan melahirkan dan saat ini Airin sudah mengalami pembukaan dua
"Setelah kami periksa istri anda akan melahirkan dan saat ini sudah pembukaan kedua.." Nadhif dengan seksama mendengarkan penjelasan dari dokter Mia tanpa mengurangi ekspresi khawatir yang ada di wajahnya, Madhif paham dengan kata pembukaan karena dia mang banyak mencari tau tentang kehamilan dan tanda tanda kelahiran
"Karena usia kandungan ny.Airin masih 32 minggu dan menurut perkiraan kami berat badan bayi yang ada dikandungan masih kurang dari berat badan bayi normal jadi membutuhkan ruangan khusus untuk bayi anda dan kamibharus memastikan terlebih dahulu apakah ruangan itu tersedia tidak di rumah sakit ini" sambung dokter Mia
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak yang dikandungnya dokter" tak henti hentinya Nadhif berdoa untuk kelancaran proses persalinan dan keselamatan istri dan anaknya, sementara itu Nadhif menghubungi Ramdhan dan menjelaskan kondisi Airin yang harus melahirkan diusia kandungannya yang masih 32 minggu, memang masih belum cukup usia kandungan Airin namun karena kabar buruk yang menimpa kedua orang tua dan adiknya membuatnya syok dan stress yang mengakibatkan kontraksi lebih cepat, jika saat ini hanya pembukaan 1 maka dokter akan memberikan obat penguat rahim agar janinnya dapat dilahirkan dengan usia yang pas, namun karena pembukaan yang dialami sudah 2 maka janin itu harus dilahirkan segera
"Kontraksi yang dialami Airin semakin sering, setiap dia merasakan kontraksi Airin hanya beristighfar sambil menggenggam tangan Nadhif erat, genggaman itu yang natinya beribah menjadi remasan kencang dari Airin karena menahan sakit yang luar biasa, dan seketika Nadhif memahami penderitaan dan perjuangan perempuan untuk menjadi ibu, perjuangan yang cukup menyakitkan dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri demi sang buah hati, terlintas bayangan Mila ibu yang melahirkannya, memang Nadhif bukanlah termasuk anak yang suka melawan dan membantah orang tua apalagi ibu, dia sangat menyayangi ibunya dan saat dia ingin sekali bersujud didepan ibunya yang sudah berjuang untuk dirinya ingin rasanya meminta maaf dan berterima kasih atas segala yang diberikan kedua orangtuanya terutama ibu...
__ADS_1
"Astaghfirullah... Allaahu akbar..." erangan Airin membuyarkan lamunan Nadhif, kini dia memfokuskan diri pada istrinya yang tengah berjuang demi buah cinta mereka