Rahasia Lain Suamiku

Rahasia Lain Suamiku
Terbongkar


__ADS_3

Setibanya aku didepan ruang meeting aku masih melihat beberapa orang berada dilur ruangan dan mulai mengisi buku tamu, aku berjalan perlahan menuju meja tamu yang ada diluar ruangan


"Ahhh, untung belum mulai" kutarik nafas panjang untuk mengembalikan nafasku ya sedikit ngos ngosan karena berlari mengejar waktu.


"Dari bagian mana mbak?" tanya wanita yang ada didepan, yang menurutku dia adalah seorang sekretaris


"Saya dari bagian akutansi, saya yang menggantikan bu Irene"


"Ooo, mbak Airin ya, tadi bu Irene sudah berpesan sama saya, mari saya antar ketempatnya" Wanita itu mengantarkanku kedalm dan mengarahkanku ditempat duduk bu Irene, ruangan itu sangat luas dan masing masing kursi sudah mempunyai nama dan bagian masing masing.


"Terima kasih mbak" aku langsung menempati kursi yang ditunjuk oleh wanita itu.


Tepat jam 10, wanita yang ada didepan tadi memberitahukan bahwa Presiden Direktur sudah sampai dan akan memasuki ruangan, kamipun berdiri secara serentak. Aku ikut berdiri dan menundukkan kepalaku, setelah beliau masuk dan duduk baru kami semua duduk kembali.


Meeting kali ini adalah meeting laporan yang dilakukan tiap bulan, setiap bagian melaporkan masing masing pencapaian dan kendala yang ada, aku hanya menyimak sambil membaca kembali dokumen yang aku bawa dan aku akan menjadi laporanku hari ini.


Sekarang giliran bagianku yang disebut, sebelum aku baca laporan yang akan kusampaikan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu


"Assalamualaikum...perkenalkan saya Aiiiriiinnnnn" kalimatku terputus saat aku melihat kearah Presiden Direktur yang ada dikursi utama, beliaupun juga kaget melihatku, aku sejenak diam lalu kulanjutkan kalimatku tadi dan memalingkan wajahku kearah yang lain


"Saya dari bagian akuntansi menggantikan bu Irene yang sedang berhalangan hadir karena harus menghadiri meeting diluar kantor"


"Hari ini saya perwakilan dari bagian akuntansi melaporan pendapatan perusahaan...bla...bla...blaa" hingga aku menyelesaikan laporanku aku tidak berani mengarahkan pandanganku padanya

__ADS_1


"Kali ini aku yakin sekali, dia memang Kak Nadhif...baju yang dipakai itu aku yang menyiapkannya jadi aku tidak akan salah orang, tapi kenapa dia berbohong padaku dan menyembunyikan identitas aslinya, apa maksud dia berbuat seperti itu" bathinku berkecambuk, banyak pikiran yang melintas di kepalaku, hingga tak terasa meeting telah berakhir dan semua orang sudah mulai meninggalkan kursinya masing masing, aku yang melihatnya ikut segera merapikan berkas yang aku bawa dan melangkahkan kakiku keluar tanpa melihatnya.. belum sampai dipintu keluar tiba tiba seorang pria menghampiriku dan berbicara padaku


"Maaf bu Airin Pak Presdir ingin berbicara dengan anda" aku hanya diam tanpa melihatnya, menahan air mataku agar tidak keluar


"Sampaikan pada beliau masih banyak yang harus saya kerjakan dan saya harus kembali keruangan segera" aku langsung melanjutkan langkah kakiku yang terhenti tadi, namun seseorang menarik tanganku dan mendudukkan aku disebuah kursi, aku melihat kedepan dan ternyata Nadhif yang menarikku tadi, kembali kutundukkan kepalaku bukan karena aku takut padanya tapi rasa kecewa yang teramat sangat pada dirinya, sampai sampai aku enggan melihatnya


"Lihat aku Airin, aku akan menjelaskan semuanya" Nadhif memegang daguku dan mengangkatnya, hingga aku bertatapan dengannya, tanganku secara refleks menepis tangannya


"Aku tidak bermaksud membohongimu, ini kulaku..." ucapannya langsung ku potong karena aku tidak ingin sakit lebih dalam karena alasan yang akan dikatakannya itu


"Sudahlah, tidak perlu kamu jelaskan padaku, dan itu hakmu, aku sadar posisiku dihatimu seperti apa?" jawabku dengan menahan emosi yang mulai naik


"Apa kamu tidak ingin tau alasannya"


"Rasa kecewaku terlalu besar dibanding rasa ingin tauku tentang alasanu untuk membohongiku, untuk sementara biarkan aku sendiri kak, aku ingin menata dan menenangkan hatiku dulu karena banyak rasa kecewa akibat dari apa yang kamu perbuat padaku"


Jam pulangpun tiba, masih sama aku menunggu jemputanku, ojek online, kulihat mobil yang terpakir diujung seperti mengawasiku, aku sudah tau siapa didalamnya, aku pura pura tak melihatnya hingga tibalah jemputanku yang selalu setia padaku


Kali ini aku pulang dengan rasa kecewa yang teramat sangat, rasa nyeri didadaku tak kunjung hilang, tapi aku tak bisa berbuat apa apa, pikiranku tak tenang selama diperjalanan dan tanpa terasa


Braaakkkk....ttiiinnnnnn......


"Aaaaagggghhhh"

__ADS_1


Brrugggg....


aku merasa tubuhku terbang dan terjatuh rasanya sakit sekali, kulihat sebuah mobil hancur dibagian depan dan menabrak trotoar, dan sopir ojek onlineku tergeletak dipinggir jalan dekat denganku juga , aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan menolongnya, tak lama banyak orang datang menolong kami dan tiba tiba aku merasakan sakit yang sangat dikepalaku, dan tubuhku berasa sangat lemas, lalu semua menjadi gelap.


****


Nadhif


****


Sepulang kerja Andi mengingatkanku ketempat Fanda, seharusnya aku merasa senang karena sebentar lagi aku menemukan orang yang aku cari cari selama ini tapi yang kurasa saat ini adalah cemas, entah cemas karena apa, tapi tetap aku putuskan untuk tetap berangkat


Andi melajukan mobil keluar basemen dan hendak melewati lobby aku melihat Airin yang sedang menunggu didepan lobby, aku menyuruh Andi untuk memarkirkan mobilku diujung, kupandangi dia dari jauh, rasa bersalahku semakin besar saat melihat dia, aku merasa jahat padanya, ingin kuhampiri, tapi kutahan saat kuingat apa yang diucapkan Airin tadi bahwa dia tidak ingin diganggu


"Maaf Airin...Maafkan aku, tunggulah sedikit lagi aku akan menyelesaikan perasaanku dengan Fanda setelah itu aku akan berjuang seutuhnya untukmu". aku berucap lirih rasa sakit dihatikupun semakin menusukku


"Apa kita langsung jalan Nadhif, orangku sudah menghubungiku" kata Andi mengembalikan suasana


"Sebentar Andi, aku ingin melihatnya sampai naik jemputannya"


Tak lama kulihat sebuah motor menghampirinya lalu dia naik dijok belakang motor itu dan langsung melaju keluar halaman gedung


Aku memandangi motor itu hingga menghilang, entah kenapa sangat berat rasanya aku melihatnya itu pergi menjauh, dan tiba tiba aku merasakan rasa khawatir pada Airin, jantungku berdegub tak karuan, aku merasa gelisah, Andi yang melihat sikapku kembali menanyakan padaku,

__ADS_1


"Apa kita tunda besok saja Nadhif, kamu tidak seperti biasanya, seperti orang yang tidak bisa tenang, ada apa denganmu?"


"Aku tidak tau Ndi, mungkin karena rasa bersalahku pada Airin karena aku tidak segera menjelaskan alasanku padanya, aku merasaseperti akan kehilangan dia...,apa karena hal ini Airin berniat pisah dariku" aku menunduk, ada rasa hangat yang mengalir dipipiku, lalu aku menyuruh Andi untuk segera melajukan mobil menuju tempat Fanda.


__ADS_2