
Tak terasa jam pulang tiba, aku masih diruangan menunggu Nadhif menjemputku seperti yang dia bilang tadi.
1 jam berlalu aku masih setia menunggu disini namun Nadhif tak kunjung datang pesan dan telp pun sudah kucoba namun tak ada jawaban darinya, saat ini suasana kantor sudah sepi hanya tinggal aku seorang diri, akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi keruangannya. sesampainya dilantai 4 ternyata sama sudah tidak ada orang lagi, kucoba hubungi lagi tapi masih sama tidak ada jawaban, lalu kukirimi pesan untuk kesekian kalinya
"Assalamualaikum..kak aku pulang dulu ya? aku sudah menunggu kakak dan aku kelantai 4 ruangan kakak tapi ternyata sudah sepi tidak ada 1 orangpun yang tinggal" pesan terakhirkupun tak kunjung ada jawaban, akupun memutuskan untuk pulang, suasana kantor terasa sunyi sudah tidak ada satu orangpun yang berada disana
Sesampainya diLobby aku mengeluarkan ponselku untuk memesan ojek online walaupun masih ada rasa trauma naik motor, namun kupaksa dan ternyata tak kunjung dapat driver, memang ini adalah jam sibuk dan memang susah sekali mendapatkan driver, aku memutuskan untuk berjalan keluar area kantor dengan harapan ada taxi yang mau mengangkutku.
tin tin...
sebuah mobil menghampiriku ada sedikit rasa takut kulihat ada seorang laki laki yang berada didalam mobil itu dan saat kaca mobil terbuka ternyata aku mengenalnya, yaa.. dia adalah Anto aku menghela nafas lega
"Airin,...kenapa berjalan, bukannya kamu pulang dengan suamimu?kemana dia? apa dia tidak menepati janjinya?" seperti biasa Anto selalu berkata panjang tanpa jeda
"Mungkin dia sibuk" kujawab dengan tenang dan sedikit kubumbuhi senyuman supaya rasa kecewaku tidak terlihat.
"Naiklah Airin, biar kuantar, tidak mudah kamu dapat taxi dijam ini ingatlah kondisimu" aku terdiam saat Anto menawarkan diri untuk mengantarku pulang, aku menegakkan badan kulihat suasana diluar memang sangat padat dan belum kulihat taxi satupun
"Ayolah Airin sangat berbahaya bagimu pulang sendiri dengan kondisimu itu, percayalah Nadhif pasti tidak akan marah jika tau situasinya, aku akan menjelaskan padanya" ucapnya dan setelah aku menimbang segala kemungkinan akhirnya aku ikut dengan Anto.
Kami melewati jalur yang berbeda dengan jalur yang biasa aku lewati karena sangat padat yang pastinya bisa membuatku kemalaman dan takutnya Nadhif akan berpikiran yang tidak tidak tentang aku dan Anto.
Anto melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, saat ditengah perjalanan aku melihat sosok yang kukenal yaitu suamiku Nadhif dia sedang makan disalah satu restoran Fastfood yang terkenal di daerah itu, kulihati sosok itu dan seiring jalan semakin terlihat siapa yang sedang makan bersamanya ternyata seorang wanita, aku melebarkan mataku tak percaya lalu kubilang pada Anto untuk berhenti sebentar
"Stop ...Anto" Antopun langsung mengerem mobilnya aku membuka seatbelt yang terpasang dibadanku lali membuka pintu
"Mau kemana kamu" tanya Anto padaku
"Aku keluar sebentar, jika kamu buru buru pulanglah lebih dulu" lalu Anto melihat kearah luar dan aku langsung keluar dari mobil
Kulangkahkan kakiku perlahan sambil kulihat mereka dari luar dan memikirkan segala kemungkinan yang ada tentang Nadhif yang lupa akan janjinya dan aku menemukannya dia sedang makan bersama wanita lain diluar
"Siapa wanita itu hingga kak Nadhif melupakan aku" bathinku tapi kutepis semua pikiran jelek yang ada dikepalaku hingga sampailah aku dibelakang Nadhif kulihat wanita itu memegang tangan Nadhif lalu dia melihat penuh dengan tanya karena aku memfokuskan pandanganku padanya
"Ada apa ya, kenapa kamu melihatku seperti itu" tanyanya dan seketika itu Nadhif membalikkan badannya kearahku ekspresi kaget langsung tampak diwajahnya
__ADS_1
"Airin...."
"Kamu kenal beib?" tanya wanita itu pada Nadhif aku langsung tersenyum kecut
"Beib,...??oh ternyata dia terlalu penting buat kamu sampai sampai kamu lupa dengan janjimu padaku hingga membuatku menunggumu dan itu cukup lama hingga aku memutuskan untuk pulang" tanyaku dengan senyum yang kupaksakan dan menahan airmata yang tak kuundang tapi tetap datang
"Kenapa tidak telp atau mengirim pe..." ucapannya tidak terselesaikan saat dia membuka ponselnya yang diambil dari meja dan melihat riwayat panggilan dan pesan dariku
"Maaf aku tidak mendengarnya"
"Paling tidak kasih kabar padaku supaya aku tidak menunggumu terlalu lama" ucapku sambil meninggalkan Nadhif dan wanita itu, tapi Nadhif menarikku kembali
"Tunggu ke aku" dia mengambil tas yang ada dimeja tapi wanita itu menariknya dan berkata
"Beib siapa sih dia? aku belum selesai, pembicaraan kita belum selesai dan orang tuaku sedang menuju kesini" ucap wanita itu Nadhif terdiam sejenak dan tiba tiba, seseorang menarikku pelan ternyata dia Anto yang aku pikir dia sudah pulang tapi malah menungguku
"Selesaikan urusanmu dengan wanita itu dan Airin pulang bersamaku" ucap Anto tegas dan kami berjalan meninggalkannya kulihat Nadhif masih terdiam dengan tangan wanita itu memegang lengan Nadhif, kutundukkan kepalaku dan berjalan kedepan, Anto berhenti dan kembali kearah Nadhif
"Tunggu sebentar" dia berjalan menghampiri Nadhif. tak lama diapun kembali dan kami keluar bersama.
Sesampainya dimobil aku membuka pintu tapi tidak duduk melainkan mengambil tas dan ponsel yang ada didalam mobil, Anto bingung melihatku namun aku menjelaskan maksudku
****
Nadhif
****
Setelah makan siang aku meninggalkan Airin dan langsung keruanganku karena kata Andi ada tamu yang ingin bertemu denganku
Sesampainya disana Aku bertemu dengan Andi dan bertanya dimana tamu itu karena tidak kulihat disofa tunggu yang ada didepan ruanganku
"Mana tamunya?"
"Dia ada didalam ruanganmu, dia yang memintanya makanya aku tidak menutup pintunya" jawab Andi sambil mengarahkan telunjuknya kepirintu ruanganku. aku hanya mengangguk lalu masuk kedalam
__ADS_1
"Beib.....," suara kecil namun merdu memanggilku kutengokkan kepalaku kearah suara itu ternyata dia Nadia, satu satunya mantan yang kupunya, kami berpacaran karena perjodohanku dan itu hanya bertahan satu bulan saja dan penyebabnya adalah Fanda karena aku tidak bisa melupakannya
"Hei, gimana kabarmu?" tanyaku dan dia langsung memelukku, akupun langsung melepaskannya
"Aku baik Nadhif, kamu"
"Kamu bisa melihatnya aku baik baik saja, apa tujuanmu kesini?"
"Aku ingin bekerjasama dengan perusahaanmu" ucapnya sambil mendudukkan badannya diatas sofa
"Ok? tapi apa tante dan om tau tentang rencana ini" tanyaku kembali
"Tentu...justru merekalah yang merencanakannya, lebih baik kita membicarakan ini sambil makan diluar" aku berpikir sejenak dan Nadia melihat keraguanku lalu dia berkata bahwa kedua orang tuanya akan menemuiku juga disana.
Kamipun pergi meninggalkan kantor dan makan di restoran fastfood pilihan Nadia, disana kami berbincang cukup lama, Nadiapun akhirnya menyampaikan keinginan yang sebenarnya bahwa dia ngin kembali padaku dan menikah denganku lalu dia memegang tanganku, belum aku menjawabnya dan dengan posisi tangan Nadia memegangku tiba tiba Airin sudah berada dibelakangku, aku kaget dan kulihat jam ditangan ternyata aku sudah melewati jam pulang kerja
"Airin...." kulihat wajah Airin hanya memberikan senyuman, namun aku tau dibalik senyuman itu ada rasa kecewa yang sangat padaku
"Kamu kenal beib?" tanya Nadia padaku dan kulihat Airin langsung tersenyum kecut melihatku dan mengatakan sesuatu yang membuatku makin bersalah padanya
"Beib,...??oh...ternyata dia terlalu penting buatmu sampai sampai kamu lupa dengan janjimu padaku dan membuatku menunggumu dan itu cukup lama hingga aku memutuskan untuk pulang" tanya Airin dengan senyum yang dipaksakan dan terlihat dia menahan airmata
"Kenapa tidak telp atau mengirim pe..." ucapanku tidak terselesaikan saat aku membuka ponsel yang baru ku ambil dari meja dan melihat riwayat panggilan dan pesan darinya
"Maaf aku tidak mendengarnya" hanya itu yang bisa aku ucapkan padanya
"Paling tidak kasih kabar padaku supaya aku tidak menunggumu terlalu lama" ucapnya sambil meninggalkanku, dengan reflek kutarik dia kembali
"Tunggu aku" aku mengambil tas yang ada dimeja tapi Nadia menarikku dan berkata
"Beib siapa sih dia? aku belum selesai, pembicaraan kita belum selesai dan orang tuaku sedang menuju kesini" ucap Nadia, dan aku terdiam sejenak dan tiba tiba kulihat Anto mendatangi kami dan menariknya pelan lalu berkata sesuatu padaku
"Selesaikan urusanmu dengan wanita dan Airin pulang bersamaku" ucap Anto tegas dan mereka berjalan meninggalkannku aku hanya bisa terdiam dengan tangan Nadia itu memegang lenganku lalu Anto berjalan kembali kearahku
"Ingat perkataanku sebelumnya" sambil mengangkat telunjuknya dan mengarahkan padaku
__ADS_1
"Apa anda masih ingat dengan perkataan saya terakhir, jika saya melihat anda menyakiti Airin lagi maka saya siap untuk merebutnya dan ini saatnya" Anto langsung berbalik dan mereka keluar bersama.
Kulihat tangan Nadia masih berpegangan padaku saat itu juga kutepis dengan kasar dan aku langsung duduk, bukan aku tidak mau mengejarnya, ini karena kedua orang tua Nadia yang akan datang menemuiku dan aku sudah berjanji untuk menunggunya dan menurutku jika dengan Anto palingbtidak Airin akan aman.