
Aku berjalan dan menuruni tangga dengan cepat, aku duduk disofa sambil menunggu mas ojek online yang kupesan tadi datang
Kulihat Nadhif sudah menuruni tangga, aku kembali melihat aplikasi J-motor dan akhirnya mas ojek online sudah tiba, aku bangkit lalu kuhampiri Nadhif dan kucium punggung tangannnya dengan cepat "Aku berangkat dulu ya kak" aku langsung berlari kecil keluar rumah.
Sejujurnya tidak ingin aku berlama lama dirumah karna aku malu atas kejadian tadi. "Kenapa tadi aku tutup mata, seharusnya kamu bertindak seperti biasa Airinnn, ...bagaimana kau bisa sepolos itu, " aku memegang kepala sambil menggeleng gelengkannya.
seperti biasa aku diantar mas ojek online kekantor
****
Nadhif
****
Saat aku ditangga tiba tiba Airin menghampiriku dan mencium punggung tanganku dengan cepat, sedikit kaget melihat tingkahnya itu, wajahnya memerah, pasti karna kejadian td, lucu dan cukup bisa membuat jantungku mulai berdetak tak berirama...
Umma sampai dirumah sesaat sebelum aku berangkat, aku mengantarkan umma masuk kedalam dan membawakan barang yang dibawanya, kutunjukan kamar yang akan digunakan, agar umma bisa beristirahat...
" Mana mantu kesayangan Umma Nadhif?Umma kangen sm Airin" ucap umma dengan lemah lembut.
"Airin, sudah berangkat kerja Umma, dia berangkat tak lama sebelum umma datang"
"Apa yang sudah kamu lakukan hingga Airin memutuskan untuk bekerja lagi?" tanya umma yang langsung ditujukan padaku, aku hanya tertunduk, lalu menghela nafas panjang.
"Kamu tau kenapa Airin memutuskan berhenti bekerja saat itu? padahal dia sudah mapan dengan pekerjaannya dan posisinyapun sudah menjanjikan"tanya umma padaku dan aku hanya menggelengkan kepala.
"Dia berhenti kerja saat ingin menikah 3tahun lalu, dia ingin menjadi istri yang seutuhnya,engabdi buat suaminya dan ingin memberikan waktunya hanya untuk suaminya, alasan yang sangat sederhana tapi itulah Airin,..dia akan mengorbankan apapun untuk orang yang dia cintai, harusnya kamu merasa beruntung Nadhif, jadi jangan sakiti dia, seperti calon suaminya yang dulu" senyuman hangat umma membuat aku makin menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan pada Airin diawal pernikahanku.
"Nadhif tidak melakukan apa apa umma, pokoknya umma tenang ya"ucapku sambil memeluknya dengan penuh cinta.
"Airin bekerja karena bosan sendirian dirumah, sedangkan Nadhif pulang kerja larut malam bahkan jika ada urusan diluar kota Nadhif tidak pulang, umma taukan kesibukan Nadhif" jelasku pada umma untuk menguramgi kekhawatirannya.
"klo seperti itu, harusnya kamu mempekerjakan assisten rumah tangga, atau cepat cepat kamu kasih cucu buat umma dan mama, pasti Airin g akan kesepian lagi" aku sadar sebenarnya itu adalah harapan kedua orang tua kami...tapi bagaimana aku bisa punya anak sedangkan aku dan Airin tidur terpisah? aku merasa berdosa pada mereka terutama Airin.
"Doakan kami terus ya umma biar cepat diberi keturunan, sekarang Nadhif berangkat dulu ya umma" kucium punggung tangannya lalu kupeluk lagi, aku berjalan keluar kamar namun saat dipintu kamar aku memberitahu umma dimana Airin bekerja.
"O ya ...umma tenang saja, Airin bekerja diperusahaan kita kok, aku akan selalu memantaunya, menantu umma wanita yang cerdas dan hebat"
****
suasana dikantor
****
bluubb..... terdengar notifikasi masuk, saat kulihat itu adalah pesan dari Lina
"Assalamualaikum... Airin...lagi apa?"
"waalaikumsalam..aku lagi kerja Lin, ada apa?"balasku
__ADS_1
"Makan dikantin lagi yuks" tak terasa sudah waktunya jam makan siang.
"Ok...aku selesaikan kerjaanki dulu ya"
"Ok"
"Lia kita makan dikantin lagi yuks"
"Ayukkk ...bareng Lina lagi kan?"tanya Lia dengan senang
"Pasti...tp sebelum makan siang kita serahkan dulu tugas kita ke ruangan bu Irene"
"Siap bos..."jawab Lia sambil menegakkan badannya, aku tersenyum kecil melihat tingkahnya.
5 menit kemudian
"Sudah siap Lia?"aku bangkit dari kursiku dengan membawa berkas laporan yang sudah ku selesaikan
"Siap..." lalu kami berjalan menuju ruangan bu Irene
tok tok tok...
"Masuk" jawab bu Irene saat melihat kami didepan pintu kaca ruangannya
"kami masuk dan menyerahkan laporan dimeja bu Irene
"Ini Laporan kami bu, mohon dicek kembali"
"Baik...nanti akan saya lihat"
"Kami istirahat dulu ya bu" lalu aku berpamitan padanya.
Aku dan Lia langsung Cuss ke kantin dan benar saja Lina sudah menunggu kami dimeja pojok namun dia tidak sendiri melainkan bersama Anto dan fadli...
Ada sedikit rasa malas menghampiriku melihat mereka ada disana, tapi aku sudah janji pada Lina, sedangkan Lia dia lebih antusias dan langsung berlari kecil menghampiri mereka dan duduk didepan Fadli, aku hanya tersenyum melihatnya.
"Sory Airin...mereka memaksa ikut denganku" ucap Lina yang melihat raut mukaku yang berubah tidak suka akan kehadiran mereka
"Hemm..."jawabku sambil duduk disamping Lia, seperti biasa tak lama seorang pelayan menghampiri kami dan kami memesan menu yang dibuat hari ini.
Kami makan dengan lahap dan tanpa suara, selesai kami makan tiba tiba Fadli membuka suara
"Lia kamu sudah punya pacar belum?"seketika kami melebarkan mata kaget mendengar apa yang diucapkan Fadli, lalu kami beralih pada Lia yang hanya tersipu malu dan menjawab tidak dengan gelengan kepalanya
"Mau gak jadi pacarku?sambung Fadli yang tak mau kehilangan kesempatan dan langsung menembak Lia, dan Lia memberikan jawaban yang menurutku terlalu terburu buru
"Ya aku mau Fadli"
Aku melihat Lia. semakin kaget dengan jawaban Lia "Kamu yakin Lia?"
__ADS_1
"Ya aku yakin Airin" Lia mengangguk dengan yakin.
"Selamat buat kalian yang udah jadian, ingat jangan lama lam pacarannya,"ucapku selanjutnya dan diikuti Lina dan Anto..
"Selamat ya bro, ternyata sicoolman menjatuhkan hatinya pada Lia sianak baru" dia menjabat tangan Fadli..
'kalo gitu giliran aku ya"ucapnya dengan senyuman yang diiringi gerakan alis yang naik turun
"Gimana Airin, kita pacaran juga yuk."
"Haahhh dia juga mengajakku pacaran" bathinku dan aku langsung menunjukan raut muka tidak suka tanpa meladeni perkataannya.
"Waahh aku ditolak bro, sedih dehh..." semua tertawa mendengar apa yang diucapkan Anto, hanya aku yang terdiam dengan wajah cemberut melihatnya
"Kalo becanda jangan berlebihan Anto, aku tidak suka"
"Siapa yang bercanda, aku g bercanda Airin, aku memang dikenal playboy tapi untuk perasaan aku tidak pernah main main, jadi kamu terima aku g?" suasana makin serius, Linapun yang melihat Anto hanya termangu dan bertanya pada Anto
"Lo serius nto, ingat Airin ini sahabat gw, jadi gw g akan terima kalo lo sakiti dia nantinya"
"Iya gw serius Lin, gw jatuh cinta pada pandangan pertama sm Airin" Ucap Anto meyakinkan Lina lalu dia kembali melihat kearahku...
"Maaf Anto, aku g mau membuatmu salah paham aku hanya ingin berkawan denganmu, tidak lebih" aku berusaha meyakinkan Anto
"Tapi kenapa Airin, apa alasannya? antusias Lina yang ingin tau kenapa aku menolak Antob Lina memang belum tau jika aku sudah menikah dengan Nadhif
"Aku gak bisa..maafkan a..."
"Apa karena kamu tidak mau pacaran?,aku siap melamarmu sekarang juga kok, apa perlu aku menghubungi kedua orang tuaku sekarang untuk segera melamarmu" potong Andi sebelum menyelesaikan kalimatku.
"Aku wanita bersuami, aku sudah menikah"
jawabku yang membuat semua kaget terutama Lina dia melihatkan kekecewaannya padaku
"I don't understand Airin, why you never told me and at your wedding why didn't you invite me" ucap Lina marah
"Sorry...Lina...I'am so sorry..."
"alright ...if you don't want to tell me, its OK"
Lina memegakkan badan dan hendak beranjak dari duduknya, aku langsung menahan
"Ceritanya panjang Lin, aku akan menceritakan padamu, tapi tidak disini dan hanya kita berdua ok, so please forgive me"
Lina menarik nafas panjang "Ok...aku akan menunggu itu"
dan kamipun kbali keruangan masing masing
Lia dan Fadli terlihat bahagia, sedangkan Anto terlihat sedih.
__ADS_1
"Itu lebih baik daripada memberikan harapan palsu buatnya"gumamku sambil berjalan menuju ruangan.