
Hampir semua orang yang datang ikut mensholatkan dan mengantar kepergiaan Sandra dan Rafanda ( kedua orang tua Airin ) ketempat peristirahatan terakhir, suasana pemakaman terasa sangat sejuk semua berjalan lancar tanpa hambatan apapun, saat hendak di kumandangkan azankan untuk terakhir kalinya secara bersamaan terdengar suara azan dari beberapa mesjid yang ada didekat pemakaman ikut berkumandang secara bersamaan yang dapat membuat merinding setiap orang yang ada disana
Disisi lain suasana dirumah kembali dihebohkan dengan pingsannya Airin, kondisi Airin yang memang masih lemah dan hatinya yang masih belum sepenuhnya menerima kepergian kedua orang tuanya, tak dapat dipungkiri jika seorang anak sedih dan terpukul saat ditinggal orangtuanya apalagi kehilangan keduanya secara bersamaan, kabar bahwa Airin kembali pingsan telah sampai ditelinga Nadhif
Sepulang dari pemakaman Nadhif segera berlari masuk kedalam rumah untuk melihat istrinya
"Assalamualaikum...Lin dimana istriku?" Lina adalah orang pertama yang dilihat Nadhif dan segera dia menanyakan kondisi istrinya
"Dia ada dikamar, cuci kaki dan tanganmu terlebih dulu Nadhif" ucap Lina yang kini sudah dianggap seperti saudara sendiri
Nadhif bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya lalu dia kekamar untuk menemui istrinya, ya saat ini masih Airin yang ada didalam pikiran Nadhif karena rasa cinta dan khawatirnya pada wanita yang sangat dicinta dan bagaimana terpuruknya saat kehilangan kedua orang tua dan adik tercintanya yang masih koma, bukan berarti Nadhif melupakan baby Najj buah hati mereka yang baru saja dilahirkan, Nadhif tau bahwa baby Najj dalam kondisi baik dan berada pada orang yang tepat, dan saat ini yang lebih membutuhkannya adalah istrinya Airin
"Sayang ..." kata pertama yang diucapkan saat memasuki kamar dan dilihatnya Airin yang sedang termenung, Airin tersenyum mengiringi langkah Nadhif kedalam hingga duduk disampingnya
"Bagaimana pemakaman mama dan papa? lancar kak?" tanya Airin pada suaminya yang kini sudah berada disampingnya, kali ini Airin bertanya tanpa ada air mata karena dia sudah bertekad bahwa tidak ada tangisan lagi, Airin juga tidak ingin kesedihannya ini menghambat kepergian orang tuanya dan membuat khawatir semua orang
"Alhamdulillah...semua lancar sayang, Allah menunjukan bahwa mama dan papa adalah orang yang baik, kami semua bangga terutama aku yang berhasil memiliki anaknya yang sholeha ini" ucapan Nadhif ini sanggup membuat Airin malu dan pipinya memerah
"Kamu sudah makan sayang?" Airin menggelengkan kepala
"Ya udah aku ambilin kamu makan dulu ya" lagi Airin hanya memberikan gelengan kepala pada Nadhif, dan Nadhif memberikan tatapan bertanya
"Kak aku mau ketemu sama baby Najj" Airin memang sangat merindukan anaknya, karena memang sedari tadi Airin belum bertemu baby Najj dipegang oleh bu Sum dan bergantian dengan para sahabat Airin yaitu Lina dan Lia
__ADS_1
"Kamu bisa ketemu baby Najj jika kamu sudah makan, karena aku dengar dari yang lain kamu gak mau makan ya, ..sayang... kamu sayang sama anak kita kan, baby najj membutuhkan kamu dia juga butuh asi kamu, kalau kamu gak makan bagaimana kalau baby Najj haus dan ingin minum langsung dari ummanya" Airin terdiam sesaat dan mengangguk
Nadhif berjalan keluar kamar hendak mengambilkan makanan untuk istri dan dirinya sendiri, namun saat didepan pintu dia bertemu Mila yang panik dengan keadaan menantu yang sangat disayang
"Mantu umma dimana Nadhif, dia baik baik saja kan?" Nafas Mila masih terengah engah karena sepulang dari pemakaman pikirannya tidak tenang saat mendengar jika Airin kembali pingsan
"Alhamdulillah istriku sudah baikan umma, sekarang dia ada dikamar, Nadhif ambil makan dulu" Mila bergegas masuk kedalam kamar sedangkan Nadhif melanjutkan langkahnya ketujuan awal
"Airin... sayang gimana kondisi kamu sekarang, kita panggil dokter ya?" Airin menggeleng dengan senyuman
"Alhamdulillah Airin sudah baik umma, Airin istirhat sebentar, nanti pulih lagi umma jangan terlalu khawatir" Mila membelai kepala Airin dengan lembut dan penuh kasih sayang
"Baiklah kalo gitu, tapi kamu harus ingat, masih ada kami yang sangat mencintaimu dan baby Najj yang membutuhkanmu, jangan terlalu larut dalam kesedihan, Allah sangat membenci itu, dan pastinya kedua orang tua kamu juga tidak ingin melihat kamu seperti ini, mereka percaya bahwa kamu danggup melalui ini semua..." Airin hanya tertunduk tapi tidak ada air mata yang menghiasi matanya hanya senyuman kecil, saat ini dia merasa malu pada semuanya terutama pada tuhan, sebagai hambanya yang beriman tidak seharusnya dia larut dalam kesedihan harusnya dia lebih bertawakal menerima semua takdir yang diukir untuknya, kini hanya kata istighfar yang dia ucapkan berkali kali ucapan memohon ampun atas kelalaiannya sebagai umat
"Kedua orang tua kamu adalah sahabat umma, umma juga sangat kehilangan dan terpukul...bukan hanya kita semua karena kedua orang tua kamu adalah orang baik sayang...jadi kamu harus menerima takdir yang sudah digariskan Allah dihidup kita" kembali Airin mengangguk kalo ini senyuman yang diberikan sangat lebar terlihat senyuman tanpa beban, mungkin kali ini Airin sudah benar benar menerima takdirnya
"Terima kasih umma" Mila memeluk erat Airin dan mengecup keningnya, tak lama Nadhif masuk membawa piring yang berisi makanan
"Sekarang kamu makan dulu ya, umma mau lihat cucu kesayangan umma dulu" Mila meninggalkan kamar dan mencari baby Najj
"Kita makan dulu ya sayang" Nadhif perlahan menyuapi Airin, cukup sabar dia membujuk Airin untuk makan, Airin juga merasa sangat beruntung mempunyai suami yang sabar dan sangat menyayanginya, yang selalu bisa memberikan kehangatan dan ketenangan didalam dirinya...
Airin membuka mulutnya saat suaminya mengarahkan sendok yang berisi makanan kemulutnya perlahan namun pasti makanan itu dikunyahnya hingga layak untuk ditelan, sendok demi sendok masuk kedalam mulut Airin tanpa terasa piring yang tadi berisi penuh nasi dan lauk habis tak tersisa, Nadhif tersenyum senang dan kaget pasalnya dia mengambil makan dengan porsi yang banyak yang disengaja untuk istri dan dirinya sendiri karena Nadhif sendiri juga belum makan sedari pagi
__ADS_1
Airin menunduk malu saat melihat senyuman diwajah tampan suaminya, dia tau apa yang dipikirkan suaminya itu
"Maaf kak, makanannya habis, kak Nadhif gak makan donk" Nadhif masih tersenyum dan menggelengkan kepalanya tanda bahwa tidak ada yang perlu dimaafkan
"Aku Rakus ya ..." pipi Airin kini memerah menahan malu pada pria yang ada didepannya, Airin tidak sadar jika dia sudah menghabiskan makanan dipiring yang dibawa Nadhif tadi, yang dia rasa adalah rasa lapar yang luar biasa, rasa nikmat yang berbeda yang tak pernah dirasa sebelumnya, apa mungkin rasa nikmat itu berasal dari tangan suaminya yang menyuapinya dengan tulus dan penuh kasih sayang
Setelah makan Nadhif keluar kamar untuk mengambil kembali makanan untuknya, dan baby Najj sesuai janjinya Airin dapat bertemu setelah makan
"Assalamualaikum....umma..." Nadhif masuk kedalam kamar dengan menggendong baby Najj Dengan membawa piring ditangan satunya
"Waalaikumussalam....anak umma..." Airin merentangkan tangan kedepan tanda ingin mengambil baby Najj kedalam gendongannya
cup..cup..cup..cup
Kecupan demi kecupan diberikan Airin pada anaknya yang sedari tadi belum dia pegang, bukannya menangis malaikat kecil itu malah tertawa kencang seolah olah dia tau bahwa orang yang melahirkannya sangat merindukannya dan ingin menghibur wanita yang sudah melahirkannya itu
****
Tanpa terasa waktu sudah berganti malam, setelah acara pengajian semua pamit kerumah masing masing hanya tersisa Airin, Nadhif, kedua orangtunya, keluarga pak Juki dan juga Lina yang sedang hamil memutuskan untuk tinggal karena dia tau saat ini suaminya sangat dibutuhkan Nadhif dan agar lebih mudah jika Nadhif membutuhkan bantuan suaminya sewaktu waktu
Sudah hampir satu bulan setelah meninggalnya kedua orang tua Airin namun kondisi Adit adiknya masih saja sama dan belum ada perkembangan
Usia baby Najj kini sudah 1 setengah bulan, kondisinya sangat sehat dan semakin berisi, memang seperti namanya sebuah anugerah dan pertolongan kehadirannya mampu menghapus kesedihan dalam sekejap dan menjadi penguat untuk semuanya, tiada hari tanpa tawa dan semua itu karena baby Najj, hanya dengan melihat matanya saja terasa tenang dan tingkah lucu baby Najj yang selalu membawa tawa untuk semuanya
__ADS_1