Rahasia Lain Suamiku

Rahasia Lain Suamiku
Yang tak terduga


__ADS_3

Waktu istirahat siangpun tiba.


"Lia kita makan diluar yuk..."


"Yaa aku sudah ada janji makan siang sama Fadli, next time ya Airin" jawab Lia sambil melangkah keluar ruangan...


'Have fun ya Lia"


akupun merapikan meja dan mengambil ponselku didalam tas untuk menghubungi Lina, belum aku menemukan nya ternyata Lina sudah ada dipintu menungguku


"Airin...ayuk" akupun bergegas keluar menghampiri Lina dan langsung keluar


Kami memutuskan untuk makan di warung Ayam bakar dekat kantor, cukup dengan jalan kaki untuk sampai kesana.


"Kita duduk dipojok sana ya" ajak Lina sambil menunjuk bangku yang ada dipojok, memang pojok adalah tempat favorite kami, karena terhindar dari lalu lalang pengunjung.


kami langsung memanggil pelayan dan memesan makanan


"Ayam bakar sambel dan es jeruk 2 ya" pesan Lina pada pelayan itu lalu ditulisnya pesanan kami dan pergi menuju dapur. Sambil menunggu makanan datang kamipun berbincang


"Lin apa yang kamu maksud dengan ucapanmu ditelp tadi?" Tanyaku penasaran.


"Heemmm...tau g kalo kamu jadi bintang utama minggu ini di kantor kita"


"Maksud kamu?" aku masih belum mengerti apa yang dibilang Lina tentang aku


"Iii Emang ya, kamu gak pernah berubah Airin, gini loh, kamu ingat kemaren Anto nembak eee bukan tapi melamar kamu kan?" aku mengangguk dan masih fokus pada Lina.


"Terus kamu tolak kan, itu sudah jadi gosip terhangat saat ini, jadi... saat kejadian itu ternyata ada pegawai cewek yang suka sm Anto ngelihat kejadian itu terus dia curhat sama temennya sampai Nangis eee g lama langsung nyebar deh"


"Anto kan Primadona disini banyak yang suka sama dia tapi gak ada satupun yang pernah ditembak sm dia apalagi dilamar kayak kamu kemaren"


"Dan kamu harus hati hati mulai sekarang"


"Kenapa aku harus begitu?"

__ADS_1


"Fansnya Anto kan banyak..yang ada kamu diserbu nanti, jadi siap siap dapat serangan dari mereka ya" ucap lina menakut nakutiku


"Ooo aku kira apaan, ngapain aku takut, apa yang akan mereka lakukan padaku, InshaAllah aku bisa menghindarinya" ucapku dengan percaya diri


"Iya deh percaya... yang udah megang sabuk coklat dikarate dan biru ditaekwondo"


"Gak ada hubungannya dengan itu kali Lin, aku hanya akan menghindar atau menghadapinya langsung, lagian kenapa mereka harus marah sama aku, seharusnya.. kalo mereka suka harusnya berusaha mengambil hati Anto, bukan malah balas dendam padaku yang jelas jelas gak ada hati sama Anto" jelasku pada Lina


"Eemmm bener juga katamu Airin......O ya sekarang giliran kamu yang cerita ke aku" Lina menagih janji padaku


Sebelum aku bercerita, aku menerima makanan dan minuman yang ternyata sudah sampai dan ku letakkan di meja.


"Ceritanya panjang Lin,.. kamu ingat gak kabar tentang aku 3 tahun lalu, kabar pernikahanku" ucapku membuka cerita pada Lina dan dia hanya mengangguk dan serius melihatku


"Kabar itu memang benar bahwa aku akan menikah dengan Rafidz, tapi dihari pernikahanku dia justru menikah dengan wanita lain, semua persiapan yang aku siapkan berdua dengannya ternyata digunakan untuk menikahi wanita itu, dia membohongiku dan hanya memanfaatkanku Lin"


"Kurang a*** to cowok, kenapa kamu gak cerita ke aku sihh!!, kan aku bisa menghajarnya saat itu juga" Lina terlihat sangat kesal, aku tersenyum tipis.


"Ya ..seharusnya itu yang aku lakukan Lin, tapi saat itu aku mengalami syok berat sampai harus keluar masuk rumah sakit untuk konsul dengan psikiater, dan itu menghabiskan uang orang tuaku, sampai sampai mereka menjual perusahaan dan rumah yang ada di surabaya lalu kami pindah dijakarta" Lina masih terhanyut dengan ceritaku, terlihat kesedihan dan simpati padaku diwajahnya.


"Itu berlangsung selama 2 tahun dan saat kondisiku sudah membaik dan bisa melupakannya, kedua orang tuaku menjodohkan aku dengan anak sahabat mereka dan aku menerimanya, karena kupikir ini adalah cara yang bisa membuat mereka bahagia" aku berhenti sejenak lalu kulanjutkan kembali ceritaku


"Maafkan aku Airin, seharusnya aku gak memaksamu untuk cerita" Kembali lina menepukku lalu memelukku erat


"Now I'm ok, so you dont worry about me" aku mengatakannya sambil memandang kearah Lina


"Ok I believe you"


"But if something happens, I'm always there for you"


Lina kembali ketempat duduknya dan kamipun menghabiskan makanan kami


Setelah makan siang kami kembali kekantor, sama seperti saat berangkat, kamipun pulang dengan berjalan kaki, saat sudah memasuki area kantor kulihat seorang laki laki turun dari mobil dan disambut oleh beberapa pegawai, tapi jika aku perhatikan lelaki itu mirip dengan Nadhif


"Apa itu kak Nadhif, kenapa Mirip sekali, ada urusan apa dia disini?" tanyaku dalam hati, rasa penasaraan menyelimuti diriku dan pandanganku mengikuti gerak gerik pria itu

__ADS_1


"Ada apa Airin?kenapa kamu terlihat serius begitu" aku hanya menggelengkan kepala dengan tatapan masih melihat kearah orang yang kubilang mirip dengan Nadhif. Lina yang melihatku memberitahukan siapa pria yang kulihat tadi


"Kamu belum pernah melihatnya ya?, dia itu presdir perusahaan ini, anak tunggal pemilik perusahaan sekaligus gedung ini" aku mengalihkan pandanganku keLina, penasaran dengan kelanjutan ceritanya


"Denger denger sih dia sudah dijodohkan sm anak salah satu mitra bisnis orang tuanya, ya pasti seperti itu, namanya juga orang kaya, ya harus menikah dengan orang kaya, bener ga Airin" aku hanya mengangguk sambil berfikir, mendengar akhir cerita dari Lina, tidak mungkin pria tadi adalah Nadhif, sangat tidak Mungkin. Nadhif suamiku hanyalah seorang pegawai biasa sedangkan dia adalah seorang Presiden Direktur


"Ahh mungkin hanya kebetulan mirip saja mereka" ucapku meyakinkan diri sendiri, lalu kami melanjutkan langkah kedalam gedung kemudian menuju mushola yang ada dilantai 2 sebelum kami kembali keruangan masing masing.


Tak terasa sudah waktunya jam pulang, aku dan Lia merapikan meja dan barang bawaan kami, lalu kami berdua bersama sama berjalan menuju lobby, kali ini Lia pulang bersama Fadli dan seperti biasa aku menunggu jemputan yang selalu setia padaku, Ojek Online.


Tiba tiba sepeda motor dengan merk E-Nax menghampiriku dan ternyata dia adalah Anto, dia memarkirkan motornya dan menghampiriku


"Duhh..ada apa lagi sih nie orang" ada rasa sebal melihatnya, aku jadi membencinya karena dia menyatakan perasaannya padaku padahal kami baru kenal juga karna gosip siang ini, dan akupun pura pura tidak melihatnya


"Assalamualaikum...Airin, lagi nunggu siapa?, mau g aku antar?" Apa sih yang dia pikirkan sudah jelas aku bilang kalo aku sudah menikah, tapi kenapa masih bertingkah seperti ini..Aku masih tetap diam tanpa melihatnya.


"Loh kok salamku g dibalas sih, dosa loh" Ucapnya sambil mendekat padaku


"Waalaikumsalam Anto, aku sedang menunggu jemputanku, dan aku tidak mau kamu antar, mengerti?" sengaja aku berlaku sedikit kasar, karena aku tidak mau mberikan harapan pada dia.


"Siapa yang menjemputmu?suamimu?,kalo gitu aku akan menunggunya?" Anto secara terang terangan menantangku.


"Kenapa kamu harus menunggunya? siapapun yang menjemputku tidak ada hubungannya denganmu"


"Ada..,ada hubungannya denganku, aku ingin tau siapa laki laki yang bisa mengambil hatimu"


Tak lama mas ojek online datang dan aku tau klo itu adalah ojek yang akan menjemputku dari no plat motornya


Saat aku hendak menghampiri mas ojek online, Anto menarik tanganku.


"Lepas Anto, apa yang kamu lakukan, kita bukan muhrim dan ingat aku sudah bersuami"


"Bicara denganku sebentar saja"


aku berpikir sejenak dan menyetujui permintaannya itu

__ADS_1


"Baiklah, tapi tunggu sebentar" Lalu aku menghampiri mas ojek online itu.


"Mas, atas nama Airin kan? tunggu sebentar ya, ad urusan yang harus saya selesaikan" ucapku pada mas ojek online supaya menungguku, lalu aku kembali pada Anto


__ADS_2