
Sudah satu jam Nadhif menunggu kedatangan orang tua Nadia namun belum ada tanda tanda kedatangan mereka, akhirnya Nadhif berinisiatif menelpon ibu Nadia
"Assalamualaikum...tante ini Nadhif, pakabar tan?" tanya Nadhif pada seseorang yang ada diseberang
"Tan kira kira tante datang jam berapa ya, Nadhif sudah menunggu lama disini bersama Nadia" tanya Nadhif lagi pada orang yg diseberang, Setelah itu Nadhif hanya menganggukkan kepala lalu mengarahkan tatapan matanya dengan kebencian kearah Nadhia, terlihat ketakutan diwajah Nadia, tak lama Nadhif menutup telpnya
'Maafkan aku Nadhif" selesainya Nadhif menghubungi orang tua Nadia, tiba tiba Nadia berpindah duduk menghampiri Nadhif memohon ampun dan memegang tangan Nadhif dan seketika itu jiga ditepisnya
"kenapa kamu berbohong, apa tadi kamu tau kalo ponselku berdering terus kamu sengaja membaliknya agar aku tidak melihat ada pesan yang masuk, kamu tau kan itu dari siapa??" Nadia makin menundukkan kepalanya dia sangat ketakutan dan merasa bersalah karena kebohongannya
"Dia istriku Nad, kamu jangan pernah berharap aku akan meninggalkan dia, dan apa yang kamu bilang tadi? kamu ingin kembali denganku? kamu gi** padahal kamu tau aku sudah beristri tapi bisa bisanya kamu menipuku" ucap Nadhif dengan penekanan yang ditujukan untuk Nadia
kriiingg...kriingg
Nadhif melihat nama Fans Istriku yang tertera pada ponselnya lalu menggeserkan tombol berwarna hijau untuk mengangkatnya
"Assalamualaikum...halo ada apa Nto?" jawab Nadhif dengan nada yang sedikit berat karena menahan rasa marah
"Bagaimana kondisi Airin, tadi dia terlihat memegang kepalanya saat keluar tadi, apa dia baik baik saja?" Nadhif sngat kaget dia memicingkan matanya dan mengeratkan giginya dengan tajam dia melihat mata Nadia
"Bukannya dia bersamamu tadi, tadi aku membiarkannya karena aku yakin dia aman bersamamu, lantas kenapa kamu membiarkan dia pergi sendiri" Nadhif berbicara sambil menggebrak meja didepannya, sontak semua pengunjung kaget dibuatnya terlebih lagi Nadia yang sedari tadi hanya terdiam
"Hei kenapa kamu yang marah? ini semua karena kamu yang tidak becus menjadi suami, memilih bersama wanita itu dan membiarkan istrimu pergi dengan laki laki lain, apa kau yakin mencintainya, jika tidak biar aku yang menjadi suaminya" tantang Anto pada Nadhif secara terus terang
Nadhif yang merasa apa yang diucapkan Anto benar dia menurunkan emosi dan Nada bicaranya lalu menghela nafas panjang
"Ok aku salah, sekarang kita cari istriku, 2 or ang lebih baik dari pada sendiri" kali iNi Nadhif yang mengalah dan menurunkan harga dirinya demi istri tercintanya
"Tanpa kamu suruh aku pasti akan mencarinya" ucap Anto dengan nada kesal
__ADS_1
"Baiklah, kamu coba hubungi teman temannya, aku akan coba menghubungi orang tua kami dan saudara dekat kami" lalu Nadhif menutup telponnya dan segera merapikan barang barangnya yg ada dimeja
Saat hendak melangkahkan kaki keluar Nadhif membalikkan diri kehadapan Nadia dengan tatapan benci dan berkata
"Semua ini karena ulahmu, karena kebohonganmu aku membiarkan istriku pergi dan sekarang aku tidak tau dimana keberadaannya, jika sampai terjadi sesuatu pada Airin aku tidak akan segan segan untuk masukkanmu kedalam penjaran camkan itu" Nadhif memberikan tekanan pada kata terakhirnya dan Nadia semakin ketakutan
Nadhif beranjak keluar resto dan orang pertama yang dihubunginya adalah Andi saudara, sahabat sekaligus orang kepercayaannya yang selalu bisa memberikan solusi padanya
"Assalamualaikum...ndi kamu datang kerumahku sekarang, Airin belum pulang sampai sekarang, aku takut terjadi apa apa padanya dan anak yang dikandungnya" Nadhif mengakhiri panggilan sebelum Andi menjawabnya
20 menit kemudian aku tiba dirumah dan benar saja rumah masih kosong belum ada tanda tanda kehadiran Airin namun Nadhif berusaha untuk tenang dan berharap Airin sedang tidur dikamar, diapun langsung berlari kearah kamar ternyata kosong dibukanya tiap pintu yang ada dirumahnya tapi dia benar benar tidak menemukan Airin, Kepanikan Nadhif semakin menjadi saat melihat jam ditangannya sudah menunjukan jam sepuluh malam, dan Andipun belum tiba
Nadhif menghubungi Andi kembali berdering berkali kali namun tidak ada jawaban dari Andi, tak lama kemudian kudengar klakson mobil Andi didepan pagar aku langsung berlari membukakannya dan Andi langusng memarkirkan mobilnya dan segera keluar lalu menghampiriku yang sudah duduk disofa tengah
"Dari mana saja kamu, tidak bisakah kamu datang lebih cepat?" tanya Nadhif saat melihat Andi memasuki pintu rumah lalu duduk didepannya
"Apa kamu lupa, kalo aku dari bogor, aku kan menggantikanmu meeting karena kamu menemani Nadia" Nadhif tidak terlalu menggubrisnya karna rasa khawatirnya sudah memuncak
"Lebih baik aku bertengkar dengannya ndi karena aku masih bisa melihatnya, tapi sekarang dia menghilang aku tidak tau lagi dimana semua orang yang dia kenal sudah dihubungi namun tak seorangpun bersama Airin, bahkan Anto juga membantuku mencari Airin" Nadhif menggaruk garuk kasar rambut dikepalanya terlihat sangat frustasi dan ini pernah terjadi saat Airin berada di ruang operasi karena kecelakaan itu.
Nadhif menceritakan semuanya pada Andi, Andi hanya menggelengkan kepalanya tanda ada yang seharusnya dilakukan Nadhif pada Airin
"Apa yang kamu pikirkan Nadhif sampai hal ini bisa terjadi, seharusnya apapun keadaanya kamu harusmengutamakan istrimu apalagi dia sedang mengandung, tentunya kamu sudah tau sifat licik Nadia" Kata kata yang keluar dari Anto membuat Nadhif tercengang, tidak seperti biasanya Andi seperti ini, biasanya Andi memberikan nasehat *** kali ini kekecewaan padaku
"Coba kamu cek lokasi Airin dari ponselmu, bukannya nomormu sudah terkoneksi dengan nomor Airin jadi kamu bisa melacaknya" Nadhif menepuk nepuk ji***nya
"Kenapa tidak terfikirkan olehku tadi..arrghh" Nadhif merutuki dirinya
" tidak ada gunanya menyesal Nadif, sekarang yang harus kamu lakukan buka ponselmu dan lihat di mana lokasi Airin saat ini."
__ADS_1
Nadhif mengikuti apa yang dikatakan Andi. Dia segera membuka ponselnya lalu aplikasi yang dimaksud kemudian kulihat sinyal Airin berada tak jau dari stasiun MK
"Kenapa bisa sejauh ini sinyalnya" aku memperlihatkan keberadaan Airin pada Andi lalu berlari kearah kamar dan mengambil 2 buah jaket yang satu untuk NadHif dan yang satu lagi sudah pasti untuk istrinya tercintany
"Ayo kita berangkat, gunakan mobilku saja" Andi hanya menganggukan kepala dan berjalan menuju Mobil sedangkan Nadhif mengunci rumah setelah semua beres mereka bergegas melajukan mobilnya kearah GPS
****
Terdengar suara memanggiril dan membangunkan Airin dari lamunan, dan itu adalah suara dari sopir angkot yang memberitahukan bahwa mereka telah tiba di terminal akhir
"Non mau kemana?ini dah sampe ujung Non"
"Astaghfirullah...dimana ini, ini dimana ya pak," tanya Airin pada sopir angkot itu
"Terminal MK non, memang tujuan non kemana, ini dah malam bahya loh non" ucap sopir angkot itu mengingatkan Airin,
Airin melihat jam ditangannya ternyata sudah jam 9 malam dan tanpa sadar dia naik angkot yang tidak tau arahnya kemana hingga tiba di terminal tujuan akhir.
"Pak...bisa bantu saya, bisa bapak temani saya menunggu teman disini" tanya Airin untuk meminta bantuan pada pak sopir itu, Airin yakin bapak itu adalah orang baik karena bisa saja dia menipuku saat aku masih bingung tadi
"Waduh non maaf bukannya saya gak mau nemenin non ya, tapi anak sama istri saya sudah menunggu saya, soalnya mereka belum makan dan tunggu saya dapat uang dulu, ini juga mau mampir kewarteg dulu" jawabnya dan Airin merasa iba dengan kondisi keluarga bapak sopir itu lalu Airin memutuskan untuk ikut dengan sopir itu
"Pak boleh tidak kalo saya ikut bapak kerumah, saya takut jika sendirian disini, tidak ada orangbyang saya kenal disini selain bapak" Sopir itu terdiam dan berfikir jika dia meninggalkan Airin maka akan berbahaya bagi wanita secantik Airin sendirian di terminal saat malam hari seperti ini akhirnya sopir itu menyetujui usulku
"Ya sudah non ikut saya tapi jalan kaki ya dan lumayan jauh loh"
"Iya pak saya siap yang penting saya tidk sendiri disini" Airin mengiyakan apa yang dikatakan sopir itu lalu sopir itu jalam terlebih dahulu dan Airin menyusul dibelakangnya, karena sopir itu berjalan demgan cepat Airin sedikit berlari untuk mengimbangi langkahnya agar tidak tertinggal
"Kalo boleh saya tau nama bapak siapa?" tanya Airin dengan suara yang sedikit tersengal lalu sopir itu memperlambat langkahnya setelah melihat Airin yang ngos ngosan sambil memegangi perutnya, terlihat rasa kasian diwajah sopir itu padaku
__ADS_1
"Saya Jukiran Non panggil saya Juki aj apa non sedang hamil ya??"jawabnya dengan langkah yang sudah melambat.
"Saya mampir ke Warteg itu dulu ya non, mau beli makanan dulu, Airin hanya mengangguk dan mengikuti pak Juki masuk kedalam warteg itu, didalamnya sangat ramai dan hampir semuanya mengenal pak Juki, setelah selesai aku dengan cepat memberikan uangku untuk membayar makanan dan nasi yang dipesan lalu kutambahkan beberapa lauk dan nasi lagi, terlihat kebahagiaan pada wajah pak Juki, dan kamipunkembali berjalan menuju rumah pak Juki.