Rahasia Lain Suamiku

Rahasia Lain Suamiku
Maaf


__ADS_3

"Tenanglah aku tidak akan meninggalkanmu sayang" Sambung Nadhif


"Bukannya kak Nadhif sudah menemukan Fanda?" tanyaku dengan sedikit memancingnya, aku memang tau, tapi itu karena membaca pesan yang ada diponselnya secara diam diam


"Iya aku sudah bertemu dengan Fanda, dan kamu Airin kalo dia sudah menikah dan ternyata sekarabg aku makin mencintainya". Nadhif terus tersenyum padaku, jujur saat ini aku merasakan rasa sakit yang dalam tapi aku tahan karena aku g mau egois dan tau konsekuensinya.


"Kalo begitu kakak istirahatlah, besok pergilah temui Fanda, jangan sampai dia menunggumu kak, sekarang aku sudah sadar dan kondisiku sudah membaik, lihatlah" aku berpura pura kuat dan menerima, kurentangkan tanganku kekanan dan kekiri, ada rasa sakit sekali didadaku namun aku tahan.


"Tenang saja aku sudah menemuinya" ucapnya santai. Deg...ternyata tanpa aku bilangpun Nadhif sudah menemuinya, aku memang bo*** apa yang aku harapkan


" Hmmm, baguslah kalo gitu" aku menyeringai kecil untuk menutupi rasa sakitku


"Sayang ...kamu mau g aku tunjukin foto Fanda, cantik loh" senyumnya makin lebar, cihh ...aku benci melihat Nadhif tersenyum hanya dengan melihat foto wanita itu, sedangkan padaku jarang seperti itu.


"Enggak kak" jawabku masih dengan senyuman


"Liat dulu, sini cantik banget deh" dia makin menyodorkan ponselnya kearah wajahku dan aku memalingkan wajahku


"Kenapa sih kok g mau liat fotonya?"


"Aku g mau kak, tolong jangan paksa aku, aku takut melihat wajah wanita yang sangat dicintai suamiki sendiri, aku g akan kuat melihatnya" jawabku setengah marah dan Nadhif tertawa dan mengambil tanganku lalu memberikan ponselnya, awalnya aku enggan melihatnya tapi sekilas aku lihat sepertinya foto ini pernah aku lihat, dannn benar saja ini adalah fotoku...aku terbelalak kaget dan kudekatkan ponsel itu kearah wajahku, lalu kulihat kearah Nadhif dia hanya tersenyum melihatku sambil menopang dagunya pada tangannya


"Kak, ini benar ...kakak jangan kasih harapan palsu ke aku....kenapa pake fotoku segala" masih dengan posisi yang sama namun kali ini dengan kedipan mata yang dutujukan padaku, aku tersipu malu melihatnya dan memegang kedua pipiku


"Iya sayang benar itu kamu"


Sreeggg...


Pintu terbuka dan ku lihat umma baru saja datang membawa bekal dan beberapa bawaan lainnya.


"Alhamdulillah...Airin....kamu sudah bangun sayang, gimana kondisi kamu" umma berlari menghampiriku, aku tersenyum dan kucium punggung tangannya, umma menciumku disetiap sudut wajahku, dan memelukku erat


"Alhamdulillah umma, Airin sudah baik baik saja" aku melepas senyum lebar buat umma

__ADS_1


"Ada apa ini sepertinya kalian sedang bicara serius, Nadhif kenapa kamu tidak kasih kabar ke umma kalo Airin sudah bangun, oya sudah kasih kabar mama papa belum mereka kemaren masih khawatir dengan keadaan Airin" aku masih tersenyum melihat umma yang sudah mulai mengeluarkan jurus cerewetnya, lalu dia melihat ponsel Nadhif yang tergeletak di tempat tidur disampingku, aku berusaha menutupinya karena tidak mau umma tau bahwa rumah tanggaku dengan Nadhif selama ini tidak sebaik yang dilihat, tapi apa yang dibilang mama padaku sedikit membuatku kaget


"Airin ...umma minta maaf ya" tangan umma memegang tanganku, tapi aku masih belum tau kenapa umma meminta maaf padaku.


"Sebenarnya umma tau kalo kamu adalah Fanda, umma sengaja tidak memberitahu kalian dengan harapan cinta kalian tumbuh dan membuktikan bahwa kalian memang berjodoh, tapi umma tidak tau kalo Nadhif sempat memperlakukan kamu dengan buruk, maafkan umma sayang, umma benar benar menyesal" seketika umma menundukkan kepalanya, aku menarik tanganku dan kembali memeluk umma, lalu umma menceritakan semua dari awal, anehnya tidak ada rasa marah dan benci, justru rasa terima kasih pada umma karena telah mempersatukan kami.


Nadhif menghampiri kami dengan membawa sebuah kursi dan ikut duduk disampingku


"Nadhif juga berterima kasih sama umma, Nadhiflah yang salah, Nadhif terlalu naif dan Bo*** terlalu buta dengan perasaan cinta"


"Sudahlah kak, umma tidak ada yang perlu disalahkan"


"Maafkan aku ya sayang" aku tersenyum mendengar Nadhif meminta maaf berkali kali ada rasa senang dihatiku.


"Aku sudah memaafkanmu kak, sekarang kita lihat kedepan, kita bangun lagi dari awal rumah tangga kita dan aku mencintaimu dan anak kita kak? kuharap kak Nadhif juga bisa mencintaiku dengan tulus tanpa melihat bahwa aku adalah Fanda" aku memandang mata Nadhif dengan dalam dan tersenyum padanya


"Aku juga mencintaimu dan anakku, aku janji tidak akan membuat kamu menangis lagi" perutku yang masih kecilpun diusap dan dicium oleh Nadhif, umma pun memberikan selamat padaku dan terlihat kebahagiaan yang terpancar dari matanya lalu Nadhif mengingat sesuatu


"Astaghfirullah ..sayang aku lupa belum kasih kabar mama kalo kamu sudah sadar" Nadhif langsung mengambil ponselnya dan menelepon mama, tangan yang satunya masih memegang tanganku dan tidak melepaskannya sedetikpun sambil menciumnya berkali kali.


Sreegggg...


"Assalamualaikum..Airin, what's happen?, how's your condition?are you ok?"


hampir sama dengan umma Lina juga cerewet, sedangkan Lia dan Fadli hanya tertawa Lina yang sudah seperti nenek nenek


sedangkan Anto terlihat ada kekhawatiran diwajahnya


"Kenapa bisa berakhir seperti ini, seharusnya kamu ikut sama aku bukannya naik ojek, dan kemana suami kamu bukannya menjemputmu tapi malah membiarkan kamu seperti ini" sekarang yang terlihat diwajah anto adalah kemarahan.


"Apa maksudmu dia harus ikut kamu" ucap Nadhif tiba tiba dan seketika mereka berempat melihat keasal suara itu berasal


"Pak PresDir......" serentak Lina, Fadli, dan Anto berteriak seperti paduan suara dan menundukkan badannya pada Nadhif sedangkan Lia masih terdiam karena memang baru seperti aku

__ADS_1


"Pak, kenapa bapak bisa disini?" tanya Lina penasaran, karena melihat Nadhif denfan pakaian formal dan ada diruangan dimana aku sedang dirawat


"Memangnya saya tidak boleh disini" ucap Nadhif sambil mendekati kami lalu duduk dan memegang tanganku lalu berkata


"Saya adalah suami Airin" semua langsung melebarkan matanya kaget, Lina menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya lalu Lina dan Lia melihat kearahku, aku hanya membalas dengan senyuman


"its a long story"


Kamipun berbincang, canda tawa terselip disitu, para lelakipun juga tak mau kalah kecuali Anto yang lebih banyak diam dan sesekali melihat ke aku, Nadhif yang juga melihat tingkah Antopun berbicara yang membuat kami terutama aku tercengang.


"Anto saya ingin bicara pada kamu, saya harap setelah ini kamu jangan mengejar ngejar Airin lagi, karena kamu sudah tau siapa suaminya kan dan pastinya saya tidak akan biarkan siapapun mendekati istri saya"


"Apa pak Nadhif mencintai Airin?" kali ini pertanyaan Anto yang membuat kami kaget.


"Sudah pasti saya mencintainya, sangat mencintainya dan asal kamu tau sekarang Airin sudah mengandung anak saya " jawab Nadhif dengan penuh percaya diri dan matanya menatap lekat Anto


"Ok, tapi saya tidak percaya kalo bapak memang mencintai Airin harusnya bapak tidak membiarkan dia pulang dengan ojek, yang akhirnya berujung seperti ini, apalagi kondisi Airin sedang hamil, seha...." belum selesai kalimat Anto aku langsung memutusnya


"Stoppp...stopp...stoppp..Aauuu." kupegang kepalaku yang mulai terasa sakit, Nadhif dan Anto yang melihatku langsung berlari kearahku


"Ada apa denganmu?" ucap mereka bersamaan lalu Nadhif memegang pundakku dan memelukku


"Airin apa yang sakit" aku tidak menjawabnya dan Nadhif terlihat menahan marahnya, tangannya terkepal


"Anto kita pulang" Fadli memegang pundak Anto dan mengajak keluar tapi dia menepis tangan Fadli


"Anto jangan cari masalah disini, lihat Airin dia sudah kesakitan" Kali ini Lina yang berbicara tapi dia masih saja tak bergeming


"Aku mohon Anto pergilah, bagaimanapun juga kak Nadhif adalah suamiku dan aku sangat mencintainya, aku memilihnya" ucapku lirih sambil menahan rasa sakit


"Ok.. aku pergi kali ini aku mengaku kalah, tapi diluar bapak sebagai atasan saya, saya mengingatkan anda, jika sekali lagi anda membuatnya seperti ini atau saya melihat dia menangis karena anda saya siap merebutnya dari anda" Nadhif yang sudah meningkat emosinya bergerak ingin memukulnya tapi aku tahanb kuoeluk dia agar reda emosinya, lalu Anto pergi disusul dengan yang lainnya, sebelum keluar Anto sempat mengatakan sesuatu yang membuat aku kaget karena keberaniannya dihadapan Nadhif..


"Airin aku sangat mencintaimu..." diapun menghilang.

__ADS_1


Assalamualaikum...terus dukung Author ya, kasih like and komennya juga jangan lupa kasih vote ya, kritik dan sarannya juga aku tunggu ♥♥♥


__ADS_2