
"Huuhhh...dasar kak Nadhif, kenapa dia? dari kemaren ngerjain aku terus, sudah jadi hobby barunya sekarang" kesal sih aku sm perlakuan Nadhif tapi tidak kupungkiri juga kalo akupun senang dengan perlakuannya itu,termasuk ciuman tadi, yaaa itu ciuman pertamaku, walaupun aku pernah hampir menikah dulu, tapi sejujurnya aku tidak pernah disentuh oleh mantanku apalagi sampai menciumku, bukannya dia tidak ingin, tapi aku yang punya prinsip bahwa aku akan memberikan segala yang aku punya untuk laki laki yang menjadi suamiku nantinya.
Nadhif sudah selesai mandi, kini giliranku yang mandi, mandi sebelum tidur sudah menjadi kebiasaanku sejak SMA.
"Saat aku keluar dari kamar mandi, kulihat Nadhif sudah berada ditempat tidur dengan mata terpejam.
"Alhamdulillah...dia sudah tidur, jadi aku g perlu gugup didepannya" aku berjalan ketempat tidur perlahan, lalu kurebahkan badanku disisi yang berlawanan dengan Nadhif, kulepas jilbabku dan kutaroh di meja kecil yang ada disamping tempat tidur.
Sudah 10 menit aku hanya berguling kekanan dan kiri, aku tidak bisa tidur karena rasa canggung berdua dengan Nadhif dalam satu kamar, apalagi satu tempat tidur dengannya, rasanya masih belum bisa ku percaya.
"Kamu kenapa Airin" aku kaget melihat Nadhif bangun dan melihat kearahku aku langsung membalikkan badanku membelakanginya...
"Aku masih belum terbiasa tidur disini kak, apalagi satu tempat tidur sama kamu rasanya canggung, ditambah lagi jantungku makin berdetak kencang jadi susah ti...dur" "Astaghfirullah...apa yang aku katakan, memalukan kamu Airin, kenapa aku bisa aku sepolos dan sejujur ini."gumamku ysng ternyata juga didengan oleh Nadhif
"Boleh aku matikan lampunya, aku tidak biasa tidur dengan lampu yang menyala" hanya itu alasan yang aku buat, supaya Nadhif tidak melihat wajahku yang sudah memerah tersipu malu karna omonganku sendiri.
"Baiklah aku akan Matikan" lega rasanya, aku kira Nadhif tidak akan membolehkan aku mematikan lampu itu, ternyata diluar dugaanku.
Nadhif bangun dari tempat tidur, dan berjalan menuju saklar lampu yang ada didekatnya dan mematikan lampu, akupun merasa lega paling tidak dia tidak melihat wajahku yg seperti kepiting rebus ini.
Tiba tiba terasa tangan yang menjulur kepinggangku dan memeluk erat, aku kaget dan berusaha melepaskannya, namun pelukan itu makin erat, lalu dia merebahkan tubuhku dan mulai menciumku, dan sekarang posisi dia sudah berada diatas tubuhku, aku meronta tapi dia menahanku dengan kencang, aku sedikit kesakitan dengan apa yang dilakukannya
"apa yang terjadi dengan kak Nadhif, dia seperti sedang kerasukan, hingga tega melakukan ini padaku" bathinku yang diiring tangisan kecilku
"Lepas kak, apa yang ingin kamu lakukan padaku, sakit kak" aku memberanikan diri untuk berbicara padanya dan berusaha lepas darinya
"Aku juga tidak ingin melakukan ini tapi aku mohon kamu jangan meronta" ucapnya dengan halus. Akhirnya akupun tidak meronta lagi dan dia merenggangkan pegangannya padaku, kali ini jantungku berpacu sangat kencang rasanya ingin pecah
"Airin...aku ingin mengambil hakku sebagai suamimu malam ini" bisiknya ditelingaku, masih dengan posisi diatas tubuhku, aku bingung harus menjawab apa, aku tidak tau dia serius atau tidak karena aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya saat ini.
"Aku ingin mewujudkan keinginan orang tua kita, agar kita cepat punya keturunan.."
__ADS_1
"Kenapa harus sekarang kak, itu bisa kita lakukan nanti saat kamu su..uummm"
belum selesai aku bicara dia sudah menciumku, aku berusaha mendorong tapi sia sia tenaganya lebih besar dibandingkan tenagaku.
"Aku sudah tidak tahan lagi, maaf Airin" kembali dia berbisik ditelingaku, tanpa kata persetujuan dariku Nadhif langsung melakukan aksinya untuk mengambil apa yang sudah menjadi haknya terhadapku dan aku hanya pasrah tidak bisa menolaknya, dan juga karena rasa cintaku padanya maka aku merelakan begitu saja, walaupun terasa amat sakit baik fisik maupun perasaanku.
"Terima kasih Airin..., kamu sudah menjadikan aku orang yang pertama buatmu" kembali dia membisikkan ditelingaku...dan merebahkan tubuhnya disampingku lalu memelukku.
Aku hanya menangis, tapi kutahan agar tidak terdengar oleh Nadhif, selain rasa sakit yang aku tahan aku juga sedih kenapa harus seperti ini malam pertamaku, yang seharusnya dilakukan dengan dasar cinta selain ikatan pernikahan, memang sudah sesuai prinsipku bahwa aku akan memberikan semuanya untuk suamiku, tapi tidak harus seperti ini juga.
Karena rasa lelah dan sedihku itu akhirnya aku terlelap dengan sisa air mata dipipiku..
****
"Sayang...sayang...Airin...bangun cepat mandi, umma sudah menunggu kita untuk sholat subuh bersama" Nadhif membangunkanku dengan lembut, dia membelai dan mencium bibirku...aku langsung terbangun, dan kulihat tubuhku ternyata masih terbungkus selimut.
Aku ingin turun dari tempat tidur namun masih terasa sakit "Aauugghh" riintihku kesakitan
"Cepat ya sayang ...jangan lama lama mandinya aku tunggu diluar ya.." teriak nadhif saat aku sudah didalam kamar mandi
Selesai mandi aku langsung ketempat sholat, disana sudah ada Nadhif dan umma yang menungguku, aku mengenakan mukena dan sholatpun dimulai .
.
****
Setelah sarapan umma meminta ijin pulang lebih cepat, katanya karena ada urusan mendadak yang harus umma selesaikan, aku mengantar umma kedepan rumah, dan umma sudah dijemput oleh sopirnya.
aku masuk kedalam rumah langsung naik keatas, kekamar Nadhif, saat sampai didalam kamar ternyata Nadhif sedang berada diatas tempat tidur dengan posisi dudur bersandar pada sandaran tempat tidur, aku memberanikan diri tetap masuk tanpa memperhatikan dia, dan mengambil semua bajuku yang aku simpan sementara di lemari itu dan kembali kekamarku sebelumnya.
"Kamu mau kemana sayang?"tanya Nadhif saat melihatku membawa bajuku dan berjalan keluar kamar, aku tidak menjawab pertanyaannya, lalu dia menahanku dan menarikku duduk ditempat tidur.
__ADS_1
"Mau kemana kamu dengan membawa semua bajumu yang ada dilemariku" aku masih diam dan tertunduk.
"Ada apa lagi Airin, katakan supaya aku mengerti"ucapnya masih dengan nada lembut
'Apa karena kejadian semalam, kamu jadi seperti ini?itu hal biasa untuk pasangan suami istri, jadi jangan malu padaku" dengan lembut Nadhif membelai rambutku lalu dia mendekapku didadanya.
"Aku tau dan aku paham hal itu wajar, tapi aku kecewa dengan kamu kak, kamu tidak meminta persetujuan dariku dulu, dan apakah pantas kita melakukannya..sedangkan ada terselip kontrak diantara kita dan kita tidak saling mencintai"
Nadhif melepaskan dekapannya dan beranjak menuju kamar ganti, beberapa detik kemudian Nadhif kembali duduk disampingku dengan membawa amplop berwarna coklat dan mengeluarkannya
"Kontrak ini kan yang kamu maksud"
srek...srekk...srekk...
"Lihat sekarang sudah tidak ada kontrak lagi kan, yang kusobek itu adalah berkas Asli dan aku tidak pernah membuat salinannya"
" Apa dengan kamu menyobek kontrak itu kamu anggap selesai begutu saja, lagi pula kamu tidak mencintaiku kak"
"Tapi kamu mencintaiku...itu sudah cukup Airin"
"Tapi tidak buatku, aku juga menginginkan kamu mencintaiku bukan mencintai wanita lain"
"Ok..ok ..sejujurnya aku mencintaimu Airin"
"jangan memaksakan sesuatu yang tidak kamu rasa" bantahku atas pengakuan Nadhif
"Aku men cin taimu Airin, aku tidak akan mau melakukan hal itu jika aku tidak mencintaimu, paham" suara Nadhif makin tinggi terlihat dia marah namun dia tahan
"Apa, kakak masih mencintai wanita itu, jawab yang jujur kak" Nadhif terdiam suduk dengan meletakkan kedua sikunya dipahanya sambil menopang tubuhnya lalu kepalanya tertunduk kebawah...
"Ternyata kamu masih mencintai wanita itu" akhirnya tangis yang sedari tadi kutahan pecah juga.
__ADS_1
"Apakan wajar seorang laki laki mencintai 2 wanita sekaligus, aku tidak ingin dimadu dan juga tidak ingin jadi yang kedua, jadi cepat kamu ambil keputusan siapa yang kamu pilih" tangisanku semakin kencang dan Nadhif meraihku dalam pelukannya.